Win-win Solution, Pengelolaan Wisata TN Babul Bisa Diadopsi Pemkab Lotim – TNGR

Win-win Solution, Pengelolaan Wisata TN Babul Bisa Diadopsi Pemkab Lotim – TNGR

Dari Perjalanan Bupati Lotim Sukiman Azmy ke Kabupaten Maros Sulawesi Selatan

Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan sebagai penyanggah Kota Makassar, karena seluruh wilayah Bandara Internasional Hassanuddin, menjadi wilayah Maros. Keberhasilan Kabupaten Maros bersinergi dengan pengelola Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) menjadi alasan Bupati Lombok Timur HM Sukiman Azmy dan Balai TNGR belajar ke Maros bagaimana mekanisme kerjasama yang saling menguntungkan demi kesejahteraan rakyat.
Berikut laporan Wartawan Suara Rinjani.

Hasanah Efendi – Maros Sulsel

Bupati Lombok Timur HM Sukiman Azmy, dan Bupati Maros HM Hatta Rahmam, saling bertukar cendra Mata

Setelah puluhan tahun saling klaim dalam pengelolaan obyek wisata antara Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) dan Pemkab Lombok Timur, akhirnya kedua instansi tersebut islah demi kemaslahan masyarakat. Agar bisa saling menguntungkan di antara kedua belah pihak, menjadikan alasan kedua institusi ini (Pemda Lotim- TNGR) melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) belajar sistem pola kerja sama ke Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Kunker Pemkab Lombok Timur dan TNGR ke Kabupaten Maros selama 3 hari (27-29 Januari 2020) itu, karena daerah tersebut dianggap mampu meredam konflik pengelolaan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) dalam beberapa tahun terakhir.
Rombongan Bupati Lombok Timur dan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) berjumlah 22 orang yang terdiri dari, Bupati Lotim HM Sukiman Azmy, Asisten II, Kadis Pariwisata, Bakesbangpoldagri, Dinas Kominfo dan Persandian, Camat Montong Gading, Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan, Kabag Kerjasama, Kabag Hukum dan Kabag Ekonomi, termasuk Kepala Desa Pesangrahan dan pelaku wisata. Sedang dari pihak TNGR ada tiga orang yang ikut yang dipimpin Kepala BTNGR NTB Dedy Asriadi. Juga ikut sejumlah wartawan.
Sebelum bertemu dengan Bupati Maros, rombongan Bupati Lotim, terlebih dulu mengeskplore Kota Makassar, mulai dari menikmati indahnya Pantai Lo Sari, Masjid 1000 Kubah hasil dari reklamasi, hingga mencicipi berbagai kuliner andalan Makassar.
Sesuai waktu yang dijadwalkan, Selasa (28/01), rombongan Bupati Lombok Timur, diterima Bupati Kabupaten Maros,  Ir HM Hatta Rahmam, MM, yang didampingi Ketua DPRD H Andi Patarai Amir SE, Sekda, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul), Yusac Mangetan, dan Kadis Pariwista, Muhammad Ferdyansyah, SIP.
Bupati HM Sukiman Azmy, dalam kata pembuka mengungkapkan permasalahan pokok yang terjadi di Lombok Timur adalah kawasan Nasional Gunung Rinjani. Kami punya sebuah obyek destinasi yang namanya Otak Kokok ( Kepala Sungai), di sana ada air terjun yang sejak dulu dikelola oleh Pemda Lombok Timur untuk mendapatkan PAD. Wilayah itu seluas 1,6 ha yang diklaim oleh TNGR. Dari sejak lama bupati-bupati terdahulu terus terjadi sengketa, maka kami mau mengakhiri masalah ini dengan win-win solution, karena itulah dianjurkan oleh Bapak Dirjen Kemenhut untuk study banding ke TN Bantimurung Kabupaten Maros, bagaimana pengelolaan kawasan itu, bagaiamana damainya, bagaimana harmonisnya antara pemda dan TN Bantimurung.
“Rekan-rekan dari pemda Lotim bisa membanyangkan fasilitas yang ada di Maros ini. Tadi kami melintas pak, sebelah kiri kanan jalan itu ada pusat pemasaran produk unggulan. Nah ini menjadi contoh otomatis bagi kami pak, karena memang unggulan itu di kabupaten Lombok Timur ada di tiap kecamatan dan desa. Kita berbasis desa, desa wisata,”ungkapnya. “Alhamdulillah kemaren mendapatkan juara I Desa Nasional tingkat Desa Kelas Menengah, tetapi itu tidak sebanding dengan apa yang telah diraih oleh kabupaten Maros yang saya tahu persis, semua juara itu ada di Maros ini. Mulai pengelolaan keuangan, pelayanan terbaik dan terakhir Piala Adipura yang banyak sekali yang diraih Kabupaten Maros ini,”sambungnya.
Lanjut Bupati Sukiman, jadi fokus kami ke sini  adalah ke Bantimurung itu dan karena itu barang kali dan rekan-rekan dari TN Babul bisa memberikan informasi secara garis besar kepada kami tentang pengelolaan yang pada ujung-ujungnya, adalah PAD. Oleh karena itu tidak perlu memperpanjang perselisihan yang penting kami dapat PAD kemudian kehutanan mendapat BNPB. “Solusi ini yang kami tempuh, maka perselisihan dan perseteruan yang puluhan tahun ini kita akhiri, kita akan mengalami era baru, era harmoni dengan pengembangan wisata dengan kondisi yang lebih baik lagi,”pungkasnya.
Bupati Kabupaten Maros,  HM Hatta Rahmam, dalam sambutannya, memberikan informasi dan sistem kerjasama sehingga antara TN Babul dengan Pemda Maros bisa berjalan harmonis dan saling menguntungkan. Dulu juga sama, antara Pemda Maros dan TN Babul juga terjadi perseteruan yang cukup lama terkait saling klaim kawasan, tapi setelah itu kita bersepakat untuk mengakhiri karena tujuannya adalah untuk mendapatkan dan meningkatkan PAD dan PNPB itu saja.

Photo bersama tim ekspedisi Pemkab Lombok Timur dan TNGR bersama dengan Balai TN Bantimurung Bulusaraung Kabupaten Maros

“Maka kami membuat Peraturan Bupati (Perbup) dan mengatur itu, mana kewenangan kehutan mana kewenangan pemda, kemudian kita sama – sama mengelola TN Babul dan sama –sama untung. Tahun lalu (2019) kami mendapat PAD sekitar 9,8 Milyar dan TN Babul mendapat 2,7 Milyar, “ tandasnya.
Setelah mendapat penjelasan dari Bupati, Rombong kunker Bupati Lotim berlanjut ke TN Bantimurung Bulusaraung (Babul) yang dipandu Kadis Pariwisata Kabupaten Maros dan Kepala TN Babul. Setiba di TN Babul rombongan disambut dengan tarian khas Maros, kemudian diterima di Hotel Babul untuk mendapatkan penjelasan dan TN Babul.
Untuk diketahui, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) salah satu dari 7 kawasan yang hak pengelolaannya berada dibawah Kementerian Kehutanan RI. Dengan luas kawasan 43.750 hektar lebih, kawasan hutan lindung yang menjadi taman nasional itu ditetapkan berdasar Surat Kemenhut RI No. 398 tahun 2004 dan ditetapkan sebagai kawasan Herritages Park tanggal 20 Oktober 2019 di Vietnam.
Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) Ir. Yusac Mangetan, M.AB mengakui bahwa TN Babul sebagai daerah kawasan taman Nasional terindah dan terluas kedua setelah Taman Nasional yang berada di Vietnam.
Bentuk bebatuan kars sebagai daya tarik tersendiri bagi pengunjung atau wisatawan asing yang berkunjung ke lokasi tersebut.
Berada diketinggian 600 m.dpl, TN Babul sebagai destinasi wisata favorit. Lokasinya pun terletak ditiga kabupaten diantaranya, Kabupaten Maros, Pangkep dan sebagian kecil berada di Kabupaten Bone. Memiliki bentuk batuan kars, menambah kesan kokohnya perbukitan yang menjulang tinggi hingga 180 derajat.
“Pengelolaan wisata terpadu bentuk kerjasama  dengan Pemkab Maros. Ide dan gagasan yang sama dengan Bupati Maros menjadikan Taman Nasional yang terletak di Maros terjaga hingga kini,” ujar Yusaac Mangetan.
Pengembangan wisata tersebut menurut Yusac, membuahkan hasil dengan digelontorkannya anggaran pusat dari Bapenas RI senilai Rp. 18,5 Miliar.
Anggaran tersebut diperuntukkan pengembangan site Babul dan site Patunuang dan beberapa kawasan taman nasional lainnya.
“Walaupun bantuan SBSM dari Bapenas itu tidak sebesar yang didapatkan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), tetapi sistem kerjasama yang dikembangkan oleh Pemkab Maroa dapat diadopsi oleh Pemkab Lotim,” kata Yusaac.

Rombongan Bupati Lotim, saat mengabadikan keindahan Kota Makassar dengan latar Masjid 1000 kubah di Pantai Losari Makassar

Yusaac yang juga putra daerah setempat, mengakui bahwa Balai TNGR sebagai kawasan super prioritas dibanding TN Babul. Sehingga diyakini limpahan anggaran pusat akan tertuju ke pengembangan TNGR.
Kepala Dinas Pariwisata Ferdiansyah, SIP, mengungkapkan bahwa masyarakat punya peran besar menjaga kawasan wisata. Masyarakat setempat yang memanfaatkan lokasi untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. “Mereka sendiri yang menjaga lingkungan agar tetap terjaga kelestariannya, dan itu sangat terasa di TN Babul ini,” tandasanya.
Usai melihat TN Babul, Bupati Sukiman memberikan kesan luar biasa. Itu setelah melihat panorama  alam obyek wisata Bantimurung Bulusaraung (Babul), Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan.
Saking takjubnya, orang nomor satu di Kabupaten Lombok Timur itu, tak puas dengan hanya memandang keelokan panoramanya. Bahkan, menyempatkan diri mengeksplore isi dalam obyek wisata Babul hingga harus memasuki gua Batu yang memiliki kedalaman 150 meter.
Berada diketinggian 600 mdpl, keindahan panorama Babul kian bertambah setelah Pemkab Maros turut campur dalam pembenahannya untuk dijadikan daerah tujuan wisata khusus.
“Hasil kunker kali ini dapat kita petik, dengan mengkreasi segala komponen yang termasuk memberikan inovasi dan informasi yang lebih luas kepada masyarakat dan wisatawan lainnya yang akan berkunjung ke daerah Lotim,” ujar Bupati Sukiman Azmy dalam sambutannya dihadapan Kepala Balai TN Babul, Maros,  Yusac Mangetan, di lokasi wisata Babul.
Kreasi itu dapat diwujudkan dengan berbagai bentuk semisal, membuat lampu-lampu berwarna-warni merupakan kreasi untuk mendatangkan hasil maksimal. Taman Wisata Babul ini merupakan salah satu manajemen pengelolaan yang luar biasa.
“Kita di Lotim obyek wisata masih alami dan tradisional. Berbeda sistem pengelolaan di negara lain, salah satunya di Vietnam. Meski terkesan tradisional tetapi manajemen pengelolaannya sudah internasional,” ujar Sukiman.
Kendati demikian, sistem pengelolaan di Taman Nasional Babul ini pun patut di ‘copy paste’ sebagai uji petik dalam mengembangkan sektor pariwisata di Lotim khususnya.
“Walau secara strategis, Lotim tidak memiliki Bandar Udara (Bandara) sebagai daerah wisata, tetapi dengan promosi dan SDM yang ada bisa jadi pengembangan lokasi wisata dapat lebih maksimal,” tegasnya.

Selain itu, kerjasama dengan semua pihak sebagai kebutuhan untuk ikut mengambangkan sektor pariwisata mutlak dilakukan. Termasuk mengakomodir kepentingan masyarakat sekitar TNGR untuk bersama-sama membangun daerah agar bisa mendatangkan PAD dan kesejahteraan masyarakat itu sendiri.

Bupati Lombok Timur tengah berziarah di Makam Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro

“Sembalun itu punya potensi yang luar biasa, tetapi sampai saat ini tidak mendatangkan apa-apa untuk Lombok Timur,” ujarnya.
Ia mencontohkan satu kasus yang perah terjadi di Lombok Timur beberapa waktu lalu ketika gempa Bumi terjadi di Lotim. Dalam data manufaktur pengunjung hanya terdapat 682 orang yang membeli tiket. Ketika gempa bumi terjadi, ternyata tim penyelamat dari Basarnas dan BPBD harus mengevakuasi sekurang-kurangnya 1200-an orang. Artinya, masih ada jalan ‘tikus’ yang dilalui oleh pengunjung pendaki gunung untuk menuju lokasi. “Kalau sudah begini sudah jelas potensi PAD kita kecil bahkan mungkin tidak ada,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), Ir. Dedy Asriadi berharap banyak kepada Pemkab Lombok Timur bersama-sama mengelola kawasan obyek wisata yang masuk di dalam kawasan TNGR.
Dedy Asriadi mengungkapkan, obyek wisata Joben atau Otak Kokoq di Kecamatan Montong Gading dan masuk dalam kawasan TNGR sebagai salah satu lokasi yang pengelolaannya meniru pola TN Babul, Maros.
Model pengelolaan itu bentuk solusi yang tepat guna mengurai konflik yang selama ini terjadi. “BTNGR telah menyiapkan 106 hektar yang pengelolaannya bersama-sama dengan Pemkab Lotim yang selama ini masuk dalam kawasan taman nasional,” ujar Dedy.
Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani memiliki luas 41.330 hektar lebih. Dengan membentuk pola kerjasama pengelolaan wisata Obyek wisata pemandian Joben kata Dedy, justru akan menguntungkan kedua belah pihak (Pemkab Lotim-BTNGR).
“Mekanisme kerjasama pengelolaan itu akan kita bahas nantinya untuk mendapatkan kesepakatan sehingga tidak ada yang dirugikan baik itu Pemkab ataupun BTNGR. Termasuk pengelolaan wisata yang akan dikelola oleh Pokdarwis atau desa setempat,” pungkasnya. (*)

Advertisements

Share this post

Post Comment

Or