PGIN dan Guru Honorer Madrasah Swasta Harus Diberdayakan

PGIN dan Guru Honorer Madrasah Swasta Harus Diberdayakan

Lombok Timur, SR – Sejumlah 250.000 orang Guru Negeri di bawah naungan Kemeneterian Agama (Kemenag) yang akan pensiun dalam tahun 2018 ini.  Untuk itu dibutuhkan sebagai guru pengganti yang kini banyak tersebar sebagai guru honorer, termasuk di Madrasah Swasta. Nasib mereka (utama di Madrasah Swasta) kini dan ke depan diperjuangkan lewat PGIN (Perkumpulan Guru Inpassing Nasional), secara bertahap dimulai dari Inpassing menjadi PNS/ASN, dari Sertifikasi menjadi Inpassing dan dari Honorer menjadi Guru Sertifikasi.

Lewat PGIN di masing-masing Kabupaten aspirasi   semua Guru Honorer ditampung untuk dilanjutkan hingga ke pusat.     Hak sebagai tenaga didik professional harus didapatkan,    sebagaimana tenaga didik lainnya.

Tak kurang dari 300 orang guru honorer madrasah swasta dari 20  kecamatan se Lombok Timur (Lotim) hadir dalam Konsolidasi dan Deklarasi Pembetukan PGIN, di Pondok Pesantren  Ziadatussyakirin NW Sikur Lotim, Sabtu (17/3). Hadir dalam kesempatan tersebut antara lain Pengurus PGIN Pusat, Pengurus  PGIN NTB, PGIN Lotim dan  Kemenag Lotim.

Kasi Penmad (Pendidikan Madrasah) Kemenag Lotim, Zainul Arkam, dalam sambutannya sangat mengapresiasi keberadaan PGIN. Kata dia, sebagai lembaga independent resmi yang diurus oleh para guru honoorer di madrasah swasta, haruslah betul-betul dimanfaatkan bagi kepentingan guru tersebut. Menurutnya, segala aspirasi guru honorer madrasah swasta (Inpassing, Sertifikasi, Honorer biasa) bisa ditampung oleh PGIN untuk selanjutnya ditindak lanjuti.

“Manfaatkan PGIN ini sebaik-baiknya dan kami dari Kemenag sangat mengapresiasi serta membantu nantinya. Bahkan bisa pakai  SK Inpassing untuk keperluan di BRI ya,” katanya, disambut tepuk tangan riuh-rendah para peserta.

Ketua PGIN NTB, Lalu Mukhlisin, S.Pd., mengatakan bahwa, PGIN secara professional dan focus memperjuangkan para guru honorer madrasah swasta secara santun,  prosedural sesuai peundang-undangan dan aturan pemerintah serta menghindari cara yang intoleran. Kata dia, para inisiator dan pengurus pusat menganalisa sampai mengerucut bahwa akhir dari sertifikasi guru adalah terangkatnya  guru menjadi status  Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dengan kata lain bahwa, guru yang sudah memiliki SK Inpassing (tahun 2011) pada dasarnya adalah PNS tanpa uang pensiun. Karena sampai saat ini belum jelas, maka perlu pengkajian ulang. PNS sebuah keniscayaan, menyampaikan bagian dari testimoni Ketua PGIN Pusat sepanjang 2,5 halaman HVS Folio tersebut.

Menjawab pertanyaan dari peserta terkait dengan adanya ketidak sinkronnya data dari SK Inpassing, Munawir Khozin, seorang pengurus PGIN Pusat, menyampaikan bahwa, hal tersebut dikarenakan kondisi dan sistem yang belum berjalan dengan baik dan itu harus dimaklumi. “Insya Allah, ke depan,  dengan adanya  wadah PGIN ini hal tersebut tidak akan terulang lagi,” katanya.

Pengurus PGIN Lotim terpilih adalah : Suharmanto, S.Pd.  (Ketua), Samsuri, S.Pd  (Sekretaris) dan Paraatul Uyun, S.Pd (Bendahara). Format kepengurusan tersebut  dilengkapi dengan Bidang-bidang, seperti Hukum, Pembinaan, Humas dan Umum, Kemitraan dan Usaha, Pemberdayaan, Kesejahteraan, Diklat dan Litbang.

Ketua terpilih, Suharmanto, S.Pd menyampaikan bahwa, dengan adanya kinerja dan sinergitas serta kerjasama yang baik dijadikan sebagai modal utama kerja keras ke depan. Kata dia, butuh kerjasama, komunikasi dan koordinasi yang baik dalam menjalankan PGIN ini. Dirinya kemudian menyampaikan langkah pertama yang dilakukan selaku Ketua terpilih.

“Kepada koordinator kecamatan supaya mengumpulkan SK para gru inpassing (bagi yang sudah inpassing) dan SK Sertifikasi (bagi yang sudah sertifikasi) serta kelengkapan lainnya di madrasah swasta. Secepatnya dan itu harus diserahkan oleh Korcam ke  Pengurus PGIN Lotim pada hari Rabu (21 Maret 2018) lusa,” katanya, sembari menambahkan bahwa, supaya dilakukan secara bertahap. “Step by Step ya, mulai dari Inpassing dulu, baru sertifikasi. Yang penting SK inpassing dan sertifikasi dikumpulkan dulu,” imbuhnya (rdi/Adv).

Advertisements

Share this post

Post Comment

Or