Kerap Picu Konflik, Pemda Loteng Wacanakan Evaluasi Kecimol

Kerap Picu Konflik, Pemda Loteng Wacanakan Evaluasi Kecimol

Lombok Tengah SR – Dinilai karena dianggap kerap memicu timbulnya konflik, Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemda Kab. Loteng, Prov. NTB) pun berwacana akan melakukan evaluasi terhadap keberadaan atau pertunjukan grup band musik Kecimol. 

            Sebelumnya, adapun tujuan dan maksud Pemda Kab. Loteng guna melakukan wacana evaluasi terhadap music kecimol salah satu yang terpenting adalah, agar nantinya tidak berimbas buruk atau berdampak negatif terhadap pertumbuhan kunjungan wisata di daerah. Tentu saja dalam hal ini Pemda pun juga tidak serta merta bermaksud untuk mematikan seni dan kreativitas warga masyarakat Loteng.

            Sekda Loteng, HM. Nursiah S.Sos. Ketika itu dijelaskan, apapun bentuk dari semua jenis kegiatan kesenian yang umumnya dipertontokan kepada khalayak ramai (publik) hendaknya harus bisa memenuhi kebutuhan sesuai dengan nilai dan norma agama. “Sebab itu dalam hal ini kami yang ada di Pemda berkewajiban guna melakukan pembinaan. Supaya nantinya pertunjukan seni yang ditampilkan tidak hanya sebatas dilihat dari kuantitasnya saja, melainkan dari segi kualitasnya pun penting untuk dikedepankan,” jelasnya di ruang kerjanya, Selasa (10/4).

            Terlebih, selama ini khusus untuk penampilan grup band musik Kecimol yang biasanya digunakan sejumlah warga masyarakat desa terdapat di kecamatan sebagai musik pengiring di acara pesta adat Suku Sasak Lombok yakni, Nyongkolan. Dimana dalam acara ini tidak jarang terjadi bentrok antara anggota grup band musik Kecimol dengan sejumlah warga masyarakat desa, sehingga penampilan musik Kecimol pun selama ini di tengah – tengah masyarakat cenderung dianggap lebih banyak mudarat daripada manfaatnya.

            Melihat dari perkembangannya yang kian hari semakin terkesan membawa efek negatif itulah yang melandaskan pihak pemda perlu untuk mewacanakan evaluasi terhadap musik Kecimol. “Kita akan lakukan evaluasi disebabkan penampilan musik Kecimol juga sudah mulai bertentangan dengan nilai dan norma agama. Selain kerap menjadi pemicu konflik horizontal ditengah – tengah masyarakat, juga pertunjukan musik ini kerap kali terlihat menampilkan beberapa perempuan menari erotis,” katanya.

            Kembali diterangkan Sekda, nantinya pemda pun dalam hal melakukan bentuk pembinaan terlebih dahulu penting untuk melihat jenis sekaligus kriteria seni. Seperti, kriteria kesenian apa saja yang memang murni termasuk dalam seni adat dan budaya asli Suku Sasak Lombok. Khusus untuk kesenian asli daerah maka tentunya akan dibina supaya nantinya dapat menjadi bagian dari paket wisata yang bisa dipasarkan sebagai magnet meningkatnya minat kunjungan wisatawan di Kab. Loteng.

            Untuk itulah sebenarnya lebih diharapkan, jangan sampai keberadaan musik Kecimol yang semestinya bisa memperkenalkan budaya malah sebaliknya membawa dampak buruk terhadap kunjungan wisatawan. Nantinya dalam melakukan evaluasi terhadap musik Kecimol direncanakan pula oleh pemda akan melibatkan Majelis Adat Sasak (MAS) serta para tokoh Krama Adat di masing – masing desa untuk melakukan kajian lebih mendalam.

Diantaranya, apakah musik Kecimol sudah sesuai aturan seni budaya atau tidak, kalaupun ternyata nantinya tidak sesuai maka secara bersama –sama akan dicarikan solusi, semisal apakah nantinya akan dimodifikasi atau penerapan aturan penggunaan kecimol sebaiknya seperti apa. “Insha Alloh, terhadap Kecimol ini kita pun  berencana akan menerapkan aturan penggunaannya seperti yang telah dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov). Mangkanya untuk Kecimol ini akan kita evaluasi dulu,” tegas HM. Nursiah S.Sos, sembari menutup pembicaraan. (ang)

Advertisements

Share this post

Post Comment

Or