2020, Loteng Darurat Stunting

2020, Loteng Darurat Stunting

Lombok Tengah SR- Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan (Dikes) Lombok Tengah (Loteng),  Kusriadi di halaman kantor Bupati Loteng kemarin mengatakan, di tahun 2010 Loteng sudah masuk daerah darurat pengidap penyakit stunting (kerdil).
Pasalnya dari 137 desa se Kabupaten Loteng, tahun 2020 mendatang, dipastikan desa yang sudah masuk katagori terserang penyakit stunting, bertambah menjadi 17 desa
“Jika tahun 2018 kemarin, di Loteng ditemukan ada 10 desa se Loteng masuk daftar terserang penyakit stunting, 2020, bakal bertambah menjadi 17 desa,” terangnya.
Dari 17 Desa tersebut lanjutnya, ada 10 desa yang saat ini masuk dalam daftar Desa pengidap penyakit stunting, dan selama dua tahun, desa tersebut tidak bisa diatasi sehingga masuk dalam neraca desa pengidap penyakit Stunting.
“Saya lupa nama nama Desa yang masuk daftar pengidap penyakit stunting, termasuk desa yang saat ini terdaftar, masih tahap evaluasi, tapi yang jelas masih ada yang belum bisa diatasi,” katanya.
Disebutkan, indicator desa yang masuk dalam pengidap penyakit stunting, salah satunya prepalaisis, dari hasil tersebut nantinya akan terlihat berapa orang anak balita, yang masuk dalam katagori terserang penyakit stunting .
Dijelaskan, ukuran menentukan apakah bayi tersebut masuk dalam katagori pengidap penyakit stunting, jika anak balita di bawah 20 persen pengidap penyakit stunting, maka itu masuk dalam katagori normal, artinya tidak masuk dalam daftar pengidap penyakit tersebut.
Selanjutnya, jika ada anak yang ditemuka diatas 20 persen atau 30 persen, maka itu masuk dalam daftar katagori sedang dan jika dari 30 hingga 40 persen, itu masuk dalam daftar berat dan seterusnya.
Nah dari hasil kajian data balita yang telah dilakukan, itulah yang masuk dalam daftar pengidap penyakit stunting, yakni 17 desa tersebut.
Kusriadi menambahkan, untuk memperjelas berapa jumlah balita yang mengidap penyakit stunting, dari 17 desa tersebut. Saat ini datanya masih di Puskesmas dan saat ini sedang diinput. Setelah itu, nantinya 17 desa tersebut akan diberikan SK oleh Bupati, dan menetapkan 17 desa di Loteng mengidap penyakit stunting.
Terhadap hal itu, sepertinya di Loteng akan menjadi lokus penanganan stunting tahun 2020. “Yang jelas, ada 17 desa yang masuk lokus pengidap penyakit stunting di Loteng, sebab datanya sudah ada di masing masing Puskesmas, dan nanti Bupati akan memberikan SK terhadap 17 desa tersebut dan akan dilakukan pengananan secara intensif,” ujarnya.
Adapun langkah yang akan dilakukan diantaranya, penanganan secara invergensi, artinya akan melibatkan semua pihak,artinya persoalan ini bukan hanya ditangani oleh dinas kesehatan semata. “Memang ditahun 2018 silam, penanganan stunting lebih focus di tangani dinas kesehatan, mengingat 2020 semakin bertambah, penanganannya akan melibatkan semua dinas,” tutupnya. (ap)

Advertisements

Share this post

Post Comment

Or