Di Depan Pemuda Muhammadiyah, Ali BD Bicara Soal Politik Uang

Di Depan Pemuda Muhammadiyah, Ali BD Bicara Soal Politik Uang

Hanya Cagub Ali BD yang Berani Berdiskusi dengan Pemuda Muhammadiyah

Mataram SR – Kebanyakan para calon untuk menjadi pemimpin memilih jalan paling mudah yakni dengan menggunakan cara money politik atau politik uang demi meraih suara. Bagi, calon Gubernur Ali Bin Dachlan money politik bukan cara yang baik untuk meraih kemenangan.

“Money politik itu haram, dan ini perlu saya tegaskan kepada masyarakat maupun Pemuda Muhammadiyah. Bagi, saya berpolitik uang itu bukan cara yang baik dalam meraih kemenangan atau mencari suara,” tegas Ali Bin Dachlan di Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah NTB di Jalan Dr. Soejono, Lingkar Selatan, Mataram, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (7/4/2018).

Kehadiran Ali Bin Dachlan di Muhammadiyah adalah dalam rangka menghadiri acara Rapat Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Nusa Tenggara Barat dengan tema mengukuhkan barisan menuju penguatan internal untuk Nusa Tenggara Barat.

Di sini, salah satu pemuda Muhammadiyah menanyakan soal ketegasan pria yang disapa Amaq Asrul perihal praktek money politik di Pilkada NTB 2018.

“Money politik adalah kejahatan dan banyak paslon yang membeli suara dengan cara tersebut, maka itu kejahatan. Saya paham, bahwa pemuda Muhammadiyah adalah pemuda yang cerdas. Bisa membedakan mana calon yang menggunakan money politik dengan calon yang mendidik masyarakat ,” bebernya.

Menurutnya, jika ada calon yang mempergunakan cara tersebut maka itu sama saja memberikan kebodohan kepada masyarakat.

“Saya menyumbang buat masjid karena saya ikhlas memberikannya dan saya juga menegaskan kepada masyarakat jangan mengkaitkan dengan pilkada. Sebab, jika dikaitkan maka itu sama saja membuat berkat serta rejeki saya jauh. Buat saya, bila bermain money politik maka itu artinya sama saja menebar benih korupsi di negeri ini,” urainya.

Bahkan, Ali Bin Dachlan memberikan contoh fakta kala ada masyarakat yang ingin memasang baliho dirinya serta meminta dana untuk kebutuhan memasang tersebut. Hal ini, justru ditolak oleh pria yang juga disapa Ali BD.

“Ada orang di Lombok Tengah minta kepada saya soal baliho, kemudian orang tersebut balik lagi untuk meminta dana dan itu saya tolak, lebih baik tidak usah dipasang. Bagi saya, lebih baik memasang baliho dengan rasa ikhlas bukan dengan cara meminta imbalan apapun. Demi Allah saya berkata demikian kepada orang tersebut,” paparnya.

Ali BD mengingatkan kepada masyarakat agar tidak mudah terpercaya kepada calon yang suka memberi uang untuk meraih suara.

“Korupsi itu bisa dalam bentuk besar maupun kecil, jika sudah terbiasa berkorupsi dari hal yang kecil maka itu sama saja membiarkan negara Indonesia dipenuhi oleh korupsi. Apalagi, semasa saya menjabat di Lombok Timur dilarang keras untuk melakukan hal tersebut,” tambahnya.

Bagi Ali BD bahwa seorang pemimpin harus meraih suara dengan apa yang pernah dilakukan untuk Nusa Tenggara Barat. Karena, dengan cara itulah masyarakat akan tahu perihal kinerja yang dilakukannya.

“Masyarakat tidak bisa dibeli dengan cara apapun, karena masyarakat memiliki kebebasan, masyarakat tidak boleh penuh ketakutan, masyarakat memiliki kebebasan dalam memilih suara yang diinginkannya,” paparnya.

Suami Hj. Supinah ini menegaskan bahwa dirinya maju menjadi calon Gubernur bukan meraih kekayaan, melainkan ingin membawa visi dan misi guna menjadikan NTB lebih baik di kedepannya.

“Jika menjadi kepala daerah tidak memiliki pemikiran untuk membawa perubahan yang lebih baik, buat saya tidak usah maju. Jangan gunakan dengan hal tidak baik, tidak boleh memelihara kebodohan. Masyarakat harus pintar, jangan menganggap masyarakat rendah,” pungkasnya.

Sementara itu, Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah NTB Muhammad Ali SH, MKN, mengungkapkan bahwa dari semua calon, hanya Ali BD yang berani berdiskusi dengan Pemuda Muhammadiyah. padahal, semua calon kita undang.

“Semua diundang, tapi tidak ada yang mau datang, tidak ada yang meresponnya. Otomatis, bagaimana kita tahu apa yang menjadi visi dan misi, pola pemikiran para calon. Dengan kehadiran Bapak Ali Bin Dachlan semakin tahu apa yang menjadi kinerjanya, sementara yang lain belum kita ketahui,” tegasnya.

Muhammad Ali SH, MKN sangat menyayangkan dengan ketidakhadiran calon lainnya selain Ali Bin Dachlan yang tidak merespon dengan baik, padahal tujuan membangun NTB harus diketahui khalayak banyak orang.

“Bagaimana masyarakat bisa tahu, bagaimana masyarakat bisa meyakini jika calon tersebut tidak mau membuka cara bekerjanya, tidak mau berbagi visi dan misi jika calon tersebut diundang saja tidak datang,” tambahnya.

Dirinya juga menambahkan bahwa masyarakat bukan hanya tahu visi dan misi pada saat berkampanye saja, melainkan ada juga tempat maupun wadah yang bisa dijadikan sebagai curahan visi dan misi guna memimpin Nusa Tenggara Barat.

“Jangan menganggap masyarakat Nusa Tenggara Barat itu adalah masyarakat yang mudah dibodohi dengan segala janjinya, jangan menganggap masyarakat akan memilih calon di saat berkampanye saja. Keterbukaan sangat dibutuhkan oleh masyarakat,” ulasnya.

Tak itu saja, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah NTB Isfanari Iskandar mengutarakan bahwa Ali Bin Dachlan mau memberikan apa yang menjadi kinerjanya kala memimpin Nusa Tenggara Barat, sosok seperti inilah yang diinginkan oleh masyarakat.

“Peran penting seorang calon adalah mau berdiskusi, mau berbagi cerita atas apa yang dikerjakannya saat memimpin Nusa Tenggara Barat. Ini terlihat dari sosok Ali Bin Dachlan, beliau (Ali BD-red) mau datang dan tanpa berpikiran panjang langsung mengiyakan undangan kami. Berbeda, dengan calon lainnya yang tidak meresponnya. Tentunya, ini sangat disayangkan apalagi semua calon yang maju adalah tujuannya membangun Nusa Tenggara Barat,” tuturnya lagi. (tim)

 

Advertisements

Share this post

Post Comment

Or