23 Desember, Nama Nama Penyuluh Agama Diumumkan

23 Desember, Nama Nama Penyuluh Agama Diumumkan

 

 

Lombok Tengah SR- Proses perekrutan nama nama penyuluh agama di lingkup Kementerian Agama (Kemenag) Lombok Tengah (Loteng) berakhir, dan dipastikan tanggal 23 Desember 2019 di umumkan nama nama yang lolos.

“Sesuai dengan juknis perekrutan penyuluh agama dari pusat sudah kita lakukan, dan tanggal 23 Desember 2019, kita umumkan nama nama yang lolos,” kata Kepala Seksi (Kasi) Bina Masyarakat (Bimas) Islam kantor kemenag Loteng Muzakkir Hayyi S. Ag, Selasa (17/12).

Dikatakan, perekrutan penyuluh agama, bukan kali ini saja dilakukan, namun beberapa tahun yang lalu, juga sudah dilakukan. Dan dalam perekrutan penyuluh agama tahun ini terdapat perbedaan jika dibandingkan tahun lalu.

Dimana jika tahun lalu, anggarannya dari pemerintah tingkat satu atau provinsi, namun sekarang di anggarkan Langsung oleh pemerintah pusat.

“Perekrutan penyuluh agama tahun 2020, beda dari tahun sebelumnya, jika dulu menggunakan dipa provinsi, sekarang langsung kementerian agama pusat,” bebernya.

Adanya perbedaan lanjutnya, tentunya dari sisi anggaran atau jumlah gaji yang mereka terima juga berbeda, dimana ketika dianggarkan melalui Dipa Daerah, satu penyuluh menerima gaji perbulannya Rp 500 ribu, sedangkan tahun 2020 naik menjadi Rp 1 juta persatu penyuluh di setiap bulannya.

Selain kenaikan gaji, di sisi lain kuota atau jumlah penyuluh juga semakin banyak. “Setelah menggunakan dipa pusat, di samping gaji penyuluh bertambah, jumlahnya juga semakin banyak,” ungkapnya.

Dimana, jika tahun lalu semasih menggunakan anggaran daerah, jumlah penyuluh kurang lebih 96 orang dan sekarang naik menjadi 104 penyuluh agama Islam non PNS.

“Alhamdulillah, setelah ditangani pusat jumlah penyuluh agama kita bertambah, termasuk gaji mereka,” ujarnya.

Dikatakan, dari jumlah tersebut diatas, akan tersebar di masing masing Kecamatan. Satu kecamatan akan ditugaskan 8 orang penyuluh agama non PNS. Dan satu penyuluh agama minimal melaksanakan tugas mengajar ngaji atau berdakwah, minim di dua tempat dalam wilayah berbeda

“Sebenarnya beban kerja mereka cukup berat, sebab minimal satu orang penyuluh agama, memiliki tempat mengajar minimal di dua tempat berbeda. Misalnya saja satu penyuluh mengajar ngaji di TPQ di desa a dan di desa b, tidak boleh mengajar di satu desa dalam dua tempat,” terangnya.

Untuk membuktikan tingkat kehadiran mereka, setiap bulan mereka mbuat laporan berkala. Selain itu dari laporan tersebut, baru bisa mereka menerima gaji.

Sementara itu, kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenang) Loteng Drs H. Jalalusyauythy mengharapkan, agar para penyuluh agama tidak terfokus dalam satu bidang.

Artinya kendati saat ini mereka terfokus mengajar ngaji baca Al Qur’an atau mengelola TPQ, mereka juga diharapkan bisa menjadi pendakwah, di Kecamatan setempat atau minimal di desa mereka sendiri.

“Kita berharap, bertambahnya anggaran yang mereka terima, kemampuan para penyuluh juga bisa ditingkatkan, jika dulu hanya bisa mengelola TPQ, tahun 2020 juga bisa me jadi juru dakwah di tempat tugas masing masing,” harapnya. (ap)

Share this post