GURU AGEN TRANSFORMASI VS “GURU DI IKHLASKAN”

GURU AGEN TRANSFORMASI VS “GURU DI IKHLASKAN”

Oleh:Lalu Usman Ali, M. Pd.
Dosen UIN Mataram

Guru merupakan tauladan bagi siswa-siswanya, sebagaimana pepatah guru harus menjadi pribadi yang bisa di gugu dan ditiru. Artinya, bahwa guru dituntut memberikan pendidikan dan bukan hanya pengajaran kepada siswanya. Pendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan yang sekaligus membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Menurut Paulo Freire bahwa pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia, sedangkan John Dewey mengatakan bahwa pendidikan yaitu proses yang dilakukan agar ada perubahan dalam masyarakat. Sehingga dapat dikatakan bahwa pendidikan merupakan sebuah proses transfer dan pencarian nilai yang terjadi pada setiap pribadi manusia atau masyarakat yang merupakan perubahan ke arah yang lebih baik. Sedangkan pengajaran merupakan hal teknis proses transfer knowledge (pengetahuan) kepada siswa. Artinya, bahwa guru memiliki tugas utama sebagai tenaga professional yaitu mendidik dan mengajar (PP 74/2008). Mendidik memberikan hasil untuk jangka panjang sedang mengajar untuk jangka pendek, mendidik bobotnya adalah pembentukan sikap mental/keperibadian untuk siswanya sedangkan mengajar bobotnya penguasaan pengetahuan, keterampilan dan keahlian tertentu yang berlangsung bagi semua manusia pada semua level usia.

Guru Agen Transformasi
Undang-undang Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 pasal 3 menyatakan pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mengawal tugas dan fungsi professional seorang guru, mereka menggunakan berbagai cara untuk mencapai tujuannya, tentunya corak karakter masing-masing guru akan tergambar dalam proses yang lakukannya.
Guru sebagai agen transformasi harus bekerja professional dan bekerja dengan hati nurani karena guru merupakan garda terdepan yang berusaha mewujudkan Indonesia cerdas, kompetitif dan berdaya saing menjadi tolak ukur terhadap keberhasilan pemerintah dalam mewujudkan program-program tersebut. Mewujudkan kualitas dan mutu pendidikan Indonesia berarti dilalui juga dengan membuat sistem yang memberikan dan mengarahkan guru Indonesia cerdas, kreatif, dan inovatif sehingga memberikan pendidikan yang efektif di sekolah, dalam hal ini guru bekerja profesional.
Menjadi guru profesional harus memiliki minimal empat kompetensi seorang guru yaitu; kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi personal, dan kompetensi sosial (Sisdiknas, 2003). Keempat kompetensi tersebut tercermin dalam diri guru dan dapat dilihat dalam tugas pokok guru yang disingkat 5M yaitu 1) merencanakan pembelajaran atau pembimbingan; 2) melaksanakan pembelajaran atau pebimbingan; 3) menilai hasil pembelajaran atau pembimbingan; 4) membimbing dan melatih peserta didik; dan 5) melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada kegiatan pokok guru: kasek, wakasek, kepala program keahlian, kapus, kepala lab/bengkel/unit produksi, pembimbing khusus, tugas tambahan lainya.

“Guru yang di Ikhlaskan”
Perlu diketahui bahwa guru-guru Indonesia terdiri guru PNS dan guru Honorer. Jumlah guru yang terdata di Kemendikbud yaitu 2.735.273 dengan laki-laki sebesar 961.093 dan perempuan sebebsar 1.774.180. dan jumlah guru honorer dari tingkat SLB, SD, SMP, SMA/SMK di Indonesia yaitu 701.727 belum termasuk guru madrasah-madrasah (BPS dan Kemendikbud). Namun, dalam bekerja di sekolah masing-masing, tidak lagi melihat guru PNS atau honorer, mereka memiliki tugas dan fungsi yang sama. Tetapi penghasilan mereka tidak sama, guru honorer tidak boleh di gaji dengan seikhlasnya apalagi gaji dengan ucapan terima kasih, seharusnya guru-guru honorer diberikan juga penghasilan/gaji yang standar (UMK) sehingga mereka fokus untuk mendidik dan mengajar siswa-siswa mereka, tidak lagi memikirkan dan mencari jalur penghasilan lain sebagai bekal untuk keluarga mereka di rumah.
Begitu banyak tugas-tugas dan fungsi guru namun masih juga diperlakukan tidak manusiawi sampai saat ini. Berbagai peristiwa/permasalahan pendidikan kita disebabkan oleh perilaku peserta didik, orang tua dan guru, hal ini terlihat dalam beberapa kejadian seperti Nurmayani guru Bilogi SMPN 1 Bantaeng ditahan karena dilaporkan mencubit siswanya, Frater Inho Loe (Calon Pendeta) seorang guru agama di SD Santo Antonius Jakarta Timur berurusan dengan polisi karena dilaporkan diduga mencubit siswanya, Guru memukul siswa kelas 6 SD Inpres Cambaya Gowa, Mubasyir guru PJOK SMAN 2 Sinajai Selatan Sulsel ditahan gara-gara mencukur rambut punk siswanya, Kepala Sekolah (Sakri) SDN 1 Ciwareng Purwakarta ditampar ortu siswa Adit Darmaji guru SMK memukul siswa kesurupan dipenjara 3 bulan, dan banyak kejadian-kejadian lainnya yang merusak citra pendidikan di negeri ini. Kejadian teranyar adalah hak guru honorer (honor) belum terbayarkan di berbagai daerah di Indonesia ada yang 4 bulan – 11 bulan belum dibayarkan. Kejadian-kejadian tersebut menjadi saksi sejarah kelamnya pendidikan kita.(*)

Advertisements

Share this post

Post Comment

Or