SUARA LOTENG 

Pemuda Ketare Dukung Nama Pahlawan Nasional Melekat di Bandara

 

Lombok Tengah SR- Setelah dikalangan akademisi lingkar Bandara, memberikan dukungan terhadap SK Kementerian Perhubungan Nomor 1421 tentang pergantian nama bandara Internasional Lombok menjadi bandara Internasional Zaenuddin Abdul Madjid Lombok.

Kini dikalangan pemuda Desa Ketare Kecamatan Pujut Lombok Tengah (Loteng), ikut memberikan dukungan terhadap perubahan nama Bandara tersebut.

Melalui pesan WhatsAppnya , Lalu Wawan Diningrat warga Dusun Mange Desa Ketare Kecamatan Pujut Loteng, mengaku pihaknya atas nama pemuda Desa Ketare Kecamatan Pujut Loteng, memberikan dukungan penuh kepada pemerintah, melalui Kementerian Perhubungan Republik Indonesia dengan SK 1421 tentang pergantian nama bandara Internasional Lombok menjadi Bandara internasional Zaenuddin Abdul Madjid Lombok.

“Kami dari kalangan muda Desa Ketare menyatakan sikap mendukung penuh nama bandara dengan nama BIZAM Lombok,” katanya.

Ada beberapa alasan kenapa pihaknya mendukung penyematan nama bandara dengan nama pahlawan. Diantaranya, beliau baginya salah satu ulama’ yang memiliki jasa besar di NTB, terutama dibidang keagamaan dan pendidikan.

Selain itu, beliau juga sudah di berikan kehormatan oleh pemerintah pusat, dengan menyandang gelar pahlawan. Sedangkan dimana diketahui, mendapatkan gelar pahlawan, itu tidaklah mudah, sebab ada beberapa mekanisme atau persyaratan baru bisa menyandang gelar teraebut. Dan beliau sudah memenuhi syarat, sehingga diberikan gelar pahlawan.

“Secara rinci persyaratan untuk mendapatkan gelar pahlawan, memang saya tidak tahu, namun pada intinya pemerintah jelas Ndak sembarangan memberikan gelar tersebut, kecuali bagi orang – orang yang telah memberikan jasa besar bagi negara ini,” ungkapnya.

Selain itu lanjutnya, sebagai mana yang dikatakan oleh karibnya satu desa di media ini, dibeberapa titik di sekitar bandara, sering kali dijadikan hal hal yang negatif. Sehingga diharapkan, mengambil nama dari sebuah ulama’ kharismatik, hal hal yang berbau negatif, tidak lagi terjadi dan lebih banyak yang positif.

“Pada intinya, menolak nama Bizam melekat di bandara tidak ada alasan, sebab beliau adalah panutan kami,” tutupnya. (ap)

Related posts