Ketum PBNW  Tuan Guru Bajang Lantik PW NW DI Yogyakarta

Ketum PBNW  Tuan Guru Bajang Lantik PW NW DI Yogyakarta

Yogyakarta, SR – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW) Tuan Guru Bajang KH Muhammad Zainuddin Atsani, Lc., M.Pd.I., Sekjend PBNW Prof. Dr TGH Fahkrurrozi MA dan sejumlah anggota Pengurus Besar NW menghadiri Musyawarah Wilayah Nadlatul Wathan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu – Minggu 07-08 September 2019. Kegiatan Muswil NW DIY itu dilanjutkan dengan pelantikan pengurus baru terpilih untuk masa bakti 2019-2024. Terpilih sebagai Ketua PW NW DIY adalah Ust Zainuddin.

Tuan Guru Bajang KH Muhammad Zainuddin Atsani, mengungkapkan perkembangan Nahdlatul Wathan sampai dengan sekarang ini tidak bisa dipisahkan dengan masa kepemimpinan Ummuna Hj. Sitti Raihanun ZAM.

“Ummuna adalah seorang wanita pemimpin organisasi  yang memperjuangkan pendidikan, sosial dan dakwah, itu terlihat dengan berkembangnya mencapai 800 madrasah/sekolah NW se Indonesia saat kepemimpinan beliau. Jumlah madrasah saat ditinggalkan pendirinya Maulana Syaikh berjumlah 700 an dan ditambah Ummuna 800 an sehingga berjumlah 1500 an madrasah yang sudah berdiri hingga saat ini,” urainya.
Tuan Guru Bajang juga menyebutkan nama lengkap Ummuna yang langsung diberikan Ayahandanya Maulana Syaikh dengan sebutan dan tafsiarannya “Raihanun aran ne Nawwarul Uyun rue ne,  Fikriyah fikiran ne”. Ini maknanya Ummuna memang sudah ditakdirkan menjadi seorang penerus perjuangan Nahdiatul Wathan.
Beliau juga menegaskan beberapa hal diantaranya:
“ Nah untuklah kita sebagai kader khususnya Himmah NW sebsagai kader ilmiah harus menjadi garda terdepan, menjadi pemimpin, pejuang Nahdlatul Wathan, ikut serta dan mmebantu perjuanagan NW,”pintanya
Lanjutnya, kedatangan ke Jogja ini untuk mempersatukan kader-kader Nahdlatul Wathan bukan untuk memecah belah. PB NW akan menyatukan semua AD/ART Badan Otonom sesuai dengan harapan Maulana Syaikh. Himmah NW harus sesuai dengan logo awal sesuai dengan logo yang diterbitkan saat Maulana Syaikh. Meluruskan Mars Nahdlatul Wathan.
“Yang membedakan kita ialah ketaatan, Sami’na wa Ato’na dan orang yang paling mulia ialah orang yang berakhlak yaitu baik moral dan hatinya,”pungkasnya.

Pengurus Wilayah DIY terpilih, Ust. Zainuddin dalam sambuatannya menceritakan sejarah perkembangan Nahdlatul Wathan Daerah Istimewa Yogyakarta. Terbentuknya NW DIY tidak terlepas dari kerja keras dan semangat rekan-rekan maupun para alumni, abituren pecinta yang sedang mengeyam pendidikan di Yogyakarta dan sebagian masyarakat yang telah menerima kedatangan Nahdiatul Wathan di Yogyakarta saat ini.
“Munculnya generasi-generasi muda NW menjadi harapan baru dan semangat juang yang tinggi danmerupakan bentuk manifestasi kedepan dalam membesarkan Nahdlatul Wathan,”ungkapnya.
Kata Ust. Zainuddin mengkisahkan awal kedatangannya ke DIY pada tahun 1999 sebagai seorang pengurus Nahdlatul Wathan dan kami disini telah banyak mempersiapkan terbentuknya PW NW DIY sejak 2017.

“Hari ini kami sangat bahagia dan bersyukur, lebih-lebih dihadiri lansung Ummuna Hj. Sitti Raihanun, ini merupakan sebuah kebarokahan tersendiri yang kami rasakan di Yogyakarta saat ini dan semoga kader-kader pejuang Nahdlatul Wathan kedepan bisa bermunculan karena beberapa tahun ini saja pelajar dari NTB mencapai 5000 orang,” katanya.

Lanjutnya, ini membuktikan bahwa peluang terbentuknya pengurus daerah dan cabang Nahdlatul Wathan sangat mudah apabila semua elemen bergerak. Ust. Zainuddin berharap ada kerjasama dan komunikasi yang tetap berlanjut untuk membina dan membimbing mahasiswa yang ada di Yogyakarta.

“Kita perlu membangun kerjasama, membangun benteng dengan Husnul Manik karena pergaulan anak-anak maupun orang-orang DIY berbeda dengan karakter orang Lombok. Banyak pemikiran yang berbeda – beda, kita butuh forum-forum diskusi untuk membina karakter generasi NW disini,” tandasnya.
Tak lupa Ust. Zainuddin, bercerita tentang muktamar X di Praya Lombok Tengah beberapa tahun silam, bahwa sebelum keributan seorang tamu agung tak dikenal namanya datang pada dirinya dan berharap ingin ketemu dengan Ummuna. Waktu itu saya mengajaknya dan akhirnya bertemu kemudian bersalaman dan berdoa untuk Ummuna Hj. Sitti Raihanun kemudian pergi untuk bertemu dengan Ummi Rauhun namun Ummi Rauhun tidak mau bersalaman dan dengan tamu agung tersebut.

“Pada keesokan harinya TGH. Abidin datang bersama rombongan dari Pancor, lalu TGH Abidin menjawab. “Ye kenak wah imam te, ye wah pimpinan te” (dia sudah benar pimpinan kita). Usai Muktamar itu pada suatu hari ketika habis shalat magrib di mushalla Abror ditunggu sama Ummi Rahmatullah kemudian beliau memberitahu bahwa yang datang itu menemui Ummuna itu adalah Maulana Syaikh,”tuturnya mengenang masa itu.
Sementara Sekjend PBNW, Prof. Dr. TGH. Fakhrurrozi Dahlan, MA, dalam sambutannya, menyampaikan tentang pemikiran dan barokatul usul ‘Tuan Guru Bajang’ merupakan barokatul usul. Keberkahan usul adalah langsung dari asal muasal bukan dari cabang-cabang. “Ini merupakan keberuntungan,” tandasnya.
Lanjutnya, warga Sasak NTB tidak bisa lepas dari usul karena nenek moyang kita adalah tetesan murid Maulana Syaikh sehingga kita adalah percikan tetesan usul dari keilmuan Maulana Syaikh itu. Kebarokahan itu tidak akan kita raih apabila tidak kita memiliki hal terbaik pada diri kita.
“Domain berorganisasi di Nahdiatul Wathan ialah harus dengan spiritual sufistik yaitu dengan hati bukan mengandalkan logika. Ini maknanya apa yang telihat mata, yang terasa maupun yang masuk diakal bukanlah satu-satunya petunjuk atau keyakinan untuk berjuang di Nahdlatul Wathan melainkan di Nahdlatul Wathan ini kita dilatih tentang sebuah spiritual yang tidak mampu dicerna akal fikiran maupun logika kehidupan,” ujarnya.
Hadir pada Muswil NW Daerah Istimewa Yogyakarta adalah  Ketua Dewan Mustasyar PBNW, Ummuna Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid, Katib Am dewan Musytasyar PBNW, Dr. TGH. Abd. Muhyi Abidin, MA, Sekjen PBNW Prof. Dr. Fakhrurrozi Dahlan, MA, dan beberapa beberapa anggota PBNW. Seperti, Dr. Muhammad Tohri, M.Pd., Lalu Fauzi Hariadi,  M.Pd.I., Nurcholis Muslim, MH. Dr. Sirajul Hadi,  dan Muh. Alwi Farhanuddin, M.SI. (ari)

Share this post