PEKAN PESONA GUMI SELAPARANG

PEKAN PESONA GUMI SELAPARANG

Oleh: Dr.H.Mugni, M.Pd.,M.Kom.  (Kadispar Lotim)

Balik dari menghadiri Festival Gawe Musim Kebalit di Sakra di atas mobil saya dapat wa dari teman. Teman di kampus saat masih aktif jadi pelayan mahasiswa. “Pak ikut di FB diskusi Lotim”. Saya jawab gak…ee.. biasa kan di wa berbalas pantun. “Di sana banyak kritik dan apresiasi tentang Pesona Gumi Selaparang (PGS) dan Pekan Pesona Gumi Selaparang (PPGS)”. Saya jawab, “Oh gitu…tu kan biasa…berbuat baik or berbuat buruk pasti ada yang dukung dan ada yang tidak dukung (kritik itu bagus asal ada tawarannya yang lebih baik). Jadi kalau anda berpeluang berbuat baik dan peluang untuk mengeksekusinya terbuka segera laksanakan sekalipun anda seorang diri. Bila lama-lama mikir entar semakin banyak “setan” yang ikut nimbrung. Gak jadi deh. Jalan terus dan terus sempurnakan dari masukan/kritikan orang. Kritikan jangan tanggapi karena yang main kan yang di dalam lapangan. Penonton kan macam-macam kalau semua masukan didengar gak jadi main dan kehabisan waktu. Pemain harus fokus pada perintah/petunjuk/arahan pelatih. Penonton  kan banyak yang sok tau. Ram komputernya sebenarnya hanya 100 GB….dipindahin data 500 GB…rusaklah..(ngoro ngidul deh)”.

Beberapa hasil diskusi itu discreenshot oleh teman tu, sy baca satu persatu. Mereka bukan  mengkritik. Cuma mereka pengen tau tentang konsep PGS dan  PPGS. Cuma sedikit agak geli ada orang yang seperti selalu ikut kegiatan kegiatan yang dilaksanakan Dispar Lotim, ada pelatihan guid ikut, pelatihan manajemen home stay ikut; pelatihan promosi digital ikut; rapat-rapat di kantor Dispar ikut. Kok belum  paham juga. Padahal pada kegiatan-kegiatan tersebut yang dilaksanakan pasca PGS ditetapkan maka  PGS dan PPGS selalu disinggung.  Apa yang bersangkutan oon or sengaja gak mau paham. Or tu yang giganya 100 GB dimasukin data 500 GB…jadi kebanyakan data jadi tumpah…gak kepindah…hehe.

Pesona Gumi Selaparang (PGS) adalah brand/merek/jargon/sembek/ panggilan/tagling untuk promosi pariwista Lombok Timur. Kenapa Pesona Gumi Selapang? Sudah diproses melaui diskusi publik pada tanggal 21 Maret 2019 yang dihadiri 50 orang peserta yang  mewakili birokrasi, akademisi, budayawan, agamawan, tokoh masyarakat dan pelaku/praktisi pariwisata. Brand ini juga sudah di–SK-kan oleh Bupati Lombok Timur. Diskusi untuk brand ini telah selesai. Bagaimana aplikasi dari Pesona Gumi Selaparang (PGS). PGS  adalah semua hal yang dilakukan oleh masyarakat Lombok Timur dan semua  yang ada di Lombok Timur yang memiliki daya tarik. Daya tarik adalah sesuatu yang unik yang membuat orang berminat untuk melihat/menikmati. Apakah ini alam/tadisi/budaya/religi, dan lain-lain.  Jadi apa saja yang dilakoni oleh masyarakat Lombok Timur yang memiliki daya tarik adalah Pesona Gumi Selaparang. Sekarang diformalkan di bawah branding/jargon/tagling Pesona Gumi Selaparang. Orang begawe : Pesona Gumi Selaparanng. Orang perisaian : Pesona Gumi Selaparang. Orang nyongkolan : Pesona Gumi Selaparang. Orang belanjakan : Pesona Gumi Selaparang. Orang makan di Lesehan Tanak Maik : Pesona Gumi Selapang. Orang nenun di Pringgasela : Pesona Gumi Selaparang. Orang serah terima santri baru : Pesona Gumi Selaparang. Orang  HULTAH NWDI :  Pesona Gumi Selaparang. Orang hiziban : Pesona Gumi Selaparang. Orang Selakaran :  Pesona Gumi Selaparang. Orang takziah: Pesona Gumi Selaparang. Sembalun yang indah :  Pesona Gumi Selaparang….Festival layang-layang di Pantai Kura-Kura Desa Ekas Buana :  Pesona Gumi Selaparang. Festival Angin Selatan di Serewe : Pesona Gumi Selaparang. Begawe Musim Kebalit di Sakra : Pesona Gumi Selaparang. Festival Gili Sulat : Pesona Gumi Selaparang. Terabas Rinjani Bareng Motor Triel : Pesona Gumi Selparang, dan seterusnya. Inilah hakekat dari Pesona Gumi Selaparang. Setelah Pesona Gumi Selaparang ditetapkan sebagai branding maka seluruh kegiatan-kegiatan tersebut bernaung di bawah payung Pesona Gumi Separang. Mungkin ada masyarakat yang tidak menerima atau tidak mau berpayung dengan Pesona Gumi Selaparang. Boleh tidak mau tetapi tentu Dispar (Pemkab) tidak terlibat dalam kegiatan-kegiatan tersebut.

Kegiatan-kegiatan yang bernilai kepariwisataan yang hidup dan berkembang di masyarakat supaya bisa dinaungi oleh Pesona Gumi Selaparang maka harus terdaftar pada Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Timur. Kegiatan-kegiatan yang dikategorikan bernilai kepariwisataan secara sederhana adalah kegiatan yang  dapat menarik orang untuk datang mengikut/melihat/menikmati. Dalam teori sederhana bahwa pariwisata adalah datang ke suatu tempat dengan tujuan tidak untuk bekerja. Orang datang ke suatu tempat karena di tempat itu ada daya tarik. Daya tarik itu dapat berupa alam, budaya/tradisi/kebiasaan dan/atau aktivitas keagamaan. Untuk menginventaris kegiatan-kegiatan masyarakat yang bernilai kepariwisataan Dinas Pariwisata Kab. Lombok Timur pada bulan April – Mei telah menurunkan surat ke seluruh desa/kelurahan se-Lombok Timur. Hasil inventarisasi inilah yang akan dianalisis oleh tim apakah layak untuk dijadikan atraksi yang akan dipayungi oleh Pesona Gumi Selaparang. Atraksi itu baru bisa dipayungi oleh Pekan Pesona Gumi Selaparang bila padanya terdapat 3 K (komitmen/kepastian, keberlanjutan, dan kreatifitas). Bila ketiga persyaratan ini terpenuhi maka akan dapat dijadikan clander of event di Lombok Timur di bawah payung Pesona Gumi Selaparang. Konsekuensinya akan mendapat  dukungan pendanaan dari Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Timur.

Masyarakat desa bersama  unsur pemerintah desa bersepakat menjadikan suatu atraksi menjadi event kepariwisataan di tingkat desa. Atraksi ini harus pasti waktu pelaksanaannya dan tidak boleh berubah-ubah. Atraksi ini dijamin keberlanjutannya. Pada setiap waktu ada kreatifitas untuk meningkatkan daya tarik. Kreatifitas ini bukan berarti menghilangkan atraksi dasar atau filosofisnya. Harus dipertahakan keasliannya tetapi ada kreatifitas atau ada atraksi lain yang dapat menarik perhatian orang untuk terus datang untuk menyaksikan. Bila ini dapat kita lakukan maka Pesona Gumi Selaparang akan dapat meningkatkan kesejahteraan dan kebahagian masyarakat Lombok Timur.

Sementara PPGS adalah Pekan Pesona Gumi Separanag. Kegiatan tahunan yang akan dilaksanakan untuk tingkat Kabupaten Lombok Timur. Kegiatan ini akan terus dilaksanakan sebagai rangkaian peringatan hari Jadi Kabupaten Lombok Timur yang jatuh pada tanggal 31 Agustus. Untuk itu PPGS akan dilaksanakan pada minggu ke-4 Agustus. Untuk tahun 2019 ini dilaksanakan tanggal 26 – 31 Agustus 2019 untuk pelaksanaan yang pertama. Bagaimanakah konsep PPGS? Konsep PPGS adalah ajang mempromosikan Pesona Gumi Selaparang secara garis besar dan terpilih. Misalnya salah satu Pesona Gumi Selaparang adalah kain tenun Peringgasela. Saat PPGS proses menenun sehingga menjadi barang jadi siap dipakai dapat diperagakan. Saat PPGS ini dapat dijelaskan bahwa bila pengunjung ingin menyaksikan bagaimana proses yang sebenarnya maka datanglah ke Desa Pringgasela setiap saat. Bila ingin menyaksikan menenun kolosal maka datanglah saat Fertival Alunan Budaya Desa pada bulan September. Salah satu Pesona Gumi Selaparang dalam bidang kuliner (makanan khas) milik Kecamatan Aikmel, “cecengeh”. Saat PPGS proses pembuatan cecengeh dapat diperagakan sampai makanan tersebut disajikan siap santap. Tetapi bila pengunjung ingin ikut memasak cecengeh maka datanglah ke desa-desa yang ada di Kecamatan Aikmel maka anda dapat mengikuti seluruh proses memasak cecengeh termasuk ke sawah untuk memetik bahan dasarnya. Dalam bidang seni budaya mislanya, dalam PPGS akan ditampilkan berbagai kesenian yang ada di Lombok Timur. Misalnya, tari gagak mandik. Bila pengunjung ingin menyaksikan lebih lanjut dan ingin menjadi penarinya maka datanglah ke Desa  Lenek untuk belajar di Sanggarnya sekaligus dilatih oleh penciptanya. Jadi PPGS adalah pekan untuk mengekspose potensi dan kekayaan kepariwisataan Kabupaten Lombok Timur. Apa yang sudah ada akan ditampilkan secara garis besar. Bila anggaran memadai pada masa yang akan datang tentunya akan semakin beraneka ragam yang akan dapat ditampilkan. Tetapi untuk tahun ini kita memulai dengan anggaran yang terbatas dengan semangat optimis. “ Janganlah perut mengalahkan kepala. Bila pariwisata yang kita kembangkan:  alam akan lestari; budaya akan kokoh; agama akan bergairah; masyarakat akan bahagia dan sejahtera”. Alam, budaya, religi adalah harga tinggi dalam kepariwisataan. Wallahuaklambissawab

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share this post