Pegiat Ketak : Haram Hukumnya Dukung Incumbent

Pegiat Ketak : Haram Hukumnya Dukung Incumbent

Terkait Pemindahan Pembangunan Pasar Seni Ketak Beleka

Lombok Tengah SR- Pegiat Ketak Desa Beleka Kecamatan Praya Timur Lombok Tengah (Loteng), mengharamkan memilih Incumben dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Loteng, 2020 mendatang.

Pasalnya, pemerintah saat ini telah melakukan kebohongan dan kejahatan besar kepada para pegiat ketak, khususnya di Desa Beleka Kecamatan Praya Timur.

“Pokoknya, saya haramkan pada pemilihan Pilkada Loteng tahun 2020 mendatang, untuk memilih incumbent, ataupun keluarganya incumbent,” kata Ijim Pratama, saat melakukan rapat di aula desa dengan para sesepuh dan tokoh Desa Beleka, Senin (26/08/2019).

Pengharaman tersebut lanjut mantan Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Loteng, sebab pemerintah saat ini telah membuat kesalahan dan kebohongan besar, bagi masyarakat Desa Beleka. Dimana pembangunan pasar seni tradisional, yang seyongyanya akan dibangun di Desa Beleka, ternyata dibangun di Desa Sengkerang Kecamatan Praya Timur Loteng.

Pengalihan tersebut, ia ketahui kemarin sore, ketika ia pulang dari Praya, sesampainya di Desa Sengkerang, pihaknya melihat dum lalu lalang keluar masuk ke lokasi pembangunan. Merasa penasaran, pihaknya menanyakan ke salah seorang, dan di jawab, itu proyek pembangunan pasar seni.

“Jujur, asli saya tidak tahu pembangunan pasar seni tradisional, yang semulanya akan dibangun di Desa Beleka, di pindahkan ke Desa Sengkerang,” ungkapnya.

Setelah mendapatkan informasi tersebut, pihaknya langsung menghubungi Kepala Dinas Perdagangan Loteng, namun tidak diangkat. Tidak sampai di sana, pihaknya juga menghubungi Wakil Bupati dan Sekretaris Daerah (Sekda), namun tetap tidak ada yang angkat telepun. Selang beberapa menit, Sekda menelpun balik, dan saat itu, pihaknya langsung menanyakan hal diatas, dengan berbagai alasan, pihaknya langsung mengkanter dan bilang jangan berbohong.

“Tiga Pejabat berwenang, kami langsung kontak, cuman pak Sekda yang telpun balik, dan memberikan alasan, tapi saya bilang jangan bohong, sebab saya lebih paham dengan kondisi Praya Timur,” ujarnya.

Kenapa pihaknya mengatakan demikian lanjut Ketua BPD Desa Beleka, sebab beberapa alasan yang dilontarkan oleh Sekda, itu semuanya bohong dan ingin mengelabui masyarakat Desa Beleka.
“Katanya Sekda, lahan tidak ada, masyarakat tidak setuju dan banyak lagi alasan lainnya, dan alasan yang dilontarkan oleh sekda itu, murni bohong,” gerahnya.

Hal senada ditimpali Mansur salah seorang tokoh masyarakat, dimana dulu ketika pemda Loteng gencar ingin membangun pasar seni tradisional di Desa beleka, tiga kali konsultan dateng dan melakukan pengukuran, hingga desain gambarnya sudah diperlihatkan. Selang beberapa minggu konsultan tersebut datang, di media masa, pihaknya membaca statmen Kepala Dinas Perdagangan dan Industri Loteng, kalau pemerintah pusat sudah menyetujui, pembangunan pasar seni tradisional Beleka, dibangun.

“Sudah Tiga kali konsultan datang dan di media masa juga di sebutkan, kalau pemerintah pusat menyetujui pembangunan pasar seni tradisional, itu dibangun di Desa Beleka. Makanya saya setuju dengan apa yang diketakan ketua BPD, kalau Pemkab Loteng telah menebarkan kebohongan,” tegasnya.

Selain hal diatas, ketika Desa Beleka masih dipimpin saudara Senang Harits pihaknya bersama sejumlah tokoh dan pengurus partai, intens melakukan komunikasi dengan Bupati ataupun Wakil Bupati.
Dimana, dari hasil pembicaraan, tanah pemda yang ada di belakang Ponpes Sohiburrahman Desa Beleka seluas 24 are, itu dijadikan sebagai lokasi pembangunan, belum lagi lahan yang berada di sekitar asset pemda.

Selain itu, wabup juga sempat menanyakan kondisi SMPN 5 Praya Timur, yang ada di Desa Beleka, dimana pihaknya mengatakan, sejak berdiri ditahun 2008, sampai sekarang siswanya tidak pernah lebih dari 50 orang dan sekarang saja kelas VII, sebanyak 6 orang.

“Setelah saya jelaskan, wabup juga sempat bilang, jika tidak ada kemajuan, kenapa tidak SMPN 5 di Marger saja,” tuturnya.

Namun sekarang apa yang pernah disepakati dan SK pusat yang menyetujui pembangunan di Desa Beleka, tidak sesuai dengan kenyataan, artinya pembangunan pasar seni Tradisional, malah dibangun di Desa Sengkerang tanpa ada kejelasan.

“Kami sangat sakit pak, apapun kami akan perjuangkan dan bila perlu kami bersama pegiat ketak di Kecamatan Praya Timur dan Janapria, akan melakukan perlawanan dan aksi ke pemkab,” ancamnya. (ap)

Share this post