SUARA LOBAR 

Kabar TKW Asal Lobar Disiksa Majikan, Keluarga Dirundung Sedih

Lombok Barat SR – Tabir kelam kembali  merenggut keluarga Tenaga Kerja Indonesia (TKI) bernama Sriwahyuni asal Dusun Serumbung Pesanggrahan Desa Lembar Selatan Lombok Barat . Sriwahyuni janda (25) beranak dua ini, diduga menjadi korban penganiayaan berat oleh majikannya di Negara Timur Tengah, Arab Saudi.

Keberangkatan korban bersama teman teman lainnya diduga illegal yang dikirim seorang tekong di Lombok Tengah. Terhitung sejak pergi meninggalkan rumahsekitar 2017 lalu, pihak keluarga dilarang berkomunikasi oleh majikan itu, dengan alasan dia sedang bekerja dan jangan diganggu. Sejak saat itu, komunikasi keluarga tenggelam dan tak ada lagi, sampai akhirnya kabar buruk  merundung keluarga Sriwahyuni.

Saharudin orang tua korban yang ditemui di kediamannya Jumat (26/07/2019) mengutarakan, awal keberangkatan Sriwahyuni (red-anaknya) ke Timur Tengah, sebelumnya sudah diwanti wanti, karena jika bertekad kuat untuk kesana, pastikan dengan legalitas yang jelas. Karena sebelumnya, ayah korban curiga jadi TKI yang tidak disertai dengan pelatihan. Namun karena pengaruh doktrin dari tekong sialan itu, anak saya tak bisa dibendung keinginan untuk tetap pergi.

“Meski diyakinkan untuk pergi dengan legalitas, dia lasannya harus tetap berangkat dengan teman temannya. Karena pengaruh jahat tekong akan gaji besar dan di isyaratkan aman dan tidak ada kendala,” cetusnya.

Keinginan Sriwahyuni yang kuat justru  termotivasi karena melihat kondisi, sekaligus ingin memperbaiki ekonomi keluarga. Selain itu, dia terhipnotis dengan cerita indah dengan gaji besar ditambah perusahaan besar dan sangat aman oleh tekong yang berstatus Haji itu.
Akhirnya Sri pun berangkat dari rumah tekong di Loteng.

“Katanya kalau sudah punya uang, dia ingin beli rumah dan yang lainnya. Dia ingin memperbaiki ekonomi, itu impiannya,” beber Saharudin.

Pihak keluarga sendiri tidak tahu lewat perusahaan apa dia berangkat, karena pihak tekong tidak memberitahu pihak keluarga. Saat berangkat pun pihak keluarga tidak mengantar, karena tidak diberitahu saat keberangkatan. “Memang sudah di doktrin sama penjahat itu,” ucapnya.

Sriwahyuni berangkat meninggalkan rumah untuk kerja di luar negeri, akhir 24 Desember  2017 lalu. Namun hari pertama dia bukannya star di kediaman kita sendiri, melainkan star bersamaan di Lombok Tengah sekaligus harus nginap semalam disana.

“Kalau memang mereka ini aman dan legal, kenapa star nya mesti ditempat lain, nginap lagi. Memang awalnya saya sudah ada firasat, dia bersama teman temannya, dimanfaatkan oleh tekong,” kesalnya.

Sebulan setelah tiba di Arab, barulah mengontak keluarga. Itupun nomor telepon yang dipakai milik bos nya. Setelah bekerja disana pun,  Sri tidak pernah berani memberitahu dimana dia bekerja. Setelah tiga bulan disana, persisnya tanggal 29 Mei 2018 Sri pun mengirim uang ke keluarga Rp 10 juta lebih. Berikutnya Tanggal 13 juli 2018,  Sri kembali mengirim uang Rp 11 juta lebih. Setelah dua kali mengirim uang, Sri tidak lagi mengirim uang. Bahkan terakhir kontak dengan keluarga tanggal 16 desember tahun lalu.

“Kami tidak pernah dikontak, lalu sekitar tiga bulan lalu (sebelum puasa) kami mendapatkan informasi kalau anak kami diperlakukan kasar (dianiaya) di Arab. Dia dianaya dengan cara rambutnya dijambak, dicambuk dan disiram air panas,” jelas dia.

Mendengar kabar anaknya dianiaya, keluarga merasa diselimuti rasa sedih yang mendalam selama semalaman. Ia pun berupaya mencari tahu dan melapor ke KBRI.  Pihaknya pun mencari lewat tekong untuk menelusuri keadaan anaknya disana. Setelah itu pihaknya tekong pun mendatangi keluarga, pihak tekong berjanji akan menanyakan kondisi Sri. Pihak tekong pun mengabarkan ke keluarga bahwa kondisi Sri baik saja.  Namun kabar yang diperoleh keluarga bahwa Sri sudah berada di shelter KBRI Jeddah. “Kondisinya anak kami masih sakit, dia mau pulang,” jelasnya.

Keluarga berharap agar Sri segera dibawa pulang. Serta menuntut agar pihak perusahaan atau tekong yang memberangkatkan menyelesaikan hak ke Sri. “Kami juga sudah melapor ke kepolisian. Kami berharap tekong juga dihukum seberat – beratnya,” tegasnya.

Sementara itu Kepala Dusun Serumbung Pesanggrahan, Suhaemi mengatakan, pihaknya sudah berupaya membantu keluarga Sri untuk  menanyakan kondisi Sri. Pihaknya sudah mendampingi pihak keluarga, petama ke dinas terkait di Mataram, lalu ke polda. Pihak polda menyarankan agar keluarga melapor ke polres, dan sudah melaporkan ke Polres terkait kasus ini. “Kami harap laporan ini dapat ditindaklanjut oleh kepolisian dan bisa terselesaikan.

Sejauh ini banyak warganya berangkat menjadi TKW. Namun tidak banyak yang berhasil, sebab ada yang tertahan di Jakarta tidak bisa langsung berangkat ke luar negeri. Mengantisipasi terjadi hal ini, pihak desa ingin memberikan penyuluhan dengan melibatkan semua pihak terkait keberangkatan TKI ke luar negeri. “Kasus ini menjadi pelajaran supaya kedepan tidak terjadi hal serupa lagi,” pungkasnya. (W@N)

Related posts

%d blogger menyukai ini: