Festival ‘Ngejot’ Jelang Idul Fitri di Paer Lenek Terus Dilestarikan

Festival ‘Ngejot’ Jelang Idul Fitri di Paer Lenek Terus Dilestarikan

Lombok Timur,SR-Masyarakat Paer Lenek (Desa Lenek dan Desa Lenek Pesiraman) Kecamatan Lenek setiap menjelang perayaan Idul Fitri menggelar festival ‘Ngejot’, yaitu bentuk silaturrahmi dengan cara berbagi makanan antara masyarakat yang satu dengan masyarakat lain. Menurut Kepala Desa Lenek-Suardi, saat di wawancara di lokasi acara, di lapangan Wirangbaya desa Lenek Pesiraman, Selasa (04/06) lalu, mengatakan, bahwa tradisi ini telah diwarisi masyarakat Lenek sejak zaman dahulu (sejak adanya Desa Lenek). Ngejot dicirikan secara simbolis dengan membawa dulang”sampak” berisi ragam sajian khas lebaran masyarakat lenek. Dulang ditutupi dengan tembolaq (penutup makanan) berwarna merah.
“Sajian di dalamnya berupa topat lenek (ketupat serupa lontong dibungkus daun pohon aren), sate kelapa, lauk pauk dan beragam jenis jajanan lebaran, untuk kemudian diberikan kepada orang tua, mertua, tetangga terdekat, tokoh agama dan masyarakat, serta pemimpin, sekaligus meminta maaf kepada orang tua dan mertua, mungkin dalam kehidupan sehari-hari ada salah dan khilaf,”ungkapnya.
Lanjutnya, tradisi ini, mengajarkan bagaimana seorang anak berbakti kepada orang tuanya dan menjalin silaturrahmi dengan keluarga meskipun jarang berkumpul. Festival ini diadakan untuk memotivasi masyarakat agar tetap semangat melestarikan budaya daerah.
“Dalam festival ini, semua lapisan masyarakat ikut berpartisipasi. Para staf desa dan kecamatan, kepolisian, pemuka agama, tetua desa, pemuda, serta perempuan-perempuan pembawa dulang baik tua maupun muda terlihat antusias meramaikan Festival Ngejot tersebut,” ujar Suardi.

Sementara itu, Camat Lenek, H.M.Supriyadi,S.Sos,M.Pd dalam sambutannya, mengatakan, Festival “Ngejot” sendiri merupakan refleksi kearifan local masyarakat Paer Lenek, sebagai wadah untuk memperkenalkan adat tradisi budaya pada generasi selanjutnya, serta bentuk tanggungjawab masyarakat Paer Lenek sebagai pemilik dan pewaris adat tradisi budaya tersebut. Dengan harapan kesadaran akan menjaga dan melestarikan tradisi budaya tertanam sejak dini, sehingga generasi Paer Lenek selanjutnya tetap ‘menapaki jejak leluhur’ yang sarat akan nilai agama dan kemanusiaan.
“Satu-satunya cara untuk menyaring masuknya budaya asing ialah dengan mengukuhkan kembali nasionalisme budaya, misalnya seperti yang kita kerjakan saat ini Festival Ngejot, makanan tradisional dan kesadaran sejarah,” kata Supriyadi.
Sedangkan Kepala Dinas Pariwisata Lotim, Dr.Mugni dalam sambutannya, mengatakan, tradisi Ngejot ini menunjukkan bentuk rasa syukur seseorang atas nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah Swt. Pengamalan nilai-nilai yang terkandung dalam prosesi ngejot ini sebenarnya merupakan wujud aktualisasi perintah Allah SWT. Prosesi Ngejot yang dulu hanya sekedar dalam bentuk bejango dan betanjak berubah menjadi wujud silaturrahmi yang sakral, baik antara seseorang dengan orang tuanya ataupun dengan pemimpinnya.
“Tradisi Ngejot ini dapat dijadikan tonggak lebih menciptakan kemesraan dan tali persaudaraan antara sesama masyarakat lainnya,” harapnya.
Kedepanny, lanjut Kadis kegiatan seperti ini bisa dijual ke luar negeri asalkan waktu pelaksanaannya tetap konsisten tidak berubah, misalnya diadakan setiap tanggal 29 bulan Ramadhan, dan ini perlu kita diskusikan.
“Saat ini di kantor Dinas Pariwisata Lotim setiap hari Jum’at diwajibkan memakai baju muslim Adat Sasak, dan harus pakai bahasa Sasak, dan memakai nama Amak, Inak, Papuk,”ujarnya. (pri).

Share this post