Disinyalir Material Langka, Hambat Pengerjaan Proyek Fisik

Lombok Barat SR – Material bangunan di Lombok Barat sejauh ini keberadaannya dinilai masih sangat minim dan langka. Kondisi ini disinyalir penggunaan material yang bersamaan untuk membangun rumah tahan gempa (RTG), rumah rusak sedang dan ringan yang berjumlah puluhan ribu unit untuk korban penanganan gempa.
Sementara dikhawatirkan berdampak terhadap pengerjaan proyek fisik milik pemda Lobar terancam molor. Terlebih tahun ini, jumlah paket proyek fisik yang dibangun mencapai 90 paket lebih. Mengantisipasi ini, pihak Pemda sendiri akan meminta para rekanan memastikan ketersediaan material.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PU-PR) I Made Arthadana mengakui ada gejala-gejala yang timbul akibat limitnya material. Namun konsekuensi dari setiap pekerjaan, tentu kontraktor yang harus mencari material sesuai dengan kontrak yang ada.
“Kita akan antitisipasi (dampak limitnya material), nanti kita optimalkan dari sisi pengendaliannya,” jelasnya Jumat (10/05).
Pada saat pertemuan dengan rekanan, pihaknya akan menstressing persoalan material ini dan meminta rekanan menyiapkan langkah antisipasi terhadap persoalan material ini. Sejauh ini khusus di dinasnya sendiri baru ada satu proyek fisik yang mulai dikerjakan.
“Kami baru ada satu yang jalan yaitu proyek jalan dari PRIM,” ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Lobar Rosyidi mengatakan, kondisi material saat ini menjadi langka disebabkan produksui terbatas, sementara kebutuhan meningkat. Sebab secara bersamaan material dipakai untuk membangun RTG, perbaikan rumah rusak sedang dan ringan. Dampak dari percepatan penanganan rumah gempa ini kata dia, semua pembangunan dikebut secara serentak sehingga butuh adanya material.
”Dampak dari pembangunan rumah gempa ini membuat material limit, sehingga tak hanya mempengaruhi pembangunan RTG, namun juga pekerjaan fisik pemda,” jelas nya.
Sejauh ini ia melihat beberapa paket proyek seperti irigasi sudah terdampak limitnya material. Akan tetapi belum ada langkah dari pemda melakukan antisipasi dengan turun ke lapangan. Ia menambahkan, jika melihat produksi material di Lobar sendiri terbatas, misalnya batu bata merah hanya ada di Gerung, Kuripan dan Lembar.
“Sedangkan pasir, pengerukan lokasi tambang terbatas sebab tidak boleh jor-joran, tandasnya. (W@N)

Share this post