Camat yang Diduga Sunat Honor Marbot Akhirnya Ditahan

Camat yang Diduga Sunat Honor Marbot Akhirnya Ditahan

Lombok Tengah SR – Setelah melakukan pemeriksaan tersangka secara berkala, akhirnya Penyidik Polres Loteng menjebloskan Camat Praya Barat Daya (Praya Barat Daya), Kamarudin ke dalam sel tahan Polres Loteng Jumat (15/3) lalu. Berbagai pertimbangan yang menjadi rujukan pihak Polres Loteng sehingga menetapkan keputusan untuk mengkerangkeng sang Camat yang diduga melakukan tindak pidana Korupsi.
Kapolres Loteng, AKBP Budi Santosa SIk MH didampingi Kasat Reskrim Akp Rafles P Girsang Sik menyatakan, Camat Praya Barat, Kamaruddin setelah menjalani pemerikasaan yang cukup panjang, penyidik menenukan indikasi terjadinya tindak pidana korupsi. Dimana pihak Penyidik Sudah melaksakan penyelidikan, melakukan penyidikan, melakukan pemeriksaan sejumlah 94 orang saksi yang terdiri dari marbot, bendahara Pemda, pembantu bendahara, beberapa camat terkait penyaluran dana untuk marbot.
“Hasil penyidikan dilengkapi dengan dua alat bukti yang sah dan meyakinkan kemudian kami menetapkan Camat Kamarudin sebagai tersangka,” ungkapnya.
Setelah diambil keterangan sebagai tersangka kemudian dilanjutkan dengan melakukan penahanan kepada tersangka.  Pasal yang dikenakan terhadap tersangka, pasal 8 UU 31 tahun 1999 junto UU 20 tahun 2001 dengan ancaman penjara 3 sampai 15 tahun penjara. “Setelah berkas lengkap segera mungkin kami kirim ke kejaksaan nanti,” terangnya.
Penahanan sendiri akan diakukan hingga 20 hari kedepan. Namun dipastikan pemeriksaan sudah lengkap dan hasil audit inspektorat juga sudah ada. “Tahap dua penyerahan tersangka dan barang bukti ke kejaksaan,” sambungnya.
Untuk modus operandi yang dilakukan camat yakni camat tidak membagikan dana marbot pada triwulan ke dua dan tiga. Kemudian tidak jelas pertanggung jawaban dana marbot yang dilakukan oleh camat. Sehingga ada komplain dari marbot yang kemudian itu menjadi dasar pihak kepolisian melakukan penyelidikan dan penyidikan. “Dari hasil penyelidikandan Penyidikan, Kamarudin terbukti menilep dana marbot,” tegasnya.
Lanjutnya, alasan penahanan dilakukan pihak kepolisian yakni agar tersangka tidak melarikan diri, tidak menghilangkan barang bukti. Kemudian karena kasus ini merupakan kasus tindak pidana korupsi apalagi korban marbot yang mengelola dan merawat masjid.
“Tingkat kerawanannya cukup tinggi kalau kita tidak menahan tersangka,” ujarnya.
Dijelaskan, sampai saat ini belum ada petunjuk lain dari keterangan saksi dimana mengarah ke tersangka lain. Sementara alasan camat tidak menyalurkan uang karena uang hilang terbantahkan oleh keterangan saksi. Dan yang disita sebagai alat bukti yakni uang sebesar Rp 11,8 juta didapatkan dari sebagian yang sudah diterima marbot setelah dilakukan penyelidikan dan penyidikan Polres Loteng. “Yang jelas tidak ada alasan kami tidak menahan tersangka,” paparnya.
Sementara Kuasa Hukum tersangka yang juga sebagai Ketua KADIN NTB, Surya Hadi menyatakan, pihaknya membenarkan kliennya ditahan berdasarkan dengan terbitnya surat penahanan dari penyidik. Namun upaya kedepan yang akan dikakukan melakukan permohonan penangguhan penahanan. Rencananya surat permohonanpenangguhan penahanan akan diajukan Sabtu (16/3).
“Camat sudah berusaha untuk kooperatif dan sudah mengembalikan seluruh keuangan Negara yg disangkakan dikorup,” terangnya.
Dimana pengembalian itu dilakukan dalam tahap lidik. Apalagi pada LHP Inspektorat juga tertulis ada pengembalian negara yang dilakukan camat.
“Namun itu semua kembali ke penyidik. Nanti menjadi kewenangan pengadilan yang menentukan ada kerugian atau tidak,” tegasnya.(ang)

Share this post