PROMOSI : URGENSI FESTIVAL PESONA GUMI SELAPARANG

PROMOSI : URGENSI FESTIVAL PESONA GUMI SELAPARANG

Oleh :  Dr. H. Mugni, S.S., M.Pd. (Kadispar Lotim)

Dalam babat Lombok kata  Selaparang banyak ditemukan karena pada zaman dahulu kata tersebut sangatlah istimewa. Kata yang sangat agung karena melekat pada nama kerajaan yang pernah memerintah di Gumi Lombok, yakni Kerajaan Selaparang. Agama kerajaan adalah Islam. Nilai-nilai Islam menjadi ruh dalam menjalankan pemerintahan. Lokasi kerajaan tersebut sekitar Kecamatan Suela saat ini, tepatnya di wilayah Desa Selaparang. Eksistensi dari keberadaan kerajaan tersebut adalah makam raja-raja Selaparang yang saat ini dikenal dengan makam Selaparang.

Keberadaan makam Selaparang sudah cukup untuk validasi data tentang eksistensi kerajaan Selaparang di masa lalu yang berlokasi di daerah Lombok Timur. Eksistensi kerajaan ini juga telah diabadikan sebagai bandar udara pertama untuk publik yang ada di Lombok, yakni Bandar Udara Selaparang Rembiga. Setelah BIL dioperasikan Bandara Selaparang diperuntukkan khusus untuk angkatan udara dengan nama Lanud Selaparang. Pasca ditetapkan Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sebagai Pahlawan Nasional, Lanud Selaparang diganti menjadi Lanud TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Untung saja Walikota Mataram telah mengabadikan nama bandara ini menjadi nama sebuah kecamatan di Kota Mataram, yakni Kecamatan Selaparang yang di antara wilayahnya adalah Lanud tersebut. Kata Selaprang, selain menjadi nama desa di Lombok Timur juga menjadi nama salah satu pondok pesantren di Kediri Lombok Barat yakni Pondok Pesantren Selaparang NW Kediri yang didirikan oleh seorang abituren murid Maulana Syaikh, yakni TGH. Lalu Abdul Hafiz. Memang ada beberapa akademisi Lombok yang menulis opini yang dipublikasikn media massa meanstrim NTB bahwa saat proses perubahan IAIN Mataram menjadi UIN menggagas supaya UIN Mataram dinamai dengan UIN Selaparang dengan argumentasi bahwa UIN berbasis Islam dan Kerajaan Selaparang adalah kerajaan Islam di Lombok. Entah apa pertimbangan para birokrat UIN dan Pemda NTB akhirnya IAIN Mataram tetap juga jadi UIN Mataram. Barangkali mereka tidak menganggap sejarah penting atau apalah artinya sebuah nama.

Dalam perkembangan pemerintahan di Pulau Lombok, kata Selaparang disematkan pada Kabupaten Lombok Timur dengan istilah Gumi Selaparang. Dalam sambutan-sambutan resmi Bupati Lombok Timur dan para pejabat Lombok Timur sering mengungkapkan istilah Gumi Selaparang sebagai kata lain (sinonim) dari wilayah Kabupaten Lombok Timur. Dokumen tertulis tentang ungkapan tersebut dalam dinamika pemerintahan Lombok Timur masih belum kita temukan. Tetapi kata-kata Selaparang banyak ditemukan dalam Buku Wasiat Renungan Massa yang disusun oleh Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, antara lain, //42/Penerbang jasmani Sang Selaparang/Bikinannya aneh bukan kepalang/Cerminkan bangkitnya semua orang/Dari lahadnya untuk ditimbang// //100/Di Selaparang syukurlah ada/Orang yang tegak tampakkan dada/Membela agama membela negara/Tidak tertawan rayuan harta//

Banyak potensi Gumi Selaparang yang layak dijual sebagai komuditas dunia pariwisata. Pariwisata sangat menjanjikan sebagai sumber pendapatan masyarakat dan daerah. Semua jenis destinasi  yang  dikenal dalam dunia kepariwisataan ditemukan di Gumi Selaparang. Wisata alam sangat menakjubkan ada gunung, ada pantai, ada hutan, ada bantaran persawahan dan lain-lain. Wisata budaya apalagi….. Wisata religi pasti tidak mengecewakan. Di samping itu, potensi-potensi wisata tersebut masih berpeluang untuk direkayasa  dengan kebijakan dan SDM yang berkualitas untuk  menjadi destinasi unggulan.

Dalam pengembangan kepariwisataan ada 5 hal yang perlu mendapatkan perhatian yakni destinasi, pelaku wisata (SDM), promosi,  atraksi, dan kebijakan. Destinasi harus didukung dengan infrastruktur, transportasi dan akomodasi. Pelaku wisata harus didukung dengan SDM yang profesional. Promosi harus didukung dengan adanya media promosi yang menjadi calendar of event  (jadwal promosi yang kegiatannya dilaksanakan  pada waktu yang pasti dan konsisten serta berkelanjutan). Konsistensi dan keberlanjutan ini sangat penting sehingga wisatawan mendapatkan kepastian untuk berkunjung ke suatu destinasi untuk menikmati berbagai atraksi wisata. Atraksi adalah berbagai sajian pada setiap destinasi yang menjadi daya tarik sesuai dengan jenis destinasi. Bila alam, ada panorama alam yang indah. Bila budaya ada atraksi budaya yang berbeda dengan tempat lain. Jangan gendang belek semua. Budaya semakin asli semakin dicari. Bila religi,  ada tradisi keagamaan yang khas berbeda dengan di tempat lain. Atraksi dari masing-masing destinasi harus dimunculkan sebagai content dalam promosi.  Kebijakan adalah regulasi yang pro pada ke-4 hal tersebut yang dibuat dan dijalankan oleh pengambil keputusan, yakni pemerintah pusat dan daerah.

Sebagian besar daerah di NTB telah memiliki calendar of event  yang menjadi aikon promosi pariwisata daerahnya. Lombok Barat ada Festival Senggigi.  Kota Mataram ada Festival Mentaram. Lombok Tengah ada Festival Mandalika dengan bau nyalenya. Sumbawa ada Festival Moyonya. Bima Dompu ada festival Tambora. NTB, ada Pesona Lombok Sumbawa.  Lombol Timur…… belum punya…? Untuk itu perlu digagas event promosi tahunan potensi pariwisata Lombok Timur dengan branding “Festival Pesona Gumi Selaparang”. Kegiatan ini dapat dilaksanakan misalnya di Labuhan Haji atau di tempat lain. Branding pun bisa saja dengan istilah lain asal Lombok Timur punya wadah promosi tahunan di dalam daerah. Penetapan branding dan lokasi tentu harus bernilai filosofis dan historis sehingga ikut menjadi daya tarik bagi para wisatawan.

Branding “Gumi Selaparang” digunakan untuk melestarikan nama agung Kerajaan Selaparang yang telah berkuasa di Lombok Timur seperti telah diungkapkan di muka. Branding ini juga  diharapkan bisa memotivasi pengambil kebijakan dan akademisi untuk melakukan kajian-kajian lebih intensif tentang keberadaan Kerajaan Selaparang. Pengambil kebijakan menyiapkaan anggaran dan akademisi melakukan kajian. Hasil kajian ini dapat dipublikasikan (diseminarkan) dalam Festival Pesona Gumi Selaparang. Dengan demikian, salah satu atraksi dalam FPGS (Festival Pesona Gumi Selaparang) tentang nilai dan potensi Gumi Selaparang. Dengan kegiatan ini generasi muda Lombok Timur akan semakin melek dengan sejarah agung daerahnya dan diharapkan bangga menjadi anak Gumi Selaparang.

Labuhan Haji sudah terkenal sejak zaman dahulu. Pelabuhan tempat pemberangkatan jamaah haji dari pulau Lombok sebelum pelabuhan Ampenan ada. Revitalisasi pelabuhan ini yang dirintis oleh pemerintah daerah juga akan menjadi maskot tambahan untuk ditetapkan sebagai lokasi penyelanggaraan FPGS. Lebih-lebih lagi bila pelabuhan ini telah beroperasi maksimal dan statusnya bisa ditingkatkan menjadi pelabuhan regional dan nasional maka semakin bergengsilah FPGS. Di samping itu, di Labuhan Haji juga telah ada tradisi budaya yang selalu dilaksankan oleh masyarakat, yakni pesta pantai yang dilaksanakan pada hari Ahad  pasca lebaran topat. Tradisi masyarakat Labuhan Haji sebagai masyarakat pesisir dapat juga digali dan direvitalisasi kembali dengan catatan  yang tidak beranasir sirik.

Peluang Labuhan Haji ditetapkan sebagai lokasi FPGS semakin besar dengan adanya lahan yang telah dibebaskan oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Timur di wilayah ini sekitar 7,5 hektar. Lahan tersebut akan didesain menjadi “Ancolnya” Lombok Timur. Bila lokasi ini disepakati sebagai tempat penyelenggaraan FPGS maka desain Ancol Lombok Timur ini harus mengakomodasi berbagai atraksi yang akan diadakan dalam FPGS.

Dalam Festival Pesona Gumi Selaparang (FPGS), berbagai atraksi dapat ditampilkan. Berbagai budaya khas Gumi Selaparang dapat digali dan diregenerasikan kepada generasi muda Sasak. Mereka pasti termotivasi untuk menekuninya karena ada wadah untuk mengekspresikan potensi dan kreatifitas serta menjadi sumber ekonomi. Di samping itu, para pelaku ekonomi kreatif dapat juga menjadikan produknya untuk dinikmati oleh para wisatawan. Kita tidak  perlu terlalu ambisi untuk mendatangkan wisatawan manca negara. Wisatawan dalam negeri bahkan dalam daerahpun sudah cukup. Pariwisata  menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar. Potensi destinasi alam, religi serta budaya dapat dipublikasikan dalam event FPGS. Lotim harus siap melaksanan. Kepariwisataan adalah investasi dan sumber ekonomi masa depan. Wallahuaklambissawab.

 

 

 

Share this post