BAU NYALE: MENGURAI HIKMAH DAN PERKEMBANGAN PARIWISATA LOMBOK

BAU NYALE: MENGURAI HIKMAH DAN PERKEMBANGAN PARIWISATA LOMBOK

Oleh: Lalu Usman Ali, (Dosen IAIH NW Lotim)

Tulisan ini merupakan sebuah ulasan ulang dari penelitian yang penulis lakukan pada tahun 2010 ketika mengikuti Lomba Karya Tulis Budaya Tingkat Nasional. Beberapa hari ini telah dilaksanakan Bau Nyale Poto (istilah kegiatan awal) yang dilaksanakan diberbagai bibir pantai lombok bagian selatan, mulai dari pantai Barat sampai timur selatan.

Sejarah Tradisi Bau Nyale

Tradisi Bau Nyale merupakan sebuah legenda yang dilestarikan di Gumi Selaparang/Lombok dan dijadikan pesta tahunan di Lombok Bagian Selatan.Bau artinya tangkap dan Nyale merupakan binatang sejenis cacing yang diyakini penjelmaan dari seorang putri. Tradisi ini mulai dikembangkan sekitar abad ke-16 yaitu setelah sang putri mengambil keputusan untuk mengorbankan dirinya.

Suku sasak sampai saat ini masih tetap menghayati dan terus mendukung ragam budaya serta tradisi daerah yang dimilikinya.Salah satu tradisi suku sasak yaitu “Tradisi Bau Nyale” yang diwariskan oleh masyarakat suku sasak. Awal mulanya dilakukan oleh masyarakat sasak di Lombok Tengah bagian selatan, namun sekarang sudah mulai dibudayakan oleh Lombok Timur bagian selatan dan Lombok Barat bagian selatan. Adapun lokasi-lokasi yang digunakan sebagai tempat pelaksanaan Tradisi Bau Nyale adalah disepanjang Pantai Selatan Lombok mulai dari timur ke barat yaitu di Blowam, Jerowaru, Awang, Terasaq, Aan dan Seger serta Blongas.

Keberadaan Pesta Rakyat Bau Nyale ini berkaitan erat dengan sebuah cerita rakyat yang berkembang di daerah Lombok Tengah bagian Selatan, tepatnya pada masyarakat Pujut, sebuah kecamatan yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Lombok Tengah.Cerita tersebut mengisahkan tentang seorang putri yang sangat arif dan bijaksana, namanya Putri Sarah Wulan atau Mandalika.Ia adalah putri dari seorang Raja yaitu Raja Tonjang Beru yang pernah memerintah di negeri Lombok. Menginjak dewasa kecantikan sang putri itu terus tampak dan namanya diubah menjadi Putri Sarah Wulan (putri yang memiliki cahaya kejelitaan), Wajahnya yang elok, tubuhnya yang ramping dan perangainya yang baik, membuat para pangeran dari berbagai negeri berkeinginan untuk mempersunting sang putri, diantaranya pangeran Arya Rembitan, Pangeran Arya Bumbang, Pangeran Johor dan lain-lain. Setiap pangeran yang datang melamarnya, tidak ada yang ditolaknya. Namun, antara pangeran yang satu dan pangeran yang lainnya tidak menerima jika sang Putri yang cantik jelita itu diperistri oleh banyak pangeran. Hal inilah yang akan menimbulkan terjadinya perang antara pangeran yang satu dengan pangeran yang lainnya. Hal ini pulalah yang membuat Putri Sarah Wulan merasa gelisah, karena selalu mengalami kegelisahan maka nama putri Sarah Wulan disebut juga putri Mandalika yaitu secara bahasa manda artinya bimbang dan lika artinya perbuatan.

Putri Mandalika selalu termenung memikirkan bagaimana cara agar pertumpahan darah tidak terjadi, akhirnya sang putri melakukan semedi. Dalam semedinya, putri mendapat wangsit (petunjuk) agar mengundang semua pangeran dalam pertemuan pada tanggal 20, bulan 10 penanggalan Sasak, bertempat di Pantai Seger Kuta, Lombok Tengah.Semua pangeran yang diundang harus disertai oleh seluruh rakyatnya masing-masing. Mereka harus datang ke tempat itu sebelum matahari memancarkan sinarnya di ufuk timur, karena ditempat itulah sang putri akan memberikan keputusannya. Sesaat kemudian, sang Putri melangkah beberapa kali, lalu berhenti di onggokan batu, membelakangi laut lepas. Di tempat ia berdiri, Putri Mandalika kemudian menebarkan pandangannya ke seluruh undangan yang jumlahnya ribuan itu. Rasa penasaran para hadirin semakin memuncak. Mereka semakin tidak sabar ingin mendengarkan kata demi kata keluar dari mulut sang Putri yang menyebutkan salah satu nama dari beberapa pangeran yang ada di tempat itu sebagai pilihan hatinya.

Setelah pandangannya merata ke arah para undangan yang hadir, sang Putri pun mengumumkan keputusannya dengan suara lantang seraya berseru, “Wahai, Ayahanda dan Ibunda serta semua pangeran dan rakyat negeri Tonjang Beru yang aku cintai”. “Setelah aku pikirkan dengan matang, maka memutuskan bahwa diriku untuk kalian semua”.“Aku tidak dapat memilih satu di antara banyak pangeran”. “Diriku telah ditakdirkan untuk menjadi milik kalian bersama pada bulan ke 10 tanggal 20 dan bulan ke 11 tanggal 20 di permukaan laut”. Di akhir katanya, sang putri langsung terjun ke laut dan ditelan oleh gelombang. Para pangeran dan rakyat mencoba untuk menyelamatkan namun terpental oleh gelombang yang datang menerjang.Setelah beberapa saat, air mulai surut semua orang turun untuk melihat dari dekat dan akhirnya yang ditemukan adalah binatang yang sejenis cacing yang nyale (berwarna-warna) sehingga masyarakat menamakannya Nyale.Semua orang langsung menyerbu untuk mengambilnya dan memakannya karena cintanya terhadap putri.Mereka yakin itu adalah penjelmaan sanga putri.Oleh sebab itu, mulai dari saat itu dilakukanlah Tradisi Bau Nyale.

Masyarakat Lombok sampai sekarang masih mempercayai bahwa Nyale adalah penjelmaan dari Putri Mandalika yang keluar pada tanggal 20 bulan ke 10 dan tanggal 20 bulan ke 11 dalam penanggalan sasak atau kisaran bulan Februari dan Maret dalam Masehi.

Tempat dilaksanakannya Bau Nyale adalah di Penyalik Seger, Penyalik Mloam/Blowam, Penyalik Merisik, Penyalik Tebuak, Penyalik Dundang dan Penyalik Kaliantan. Penyalik merupakan tempat dilaksanakan Bau Nyaledan  Seger, Mloam/Blowam, Merisik, Tebuak, Dundang dan Kaliantan merupakan nama daerah tempat Bau Nyale.

Dalam penetapan waktu pelaksanaannya pesta Bau Nyale dipercayakan kepada kyai dan ketua adat karena kyai dan ketua adat tersebut merupakan orang yang dianggap lebih berilmu dan lebih berpengalaman.Dalam penentuan waktu dipakai tanda-tanda alam.Yaitu munculnya bintang rowot (gugusan bintang yang terdiri dari tujuh bintang yang saling berdekatan yang terbit di sebelah timur dan tenggelam disebelah barat).Bintang ini muncul pada waktu awal kemarau yakni setelah selesai panen.Cuaca terasa dingin sekali dan nyatanya tujuh bintang muncul dan berdekatan. Awal terbitnya bintang ini menurut kepercayaan masyarakat setempat adalah terhitung bulan 1 menurut penanggalan sasak dan dalam siklus peredarannya selalu pada tanggal 5 atau pada 15 bulan terbitnya, jika dalam bulan masehi kira-kira antara Februari dan Maret (Nyale Poto dan Tunggak).

Nilai-nilai yang Terkandung pada Tradisi Bau Nyale

Legenda rakyat Putri Mandalika merupakan cerita teladan yang mengandung pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sasak dan masyarakat Indonesia sekarang ini.Adapun beberapa pelajaran yang bisa dijadikan pedoman dalam hidup dari legenda rakyat Putri Mandalika sebagai berikut.

  1. Salah satu nilai moral yang sangat menonjol dalam cerita di atas adalah sifat rela berkorban. Sifat ini tercermin pada sifat Putri Mandalika, ketika ia rela mengorbankan jiwa dan raganya demi menghindari terjadinya peperangan di antara beberapa kerajaan yang dapat mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa. Ia lebih memilih mengorbankan jiwanya daripada mengorbankan jiwa orang banyak.
  2. Kepemimpinan, sifat ini tercermin dari sifatnya yang mengambil keputusan dengan hati yang mantap dan memikirkan orang lain di atas kepentingannya sendiri.
  3. Hubungan manusia dan Tuhan, nilai ini tercermin dari proses yang dilakukan oleh Putri Sarah Wulan/Mandalika yaitu bersemedi, sehingga mendapatkan wangsit dari kekuatan yang luar biasa.
  4. Hubungan Manusia dan Alam, sifat ini tercipta dari legenda tersebut sehingga masyarakat menjaga alamnya atau dalam istilah Lombok disebut Mondok.
  5. Gontong royong/kebersamaan, hal ini terlihat dari rakyat kerajaan Tonjang Beru ketika mengantarkan sang putri dalam pengambilan keputusan di pantai selatan dan juga terlihat dalam pesta Bau Nyale saat ini yang begitu meriahnya.
  6. Penghormatan kepada perempuan, hal ini terlihat ketika pelaksanaan acara betandakan yang dimana seorang laki-laki mentraktir semua keluarga seorang perempuan untuk naik perahu ke tengah laut.
  7. Pengikat kasih, hal ini terlihat ketika acara betandakan, balas pantun seorang perempuan diberikan hadiah oleh para pemuda dengan tujuan nanti dapat midang (berkunjung ke rumah perempuan) dengan alasan hadiah tersebut.

Pengaruh Pesta Rakyat “Tradisi Bau Nyale” terhadap pariwisata

Edi Setyawati (dalam Oka A. Yoeti, 2006: 21) menyatakan bahwa dalam pelestarian budaya atau kebudayaan yang perlu dijamin keberlangsungannya meliputi: perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan meliputi upaya-upaya menjaga agar hasil-hasil budaya tidak hilang dan atau rusak; pengembangan meliputi pengelolaan yang menghasilkan peningkatan mutu dan perluasan khasanah; dan pemanfaatan meliputi upaya-upaya untuk menggunakan hasil-hasil budaya untuk berbagai keperluan seperti: untuk menekankan citra identitas suatu bangsa, untuk pendidikan kesadaran budaya (baik melalui internalisasi maupun apresiasi multikultural), untuk menjadikan muatan industri budaya, dan untuk dijadikan daya tarik wisata.

Berbicara mengenai pesta rakyat “Bau Nyale” dan pariwisata, maka ada dua hal yang akan dikaji yaitu:

  1. Tradisi Bau Nyale sebagai objek wisata budaya

Tradisi Bau Nyale yang bertempat di laut Lombok bagian selatan menjadi objek wisata budaya yang merupakan adalah kebudayaan masyarakat Lombok bagian selatan. Selain para wisatawan menikmati budaya yang tampilkan dalam pesta rakyat, mereka juga bisa menikmati keindahan alam laut pantai selatan dan berpetualang menuju penyalik (lokasi) Bau Nyale seperti penyalik Seger, penyalik Mloam/bloam, penyalik Merisik, penyalik Tebuak, penyalik Dundang dan penyalik Kaliantan.

  1. Pengaruh Tradisi Bau Nyale terhadap Pariwisata

Tradisi Bau Nyale sebagai objek wisata yang dirangkai dengan pagelaran budaya Lombok seperti gendang beleq, presean, nembang, betandakan, balas pantun, dan lain-lain menjadikan acara ini semakin semarak dan memancing wisatawan untuk menikmati keindahan budaya, alam, dan pertuangannya sehingga harus dikenal dan dikenang. Tercatat dalam perayaan tahun 2009 bahwa yang menghadiri acara ini sekitar 20.000 (penyalik Seger) dan belum di penyalik-penyalik lainnya.

Sebagaimana disampaikan oleh Oka A. Yoeti (2006) bahwa pengaruh pariwisata terhadap kebudayaan terhadap tuan rumah ada dua sebagai berikut.

  • Kehidupan ekonomi apabila kegiatan itu dapat meningkatkan kesempatan kerja dan tingkat kemakmuran
  • Terjadinya akulturasi budaya, memiliki dampak positif dan negatif, hal itu tergantung dari sumber daya manusia.

Beker (1984: 113) menyatakan bahwa kebudayaan itu selalu berubah seiring dengan perubahan hidup masarakat. Hal ini disebabkan karena masyarakat yang membuat kebudayaan, maka apabila masyarakat tersebut dihadapkan dalam suatu perubahan maka konsekuensi logisnya kebudayaan juga akan ikut berubah. Lebih lanjut, sebagaimana yang kita ketahui Tradisi Bau Nyale merupakan sebuah kebudayaan yang menjadikan pulau yang kecil ini menjadi salah satu pewarna sehingga indah dilihat, indah dikenal dan indah dikenang.Oleh sebab itu, kebudayaan-kebudayaan harus dipertahankan dan dilestarikan walau terjadi desakan-desakan perubahan pada realitas kehidupannya.Kebudayaan ini menjadikan pulau Lombok pada khususnya dan Indonesia pada umumnya sebagai kekuatan sosial dan keindahan wisata di mata dunia.(*)

Advertisements

Share this post

Post Comment

Or