DESAIN DESTINASI UNTUK SOLUSI

Oleh :  Mugni Sn. (M.Pd.,M.Kom.,Dr.)

( Ketua ICMI Orda Lotim )

Dalam buku Global Paradox (2000), John Naisbitt menegaskan bahwa turisme atau pariwisata atau travel bagi banyak orang merupakan penghasil uang terbesar dan sektor terkuat dalam pembiyaan ekonomi global. Pariwisata telah mempekerjakan satu dari sembilan pekerja angkatan kerja global. Pariwisata adalah produsen terkemuka untuk pendapatan dari pajak, dan seterusnya.

Berbagai negera berlomba-lomba untuk mempromosikan destinasinya untuk meraup devisa pasca semakin berkurangnya pendapatan dari energi fosil. Tidak terkecuali negeri tercinta Republik Indonesia. Pasca berkurangnya pendapatan dari energi fosil, pemerintah menggenjot sektor pariwisata dengan mengerahkan dan memaksimalkan potensi yang dimiliki. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah memandirikan kementerian pariwisata. Dunia pariwisata dikelola oleh satu kementerian khusus yang pada masa sebelumnya masih digabung dengan departemen lain. Pemerintah daerahpun mengikutinya dengan membentuk dinas tersendiri untuk mengelola pariwisata, yakni Dinas Pariwisata.

Negeri ini sangat beruntung karena semua jenis destinasi atau obyek wisata dalam terminolgi kepariwisataan tersedia. Anugerah Tuhan yang harus disyukuri dengan memanfaatkannya secara benar dan berkesinambungan tanpa pernah merusak dan menghilangkan nilai-nilai dasarnya. Dalam terminologi kepariwisataan, ada tiga jenis obyek wisata (destinasi), yakni obyek wisata alam, budaya, dan religi. Dari masing-masing obyek ini dapat didesain berbagai atraksi wisata untuk menambah daya tarik dari wisatawan. Destinasi wisata alam: ada gunung, ada hutan, ada bentangan sawah, dan pantai. Wisata budaya: berbagai atraksi budaya dan sejarah dapat ditemukan di mana saja. Wisata religi: berbagai peninggalan dan prosesi keagamaan terus berjalan. Obyek-obyek ini telah exeting. Tidak bisa didesain ulang tetapi bisa dikelola dengan baik untuk semakin menarik. Tidak mungkin gunung/pantai dipindah. Tidak mungkin cagar budaya dipindah. Tidak mungkin juga prosesi budaya dipindah. Tidak mungkin prosesi bau nyale di Pantai Kaliantan dan Pantai Seger (Mandalika) dipindah ke Pantai Labuhan Lombok dan Pantai Ampenan. Tetapi kita bisa mendesain destinasi wisata baru? Bukankah saat ini banyak park-park yang dibuat oleh berbagai pihak yang menjadi destinasi baru yang banyak dikunjungi wisatawan. Kita bisa mendesain destinasi wisata baru untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi oleh daerah. Itulah yang dimaksud dengan mendesain destinasi untuk solusi. Solusi berbagai masalah yang menjerat di daerah.

Untuk NTB, masalah kronis, yakni kekeringan, sampah, dan “kenakalan” remaja. Setiap tahun kekeringan melanda Nusa Tenggara Barat, baik di Lombok maupun Sumbawa. Bila kekeringan tiba pemerintah sibuk melalui BPBD-nya mendroping air. Bahkan kasus-kasus kekeringan telah mengantar beberapa orang harus mondok di Pondok Pesantren Attaubah. Tidak ada solusi konstruktif untuk jangka panjang yang diikhtiarkan secara nyata oleh pemerintah daerah. Paling banter buat sumur bor yang airnya tidak ketemu-ketemu. Buat penyulingan air laut yang alatnya harganya miliaran rupiah tetapi mangkrak karena tidak pernah dioperasionalkan. Tidak bisa operasional karena biayanya sangat mahal. Masyarakat diminta untuk bayar? Uangnya dari mana? Sementara masyarakat yang berdomisili di daerah-daerah terlanda kekeringan kehidupannya rata-rata masih terkategori miskin. Padahal bagi yang pernah sekolah di SD sudah tau bahwa sumber air adalah pohon. Tidak ada teori lain sepertinya sebagai sumber air, selain banyaknya pohon yang rindang. Di sisi lain, dari tahun ke tahun pohon-pohon terus berkurang dan hutan pun terus dibabat karena kebutuhan untuk pembangunan dan mengisi perut. Di mana saja, ada mata air pasti dan wajib ain di tempat itu ada pohon besar, ada pohon rindang. Bila pohon ditebang maka pasti debit air akan berkurang dan lambat laun akan menghilang.

Pada era pemerintahan TGB periode pertama ada ikhtiar untuk revitalisasi mata air-mata air yang ada di NTB. Di sekitar mata air ditanami pohon. Sayang instansi terkait yang menjadi leading sektor kurang konsep. Mereka hanya menanam pohon dan setelah ditanam ditinggal. Nanamnyapun hanya di sekitar bibir mata air karena di sekeliling mata air adalah  tanah masyarakat. Mengapa tidak dibebaskan dulu tanah di sekitar mata air itu? Memamg ada aturan tanah 100 meter dari mata air itu milik negara. Ini hanya aturan di atas kertas. Masyarakat tidak paham itu karena mereka telah menguasai tanah di sekitar mata air itu terun temurun dari kakek buyutnya. Mana mau mereka menyerahkannya. Seharusnya pemerintah daerah membeli tanah di sekitar mata air. Lantas ditanami pohon yang kuat menyimpan air. Tidak gampang tumbang. Tanya para ahli kehutanan. Apa jenis pohon seperti itu. Terus dipelihara dalam jangka waktu lima tahun. Ya, anggarannya multiyearlah. Kalau dipelihara dalam 5 tahun pasti terjamin hidupnya dan pasti rindang.

Masalah kedua, “sampah” berserakan di mana-mana. Sampah di buang di selokan air oleh masyarakat. Jangan salahkan masyarakat yang membuang sampah di sembarang tempat karena tidak ada bak sampah ditemukan di sembarang tempat. Jangan salahkan masyarakat membuang sampah di selokan atau di sungai karena mereka tidak punya tempat untuk membuang. Rumah mereka tidak ada halaman karena keluarga semakin banyak. Dengan fakta ini maka air yang ada di selokan dan sungai menjadi sangat kotor. Petani yang akan memakai air, sawahnya ketimbun dengan sampah. Wajar hasil pertanian terus menurun karena sawah penuh dengan sampah plastik. Seharusnya pemerintah menyiapkan “Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sampah dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. Tiap desa tersedia TPS dan tiap kecamatan tersedia TPA dengan armada yang cukup. Sampah akan menurunkan angka pengangguran dengan adanya angkatan kerja yang terserap pada armada sampah dan di TPA harus dikelola dengan teknologi untuk mendatangkan fulus.

Masalah ketiga, generasi muda yang gemar trek-trekan. Mereka mencari jalan lurus dan/atau jalan berkelok-kelok untuk meyalurkan hobinya tanpa perduli keselamatan diri dan orang lain pengguna jalan. Mereka main kucing-kucingan dengan pak polisi. Jangan salahkan mereka. Mereka butuh medan untuk meyalurkan hobinya. Hoby ini bila tersalurkan dengan baik karena didukung dengan fasilitas maka bisa menjadi salah satu atraksi wisata. Bisa juga mengharumkan nama daerah dan negeri karena akan bisa mengalahkan Valentino Rossi. Pemerintah harus memfasilitasi.

Desain destinasi baru bisa menyelesaikan 3 masalah di atas sekaligus untuk jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Masalah kekeringan akan teratasi dalam jangka menengah dan panjang. Sedangkan masalah sampah dan penyaluran hobby trek-trekan akan terselesaikan dalam jangka pendek. Caranya?  Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota harus sharing anggaran untuk merealisasikan terwujudnya destinasi wisata baru. Langkahnya, pembebasan lahan. Lahan harus dalam jumlah yang cukup minimal satu lokasi 10 hektar. Lahan ini harus didesain untuk menciptakan hutan baru di masa depan. Pohon yang ditanam yang kuat menyimpan air sesuai dengan rekomendasi profesor kehutanan. Lahan ini akan menjadi lokasi trek-trekan yang dibuat berkelok-kelok. Lahan ini akan menjadi TPA tetapi bukan TPA yang bau. TPA yang terolah dengan ilmu dan teknologi.

Sampah harus diolah dan membuka lapangan kerja. Pohon harus dirawat juga membuka lapangan kerja. Jalur trek-trekan juga harus dirawat pasti membuka lapangan kerja. Lahan ini bukan saja untuk 3 hal tersebut tetapi juga bisa di desain menjadi jalur jalan-jalan, jalur sepedaan, lapangan olah raga, dan lokasi pedagang kaki lima. Siapa yang membangun? Instansi terkait sesuai dengan tufoksi dan bukan dinas pariwisata. Membebaskan lahan, ada bagian pertanahan/tata pemerintahan. Yang buat jalan/jalur trek-trekan, jalan-jalan, sepedaan ada dinas PU, yang mengurus pohon ada LHK. Yang ngurus sampah ada dinas kebersihan. Dinas pariwisata yang akan menjualnya untuk mendatangkan PAD bila telah dibangun. Siapa yang masuk di tempat ini, pastinya tidak gratis. Harus bayar. Orang berwisata itu orang yang mencari kesenangan dan punya uang. Tinggal buat Praturan Daerah (Perda) tentang retribusi masuk destinasi wisata. Datang jalan-jalan 5 ribu. Datang senam 5 ribu. Datang Trek-trekan 10 ribu, pedagang kaki 5 sekali pasang tenda 10 ribu, dan seterusnya. Mendatangi obyek-obyek wisata seharusnya bayar. Bayaran jadi kontribusi wisatawan untuk ikut membangun daerah karena retribusi dari obyek-obyek wisata sebagai salah satu sumber pendapatan asli daerah. Lombok Timur, punya Sembalun yang dapat dijadikan sumber PAD yang sangat seksi serta banyak destinasi-destinasi lain di daerah ini yang tidak kalah seksi.

Bila destinasi baru dapat diwujudkan di tiap kecamatan maka sangatlah ideal. Tetapi bila tidak maka dapat diwujudkan dalam zona-zona. Misalnya Lombok Timur bisa dibagi dalam 4 zona. Bila tidak mampu juga minimal satu lokasi untuk menjadi plot proyek di tiap kabupaten/kota, terutama untuk Pulau Lombok. Untuk mewujudkannya, gubernur bupati/wali kota harus bersinergi.

Wallahuaklambissawab.

Share this post