Darurat Rabies, Pemprov Tanggap Cepat Penanggulangan

Darurat Rabies, Pemprov Tanggap Cepat Penanggulangan

Mataram SR – Publik digeger rentetan kasus gigitan anjing atau Hewan Penular Rabies (HPR). Perihal tersebut, Pemerintahan Provinsi NTB serius memberikan atensi. Sebanyak ratusan korban gigitan HPR di  Kabupaten Dompu ini, hingga meninggalkan 5 orang mati akibat infeksi menyerang syaraf korban. Berdasarkan data Dinas Kesehatan per 5 Februari 2019 sebanyak 5 orang meninggal dunia karena positif rabies dan ratusan lainnya terjangkit.

Jumlah gigitan hewan penular rabies sebanyak 127 orang. Kasus ini terhitung sejak Agustus 2018 hingga 5 Februari 2019. Dan sejak Agustus hingga Desember bertambah menjadi yang digigit 273 orang. Sedangkan di tahun 2019  antara Januari hingga Februari mencapai 254 orang. Yang positif rabies hingga meninggal dunia sebanyak 5 orang. Demikian pernyataan ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Kadikes) Provinsi NTB, dr  Nurhadini Eka Dewi, Sp.A. dihadapan Wabup NTB  Rohmi Djalilah, Jumat (08/02/2019) lalu.

Cara penularan rabies katanya gigitan hewan yang terinfeksi rabies. Jika ada anjing rabies kemudian mengigit anjing lain dan mengigit manusia, maka manusia ikut tertular melalui virus yang masuk gigitan selanjutnya akan berjalan mengikuti syaraf. “Gejala ini berproses lamban karena gejalanya mengikuti syaraf,” terangnya.

Agar tidak tertular dan mencegah gigitan anjing rabies lanjut dia, begitu digigit, diharuskan untuk mencuci pakai sabun selama 15 menit dibawah air yang mengalir. Berdasarkan teori pencucian yang benar 80 persen kuman tereduksi dan tersisa 80 persen. Sehingga 20 persen yang sisa dengan penanganan serum atau disuntik anti rabies. Sebaiknya pada hari digigit langsung memberikan vaksinasi kanan dan kiri berdasarkan SOP.

Pada sejumlah pasien yang digigit bulan Januari, pihaknya sudah menjalankan SOP. Masalahnya sebagian besar pasien digigit sebelum tanggal 15 Januari.

“Ada sekitar tigaratusan pasien yang datangi kami melapor dan menunjukkan bekas gigitan. Baik yang digit Agustus dan hingga Desember. Semua pasien meninggal itu yang digit bulan November,” ungkapnya.

Perjalanan kuman rabies ini panjang, dari mulai digit sampai muncul gejala didalam tubuh manusia yaitu dari dua bulan sampai dua tahun.

Artinya, kami petugas Kesehatan terima petugas yang di Dompu harus memantau semua pasien selama dua tahun ke depan. “Makanya, pada Minggu ini ada pelatihan terpadu di Makasar untuk semua tim perabies NTB baik Dikes maupun Dinas  peternakan,” urainya.

Namun lanjut dia, Pemkab Dompu tidak tinggal diam. Rumusan Rakor penanganan rabies tertanggal 28 Januari 2019 kabupaten Dompu dengan sejumlah instansi terkait salah satu hasilnya memerintahkan kepada Sekda agar bersurat kepada Persatuan Penembak Indonesia (Perbakin) Kabupaten dan Provinsi untuk membantu secara aktif melakukan eliminasi terhadap HPR yang dicurigai membawa virus rabies.

“Data terakhir dari tanggal 05 Februari,  jumlah HPR yang sudah divaksinasi sebanyak 2.217 ekor, yang dibunuh atau dieliminasi sebanyak 614 ekor. Sementara petugas Disnak yang divaksinasi anti rabies (VAR) sebanyak 16 orang dengan sampel otak 10 orang positif,” detailnya.

Sementara, Kepala Dinas Perternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakwan) NTB Dr. Hj. Budi Septiani menegaskan bahwa di Pulau Lombok diperingati siaga dalam wabah rabies tersebut.“Saat ini untuk pulau Lombok ditetapkan status siaga,” kata Budi.

Untuk mengatasi hal serupa seperti yang terjadi di Dompu, khusus di Pulau Lombok pihaknya melakukan operasi gabungan pada 29 Januari 2019 di Pelabuhan Kayangan.

Hasil pelacakan di pulau Lombok gigitan HPR khususnya di Lombok Timur pada 22 Januari 2019 hasilnya negatif. kemudiam 30 Januari 2019 laporan anjing di Kuta Mandalika Lombok Tengah dengan sampel otak diperiksa dan hasilnya negatif juga.

Kemudian pada 11 Januari 2019 laporan kasus gigitan dari PKM Karang Taliwang juga negatif karena hasil penelusuran hewan tersebut terprovokasi karena baru melahirkan dan hasilnya negatif. “Kasus gigitan anjing di Kelurahan Mataram Barat, hewan penggigit diobservasi 14 hari dan hasilnya negatif,” tutupnya. (W@N)

Share this post