TOP NEWS 

Disiapkan 1,4 T untuk Bendungan Meninting

Mega Proyek Akan Rambah Lahan Seluas 115,6 Hektare

Lombok Barat SR – Mega proyek Bendungan Meninting yang menjadi sumber mata air di kawasan utara  wilayah Kabupaten Lombok Barat hingga mengairi kebutuhan air Kota Mataram, rencananya akan segera dimulai. Namun proses ground breaking yang masih tersandung Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) ini, nampak masih layaknya menunggu sebagian ganti rugi pembebasan lahan terselesaikan.

Diketahui prospek percepatan grund breking bendungan ini pun yang rencananya akan menghabiskan anggaran sebesar Rp. 1,4 Trilyun itu sudah sesuai dengan tahapan yang dilakukan, serta merambah luas lahan hingga 115,6 hektare.

Pihak BWS NTB I Ketut Kariharta menjelaskan, pihaknya bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Barat (Lobar) pun berkomitmen untuk mempercepat proses pembangunan salah satu dari belasan proyek strategis nasional tersebut.

“Ground breking itu sendiri merupakan tahapan dari satu prosess pembangunan. Ground breking baru bisa dilakukan jika hal pertama bisa dilalui,  yaitu penanda tanganan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) yang dikeluarkan oleh Pejabat Pembuat Komitment (PPK). Setelah itu bisa di lakukan,” ujarnya, Kamis (24/01/2019) lalu.

The scientists say that the stimulant triggers a series of reactions in the body that ultimately increase blood flow south and by 24 hours, all traces of Lovegra in the blood are practically gone. Office Men Prefer Levitra Online UK for this troublesome condition that often causes confidence issues. Different clinical conditions you can have and hence taking Tadalafil alone won’t give a sexual stimulation.

Mega Proyek yang dianggarkan multi-years ini lanjut dia, rencananya akan  membutuhkan lahan seluas 115,6 Hektar. Dari total keseluruhan lahan itu, sebagian besarnya atau 94,6 hektar harus melalui pembebas lahan karena dimiliki oleh masyarakat. Total luas tersebut terpilah menjadi 380 bidang.

Sementara Bupati Lobar H. Fauzan Khalid meminta, agar segera bisa mempertemukan pihak BWS dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) dengan seluruh masyarakat sekitar yang lahannya akan terdampak langsung karena berada di lokasi pembangunan bendungan.

“Karena lokasi berdekatan dengan kampung, maka undang masyarakat, camat, para Kepala Desa dan Kepala Dusun. Nanti saya yang menyampaikan ke masyarakat,” tegasnya.

Harapannya pinta Fauzan, agar proses pembebasan lahan milik masyarakat bisa segera dilakukan. Untuk tahap awal, pihak BPN dan Pemerintah Provinsi NTB diharapkan segera menyusun Peta Bidldang dan memberikan kalkulasi jumlah bangunan dan tanaman milik warga yang harus diberikan ganti rugi.

Pihak Pemkab Lobar sendiri ungkapnya,  telah menyiapkan anggaran sekitar Rp. 1,3 milyar lebih untuk appraisal. Appraisal itulah yang nantinya akan menghitung besaran nilai ganti rugi yang akan diterima oleh masyarakat.

“Ganti rugi tanah bisa dilakukan setelah appraisal bekerja. Harapannya bisa bulan Maret atau April sudah bisa kita tahu nilainya,” harap Fauzan.

Dari total 115,6 hektar lahan yang dibutuhkan, pada tahap awal ini paling tidak 43,8 hektar harus sudah bisa diselesaikan untuk mengawali ground breaking. Luasan itu dibutuhkan untuk akses jalan, kantor, tempat alat berat, dan timbunan material. Proyek yang akan menjadi mata air bagi desa-desa di Kecamatan Gunung Sari dan Lingsar, bahkan sampai Kota Mataram itu direncanakan tuntas di tahun 2023, pungkas Fauzan. (W@N)

 

Related posts