TOP NEWS 

Miring, Proyek BKSDA Pembangunan PIP Dinilai Asal Jadi

Sumbawa Barat    SR – Proyek pembangunan Pusat Informasi Pengunjung (PIP) di Danau Lebo Taliwang, dilaksanakan melalui APBD Provinsi NTB TA 2018 Oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam ( BKSDA ) Provinsi NTB melalui kontraktor CV Rinjani Daya Cipta, terkesan asal- jadi. Padahal nilai anggaran cukup besar yaitu Rp 842.960.000. Betapa tidak, proyek pembangunan tersebut baru mencapai pengerjaan 80 %, namun sudah mengalami kemiringan bangunan hingga 30 derajat. Kondisi ini,  membuat Aktivis dari Forum Kota (Forkot) Sumbawa Barat melakukan penyegelan proyek tersebut karena terindikasi pengerjaannya tidak melalui tim tekhnis.
Hal ini dikatakan Ketua Forkot KSB Rengga Jayadi kepada media ini, Selasa (08/01/2019) lalu. Menurut Rengga, bahwa keberadaan proyek pembangunan tersebut seyogyanya diperuntukan sebagai Pusat Informasi Destinasi Wisata Danau Lebo dengan tingkat keselamatan dan keamanan pengunjung diutamakan,  namun lain halnya dengan pembangunan yang dikerjakan kontraktor CV Rinjani Daya Cipta, dimana pengerjaannya diduga asal jadi dan tidak melalui mekanisme sfesifikasi kelabilan tanah, sehingga bangunan belum selesai sudah mengalami kemiringan.
Rengga menyoroti kinerja CV Bina Pelangi, asal Mataram yang ditunjuk sebagai  Konsultan Perencana atas Proyek PPIP tersebut  oleh BKSDA Provinsi NTB. Menurut Rengga bahwa kinerja perencanaan yang dibuat CV BP tersebut diduga asal jadi dan terkesan tidak Profesional dalam melakukan perencanaan, karena tanpa melalui kajian tekhnis lapangan sehingga diduga tidak menggunakan menggunakan metode sondir tingkat kelabilan tanah, sehingga terkesan proyek tersebut didalam perencanaanya dibuat asal jadi.
“Saya menduga ada yang tidak beres dalam melakukan penyusunan Perencanaan oleh CV Bina Pelangi, karena terkesan tidak begitu paham akan kondisi tanah di Danau Lebo tersebut, karena perencanaannya yang kurang professional. Kita bisa lihat sendiri pembangunan proyek PPIP tersebut belum selesai dikerjakan sudah mengalami kemiringan. Intinya ada yang tidak beres di perencanaan,”tuding Rengga.
Lanjut Rengga, meminta Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dari BKSDA Provinsi NTB dan CV Bina Pelangi selaku Konsultan Perencana atas proyek tersebut untuk dapat bertanggung jawab.
“Saya menduga ada yang tidak beres dalam menunjuk Konsultan Perencana oleh PPK. Bisa jadi terkesan main mata,” duganya.
Sementara Pengawas Lapangan CV Rinjani Daya Cipta selaku Kontraktor, Teguh, kepada media ini menjelaskan kalau pihaknya berpedoman pada Gambar dan RAB yang dibuat oleh Konsultan Perencana. Menurutnya, kalau di dalam RAB nya kedalaman tiang panjang bangunan hanya 2 meter tanpa memamaki balok talik melintang didalam dasar  dan itu sempat diperdebatkan dengan PPK maupun konsultan Perencana, sehingga didalam RABnya yang semula tiang pancang hanya ditancap 2 meter dirubah menjadi 6 meter dan ditambah dengan balok melintang sebagai penahan tekanan bobot bangunan.
“Awalnya di dalam RAB tiang pancang masuk hanya  2 meter , namun dilapangan tiang pancang masuk sampai 6 meter itupun ada penambahan balok tarik dasar  untuk menahan tekanan beban, namun itupun masih mengalami kemiringan, Kalau memamaki metode RAB awal yang dibuat oleh konsultan perencana maka  bangunan tersebut pasti sudah mengalami tenggelam,”jelas Teguh.
Teguh juga menjelaskan kalau proyek tersebut ada penambahan item pekerjaan yang tidak masuk dalam RAB yaitu penambahan kedalaman tiang pancang  dan balok tarik melintang didalam dasar.
“Kami akan segera berkomunikasi dengan BKSD  untuk cari solusi dan ini sudah disampaikan secara lisan kepada PPK,”pungkasnya. (edi)

Related posts