Membaca Ulang Radikalisme dan Terorisme di Indonesia


Oleh: Lalu Usman Ali

Dosen IAIH NW Lombok Timur

Kondisimasyarakat Indonesia yang sangat plural baik dari aspek suku, ras, agama sertastatus sosial memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap perkembangan dan dinamika dalam masyarakat. Konsekuensi logis dari kondisi Indonesia sepertiini akan memberikan kontribusi/dampak besar terhadap dua hal, yaitu: (1) dampakpositif, yaitu memberikan potensi untuk mempercepat perkembangan danpembangunan nasional karena Indonesia memiliki 13.679 pulau dengan luas keseluruan pulau-pulau 1.904.569 km2 dan berbagai macam suku bangsa(Abdul Karim, 2004). Dan (2) dampak negatif, selain potensi itu memberikan dampak positif, kondisi seperti yang demikian memungkinkan terjadinya benturanantar budaya, antar ras, etnik, agama dan nilai-nilai yang berlaku dalammasyarakat. Kasus Ambon, Sampit, konflik antara FPI dan kelompok Achmadiyah, yangteranyar kasus di Poso, Lampung, Sumbawa NTB dan sebagainya telah menyadarkankepada kita bahwa kalau hal ini terus dibiarkan maka sangat memungkinkan untuk terciptanya disintegrasi bangsa.

Lebih lanjut, permasalahan-permasalahan yang terjadi saat ini baik permasalahan nasional (Indonesia) dan transnasional dikatakan bahwa penyebabnya adalah radikalisme (baca: kampanye AS), seperti tragedi WTC 11 September 2001, Bom Kedubes Australia di Jakarta, Bom Bali I, Bom Bali II, Bom JW mariot di Jakarta, Bom Bunuh diri di Surabaya dan lain-lain. Berdasarkan deretan tragedi-tragedi yang pernah terjadi tersebut maka kajian mengenai radikalisme dan terorisme menjadi pembicaraan yang hangat khususnya di Indonesia.

Bentuk-bentuk radikalisme yang berujung pada anarkis, kekerasan, sikap ekslusif, dan bahkansetelah terkena kebijakan politik sehingga muncullah terorisme. Radikalisme danterorisme selalu diidentikkan dengan paham, kepercayaan atau agama. Hal ini menyebabkan masyarakat memberikan stigma negatif kepada agama-agama yangdipeluk oleh para pelaku. Berdasar stigma tersebut muncullah kaum-kaum yang antipati dengan beberapa keyakinan-keyakinan atau agama-agama.

Radikalisme sebagai pergerakan paham agama, pergerakan politis, dan pergerakan sosialbudaya menjadi dasar terbentuknya pertentangan. Adanya pertentangan yang tajam itu menyebabkan konsep radikalisme selalu dikaitkan dengan sikap dan tindakanyang radikal, yang kemudian dikonotasikan dengan kekerasan secara fisik yangpada akhirnya sikap teror mencuat ke permukaan.

Faktor pendukung terbentuknya radikalisme dan terorisme

Radikalisme danterorisme bukan hanya dipengaruhi oleh agama, namun tingkat kesatabilan ekonomi, politik juga mempengaruhi sikap tersebut. Lebih lanjut Afif Muhammad(dalam I Wayan Sudarma, 2004) menyatakan bahwa munculnya kelompok-kelompokradikal akibat perkembangan sosio-politik yang membuat termarginalisasi, danselanjutnya mengalami kekecewaan, tetapi perkembangan sosial-politik tersebutbukan satu-satunya faktor. Adapaun secara lebih rinci beberapa faktor pendukung terbentuknya radikalisme dan terorisme di Indonesia antara lain: (1) Agama, agama menjadi kedokpergerakan untuk mengumandangkan perang suci (holy war), karena strategi inilah yang paling ampuh untukmenunjukkan semangat religius bagi setiap orang, namun pergerakan tersebut sebenarnya adalah pemahaman yang keliru terhadap ajaran agama masing-masing(Kristen, Islam, Hindu, Budha, dan lain-lain). Pemahaman yang keliru atausempit tentang ajaran agama yang dianutnya menimbulkan kekerasan yang berkedokagama sesungguhnya bersumber dari manusia, bukan agama. Karena secara normatif agama-agama di dunia ini menebarkan kasih sayang dan rahmat, bukan kekerasan,apalagi laknat. Aksi kekerasan lebih merupakan reaksi atas ketidakpuasan danfrustasi atas modernitas dan perubahan yang tengah terjadi. (2) Ketidak adilan sosial, kekecewaanterhadap kebobrokan sistem sosial yang disebabkan oleh ketidakberdayaan negarauntuk mengatur kehidupan masyarakat secara religius. Dalam konteks Islam,radikalisme agama jenis ini biasanya mengambil bentuk pada islamisasi sistemsosial dan masyarakat dengan melakukan kontrol yang ketat terhadap aktifitassosial yang dianggap maksiat, melanggar agama. Radikalisme jenis ini bisadiekspresikan dalam bentuk perusakan terhadap tempat-tempat maksiat, pelacuran,perjuadian dan sebagainya. (3) Kemiskinan,Kemiskinan merangsang teror, Kalau diadakan pengumpulan pendapat umum, mungkinkurang dari 35% penduduk kita akan mengatakan keadaan Indonesia sudah memadai.Selebihnya akan mengatakan keadaannya belum memuaskan atau bahkan mengecewakan.Sejumlah 40% penduduk hidup di bawah garis kemiskinan atau di seputar itu.Inilah yang mendorong mereka mau mendukung pemerintahan alternatif, termasukyang berlandaskan keyakinan agama. Mereka membutuhkan perlindungan sosialmaupun spiritual. (4) Politik, ketidakadilan politik merupakan salah satu pupuk radikalisme dan terorisme. Radikalisme jugabisa muncul sebagai ekspresi perlawanan terhadap sistem politik yang menindasdan tidak adil. Suatu kelompok yang terus menerus ditindas dan diperlakukantidak adil, maka akan muncul solidaritas internal serta militansi untuk tetap survive seperti Palestina, Irak, kaummuslim somalia dan lain sebagainya. Selain itu radikalisme dalam tatarankenegaraan mengambil bentuk pada oposisi atas nama agama terhadap pemerintahseperti HTI, Ihwanul Muslimin, dan lain-lain. Dendam politik dengan menjadikanajaran agama sebagai satu motivasi untuk membenarkan tindakannya. (5) Kesenjangansosial, tidak meratanya sistem ekonomi yang berjalan disuatu negara menjadisebuah bibit terhadap kesenjangan diantara masyarakat (kelas miskin kaya, kelasborjuis proletar, dan sebagainya). Hal ini menyebabkan kesenjangan sosialsehingga meniimbulkan sikap antipati terhadap antar sesama. Hal ini menyebabkanketimpangan dan kesenjangan sosial. Selain ada yang miliknya berlebihan, adayang kekurangan. Ketimpangan berlebihan merangsang radikalisme dan membukajalan bagi terorisme.

Solusi radikalisme dan terorisme

Berdasarkan kajian di atas bahwa faktor-faktor pendukung terbentuknya radikalisme secara umuum adalah agama, ekonomi, sosial budaya, dan politik. Maka oleh sebab itu, penulis menawarkan beberapa solusi atau saran terhadap permasalahan tersebut sebagai berikut.

  1. Pelurusan pemahaman agama

Semuaagama adalah anugrah Tuhan Yang Maha Esa tetapi bercampur dengan sifat manusia yang tidak sempurna karena agama itu memakai sarana manusia. Agama sebagaianugrah Tuhan Yang Maha Esa di luar jangkauan bahasa manusia. Manusia yangtidak sempurna menyampaikan agama itu menurut kemampuan bahasa mereka, dankata-kata mereka ditafsirkan lagi oleh manusia yang tidak sempurna juga.Tafsiran siapa yang harus dipegang sebagai tafsiran yang tepat. Setiap orangadalah benar dari sudut pandangannya sendiri, namun bukanlah mustahil jugabahwa setiap orang adalah salah. Maka dari itu dibutuhkan toleransi yang bukanberarti acuh terhadap kepercayaannya sendiri, melainkan dibutuhkan toleransiyang lebih mengandalkan akal sehat dan kasih sayang yang lebih murni. Toleransiakan memberikan kita pandangan rohani yang jauh dari sikap fanatisme sepertijauhnya jarak antar Kutub Utara dengan Kutub Selatan. Pengetahuan yang benartentang agama meruntuhkan dinding-dinding pemisah antar agama yang satu denganagama yang lain dan sekaligus memupuk toleransi. Pemupukan toleransi terhadapagama lain akan memberikan kepada kita pemahaman yang lebih mendalam tentangagama kita sendiri.

Dalam kenyataannya, tidak semua memiliki kemampuan untuk memahami agama lain, yang mengakibatkan sikap tidak toleran terhadap agama lain. Demikian pula halnya dengan fanatisme buta yang hanya didasarkan kepada solidaritas dari suatu komunitas atas sesuatu yang sangat diyakini tanpa pembuktian yang memadai, baik melalui bidang fisika maupun metafisika, apalagi ditunjang oleh dogma-dogma kaku yang sengaja diciptakan untuk kepentingan golongan tertentu sehingga akhirnya akan membatasi  setiap gerak dan penalaran yang cenderung mudah sekali memicu terjadinya gesekan dan benturan kepentingan kecil di satu pihak dengan kepentingan universal di pihak lainnya. Dalam kejamakan kepentingan dalam satu dunia yang sedang dilanda kebingungan, mudah sekali setiap pribadi yang tidak memiliki cukup pertahanan diri untuk terseret dalam arus provokasi yang justru tidak akan pernah memberikan keuntungan bagi siapapun, hanya kehancuran yang akan menimpanya.

Lebih lanjut Azhari Akmal Taregan dalam bukunya yang berjudul Islam Universal (2003: 168-174) bahwa dalam hal-hal yang berhubungan dengan kemanusiaan, nilai-nilai manusia (human values) atau dalam rangka mewujudkan kemakmuran bersama, banyak hal yang merupakan titik temu dari agama-agama. Titik temu tersebut antara lain: untuk hidup  harmonis dengan sesama umat manusia, untuk menghormati ciptaan-Nya, saling tolong menolong, mewujudkan kerukunan hidup, toleransi dan sebagainya.

  • Pemerataan ekonomi

Azhari Akmal Taregan (2003: 222) menyatakan bahwa Masalah keadilan ekonomi sangat erat sekali hubungannya dengan penegakkan etika yang bersumber pada hukum alam atau hukum Tuhan. Sehingga setiap proses ekonomi adalah demi kepentingan rakyat yang bersumber pada ridho Tuhan yang Maha Esa.

Keadilan ekonomi paling tidak mengacu pada dua bentuk, yaitu: (1) keadilan dalam distribusi pendapatan; (2) persamaan (egaliterian) yang menghendaki setiap individu harus memiliki kesempatan yang sama terhadap akses-akses ekomomi (Azhari Akmal Taregan, 2003: 223). Oleh sebab itu, konsep pemerataan ekonomi sangat dibutuhkan sehingga memberikan keseimbangan hidup pada masyarakat dan kesenjangan hidup tidak terjadi. Adapun beberapa cara untuk mengatasi kesenjangan sebagai berikut.

  1. Menghapus monopoli, kecuali oleh pemerintah untuk bidang-bidang tertentu
  2. Menjamin hak dan kesempatan semua pihak untuk aktif dalam proses ekonomi baik produksi, distribusi, sirkulasi, maupun konsumsi.
  3. Menjamin pemenuhan kebutuhan dasar hidup setiap masyarakat
  4. Melaksanakan amanah al-tajaful al-ijtima’ dimna yang mampu menanggung dan membantu yang tidak mampu.
  5. Sosial budaya

Manusia pada dasarnya merupakan makhluk individu dan sosial sekaligus sehingga disebut makhluk multidimensional (Azhari Akmal Taregan, 2003). Sebagai makhluk sosial, manusia hidup dalam suatu bentuk hubungan tertentu (bersosialisasi) dengan dunia sekitarnya dan dengan individu lain. Bersosialisasi merupakan jalan bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaannya. Tanpa berada di tengah sesamanya dalam bentuk-bentuk hubungan tertentu, manusia tidak dapat memenuhi kebutuhannya dan tidak dapat tumbuh mencapai tingkat kemanusiaan-nya yang tertinggi (aktualisasi diri). Sebagai makhluk sosial dan individu, manusia akan membentuk sebuah kebudayaan dan peradaban sehingga sering juga manusia disebut makhluk berbudaya, makhluk pendidik dan terdidik dan sebagainya. Sebagai makhluk sosial dan individu yang berbudaya, manusia memiliki cipta, rasa, dan karsa yang digunakan sebagai dasar dalam menjalani kehidupannya. Oleh sebab itu, manusia dalam sosial budayanya akan selalu berinteraksi antar sesama, antar budaya, antar ras dan sebagainya, sehingga dibutuhkan kesadaran dalam kesamaan sehingga ketimpangan-ketimpangan sosial sebagai dasar radikalisme dan teror tidak terwujud dan tercipta dalam hubungannya sebagai makhluk berbudaya.

  • Politik

Negara adalah bentuk masyarakat yang terpenting, dan pemerintah adalah susunan masyarakat yang terkuat dan berpengaruh. Oleh sebab itu, pemerintah yang pertama berkewajiban menegakkan keadilan, yang sejak semula pemerintah didirikan adalah untuk melindungi kepentingan-kepentingan individu dan mengatur kepentingan masyarakat agar tidak terjadi konplik. Hal senada disampaikan oleh Feisal Tamin dalam bukunya yang berjudul Reformasi Birokrasi (2004:4)  bahwa tujuan pembentukan negara adalah agar manusia dipelosok manapun di muka bumi ini terpenuhi standar minimal kebutuhan hidup jasmani dan rohaninya dalam lingkup negara bangsa modern yang berperadaban tinggi.

Pemerintah atau pemimpin selalu berhadapan dengan masyarakat yang selalu terdiri dari kelompok-kelompok seperti di Indonesia dalam kajian kepercayaan contohnya kelompok Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan Konghucu.

Berdasarkan kajian di atas, supaya tidak terjadi ketimpangan proses pengelolaan politik negara harus berdasar pada nilai kebangsaan (pancasila dan UUD 1945) dan keperibadian masyarakat (agama masing-masing).

Berdasarkan uraian tersebut di atas, penulis berkesimpulan bahwa faktor-faktor pendukung terbentunya radikalisme dan terorisme adalah agama, ekonomi, sosial budaya, dan kebijakan politik. Oleh sebab itu, sebagai sebuah solusi penulis menekankan kemurnian atau kesucian hati sebagai wujud transformasi diri, karena sesungguhnya akhir dari pendidikan agama adalah perubahan karakter, dari karakter manusia biasa menuju karakter manusia yang suci/fitrah, yakni manusia berkeperibadian mulia. Usaha untuk menyucikan diri merupakan langkah menuju kesatuan dengan-Nya, yang berarti juga menumbuhkan kesadaran persaudaraan sejati terhadap semua makhluk ciptaan-Nya, karena dalam pandangan kesatuan ini semua makhluk adalah bersaudara. Berdasarkan konsep tersebut maka segala aktivitas manusia selalu bersumber dari-Nya sehingga kehidupan sosial budaya, ekonomi, dan politik akan selalu tercermin demi kesejahteraan rakyat.(*)

Related posts