Ponpes Halimatussa’diyah NW Lendang Nangka Gelar Seminar GENRE


Lombok Timur SR – Sebagai upaya dalam memberikan informasi dan pemahaman tentang usia kawin pertama dandampak pernikahan dini, Ponpes Halimatussa’diah NW Lendang Nangka Kecamatan Masbagik Lombok Timur bekerjasama dengan BKKBN Provinsi NTB menggelar seminar Generasi Berencana (GENRE) 2018, di aula ponpes setempat,  Kamis (13/12).

Hadir sebagai nara sumber perwalilan dari BKKBN Provinsi NTB dan Kepala DP3A PP & KB Lombok Timur.
Baiq Nurhayati selaku Panitia Pelaksana dalam laporannya menyampaikan, seminar Genre diikuti oleh seluruh santri tingkat SLTA dilingkungan yayasan tersebut.”Peserta kami prioritaskan santri yang sudah menginjak usia remaja agarmereka juga dapat memahami kesehatan reproduksi remaja” ucapnya.
Lebih lanjut Nurhayati berharap dengan tersosialisanya informasi usia kawinpertama yang ideal dapat mewujudkan remaja yang berkualitas, yang memilikipengetahuan dan keterampilan UKP, PUP, dan generasi berencana menuju generasi berencanayang berkualitas baik deri segi pendidikan, sosial dan ekonomi.
Pimpinan Pondok Pesantren Halimatussya’diah NW Lendang Nangka Drs. H. L Burhanuddin,dalam sambutannya menegaskan bahwa komitmen pendidikan yang dilaksanakan diPonpes Halimatussa’diyah NW Lendang Nangka diwujudkan dalam berbagai cara mulai sejak pendirian ponpes tersebut pada tanggal 10 Jul 1986 yang dibukalangsung  oleh Maulana Syikh Zainuddin Abdul Madjid sampai saat ini.

“Perjuangan kami dari nol, dan Alhamdulillah sekarang memiliki beberapa lembaga dengan bangunannya seperti saat ini” jelasnya.

Adapun lembaga yangada di Yayasan Halimatussa’diyah NW Lendang Nangka yaitu Madrasah Diniyah, Pondok Pesantren, MTS, MA, Koperasi Ponpes, LKS/LKSA, dan lain-lain dengansekitar 500-an santri/santriwati.
H. L. Burhanuddin juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kaper BKKBN Prov NTB yang dalam dua tahun terakhir  sangat membantu di ponpes.

“Salah satu bantuan beliau saat ini kami sudah bisa membangun ruang kelas baru (RKB) walaumasih hanya sekedar tembok-tembok untuk santri/santiwati kami belajar,”ujarnya.
Sebagai pengantar dalam seminar Generasi Berencana tersebut, Lalu Usman Aliyang juga Sekretaris Umum ponpes tersebut menggambarkan bahwa Program GenerasiBerencana (GENRE) ini merupakan sebuah program yang sangat baik dan patut untuk dijalankan pemerintah. Namun, tidak bisa akan berjalan maksimal jika stakeholder-stakeholder berpangku tangan dengan menyerahkan semua program tersebut ke BKKBN.

“Harusnya, stakeholder (Ponpes, lembaga kemasyarakatan, pemuda, PIK-R, Remaja Masjid, dan lain sebagainya) harus menyingsingkan lengan bajunya untuk memaksimal berjalannya kegiatan-kegiatan tersebut,tandasnya. 

Kita harus kerja samayang baik sehingga program baik dan bagus tersebut terlaksana. Agama kita (Islam)memerinthkan untuk menjaga pemuda-pemudi kita, jikalau pemuda-pemudi kita baikmaka peluang agama dan Negara kita akan baik dan maju, tetapi jika pemuda-pemudi kita bermasalah/tidak baik maka tunggulah kemunduran dari agama dan Negara kita.

Lanjut Usman, betapa diuntungkan negera tercinta kita ini jika generasiremaja/pemuda/siswa/mahasiswanya memiliki kehidupan yang sehat, akhlak yangbaik, tidak melakukan pernikahan dini, tidak melakukan hubungan seks sebelum nikah, tidak konsumsi NAFZA sehingga menjadi bisa menjadi sumber daya manusia yang baik dan memumpuni sehingga dapat menciptakan lapangan kerjasendiri.

“Ketika terjadiledakan populasi remaja/pemuda yang disebut bonus demografi maka negera kitatidak akan pernah merasa mengalami kerugian karena remaja/pemuda kita sudah terprogram dengan program GENRE (generasi berencana),” tandasnya.
Drs. L. Makrifudin, M.Si, selaku narasumber, menjelaskan, Program Generasi Berencana (Genre) merupakan program yang mengajak generasi remaja supayamerencanakan empat hal dalam hidupnya. Program yang diintegrasikan dengan rencana pembangunan nasional ini, mengarahkan remaja-remaja untuk merencanakan;Pendidikan, Pekerjaan, Pernikahan dan Jumlah anak setelah berkeluarga. Melaluiprogram ini, generasi muda khususnya perempuan–disarankan menikah pada jenjangusia di atas 21 tahun dan laki-laki diatas 25 tahun.
“Kalau menikah di bawah usia 21 tahun, maka perempuan sangat rentan terkenagejala kasus kematian ibu atau bayi. Begitu pula gejala perceraian, makanyakami mengimbau supaya generasi muda agar melangsungkan pernikahan merekaminimal di atas usia 21 tahun,”  urainya
L. Makrif juga menegaskan kepada para peserta seminar, selain merencanakan pernikahan, kaum remaja di NTB diharapkan juga merencanakan pendidikan danpekerjaan. Setelah berkeluarga, pasangan remaja juga disarankan untukmerencanakan jumlah anak.
“Untuk mewujudkan empat hal di atas, ada tiga langkah yang harus dilakukan.Pertama; Menikah di atas usia 21 tahun, Kedua; Jangan berhubungan seks sebelum menikah dan Ketiga; Menghindari narkoba beserta zat-zat adiktif lainnya,” pungkasnya.(vin)

Share this post