Refleksi Hari Guru Nasional Tahun 2018: Guru yang Seharusnya

Refleksi Hari Guru Nasional Tahun 2018: Guru yang Seharusnya

Oleh : Lalu Usman Ali
Dosen IAI Hamzanwadi NW Lombok Timur

Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan usaha sadar agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran sehingga pendidikan sangat menentukan perkembangan individu dan perkembangan masyarakat. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, dan ayat (3) menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. Untuk itu, seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara Indonesia sehingga tercipta Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas (Yamin, 2009: 261-270).
Lebih lanjut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 pasal 3 menyatakan pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Artinya, apabila tujuan pendidikan ini dapat tercapai, maka diharapkan sumber daya manusia Indonesia menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, mampu menghadapi persaingan global, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), serta memiliki keterampilan-keterampilan dalam hidupnya (Yamin, 2009: 261).
Peserta didik atau siswa yang merupakan generasi muda yang dimana dipundak merekalah bangsa ini, maka mereka harus tercerdaskan dan unggul. Dalam ilmu kependidikan dan psikologi sebagaimana disampaikan beberapa pakar seperti Prof. Dr. Nirwan Idrus, Robert T. Kiyosaki, Stephen Covey, Seymour Epstein Ph.D, menyebutkan beberapa berpendapat bahwa manusia sudah memiliki kecerdasan dan kejeniusan bawaan yang tidak perlu terlalu dicampuri oleh siapapun, dengan alasan apapun. Siswa hanya membutuhkan bimbingan, tuntutan dan mentoring untuk eksplorasi jati diri mereka (pelajar) melalui proses pendidikan yang nyaman, antusias dan bergairah. Maka kewajiban para pengabdi pendidikan untuk memberikan sentuhan dan stimulus bukan doktriner ilmu kepada siswa dalam mendidik dan mengajar.
Mayer (dalam Santyasa, 2006a: 7) secara umum terdapat tiga pandangan tentang belajar, yaitu: (1) belajar sebagai penguatan respon, (2) belajar sebagai pemerolehan pengetahuan, dan (3) belajar sebagai konstruksi pengetahuan. Belajar merupakan proses aktif pebelajar mengkonstruksi makna entah teks, dialog, pengalaman fisik, dan lain-lain. Dalam proses pembelajaran, gagasan atau pemikiran guru tidak dapat dipindahkan langsung kepada siswa, melainkan siswa sendiri yang harus aktif membentuk pemikiran atau gagasan tersebut dalam otaknya.

Pandangan Belajar Masa Kini
Pandangan Belajar masa kini adalah pandangan atau paradigma belajar konstruktivis. Paradigma konstruktivistik tentang pembelajaran merupakan paradigma alternatif yang muncul sebagai akibat terjadinya revolusi ilmiah dari sistem pembelajaran yang cenderung berlaku pada abad industri ke sistem pembelajaran yang semestinya berlaku pada abad pengetahuan sekarang ini (Kamdi, 2008: 1-2). Lebih lanjut Santyasa (2007:2) menyatakan lima prinsip dasar yang melandasi kelas konstruktivistik yaitu (1) meletakkan permasalahan yang relevan dengan kebutuhan pebelajar, (2) menyusun pembelajaran di sekitar konsep-konsep utama, (3) menghargai pandangan pebelajar, (5) menilai pembelajaran secara kontekstual.
Filosofi konstruktivis menyatakan belajar merupakan suatu pembentukan pengetahuan yang harus dikonstruksi sendiri oleh siswa artinya siswa yang aktif menemukan, berpikir, merumuskan konsep dan mengambil makna. Belajar menurut konstruktivisme merupakan proses mengasimilasi dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dimiliki sehingga pengertian siswa menjadi berkembang (Sardiman, 2003). Jadi menurut pandangan ini, kegiatan belajar adalah tanggung jawab siswa, sedangkan guru bersifat sebagai fasilitator dan mediator, bukan sebagai sumber informasi ataupun instruktur yang memberi instruksi-instruksi yang bersifat satu arah.
Kebaikan pembelajaran berdasarkan kontruktivisme adalah (1) pembelajaran berdasarkan kontruktivisme memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri, berbagi gagasan dengan temannya, dan mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya, (2) pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan awal siswa agar siswa memperluas pengetahuan mereka tentang fenomena dan memiliki kesempatan untuk merangkai fenomena, (3) pembelajaran konstruktivisme memberi siswa kesempatan untuk berpikir tentang pengalamannya; (4) pembelajaran konstruktivisme memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru, (5) pembelajaran kontruktivisme mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka setelah menyadari kemajuan mereka serta memberikan kesempatan pada siswa untuk mengidentifikasi perubahan gagasan mereka, (6) pembelajaran konstruktivisme memberikan lingkungan belajar yang kondusif yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan, saling menyimak, dan menghindari kesan selalu ada satu jawaban yang benar (Driver et al., Osborne & Freyberg, Tytler, dalam Sutarno 2008).
Guru Masa Kini
Guru sebagai garda terdepan yang berusaha mewujudkan Indonesia cerdas, kompetitif dan berdaya saing menjadi tolak ukur terhadap keberhasilan pemerintah dalam mewujudkan program-program tersebut. Mewujudkan kualitas dan mutu pendidikan Indonesia berarti dilalui juga dengan membuat sistem yang memberikan dan mengarahkan guru Indonesia cerdas, kreatif, dan inovatif sehingga memberikan pendidikan yang efektif di sekolah, dalam hal ini guru bekerja profesional. Guru harus mampu menempatkan dirinya sebagai fasilitator.
Menjadi guru profesional harus memiliki minimal empat kompetensi seorang guru yaitu; kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi personal, dan kompetensi sosial (Sisdiknas, 2003). Keempat kompetensi tersebut tercermin dalam diri guru dan dapat dilihat dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang dilakukannya seperti pembuatan rencana pembelajaran, pelaksanaan rencana pembelajaran, dan memberikan nilai dan tindak lanjut dari hasil evaluasi yang sudah dilakukan guru.
Santyasa (2007: 5) menyatakan guru/pengajar sebagai fasilitator akan memiliki konsekuensi langsung sebagai perancang, model, pelatih, dan pembimbing. Lebih lanjut Santyasa (2007: 5-6) menyatakan disamping sebagai fasilitator, secara lebih spesifik peranan guru dalam pembelajaran adalah sebagai expert learners yaitu guru diharapkan memiliki penguasaan mendalam tentang materi pembelajaran, menyediakan waktu yang cukup untuk pebelajar, menyediakan masalah dan alternatif solusi, memonitor proses belajar dan pembelajaran, merubah strategi ketika pebelajar sulit mencapai tujuan, berusaha mencapai tujuan kognitif, afektif, dan psikomotor; sebagai manager yaitu guru berkewajiban memonitor hasil belajar para siswa dan masalah-masalah yang dihadapi mereka, memonitor disiplin kelas dan hubungan interpersonal, dan memonitor ketepatan penggunaan waktu dalam menyelesaikan tugas. Dalam hal ini, guru berperan sebagai expert teacher yang memberi keputusan mengenai isi, menseleksi proses-proses kognitif untuk mengaktifkan pengetahuan awal dan pengelompokan siswa; dan sebagai mediator yaitu guru memandu mengetengahi antar siswa, membantu para siswa memformulasikan pertanyaan atau mengkonstruksi representasi visual dari suatu masalah, memandu para siswa mengembangkan sikap positif terhadap belajar, pemusatan perhatian, mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan awal, menjelaskan bagaimana mengaitkan gagasan-gagasan para siswa, dan pemodelan proses berpikir dengan menunjukkan kepada siswa ikut berpikir kritis..
Menilik dari kajian para pakar ilmu kependidikan dan psikologi bahwa manusia sudah memiliki kecerdasan dan kejeniusan bawaan yang tidak perlu terlalu dicampuri oleh siapapun, dengan alasan apapun. Siswa hanya membutuhkan bimbingan, tuntutan dan mentoring untuk eksplorasi jati diri mereka (pelajar) melalui proses pendidikan yang nyaman, antusias dan bergairah. Maka posisi seorang guru sebagai fasilitator sangat relevan dan efektif untuk pengembangan dunia kependidikan. Kalau guru hanya ahli dan terampil dalam mentransfer materi pembelajaran maka suatu saat peranan guru dapat diganti oleh Teknologi Modern. Guru biasa itu mengatakan, guru yang baik itu menerangkan, guru yang super itu mendemonstrasikan, dan guru yang hebat itu memberikan inspirasi, maka jadilah guru yang super dan hebat yang memberikan contoh dan menginspirasi siswanya. Selamat hari guru Nasional tahun 2018. (**)

Share this post