Mata Air Mengering, PDAM Ngaku Merugi

Mata Air Mengering, PDAM Ngaku Merugi

Lombok Tengah SR – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (Kab. Loteng, Prov. NTB), mengalami kerugian secara finansial (keuangan) akibat mengeringnya beberapa mata air untuk kebutuhan pelanggan.
Bersyukur saat ini hujan telah mulai turun disejumlah wilayah salah satunya di beberapa wilayah kecamatan terdapat di Gumi Tatas Tuhu Trasna (Kab. Loteng). Air hujan yang mengguyur pun diketahui dengan intensitas cukup tinggi, sehingga cukup membuat sejumlah warga masyarakat merasa lega terutama yang selama ini berdomisili di wilayah kecamatan tertimpa bencana kekeringan.
Tentunya dengan mulai turunnya hujan menandakan musim kemarau yang telah usai. Kendati demikian, dengan kondisi cuaca seperti ini tidak lantas bisa secara langsung memaksimalkan penyaluran air bersih kepada seluruh warga pelanggan PDAM di Loteng. “Beberapa mata air berangsur – angsur mulai alami kekeringan kira – kira sejak awal tahun 2018 lalu. Otomatis hal ini berimbas terhadap stock (persediaan) air bersih di PDAM pun menyusut”, Jelas Direktur Utama (Dirut) PDAM Tirtha Ardhia Rinjani Loteng, H. Lalu Kitab, diruang kerjanya Rabu (07/11) pekan kemarin.
Lebih jauh dikatakan pihaknya, selain itu akibat terjadinya kemarau berkepanjangan selama ini, tentu saja berdampak buruk pula terhadap pemberian pelayanan tidak maksimal kepada pelanggan setiap harinya. Sementara permintaan dan animo warga masyarakat guna ikut mendapatkan pelayanan PDAM saat inipun diketahui sangat tinggi.
Tidak berhenti sampai disitu, diakui pihaknya jika sistem pemberian pelayanan tidak maksimal yang terpaksa diberlakukan PDAM kepada ribuan para pelanggan tersebar di sejumlah desa kecamatan tersebut, alhasil menjadikan penghasilan perbulan PDAM juga ikut tidak maksimal. “Dalam beberapa bulan terakhir ini, dari 7 mata air yang ada hanya 5 mata air saja yang dapat kita fungsikan untuk mengaliri air bersih kepada sejumlah pelanggan”, katanya.
Lanjut diakui pihaknya, kondisi debit air bersih yang terdapat di 5 mata air inipun beberapa minggu terakhir kini sudah mulai semakin terus berkurang. Adapun kindisi debit air yang setiap harinya drastis semakin berkurang di 5 mata air ini berperan aktif mengaliri air bersih kepada pelanggan kendati terhitung hanya 25 persen saja dari jumlah debit normalnya.
Dari jumlah tersebut, sehingga tidak sedikit pula warga masyarakat pelanggan yang pada akhirnya kran airnya pun tidak kebagian dialiri air bersih. Mengingat tergantung deras tidaknya air yang mengalir didalam pipa.
“Hampir setiap hari, ada warga yang dapat dan ada yang tidak, kondisi ini yang menyebabkan pelayanan kita tidak maksimal. Tapi kita mau bilang apa lagi, Insha Alloh kalau musim penghujan cepat tiba kita tidak perlu terlalu khawatir lagi,” imbuhnya,
Kembali ditegasakan, berlangsungnya kondisi seperti ini jelas sama – sama tidak diharapkan pula pihaknya. Karena, disamping berkurangnya pendapatan dan penghasilan setiap bulannya, sekaligus juga pihaknya mau tidak mau terpaksa harus merogoh kocek lebih dalam lagi untuk kepentingan biaya operasional serta gaji sejumlah para pegawai yang ada di PDAM.
Tidak lupa diungkapkan pihaknya, terkait persoalan tingginya animo warga masyarakat untuk menjadi pelanggan air bersih PDAM, untuk saat ini belum bisa untuk diakomodir mengingat kondisi ketersediaan air yang juga belum maksimal. “Terus terang saja kami saat ini mengalami kerugian terutama kerugian finansial, kondisi debit air yang masih sangat kurang ini juga membuat kita terpaksa tidak bisa dulu untuk mengakomodir keinginan masyarakat yang mau mendaftar jadi pelanggan. Insha Alloh, nanti kalau kondisi memang sudah normal maka kita pun akan membuka kran pendaftaran,” ungkapnya.
Ikut ditambahkan ketika itu oleh Direktur Umum PDAM Tirtha Ardhia Rinjani Loteng, Nur Sahim S.H, dengan menyampaikan, adapun WTP Bendungan Batujai saat ini menangani untuk kebutuhan air bersih yang berada diwilayah kecamatan seperti, Pujut, Praya Barat, dan Kecamatan Praya Barat Daya. Akan tetapi tidak jauh berbeda, akibat penyusutan air bendungan berdampak pula pada hasil pengolahan air bersih yang juga debitnya kini berkurang.
Bendungan Batujai ini sendiri notabene untuk pengolahan airnya, selama ini diketahui hanya mampu menghasilkan 50 persen air bersih terhitung dari waktu normal atau sebelum memasuki musim kemarau. Kondisi bendungan inipun nasibnya tidak jauh berbeda dengan kondisi sejumlah mata air yang ada di wilayah utara Loteng, dimana kerugian cukup signifikan juga dialami oleh WTP Bendungan Batujai ini. “Hak pengelolaan WTP Batujai akan kita berikan kepada pihak ketiga, saat ini baru dua perusahaan yang mendaftar. Salah satunya dari pihak swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), kita masih sedang dalam proses tender,” terangnya.
Terakhir ditegaskan pihaknya, mengingat dalam hal ini yang berwenang menentukan secara langsung pemenang tender yang sudah tentu tidak terlepas pula berdasarkan perhitungan untung rugi dari kedua belah pihak. Maka, nantinya untuk pemenang tender akan ditentukan langsung oleh pihak BPKP. (ang)

Share this post