Kendati di Tenda ASN Lobar Tetap Optimalkan Pelayanan

Kendati di Tenda ASN Lobar Tetap Optimalkan Pelayanan

Lombok Barat SR – Efektifitas bekerja serta perioritaskan pelayanan prima untuk masyarakat, Bupati Lombok Barat (Lobar) H. Fauzan Khalid terpaksa harus rela memindahkan ruang kerjanya. Ia beserta Sekretaris Daerah (Sekda) mengungsi, akibat kondisi gedung yang sebelumnya tempati mengalami status kerusakan parah akibat guncangan gempa hari lalu.
Fauzan sendiri terpaksa memilih ruang kecil di Gazebo Rumah Dinasnya, sedangkan Sekda H. Moh. Taufiq menempati Rumah Dinas Wakil Bupati.
Praktis kepindahan mereka pun diikuti oleh yang lainnya. Asisten, Bagian Ekonomi, dan Bagian Keuangan mengikuti jejak Sekretaris Daerah menempati Pendopo 2, sedangkan Bagian Administrasi Pembangnan dan Bagian Humas Protokol terpaksa menempati tenda darurat yang disiapkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lobar di halaman Pendopo 2.
Humas dan Protokol H. saeful Ahkam menuturkan, Kepindahan mereka pun akan dipastikan dan diikuti lagi oleh seluruh Bagian lingkup Sekretariat Daerah yang ada.
“Mereka akan disiapkan barak untuk menjadi kantor sementara di areal parkir. Kalau Dinas Kominfo mungkin pindah ke Komplek Dinas Pemuda dan Olah Raga. Di sana masih ada beberapa ruangan yang kosong,” terangnya Rabu 6/09.
Menurut mantan aktifis ini, dikosongkannya Kantor Bupati Lobar karena mengalami kerusakan parah di Lantai III Bagian Utama (Tengah). bangunan yang lebih akrab disebut Gedung Putih itu kata Ahkam, kondisi Kubah yang sebelumnya menjulang tinggi, kini sudah nampak miring karena beberapa cagaknya patah.
“Kondisi kubah seperti itu membuat beberapa staff tidak nyaman dan bahkan ketakutan,” ujarnya.
Sehingga ujaran ngeri dan ketakutan ini disampaikan banyak pegawai yang ada di gedung putih itu. Bahkan salah seorang staff Bagian yang kebetulan berkantor di Lantai I menyebutkan rasa khawatir.
“Kami was-was. Setiap ada suara atau getaran, kami ketakutan. Dari pada selalu seperti itu, kita pindah saja,” tirunya.
Kita yang ada di Bagian Humas sendiri berkali-kali bolak balik pindah dalam sebulan ini, terakhir kemudian memilih kembali ke Ruangan semula di Lantai II Sayap Timur Gedung Putih.
“Hasil assessment terakhir membuat hampir semua staff was-was. Dari pada tidak efektif, lebih baik pindah saja,” pungkasnya.
Hasil assessment lanjut Ahkam, yakni penilaian dari Dinas PUPR Provinsi NTB yang datang bersama Tim Ahli dari Australia. Mereka melalukan pengecekan ke seluruh bangunan, termasuk Kantor Wakil Bupati di belakang Gedung Putih.
“Hasilnya mereka memastikan beberapa titik lokasi sudah tidak aman untuk beraktivitas. Bahkan mereka memasang garis kuning tanda larangan memasuki di beberapa lokasi,” pungkasnya.
Sementara, terkait kondisi gedung putih saat ini kata Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PUPR Lobar, Ahad Legiarto, kondisinya parah dan statusnya tidak bisa ditempati untuk aktivitas perkantoran karena membahayakan, sehingga sudah dipasang garis larangan.
“Pemasangan garis larangan adalah untuk safety. Sesungguhnya beberapa bagian bangunan saja yang tidak aman, sisanya aman karena kerusakan tidak menimpa struktur bangunan,” ungkapnya.
Namun Ahad tidak bisa menampik kekhawatiran para staff sehingga awalnya ia keberatan dengan pemasangan garis kuning itu.
“Membuat staff makin kuatir saja,” ujar Ahad.
Gedung Putih dan Gedung Wakil Bupati Lobar secara keseluruhan sudah diteliti. Ada empat pihak yang telah melakukan assessment. Ada dari UII jogjajarta, Inkondo Lobar, Dinas PUPR Provinsi NTB, dan Tim Ahli dari Australia.
“Hasilnya sebenarnya sama dengan penelitian kita. Kita juga mempertimbangkan aspek safety itu, tapi juga berfikir bagaimana proses kerja dan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik,” tandasnya. (W@N)

Share this post