Warga Dusun Batu Tepak Minta Perhatian Pemerintah

Warga Dusun Batu Tepak Minta Perhatian Pemerintah

Lombok Utara SR – Puluhan Kepala Keluarga (KK) korban gempabumi Lombok di wilayah Dusun Batu Tepak, Desa Sukadana, Kecamatan Bayan, butuh perhatian serius dari pemerintah.

“Puluhan warga suku pedalaman hidupnya sangat miris. Kondisi rumah yang sebagian besar sudah tidak layak huni lagi. Kendati masih bertahan hanya rumah yang terbuat dari anyaman bambu kering dengan ukuran 2×3 meter saja. Kondisinya cukup memperihatinkan karena kirangnya rasa kepedulian atas kondisi mereka,” ujar salah seorang relawan yang menyalurkan bantuan untuk korban gempa, Sofyan,  Sabtu (01/09).

Sebelumnya,  gempa yang mengguncang Kabupaten Lombok Utara dengan kekuatan 7,0 SR pada Ahad (05-19/08) lalu  meratakan sebagian besar daerah kabupaten Lombok Utara, yang  menyita perhatian banyak pihak.

Salman Sofyan, selaku relawan dari Nahdlatul Wathan menuturkan jika di Dusun Batu Tepak tersebut kehidupan masyarakat tidak hanya menyita perhatian karena bencana gempa, namun lebih kepada akses perekonomian dan pendidikan masyarakat dusun tersebut. Kebanyakan masyarakatnya hanya mengandalkan pasokan makanan hasil pertanian seadanya. Kondisi tanah yang bukan tanah produktif untuk pertanian membuat masyarakat kesulitan untuk bertahan hidup layaknya masyarakat yang ada di dusun lain.

“Ini bukan lagi soal kita perhatikan karena gempabumi, tapi karena keadaan hidup masyarakatnya yang selama ini terabaikan oleh pemerintah setempat,” ungkapnya.

Lebih lanjut Sofyan menuturkan jika di dusun tersebut akses pendidikan untuk tingkat sekolah dasar anak-anak harus menempuh perjalanan kaki sejauh 7 kilo meter. Sementara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat bekerja ke daerah Desa Selelos Kecamatan Gangga yang jarak tempuhnya mencapai puluhan kilometer. Tanah Dusun Batu Tepak yang bukan tanah produktif menjadi alasan masyarakat bekerja di luar dusunnya.

“Yang membuat kita melihat itu miris, karena akses pendidikan anak-anak kalau mau sekolah jaraknya sangat jauh sampai 7 kilo itupun berjalan kaki, coba kita bayangkan tentu anak-anak akan jarang masuk sekolah, masyarakatnya pun begitu bekerja sampai ke kecamatan lain sangat jauh, tanahnya kan tidak produktif kalau mereka bercocok tanah, kering kerontang,”ungkapnya.

 

Badrul, salah seorang Ustad  yang saat ini bermukim di dusun tersebut mengaku, dirinya semenjak datang dari Pulau Jawa untuk berdakwah ke Dusun Batu Tepak tersebut sangat mengharapkan bantuan pemerintah sehingga mereka bisa hidup lebih layak.

Kondisi kami sudah begini. Kami pun sebetulnya ingin hidup lebih mapan tetapi tak tahu harus memulainya mengubah pola hidup yang selama ini kami jalani.

“Kami merasa diperlakukan tidak adil sebab kebanyakan warga lainnya malah mendapatkan bantuan. Mungkin karena kami tinggalnya di wilayah pedalaman,” katanya dengan polos. (ror)

Share this post