Musibah Mendera, PBNW Ajak Muhasabah dan Minta Pendakian TNGR Diperketat

Mataram SR – Gempabumi yang bertubi-tubi mengguncang Lombok NTB sejak Tanggal 29 Juli hingga 20 Agustus 2018 ini memberikan dampak yang sangat luas bagi masyarakat NTB, Lombok pada khususnya. Karena akibat gempa itu ratusan jiwa harus melayang puluhan ribu tempat tinggal rusak total dan ratusan ribu masyarakat mengungsi. Oleh pihak BMKG memperidiksi pasca gempabumi berkekuatan 7.0 Skala Richter (SR) gempa susulan akan terus terjadi dengan intensitas yang terus mengecil. Namun faktanya gempa besar lagi terjadi pada Ahad (19/8) cukup besar sebanyak dua kali yaitu 5.4 SR sekitar pukul 12.06 WITA dan 6.5 SR pada pukul 12.10 WITA yang membuat warga berhamburan keluar dari rumahnya untuk mencari tanah lapang agar tidak terkena runtuhan bangunan.
Belum hilang kepanikan warga Lombok, kembali gempabumi mengguncang Lombok dengan kekuatan yang lebih besar lagi yaitu 7.0 SR pada pukul 22.56 WITA di kedalaman 30 timur Laut Lombok Timur.
Dengan kondisi bencana gempabumi yang tidak lazim terjadi di Pulau Lombok ini, Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW) melihat dari sisi spritual, karena kerusakan Gunung Rinjani akibat dibebaskannya masyarakat umum baik lokal maupun mancanegara melakukan pendakian dengan berbagai latar belakang niat dan perbuatan para pendaki di Gunung Rinjani yang dianggap memiliki keistimewaan oleh Pendiri Organisasi NW almagfurlah Maulanasyaikh TGKH M Zainuddin Abdul Madjid. Sampai-sampai oleh pendiri NW ini menyebut di dalam wasiatnya tentang keistimewaan Gunung Rinjani yang berbeda dengan gunung-gunung pada umumnya.
” Ninikda (Maulanasyaikh) sering bercerita di setiap pengajian bahwa Gunung Rinjani ini tempat para wali melakukan rapat membahas tentang dakwah dan penyebaran Islam. Bahkan Gunung Rinjani dipilih oleh utusan Wali Songo berdakwah ke Lombok dan menjadikan Gunung Rinjani sebagai titik awal dilakukannya dakwah Islam di Pulau Lombok ini,” kata Ketua Umum PBNW Hj St Raihanun ZAM melalui Ketua I PBNW TGB M Zainuddin Tsani, di Mataram Senin (20/08).


Lanjutnya, jadi karena itulah kesucian Gunung Rinjani sekarang ini sudah tercemar dengan perbuatan para pendaki dari perbagai negara ini. Kita tidak menuduh apa yang mereka lakukan tidak benar, namun dari dokumen dan fakta-fakta yang beredar di media sosial ( medsos) terkait perbuatan para pendaki di atas Gunung Rinjani, mengindikasikan bahwa kondisi gunung yang menjadi kebanggaan warga Lombok NTB ini sudah mengalami kerusakan yang cukup parah ditinjau dari segi spritual dan religius.
“Untuk itulah kami mohon kepada pihak pemerintah atau yang punya wewenang, agar kiranya pendakian ke Gunung Rinjani harus selektif dan memiliki standar yang ketat untuk menjaga keindahan Gunung Rinjani tersebut. Di samping itu juga pemerintah dalam hal ini pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) lebih tegas lagi supaya menutup jalur-jalur tikus (illegal) ke Gunung Rinjani untuk mengurangi resiko dan kerusakan Gunung Rinjani,” imbuh TGB.
Kondisi sekarang ini, lanjut cucu Pahlawan Nasional ( Maulanasyaikh TGKH M Zainuddin Abdul Madjid) ini, kiranya kita semua bisa bermuhasabah atau instrospeksi diri atas apa yang kita lakukan selama ini. Sering kita lalai dan tinggalkan kewajiban kepada Sang Kholiq dan terus melakukan perbuatan yang dilarang Nya.
” Musibah ini, bisa saja bagian dari ujian atau bahkan sebagian dari azab yang kita terima akibat perbuatan kita sendiri di muka bumi ini. Untuk itu mari kita perbanyak zikir, berdoa dan istigfar di setiap saat,”pungkasnya.(*)

Share this post