SUARA OPINI 

ZAINUDDIN TSALIS : SUNNAH HASANAH MAULANA SYAIKH HARUS BERLANJUT

Oleh Dr.H.M. Mugni Sn.,M.Pd.,M.Kom.

(Ketua Umum Pimpus Ikatan Sarjana Nahdlatul Wathan)

Bagi seorang santri harapan utamanya adalah mendapatkan ilmu barokah. Sang kiyai/sang tuan guru/sang mudir pondok pesantren akan selalu mendoakan santrinya, “semoga mendapakan ilmu yang barokah”. Ilmu barokah, yakni ilmu yang diamalkan untuk keutamaan/kemulian sang santri di tengah-tengah masyarakat. Di manapun sang santri berada dan kapanpun. Untuk mendaptkan ilmu barokah dalam buku tradisi pesantren karya Zamakshari Dhofier banyak syarat yang harus dijalankan oleh sang santri dan wali santri. Dari semua syarat itu yang paling utama adalah bagaimana cara sang santri menghadapi gurunya dalam memperoleh ilmu tersebut. Bagaimana cara/sikap sang santri pada kiyainya/tuan guru/mudir pesantrennya dalam mendapatkan/memperoleh ilmu

Di dunia pesantren, kiyai/tuan guru/mudir adalah tokoh sentral. Sang kiyai/tuan guru diidolakan oleh santrinya. Sebagai idola maka petuah/sikap/arahannya akan dipanuti dan dilaksanakan. Lebih-lebih lagi bagi kiyai/tuan guru yang sudah khos/terkenal akan keilmuannya, sepeti Hadiratussyakh KH. Hasyim Asyari, KH, Ahmad Dahlan, dan di Lombok Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.

Bagai santri Nahdlatul Wathan, Maulana Syaikh adalah idola dan panutan. Sebagai panutan, tentu sang santri Nahdlatul Wathan harus terus melestarikan dan melanjutkan sunnah hasanah yang telah dilaksanakan. Bila Maulana Syaikh telah melakukan suatu hal maka tinggal dilanjtkan dan tidak perlu ada perdebatan. Tetapi bila Maulana Syaikh belum melalukan maka tidak ada soal bila diperdebatkan untuk mendapatkan ide gagasan terbaik untuk kemajuan Nahdlatul Wathan.

Pada saat Maulana Syaikh masuh hayat bahwa beliau telah memberikan nama kepada salah seorang cucunya dengan nama yang sama dengan namanya, yakni Zainuudin dan ditambahkan dengan kata Tsani (kedua). Pemberian mana ini tentu menjadi pereogatif Maulana Syaikh. Bila ada yang mempertanyakan dan meragukan maka kualitas kesantriannya sebagai santri Nahdlatul Wathan patut dipertanyakan. Mengapa? Karena ini menjadi indikasi bahwa sang santri meragukan kewalian Maulana Syaikh. Bila yakin dengan kewalian Maulana Syaikh maka tidak perlu ada keraguan. Keraguan ini, bagi seorang santri akan menghalangi sempurnanya barokah ilmu yang diperoleh. Karena yang bersangkutan telah meragukan gurunya.

Saat Maulana Syaikh masih hayat kita tidak mendengan adanya santri yang mempertanyakan masalasah tersebut. Semua menerima dengan sikap sami’na wa’atakna. Pada saat Zainuddin Tsani berumur 4 (empat) tahun Maulana Syaikh memberikan gelar Tuan Guru Bajang (TGB). Tuan Guru Bajang adalah sebutann yang berikan oleh orang Sasak kepada orang Sasak yang bidang ilmunya keagamaan atau orang yang telah menamatkan Pendidikan agama. Seperti Maulana Syaikh saat baru kembali dari Tanah Suci Makkah menyelesaikan pendidikannya di Madrasah Sholatiyah, masyarakat Sasak memberikan gelar keagamaan kepada beliau dengan sebutan Tuan Guru Bajang. Beliau disebut Tuan Guru Bajang karena umurnya masih di bawah 40 (empat puluh) tahun.

Maulana Syaikh memberikan sebutan Tuan Guru Bajang kepada Zainuddin Tsani tentu menjadi hak pereogatif Maulana Syaikh yang diyakini oleh jama’ah Nahdlatul Wathan sebagai waliyullah. Salah satu kelebihan waliyullah dalam pelajaran Ilmu Tauhid adalah pada diri waliyullah ada karomah. Karomah adalah kejadian luar biasa yang dialami/dimiliki oleh seorang waliyullah. Karomah bukan medan akal. Jadi bukan kajian ilmiah dan akal. Karomah adalah medannya hati dan keyakinan. Jadi tidak untuk diperdebatkan dengan berlogika. Dalam banyak kesempatan dan di banyak temnpat Maulana Syaikh selalu memanggil  Zainuddin Tsani dengan tuan guru bajang dan menyampaikan bahwa TGB Zainuddin Tsani sebagai pengganti beliau pada saatnya nanti.

Kini TGB. Zainuddin Tsani telah mengambil dan mejalankan amanah Maulana Syaikh sebagai pengganti. Beliau telah ditetapkan untuk memegang  tampuk kepemimpinan organisasi Nahdlatul Wathan sebagi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan pasca Ummuna Al-Mujahidah Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid yang juga umi beliau dalam Muktamar ke-14 Nahdlatul Wathan yang diselenggarakan pada bulan Juli 2019 di Mataram. Di bawah kepemimpinan TGB Zainuddin Tsani gerakn oranisasi Nahdlatul Wathan lebih agresif dan dinamis.

Keagresifan dan kedamisan tersebut dapat dibuktikan dengan terus berkembangnya kepengurus organisasi Nahdlatul Wathan yang saat ini telah menjelajahi 31 Propinsi di Nusantara. Ini artinya bahwa tinggal 3 propinsi di negeri ini yang belum terbentuk Pengurus Wilayah Nahdlatul Wathan. Pekerjaan rumah tinggal 3 propinsi ini akan segera terselesaikan dengan adanya program Pengiram Duta-Duta Nahdlatul Wathan  ke Propinsi-Propinsi yang sudah terbentuk pengurus organisasi dan yang belum. Program pengiriman duta-duta Nahdlatul Wathan tahun 2021 adalah tahun ke-2. Kita harapkan tahun 2022 seluruh propinsi di Nusantara telah terbentuk Pengurus Wilayah Nahdlatul Wathan.

Keagresifan ini juga terlihat dari diaktifkan kembali seluruh bandan Otonom dan Lembaga Nahdlatul Wathan yang sudah ada dan dibentuknya Lembaga-lembaga yang dibutuhkan sesuai dengan tuntuntan kehidupan berorganisasi, berbangsa, dan bernegara. Keaktifan Badan Otonom dan Lembaga Nahdlatul Wathan serta dibentuknya lembaga-lembaga baru sebagi implikasi dari teori mananajemen yang menegaskan bahwa manajemn adalah menggunakan orang lain untuk mencapai tujuan. Di samping sebagai implikasi teori kepemempinan yang menegaskan bahwa memimpin adalah membagi pekerjaan dan mempengaruhi orang lain untuk bekerja.Terus semangat dan kerja keras para pimpinan Badan Otonom dan Lembaga Nahdlatul Wathan, Isyaa Allah Nahdlatul Wathan akan terus berkibar sebagaimana pesan wasit  Maulana Syaikh-Guru Besar kita dalam Wasiat Renungan Masa.

Dalam masa kepempinan TGB sunnah hasanh Maulana Syaikh telah berlanjut dengan telah ditetapkan Zainuddin Tsalis yang sekaligus menjadi Tuan Guru Bajang melanjutkan sunnah hasanah Maulana Syaikh pada Zainuddin Tsani. Dengan telah lahirnya Zainuddin Tsalis yang sekaligus diberi gelar TGB maka dengan sendirinya  gelar TGB untuk Zainuddin Tsani telah berakhir. Sunnah hasanah di Nahdlatul Wathan yang diwariskan oleh Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah gelar Maulana Syaikh. Untuk itu pada diri TGB Zainuddin Tsani disematkan gelar Maulana Syaikh TGKH.L.G.M. Zainuddin Tsani. Sejak ditetapkan TGB Zainuddin Tsalis maka sejak itu pula gelar Maulana Syaikh TGKH.L.G.M. Zainuddin Tsani dimulai.

Proses penetetapan Zainuddin Tsalis atas keputusan  Ummuna Al-Mijahidah Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid selaku Rois ‘Am Pengurus Besar Nahdlatul Wathan. Penetapan  tersebut disampaikan pada rapat khusus dengan undangan yang disampaikan oleh Ummuna selaku Rois ‘Am Dewan Mustasyar PBNW. Peserta rapat adalah Dewan Mustasyar PBNW, Pengurus Harian PBNW, dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Badan Otonom/Lembaga NW serta Ketua PDNW se-Lombok. Rapat tersebut dilaksaanak pada hari Sabtu, 21 Agustus 2021/12 Muharram 1443 H. di Kampus Ma’had DQH NW Anjnai. Dalam rapat tersebut Ummuna menyampaikan bahwa Zainuddin Tsalis adalah sunnah hasanah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuuddin Abdul Madjid sekaligus pesan almagfurullah dari alamnya kepada murid-murid (ahli wirid) dan termasuk kepada istri almagfurullah saat masih hayat Ummi Hj. Rahmatullah bahwa harus terus diberlanjut nama Zainuddin dari zurriyat Mauana Syaikh. Zainuudin Tsani langsung diberikan oleh Maulana Syaikh. Setelah Zainuddin Tsani maka dilanjutkan oleh Zainuddin Tsalis. Zainuudin Tsalis dari pesan Maulana Syaikh dari alamnya dan keputusan saya sebagai penerus adalah putra kedua TGB.H. Lalu Gde Muhammad Zainuddin Tsani, yakni Lalu Gde Muhammad Rafi Qaisar Abdul Madjid. Sejak hari ini Lalu Gde Muhammad Rafi Qaisar Abdul Madjid diganti namanya menjadi Lalu Gde Muhammad Zainuddin Tsalis. Besok hari Ahad supaya diaqikahkan sekaligus Mukaddimah HULTAH ke-86 NWDI. Ini yang perlu saya samapikan, wah jelas ke, “enggih” (peserta rapat)’ pada sampaiang lek batur dait jamaah.

TGB Zainuddin Tsalis telah ditetapkan/telah lahir. Tugas dan kewajiban  warga Nahdlatul Wathan adalah merawat warisan sunnah hasanah tersebut supaya sesuai dengan harapan Al-Magfurullah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Maulana Syaikh TGKH. L.G.M. Zainuddin Tsani adalah pengganti Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dan TGB. Zainuddin Tsalis adalah pengganti Maulana Syaikh TGKH. L.G. Muhammad Zainuddin Tsani. Sunnah hasanah harus terus dirawat oleh zurriyat, abituren, pencita dan jama’ah Nahdlatul Wathan. Tidak untuk diperdebatkan. Tidak untuk dipertanyakan. Bila ada orang lain mempertanyakan dan tidak mau mengerti. Biarkan. Waktu yang bercerita. Tetap dan kokohkan diri berjiwa santri. Wallahuaklambissawab.

 

Related posts

Leave a Comment

Or

%d blogger menyukai ini: