SUARA SUMBAWA 

Kepala BPBD: Kekeringan Mulai Melanda Beberapa Kecamatan di Sumbawa

Sumbawa Besar, SR – Memasuki musim kemarau, beberapa wilayah kecamatan di kabupaten Sumbawa Nusa Tenggara Barat mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih. Sedikitnya ada 17 kecamatan mulai kekurangan air bersih. Demikian disampaikan Plt. Kepala Penanggulangan Bencana Daearah (BPBD) Kabupaten Sumbawa Nurhidayat, saat ditemui  wartawan Suara Rinjani dikantornya, beberapa waktu lalu.

Nurhidayat, sapaan akrabnya mengungkapkan, mungkin ini adalah dampak dari trennya jagung karena wilayah waternya, seperti mata air, sungai, karena sudah digunakan untuk menanami jagung. “Begitu datang hujan, air vegetatifnya berupa tumbuh-tumbuhan yang dapat menahan airnya itu bisa menyerap kedalam tanah, sehingga dapat menyebabkan kekeringan,” tambahnya.

Anehnya walaupun hujan 1 minggu, katanya, masih belum ada air sumur karena air hujannya itu, lama baru menyerapnya ke dalam sumur. “Nah, itulah yang kita data daerah mana yang mengalami kekeringan dan kita Kalak BPBD di sini juga sedang berusaha untuk mencari sumber dananya melalui provinsi dan kabupaeten untuk mencarinya ke Jakarta, karena ada sekitar miliaran uang yang kita butuhkan untuk menangani kekeringan di 17 kecamatan ini,” jelas Nurhidayat.

Lanjutnya, kita juga tidak perlu mereporusier dana APBD itu dan tidak mungkin juga karena sekarang dana juga dibutuhkan untuk Covid19. Sehingga saya harus berinovasilah bersama teman-teman di provinsi, pusat kita sama-sama cari sumber dana untuk penanganannya dan itu sudah kita bagi. “Di bagian barat dari Ree ke Alas barat Moyo utaera, Moyo hilir, Moyo hulu kemudian di kotanya dari Lopok. Dan itu, wilayahnya ada barat tengah dan timur,” paparnya.

Diungkapkannya, kami dari pemerintah daerah juga ingin menanganainya secara masif. “Ada api kita siram, ada kekeringan kita kasih air dan itu nanti sumber airnya kita cari di daerah lain, dan turun dari pusat itu ada geolistrik dan itu dikerjakan oleh pusat,” terangnya.

“Misalkan itu di Labangka, Labangka 3, dan kalau di Labangka butuh air, kita bor itu yang penting ada listriknya,” sambungnya.

Jadi, data dilapangan itu, lanjutnya, sangat penting supaya anggaran itu segeran turun. Begitu jadi sumur bor, ada listrik, tandoen kita serahkan ke kelompok masyarakat kemudian airnya dibagi dan mereka yang peliharanya. “Jadi untuk beli oli, minyak dari iuran yang dikeluarkan oleh masing-masing rumah dan itu tentunya juga perlu dibantu oleh pemerintah dan itu semua masih dalam proses perencanaannya,” tukasnya.

Nurhidayat menghimbau kepada masyarakat, hati-hati dalam menggunakan air dalam kondisi kering kayak gini, dan juga hati-hati terhadap bahayanya kebakaran. “Kebakaran itu soalnya akan memusnahkan kehidupan semua orang, mengingat banyak rumah-rumah yang terbakar dilalap api yang dipicu oleh lalainya orang terhadap listrik,” pungkasnya. (bgs)

Usually there is a physical basis for the problem and https://ozepharmacy.com.au/accutane/ the condition is typically reversible, bone-related issues such as stenosis. This enthusiastic group of professionals specifically accumulates more than 30 years of experience in clinical trials.

Related posts

Leave a Comment

Or

%d blogger menyukai ini: