SUARA PENDIDIKAN 

HIMMAH NW Lotim Gelar Sekolah Kebangsaan dan Politik

Lombok Timur SR – Himpunan Mahasiswa Nahdlatul Wathan (HIMMAH NW) Cabang Lombok Timur, menyelenggrakan Sekolah  Kebangsaan dan Politik  dengan tema Politik Milenial, Peluang dan Tantangannya, yang dilaksanakan selama 3 hari mulai tanggal 11 – 13 Juni 2021 di Ruang Auditorium Kampus STMIK Syaikh Zainuddin NW Anjani.
“Dengan adanya sekolah politik dan kebangsaan ini diharapkan dapat merubah paradigma dan sikap sebagian mahasiswa yang cenderung bersikap anti terhadap politik,” ungkap Ketua Panitia Azhari Hasbi dalam laporannya, Jum’at (11/06)
Kata Hasbi, dengan kegiatan sekolah politik dapat menepis aprori sebagian mahasiswa yang masih beranggapan politik sebagai hal yang cenderung dipandang miring dan saling menjatuhkan.
“Padahal jika kaji lebih mendalam dengan adanya politik mahasiswa mampu menganalisis masalah-masalah bangsa yang sedang terjadi dan mempunyai solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah tersebut,” tandasnya.
Ketua PC HIMMAH NW Lotim Samsul Hadi, dalam sambutannya menyampaikan kegiatan sekolah politik merupakan program PC yang sudah di agendakan dalam program kerja PC Himmah NW Lotim. “Marilah kita pelajari dengan baik, karena kita berpolitik untuk berjuang bagi organisasi kita,”ajaknya.


Lanjutnya, pada kegiatan sekolah politik yang dilaksanakan selama 3 hari ini pihaknya menghadirkan pemateri dari kalangan akademisi, praktisi politik, penyelenggara pemilu dan kalangan media.
Ketua PW Himmah NW NTB Salman Sopian, SE. dalam sambutannya sekaligus membuka acara menyebutkan dalam politik itu secara teori kita berada pada pilihan antara subjek dan objek dari politik itu sendiri, itu semua tergantung pada pribadi kita sendiri
“Saya berharap peserta sekolah politik ini dapat mengikutinya dengan baik, galilah potensi-potensi yang ada pada diri kalian, pada saatnya nanti kalian akan merasakan manfaat dari kegiatan-kegiatan seperti ini,” jelasnya.
Sekjen Pimpinan Pusat HIMMAH NW, Hasanah Efendi, S.IP., M.I.Kom. dalam orasi ilmiahnya yang mengangkat tema Politik Kaum Muda : Antara Peluang dan Tantangan. Menurutnya, pemuda dan politik adalah dua elemen atau bagian yang tak terpisahkan dalam pembangunan suatu bangsa, karena dari sisi itulah pemuda kita dapat memberikan kontribusinya dalam pembangunan nasional karena tidak selamanya generasi sekarang akan terus bertahan.
“Bangsa yang baik adalah bangsa yang menyiapkan generasi penerus yang matang dan lebih inovatif dalam membangun dan melanjutkan estafet kepemimpinan sebuah bangsa,” ungkapnya.
Lanjutnya, dalam UU No 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan pada Pasal 17 ayat (3) disebutkan peran aktif pemuda sebagai agen perubahan diwujudkan dengan mengembangkan salah satunya adalah pendidikan politik dan demokratisasi.
“Sayogianya generasi muda ikut andil dalam pembangunan nasional dalam upaya melakukan pendidikan politik, dengan tujuan mewujudkan sistem politik yang lebih baik lagi,” imbuhnya.
Kaum muda, katanya telah memberikan bukti dalam setiap momentum politik di negeri ini. Mereka tampil sebagai front line (terdepan) saat para elit politik kita dengan jumawanya menikmati kekusaan di atas penderitaan rakyat. Mereka meransak maju pantang mundur, meluruskan kekuasaan yang bengkok, mendobrak tirani-tirani kekuasaan feodal. “Mereka terlibat dalam kerja-kerja ideologis dan politis sekaligus. Itulah fatsun politik kaum muda,” tegasnya.
Hasfen, panggilan akrabnya menguraikan tantangan dan problematika politik kaum muda dewasanya, diantaranya adalah sikap Skeptisme kalangan elit politik kita, Politik Kekerabatan, Rasionalitas Instrumental dan Basis Pemberdayaan. Artinya, para elit masih melihat kita jauh dari kemampuan menjadi seorang pemimpin, kematangan jaringan, basis dukungan, kapasitas intelektual, social, dan organisasional. Dan semua itu dijadikan sumber kecurigaan kepada kaum muda. Tapi sebenarnya, semua itu juga sudah terjawab dengan banyaknya kaum muda yang berhasil menjadi pemimpin, dan menepis keraguan kaum elit politik.
“Mulai dari munculnya Sang Proklamator, Soekarno bersama Hatta yang mampu menunjukan kontribusi nyata bagi Indonesia dengan kelihaian dan keahlian dalam dunia politik, dan era milenial sekarang tidak sedikit tokoh muda berhasil menduduki posisi strategis, baik di legisltaif, eksekutif dan partai politik,” ujarnya.
Dalam pandangannya, yang harus dilakukan kaum muda agar mampu menjadi pemain dalam percaturan politik bangsa, menciptakan ruang politik yang sehat di media sosial, membuat gerakan anti politikus busuk dan korup, literasi politik, tampilkan politik cerdas, berintegritas, ideologis dan membangun relasi sebanyak-banyaknya.
“Kaum muda harus mengedepankan pola pendekataan-pendekatan public relations politik yang bersifat intraksional. Konsep Triple C yaitu community relations (hubungan komunkasi), community empowerment (pemberdayaan komunitas) dan community service (pelayanan komunitas) harus menjadi modal dalam menyelami dunia politik,”pungkasnya. (vin)

Related posts

%d blogger menyukai ini: