SUARA LOTIM 

Dana KUR Peternakan Masih Tersedia, Warga Diminta Jemput Bola

Lombok Timur, SR – Pemerintah Daerah Kab. Lombok Timur melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan masih membuka peluang bagi warga yang menekuni dunia peternakan untuk jemput bola terhadap dana KUR (Kredit Usaha Rakyat) yang masih tersedia. Dana KUR yang sudah diasuransikan langsung oleh pemda tersebut terbilang menggiurkan karena tanpa agunan dan tanpa bunga bank alias 0%. Alokasi dana adalah masih sama yaitu untuk pembelian 1 ekor sapi jantan lokal senilai 15 juta rupiah.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan drh. Achsan Nasirul Huda saat ditemui Suara Rinjani, menyampaikan terkait kesediaan dana KUR, Pemda masih membuka peluang dan kesempatan kepada para peternak sapi untuk bisa memanfaatkannya. Guna memudahkan proses penyalurannya, Pemda menggandeng Bank BRI dan Bank BNI sebagai mitra penyedia anggaran.
“Untuk dana KUR pembelian 1 sapi jantan lokal ini sekarang tanpa bunga” ungkapnya, di ruang kerjanya, Kamis (03/06).
Terkait asuransi, akan di talangi langsung oleh Pemda bekerjasama dengan perusahaan asuransi Jasindo sebagai mitra penyedia asuransi. Pihaknya sudah menyiapkan asurasi 2% dari harga 1 ekor sapi per debitur. Dimana, asuransi itu nantinya bertujuan untuk mengganti sapi jantan lokal jika suatu saat nanti hilang atau mati karena sakit.
Adapun proses pengajuannya adalah masih sama yakni dalam bentuk proposal kelompok. Meskipun diajukan melalui kelompok, namun realisasinya tetap 1 debitur memperoleh 1 sapi jantan. Syarat pengajuannya pun cukup mudah, warga hanya menyiapkan SKU (Surat Keterangan Usaha) dari kantor desa yang disertakan Surat Nikah, KTP dan KK yang dilampirkan di dalam proposal. Lalu setelah kelengkapan berkas, warga calon debitur membentuk kelompok yang beranggotakan minimal 10 orang. Berkas dalam bentuk proposal langsung diserahkan kepada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan untuk dilakukan proses verifikasi.
Masih kata drh. Achsan, dari Dana KUR pemerintah berharap masyarakat bisa lebih mandiri dan berkembang tanpa adanya ketergantungan pada warga yang mempunyai modal besar saja atau para rentenir dengan bunga besar.
Dengan model lama, sistem peternakan memang tetap bisa berkembang dan produktif namun tidak bisa cepat mendongkrak ekonomi para peternak. Hal itu disebabkan karena dari awal mereka merawat dan membesarkan sapi milik orang lain butuh waktu perawatan yang terbilang lama.
Bedanya dengan KUR adalah dari awal mulai berternak, sapi jantan tersebut sudah menjadi milik para debitur dan diberikan kebebasan untuk menjualnya kapan saja dia mau asalkan bisa mendatangkan keuntungan. Sementara pihak pemerintah hanya meminta kepada para debitur agar uang pinjaman bisa kembali utuh sesuai jumlah nominal kepada pihak Perbankan (Bank BRI atau Bang BNI_red) selaku mitra penyedia anggaran setelah satu tahun.
Hingga akhir tahun lalu jumlah debitur yang menggunakan KUR untuk pengadaan sapi jantan lokal mencapai 999 orang. Hingga bulan ini jumlahnya terus bertambah dan sudah mencapai 2.300 orang. Untuk capaian target, tahun ini Pemda berharap debitur bisa tembus sampai 5.000 orang. “Sementara untuk batas akhir penerimaan calon debitur KUR masih dibuka hingga akhir tahun ini,”ujarnya.
Disadarinya akses pasar dan akses tekhnologi masih menjadi kendala. Karena sistem pengelolaan yang terbilang masih tradisional dan jangkauan pasar yang terbilang jauh. Oleh karena itu, dibutuhkan pelayanan aktif berupa edukasi dan sosialisasi berkelanjutan dari para petugas hewan yang ada di masing-masing UPT peternakan atau Poskeswan sebagai perpanjangan tangan dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan.
“Para dokter hewan yang ada di Poskeswan nantinya akan tetap melakukan pendampingan dan sosialisasi kepada para debitur secara berkelanjutan, sehingga program ini bisa berjalan sesuai rencana pemda,” katanya.
Kedepan, sebagai inovasi guna meningkatkan income perkapita dan jumlah populasi ternak, pihaknya akan tetap mengembangkan program pengadaan sapi yang bukan saja sapi jantan lokal, akan tetapi untuk pengadaan sapi betina dan sapi besar.
Harapannya, kata Ahsan, sistem pelihara sapi orang yang lebih dikenal dengan istilah “ngadas” bisa semakin berkurang bahkan ditiadakan. Pemda menyanyangkan sistem ini karena didalamnya terdapat proses bagi hasil yang bisa dibilang tinggi yaitu bagi hasil sampai 50% atau bagi dua antara pemilik modal dengan peternak.
“Dampaknya, warga akan lama menunggu hasil sementara tanggungan ekonomi kian hari kian bertambah,”tandasnya.
Harapan lainnya adalah meminimalisir adanya pinjaman dengan bunga besar dari para rentenir yang ada dan mengurangi angka pengangguran. Kalau begitu-begitu saja, peternak kita sangat minim penghasilannya, pingin punya sapi dalam waktu cepat tapi kalah di akses permodalan, jadi buat kita inilah solusi jitu.
“Yang kami inginkan para peternak bisa mendapat pendapatan minimal standar UMK per bulannya,” harapnya.
“Dengan perhitungan masa penggemukan 3 – 4 bulan, jika bobot berat badannya dalam setiap bulan terus bertambah, setiap 3 atau 4 bulan sekali para debitur bisa menjual sapi jantan tersebut dan membeli sapi jantan yang lainnya atau melalukan penjualan sebanyak 3 atau 4 kali dalam setahun dengan keuntungan yang berlipat ganda,”pungkasnya.
Di tempat terpisah, Kepala Cabang BRI Selong Arov Syarifudin, SE. saat dikonfirmasi diruangannya membenarkan bahwa program 1 peternak 1 sapi jantan sudah berjalan sejak tahun 2020 lalu.
“Ini sudah berjalan, untuk proses kita bergantung SK dari pemda, biasanya itu yang makan waktu, karena setelah di verifikasi pemda baru ada analisa lanjutan disini” katanya.
Kata dia, setiap calon debitur syaratnya tidak boleh ada pinjaman, kalaupun ada dari mereka yang memiliki pinjaman dipersilahkan untuk menyelesaikannya terlebih dahulu baru kemudian akan langsung proses. Sementara terkait asuransi, setelah SK diresmikan premi asuransi akan langsung di talang oleh Pemda.
“Kalaupun ada bunga, komitmen Pemda juga yang akan membayar. Para peternak sebagai debitur tetap akan mendapatkan dana KUR senilai 15 juta cash tanpa ada pemotongan,”urainya.
Program yang diapresiasi Kementerian Pertanian ini memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk beternak dengan sistem ternak berkelanjutan atau jangka panjang. Sistem pengembalian uang tersebut pun cukup mudah yakni bayar setelah panen dengan batas waktu pinjam 1 tahun.
Kementerian Pertanian dalam kunjungannya beberapa waktu yang lalu menyampaikan sangat berharap program dari dana KUR di Kab. Lombok Timur tersebut bisa berdampak positif dalam peningkatan dan pengembangan kualitas ternak serta keberlangsungan kesejahteraan warga. Kedepan Lombok Timur akan menjadi Kabupaten percontohan untuk daerah – daerah lain di Indonesia. (Yat)

Related posts

Leave a Comment

Or

%d blogger menyukai ini: