SUARA OPINI 

Peta Jalan Pendidikan Indonesia; Hindari Sesat Peradaban?

Oleh, Lalu  Sirajul Hadi, (Ketua Departemen Pendidikan PBNW & Dosen UNW Mataram)
DRAF peta jalan pendidikan Indonesia yang tengah dirumuskan dan dikonsep oleh pemerintah bersama DPR, mendapat “reaksi” beragam dari berbagai pihak. Terutama  terhadap beberapa content yang masih belum terakomodasi, yang dianggap esesnsial dan substantif dalam pendidikan.
Beberapa organisasi besar di Indonensia seperti Muhammadiyah misalkan, LSM, politisi, pakar dan banyak praktisi serta pegiat pendidikan lainnya,  memberikan atensi serius terhadap draf peta jalan pendidikan Indonesia, yang saat ini tengah dipersiapkan sebagai pedoman penyelenggaraan kebijakan pendidikan nasioanal  jangka panjang.
Reaksi dan partisisapi publik terhadap rancangan sebuah kebijakan, mendandakan adanya atmosfir demokrasi kebangsaan masih berfungsi, bahwa seharusnya publik dan setiap warga bangsa, memiliki andil dan tanggung jawab yang sama, terhadap masa depan bangsa yang lebih baik, unggul dan berperadaban mulia. Termasuk dalam kebijakan pendidikan nasional. Atmosfir keperdulian ini harus tetap dijaga dan dirawat, sebagai bagian dari imun dan energi, untuk membawa bangsa Indonesia menjadi lebih baik di masa depan.
Dalam sejarah peradaban dunia, telah banyak digambarkan, bahwa hampir semua negara dan bangsa yang maju dan memiliki peradaban tinggi, selalu dicirikan oleh adanya sistem pendidikan bagus dan kualitas manusianya yang baik. Hal ini menghadirkan sebuah logika dan postulat yang umum, bahwa sebuah bangsa yang memilki sistem dan kebijakan pendidikan yang baik, adalah bangsa yang sedang mempersipakan masa depan cemerlang bagi bansganya. Begitu pula sebaliknya, bahwa bangsa yang tidak memiliki sistem dan kebijakan pendidikan baik, adalah bangsa yang sedang mempesiapakn kebangkrutan dan kehancuran bagi bangsanya.
Dalam konteks ini, pilihan kita tentu pada logika dan rumus yang pertama, yakni kita ingin secara bersama-sama mempersiapkan konsep, kebijakan dan sistem  pendidikan yang terbaik.
Pendidikan bukan mainan dan sebatas praktik pabrikan, tetapi Pendidikan adalah  investasi peradaban manusia yang sangat penting kedudukannya.
Dalam persepektif peta jalan pendidikan Indonesia, pendidikan yang baik tentu tidak bisa digambarkan dalam bentuk dan perwujudan yang parsial dan terdisparisasi, melainkan harus integratif-holistik. Terintegrasi dengan nilai-nilai, norma-norma, pengetahuan, kecakapan dan sikap-sikap yang mencerminkan manusia sebagai makhluk Tuhan di satu sisi, dan  mansuai sebagai makhluk sosial di sisi lain. Kesemua itu sejatinya harus termuat dalam rumusan visi, oreientasi, content, pilosofis efistemologis pendidikan. Sedangkan holistik, dimaknai bahwa dalam memahami kebutuhan esensial manusia, pendidikan harus memberikan jawaban terbaiknya bagi kebutuhan manusia, yakni kebutuhan akan kebahagian lahir dan bathin.
Inisisiasi penyusunan peta jalan pendidikan Indonesia yang tengah dirancang oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama DPR, patut kita apresiasi, sebagai sebuah itikad baik dalam mempersiapkan grand desain masa depan pendidikan nasional. Sebuah langkah maju, sekaligus mencerminkan cara berpikir visioner dalam memahami suatu keadaan dan kebutuhan bangsa Inonesia masa depan, dengan kajian dan analisis yang komprehensif.
Namun, bahwa kemudian dalam rumusan dan draf tentang peta jalan pendidikan Indonesia tersebut masih terdapat berbagai kekurangan dan kekeliruan, apalagi sifat kekeliruan dan kekurangnnya itu elementer dan mendasar, maka penting untuk diperbaiki,  dan itu adalah kewajiban moral setiap anak bangsa.
Pertama, pemahaman dan konsep tentang pendidikan yang selalu dihubungkan dengan dunia kerja, pada hakikatnya adalah tidak salah. Tetapi, untuk belajar dan mengenyam pendidikan, menuntut ilmu dan pengetahuan tidak patut dipaksakan motivasi dan orientasinya, sebatas dan semata-mata hanya dengan lapangan kerja, industrialisasi dan bentuk lainnya. Karena sejatinya, pendidikan tidak saja tentang profesi seseorang untuk menjadi pekerja, yang harus serba memiliki keterampilan tekhnis (hard skill) tingkat tinggi. Namun juga, tentang yang lebih dalam dari itu, yakni tentang manusia dan kemanusiaan, yang harus memiliki adab, sebagai makhluk yang memiliki Tuhan, yang berpegang teguh pada nilai-nilai agama, budaya dan karakter bangsa, mampu membedakan yang salah dan benar, haq dan bathil, menjauhi perilaku kriminal, sehingga ia menjadi manusia bermanfaat bagi orang lain, terhindar dari perilaku jahat, tidak korup dan merugikan bangsa.
Dalam konteks ini, pendidikan agama, pendidikan akhlak dan karakter harus tetap menjadi basis yang fundamental, diperkuat muatan dan tujuanya. Artinya adalah, tidak boleh ada pengistimewaan terhadap skill (un-sich), hanya dengan desakan rasionalitas untuk mampu mersphon kebutuhan global, tetapi abai terhadap nilai universal agama, nilai budaya, akhlak mulia, sikap dan adab kepada Tuhan, sikap terhadap sesama manusia dan alam.  Dengan kata lain, landasan konseptual dan praktik pendidikan, selalau memerlukan keseimbangan (equilibrium), dalam berbagai kedinamisan keadaan.
Kedua, di antara argumentasi dan landasan yang dijadikan latar belakang dalam perumusan peta jalan pendidikan Indonesia adalah tentang adanya perubahan tekhnologi, sosial dan lingkungan. Perubahan tekhnologi yang dimaknai bahwa disrupsi tekhnologi akan berdampak pada semua sektor. Sedangkan perubahan sosiokultural diterjemahkan sebagai adanya perubahan demografi, profil sosio ekonomi dan populasi dunia, serta pada perubahan lingkungan dimaksudkan dalam gambaran bahwa habisnya bahan bakar fosil, krisis air, perubahan iklim dan permukaan laut naik. Rasionalitas ini mungkin saja realistis, akademis dan ilmiah sekali. Tetapi pada hakikatnya, soal dari hampir keseluruhan masalah itu adalah manusia, dengan segala karakter baik dan sifat buruknya. Pendidikan dengan tujuan memperbaiki dan mengembangkan karakter baik manusia, mesti menjadi landasan dalam merumuskan, kemana peta jalan pendidikan Indonesia menuju dan diarahkan. Artinya, aspek manusia menjadi hal penting dalam menetapkan arah pendidikan “ man is the core of the education”.
Mengembangkan sebuah konsep dan rancangan pendidikan, termasuk dalam merumuskan peta jalan pendidikan Indonesia, maka visi pendidikan, tujuan pendidikan, materi pendidikan, metode pendidikan, kurikulum pendidikan, evaluasi pendidikan dan sejenisnya harus dikonsultasikan secara baik dan tuntas, dengan filsafat dan pemahaman tentang hakikat manusia.
Ketiga, bahwa sebagai salah satu keluaran (output) yang akan dihasilkan dari peta jalan pendidikan, adalah hadirnya profil pelajar Pancasila. Pada rumusan konsep tentang hal ini, memang masih memerlukan kajian dan telaah secara lebih luas dan mendalam. Sehingga diharapkan dapat diterima sebagai gambaran atas output penyelenggaraan pendidikan, pada setiap leval dan tingkat satuan pendidikan. Termionologi pelajar Pancasila, yang akan menjadi salah satu luaran peta jalan pendidikan Indonesaia, rumusan dan konstruksinya harus dibuat atas dasar nilai-nilai etis yang termuat dalam Pancasila, yakni nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan dan keadilan. Tentu pada konteks penjabaran, pengembangan dan implementasi, harus relevan dengan realitas kehidupan kita berbangsa dan bernegara.
Time line proses perumusan peta jalan pendidikan Indonesia masih memiliki waktu lama, untuk kemudian akan difinalkan beberapa waktu ke depan. Tetapi kontribusi publik dan setiap warga untuk memberikan pandangan dan masukan, terhadap beberapa kekurangan yang ada di dalam draf tersebut, sungguh sangat penting. Sekaligus menandakan keperdulian terhadap masa depan peradaban bangsa. Niat dan tujuan kita, yakni bagaimana peta jalan pendidikan itu nanti akan membuat bangsa Indonesia selamat dengan mata  arah yang benar bukan Indonesia yang tersesat di persimpangan.
Wallahua’lam

Related posts

%d blogger menyukai ini: