SARJANA: ANTARA GELAR MUFLIHIN DAN SYARRUN JÂNA DALAM PERSPEKTIF MAULANASSYAIKH TGKH.MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MADJID

SARJANA: ANTARA GELAR MUFLIHIN DAN SYARRUN JÂNA DALAM PERSPEKTIF MAULANASSYAIKH TGKH.MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MADJID

OLEH:  PROF.DR.H. FAHRURROZI DAHLAN,.QH,. SS,. MA.

{Guru Besar UIN Mataram-Sekjend PB NW)

ORASI ILMIAH WISUDA SARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM HAMZANWADI NW

LOMBOK TIMUR XXIII- Sabtu, 13 Rabiul Akhir 1442 H/ 28 November 2020 M.

Untuk mengelaborasi tema tersebut, saya mengutip Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru, Karya Agung Maulanassyaikh TGKH. Zainuddin Abdul Madjid, sebagai tafaullan wa tabarrukan sekaligus sebagai landasan normatif- teoritis dalam mengkaji tema tersebut;

Tuntutlah Ilmu sebanyak mungkin

Sampai mendapat gelar muflihin

Gelar dunia perlu dijalin

Dengan ajaran Rabbul alamin ( WRM. No. 185)

Jaga baiklah gelar ananda

Agar ananda jangan ternoda

Pergunakan teguh selama-lamanya

Untuk agama untuk negara (WRM. No. 187)

Tuntutlah Ilmu sepuas-puas

Dari yang rendah sampai Fakultas

Jangan sekali lengah dan malas

‘Menjemur sementara hari panas’  (WRM. Tambahan.No. 3)

Kami asyik menanam dana

Karena mengharap dapat sarjana

Tapi akhirnya Syarrun Jâna

‘Peres Batu Nde’ Ara’ Ai’na. (WRM.T. No. 69)

Jangan sekali ‘nakku berkata

Kami mendengar, tapi durhaka

Mesti berkata selama-lama

“Kami Mendengar Kami Setia. (WRM.T. 82)

Berdasarkan wasiat Renungan Masa di atas, dapat kita petik lima Tipologi pemikiran gemilang, cemerlang Maulassyaikh TGKH. M.Zainuddin Abdul Madjid.

Pertama: Pemikiran Konstruktif

Terlihat begitu agungnya pemikiran maulanasyaikh TGKH.M.Zainuddin Abdul Madjid dalam merespon zaman, di mana beliau menekankan untuk terus meningkatkan KUALITAS KEILMUAN, Kapasitas Keilmuan dan Integritas keilmuan.

Ungkapan Maulanassyaikh “Tuntutlah Ilmu sebanyak mungkin- Sampai mendapat gelar muflihin.  Sebuah statement konstruktif tentang keilmuan harus diraih melalui proses pembelajaran dan pembiasaan.

Pemikiran Konstruktif Maulanassyaikh terlihat pada diksi kalimat yang digunakan, GELAR MUFLIHIN, sebuah gelar yang sangat konstruktif yang mengandung makna gelar dunia dan akhirat. Gelar kesarjanaan yang harus dimiliki oleh semua kita, gelar keberuntungan dan gelar yang menghadirkan kebaikan dan peradaban untuk semua orang. (Qod aflahal mu’munun- (al-ayah). Qod aflaha man tazakka wa zakarasma rabbihi fa shalla. (Al-Ayah)

Apalagi Maulanassyaikh menegaskan bahwa Gelar dunia perlu dijalin, Dengan ajaran Rabbul alamin ( WRM. No. 185) sebuah gagasan integrasi keilmuan antara ilmu agama dengan gelar muflihunnya dan gelar dunia dengan Sain dan teknologinya menyatu dalam ridha dan ajaran Ilahi Rabbil alamin. Maulanassyaikh meletakkan konsep keilmuan yang integratif yang tidak ada dikotomi ilmu yang ada adalah interkoneksi-integrasi ilmu agama dengan ilmu umum. Di sinilah letak pemikiran konstruktif Maulanassyaikh TGKH.M.Zainuddin Abdul Madjid.

Para Wisudawan Wisudawati harus memahami pemikiran maulanassyaikh ini agar gelar yang disandangnya saat ini termasuk dalam gelar muflihin, manakala gelar yang disandangnya tidak membawa kebermanfaatan untuk dirinya, keluarganya, masyarakatnya, terlebih tak ada kebermanfaatannya untuk perjuangan organisasi maka tentu gelar yang tersandang tak masuk dalam kategori gelar al-Muflihin.

Kedua: Pemikiran Progresif.

Pemikiran kemajuan Maulanassyaikh yang melampui zona waktu dan tempat dengan arif memberikan nuansa progresivitas kepada murid-murid, abituren, santri nahdlaty, pecinta dan kaum muslimin-muslimat secara kolektif dan universalitas.

Coba renungi ungkapan filosofis Maulanassyaikh, Jaga baiklah gelar ananda, Agar ananda jangan ternoda, Pergunakan teguh selama-lamanya, Untuk agama untuk negara (WRM. No. 187).

Ada tiga kata kunci pemikiran progresif Maulanassyaikh dalam bait ini, pertama: Komitmen menjaga almamater keilmuan dan kelulusan. Seoalah- olah Maulanassyaikh ingin mengatakan, Jagalah al-mamater tempat ada menimba ilmu, dengan terus menjaga reputasi keilmuan dan kapasitas keilmuan yang melekat pada gelar kesarjanaan anda!

Para wisudawan-wisudawati yang telah menyandang gelar sarjana hari ini harus mampu menjaga integritas dan kualitas keilmuannya agar gelar yang disandangnya dapat berguna dan bermanfaat di tengah- tengah masyarakat. Dan di sinilah letak progresivitas sang sarjana untuk tetap komitmen menjaga integritas keilmuan yang melekat di gelar kesarjanaannya. Kedua; Peneguhan identitas kesarjanaan dalam wujud amal bakti keilmuan yang diterapakan dalam berbagai disiplin keilmuan. Tak berkah ilmu para sarjana yang telah menyandang gelar jika tidak pergunakan teguh selamanya, tak gampang goyah dengan rayuan dan lebaynya dunia, dan tak terkontaminasi dengan hegemoni dunia yang mengglobal dan virtual. Dahsyat pemikiran al-Maghfurlah Maulanassyaikh ini, sangat responsif dengan realitas zaman yang mengitari penghuninya. Termasuk kita warga besar Nahdlatul Wathan di mana saja berada. Ketiga; Perkhidmatan dan dedikasi totalitas kepada agama, nusa, dan bangsa. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mengacu pada ranah epistemologis, ontologis dan aksiologis, yang secara aksiologis ilmu itu kebermanfaatannya terlihat dalam upaya meraih kemajuan agama, nusa, dan bangsa. Sungguh luar biasa pemikiran progresif Maulanassyaikh Maha Guru kita semua, sang Pahlawan Nasional yang telah diapresiasi tinggi oleh negara atas pemikiran, gerakan, dan perkhidmatan beliau terhadap agama, nusa,  dan bangsa.

Ketiga: Pemikiran Motivatif – Inovatif

Ada ungkapan Nabi Muhammad Saw. Shinfâni lâ Yasba’âny: Thâlibu Ilmin wa Thâlibu mâlin. Dua golongan yang tak akan pernah puas, sang penuntut ilmu dan sang pemburu harta benda.

Coba kita cermati ungkapan Motivasi dan inovasi sang Maulanassyaikh, Tuntutlah Ilmu sepuas-puas, Dari yang rendah sampai Fakultas, Jangan sekali lengah dan malas, ‘Menjemur sementara hari panas’  (WRM. Tambahan.No. 3)

Ungkapan inspiratif – motivasi Maulanassyaikh dalam bait di atas dapat dijabarkan dalam tiga konsep utama: Pertama, membangkitkan semangat untuk meraih keilmuan. Kedua, Membangkitkan semangat untuk menjalani proses keilmuan. Ketiga, membangkitkan semangat optimisme dalam menggapai asa dan cita-cita.

Terlihat kecemerlangan Maulanassyaikh TGKH.M.Zainuddin Abdul Madjid dalam menumbuhkan semangat perjuangan para santri nahdhaty dalam menumpuh dan meraih segala bentuk cita-cita luhurnya. Di sini terbukti Maha Guru kita sebagai sang motivator ulung yang tak pernah berhenti memompa semangat juang para kader pejuang agama, nusa, dan bangsa.

Para sarjana IAIH NW Lombok Timur harus terus semangat dalam meraih cita-cita luhur yang tak kenal puas. Raihlah gelar kesarjanaan itu sampai sepuas-puasnya, SI-S2-S3, Profesor dan seterusnya dalam berbagai disiplin ilmu.

Keempat: Pemikiran Preventif

Setiap manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan ke arah positif dan negatif, (Faalhamahâ fujûrahâ wa taqwâhâ). Upaya kearah yang negatif, maulanassyaikh membangun sebuah konsep preventif, menjaga, menfilter, memelihara, melindungi, para ilmuan- Sarjana  Nahdlatul Wathan untuk terus menginsafi diri dari mana dia berangkat, dari mana dia keluar menjadi sarjana, dengan demikian para sarjana Nahdlatul Wathan pasti memposisikan diri sebagai sarajana- surujan  pelita, penerang dalam kegelapan kebodohan dan kejahilan.

Maulanassyaikh mengungkapkan agar kita semua menjadi sarjana yang memberi kebermanfaatan untuk orang lain, dimana Maulanassyaikh telah bersusah payah membeasiswakan santri-santri terbaik beliau untuk kuliah di Malang, Jogja, Surabaya, Jakarta bahkan ke luar negeri, dengan harapan ke depan menjadi sarjana yang mampu menerapkan ilmu pengetahuannya setelah menyelesaikan kuliahnya di fakultas yang dipilihnya. Upaya preventif Maulanassyaikh adalah jangan sampai para sarjana yang menyandang gelar itu dengan gelar SYARRUN JANA, bergelar sarjana namun ilmunya dipakai melawan gurunya, melawan orang tuanya, melawan agamanya, melawan bangsa dan negaranya, maka dengan demikian dia bukan sebagai sarjana namun syarrun – kejahatan, kejelekan, kehinaan. JANA, yang nyata, yang jahat seperti syaitan dan jin.

Kalau sarrun jana itu tentu tak akan ada faidahnya dan tak akan ada kemanfaatannya di tengah-tengan masyarakat yang tak ubahnya memeras batu yang tak mungkin ada air yang keluar dari perasan batu itu. Dan itu metaforis sang Maulanassyaikh atas ketidak bermanfaatan bahkan kemudharatan bagi sarjana yang jelek perangai, karakter dan wataknya. Inilah makna dari ungkapan maulanssyaikh,  ”Kami asyik menanam dana, Karena mengharap dapat sarjana,Tapi akhirnya Syarrun Jâna, ‘Peres Batu Nde’ Ara’ Ai’na. (WRM.T. No. 69)

Kelima: Pemikiran Transformatif- Implementatif.

Perhatikan ungkapan transformatif-implementatif Maulanssyaikh, Jangan sekali ‘nakku berkata, Kami mendengar tapi durhaka, Mesti berkata selama-lama, “Kami Mendengar Kami Setia. (WRM.T. 82).

Pemikiran transformatif  Maulanassyaikh dalam bait di atas terlihat pada tiga kata kunci utama; Pertama: Ungkapan Komitmen. Seorang sarjana yang sudah berbaiat dan bersumpah untuk setia dan sedia dalam satu rel komando perjuangan. Komitmen utama sang sarjana dan sang santri nahdhaty itu adalah komitmen kesetiaan dalam menjalankan instruksi dan perintah pimpinan organisasi. Maulanassyaikh memberikan bimbingan strategis agar tidak hanya berkata setia, sami’na, namun tak setia dan tidak mencerminkan kesetiaan yang diungkapkan secara verbal dan kata-kata.

Kedua: Ungkapan loyalitas, Sang sarjana, sang santri nahdhaty harus memiliki semangat yang loyalis, taat-bakti-taat atas segala khittah dan perintah perjuangan.

Sekecil apapun jika itu perintah maka harus diimplementatifkan, dikerjakan dan dituntaskan, guna melahirkan kader-kader yang loyalis yang sâmian wa thôian dalam menjalankan perintah agama, nusa dan bangsa terlebih-lebih terhadap organisasi NW tercinta.  Ketiga: Ungkapan Transformativitas. Perubahan akan terjadi jika semua elemen dalam satu visi, misi perjuangan. Konsep sami’na wa atho’na atau kami mendengar dan kami setia adalah sebuah konsep transformatif yang dapat melahirkan peradaban baru bahkan keberkahan yang tak terhingga. SARJANA yang intelektualis adalah sarjana yang mampu menggabungkan dua entitas dan identitas sebagai kader NW yang loyalis dan dedikatif. Dengan konsep itu akan melahirkan perubahan yang dahsyat dalam segala aspek, jika semua kita selalu dalam komitmen sami’na wa atho’na kepada pimpinan organisasi NW kita.

Di sinilah distingsi yang jelas antara SARJANA dengan SYARRUN JANA yang tertuang dalam lima konsep pemikiran sang Maulana yang patut kita cermati,hayati dan amalkan dalam segala dimensi kehidupan. Semoga kita dapat mengamalkannya dan selamat kepada seluruh wisudawan-wisudawati atas raihan gelar akademik yang telah disandangnya. Semoga menjadi sarjana yan selalu menjadi pelita-penerang dalam kegelapan kebodohan dan kemiskinan bukan menjadi syarrun jana yang selalu berbuat kejahatan dan keburukan yang nyata maupun yang tersembunyi sehingga tak ada yang akan menghargai karena ketidaksesuaian gelar keilmuannya dengan perbuatan, tindak tanduknya di tengah pergumulan sosial kemasyarakatannya.

Semoga berkah dan bermanfaat.

 

 

 

Share this post