Mangkrak, Proyek Pasar Rakyat Mandalika Disorot Dewan

Mangkrak, Proyek Pasar Rakyat Mandalika Disorot Dewan

Lombok Tengah, SR – Mangkraknya Proyek Pembangunan Pasar Rakyat Mandalika, disorot anggota Dewan Perwakilan Rakyat Loteng Daerah, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (DPRD, Kab. Loteng, Prov.NTB), Lalu Firmansyah.

Pasalnya, unit bangunan pasar yang diketahui proyek pelaksanaan pembangunannya dimulai pada tahun 2018 silam ini hingga kini belum juga beroperasi. Terlebih, dengan kini telah adanya unit bangunan Pasar Rakyat Mandalika, yang lokasi tempat pembangunannya berada di Lapangan Dusun Mong, Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kab. Loteng tersebut, keberadaannya sejak lama oleh sebagian besar warga masyarakat sudah mengelu – elukan agar unit bangunan pasar itu bisa segera untuk dioperasionalkan pihak pemerintah daerah (pemda).

Dengan melihat kondisi bangunan Pasar Rakyat Mandalika yang hingga kini belum juga kunjung  dapat beroperasi, maka tidak heran selama ini warga masyarakat pun menilai kalau unit bangunan pasar yang ternyata dikerjakan asal – asalanlah menjadi penyebab utama pasar tidak bisa action alias mulai resmi untuk dioperasionalkan.

 “Terutama warga masyarakat Desa Kuta sudfah terlalu sering mempertanyakan kapan Pasar Rakyat Mandalika ini beroperasi. Dan, karena sudah dua tahun tidak pernah bisa beroperasi, jadi wajar saja kalau sebagian besar mereka beranggapan kalau pasar ini mangkrak. Padahal pengerjaannya telah selesai di tahun 2018 itu,” kata, salah satu Dewan Loteng, Firmansyah, diruang kerjanya, Senin (16/11).

Sudah menjadi kebiasaan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah (Pemkab Loteng) memiliki asset bangunan baru tetapi dengan kondisi mangkrak, lanjut salah satu anggota dewan yang juga berasal dari Desa Kuta ini. Oleh pihaknya pun kemudfian mencotohkan kondisi serupa seperti, unit bangunan Pasar Buah di Desa Aik Darek Kecamatan Batukliang.

Diketahui, kedua bangunan vital  sejatinya kedepan diperuntukan sebagai fasilitas atau sarana, dan prasarana penunjang bagi keperluan melengkapi kebutuhan pokok sehari – hari warga masyarakat yang kini masih dengan kondisi mangkrak tadi adalah merupakan proyek pembangunan yang dana pengerjaannya dari pemerintah pusat. “Selain Pasar Rakyat Mandalika ada juga bangunan yang notabene fungsnya sama serta mangkrak yakni, Pasar Buah Desa Aik Darek. Di Loteng dominan bangunan mangkrak itu terutama yang biaya pembangunannya dari dana pusat miliaran rupiah. Salah satunya, ya kedua pasar ini,” terangnya.

Kembali menurut pihaknya, tidak berbeda dengan keheranan sebagian besar warga masyarakat di desanya, kalau sekarang ini yang menjadi pertanyaan besar adalah kenapa dan ada apa dibalik pembangunan kedua pasar, terutama disini adalah soal mangkraknya bangunan Pasar Rakyat Mandalika yang sekali lagi untuk pelaksanaan pengerjaannya sendiri telah tuntas dilakukan pada tahun 2018. Apakah menyangkut bentuk fisik bangunan pasar ada yang salah tidak sesuai dengan perencanaan awal atau seperti apa persoalannya sehingga mangkrak dirasa hal itulah yang sangat perlu untuk ditransfarankan dengan jelas agar warga masyarakat tidak lagi bertanya – tanya sekaligus berasumsi buruk khususnya terhadap kinerja pihak pemda yang terkait didalamnya. “Pertanyaan kami, pasar ini kenapa dibiarkan mangkrak sampai sekarang. Padahal pengerjaannya pada 2018 itu sudah selesai. Kenapa tidak ada upaya dari Pemkab untuk segera mengoperasikannya. Semisal, kalaupun memang masih ada tersisa persoalan lain terhadap kelanjutan bangunan pasar, ya paling tidak Pemkab harus mau menyampaikannya kepada warga masyarakat. Jangan kita biasakan punya aset bagus tapi tidak siap ditempati,” terangnya tegas.

Ditambahkan anggota dewan Dapil Pujut – Praya Timur, ini dengan menuturkan, jelas sangat disayangkan sekali kalau Pasar Rakyat Mandalika yang dibangun Kementerian Perdagangan Republik Indonesia itu kondisinya masih mangkrak hingga saat ini. Mengingat, kepentingan pembangunan pasar tersebut yang tidak lain dihajatkan sebagai tempat relokasi para pedagang yang berjualan di Pasar Tradisional Dusun Kuta II.

Mirisnya lagi,, akibat terlalu lama dibiarkan mangkrak saat inipun kondisi fisik beberapa fasiltas bangunan pasar terlihat sudah mulai mengalami rusak. Apabila kondisi ini terus saja dibiarkan berlarut – larut tidak cepat mendapat respon perhatian, maka sia – sia saja dana miliaran yang telah dikeluarkan pemerintah.

“Tidak dimanfaatkan dengan baik keberadaan pasar yang terlanjur telah dibangun dengan bentuk fisik bangunan terlihat cukup megah itupun fungsinya jelas akan menjadi mubazir. Apalagi kini di lokasi pasar tersebut, siang harinya oleh beberapa warga digunakan sebagai tempat menaruh hewan peliharaannya,” tutur Firmansyah, yang juga Ketua DPC Hanura.

Sebelumnya, masih mengenai seputar persoalan pasar ini pernah juga disampaikan anggota BPD Kuta, Alus Darmiah, dimana sejak dibangun pengerjaan pasar belum dilakukan serah terima dari pihak kontraktor kepada Pemkab selaku penerima azas manfaat. Hal itu dibuktikan dengan belum tuntasnya pengerjaan sarana pendukung bangunan pasr.

Antara lain seperti, Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL), sarana tempat  air bersih, jaringan listrik, dan beberapa sarana kebutuhan sejenis penunjang bangunan pasar lainnya.  Apabila demikian, semstinya pemkab mengambil langkah tegas dengan cara melaporkan pihak rekanan ke Aparat Penegak Hukum (APH). “Kami masyarakat Kuta sangat kecewa, terutama para pemuda yang sudah kehilangan lapangan boia. Kini ditempat itu (Lapangan Bola, Red) pasar sudah dibangun kok dibiarkan mangkrak. Karena rekanan jelas – jelas lari dari tanggung jawab, harusnya Pemkab melaporkan saja, Kalau tidak begitu, kita curiga jangan – jangan ada permainan berjamaah dalam pengerjaan proyek pasar ini,” geramnya ketika itu. (ang)

Share this post