Bale Mediasi Lotim Didominasi Pengaduan Sengketa Tanah

Bale Mediasi Lotim Didominasi Pengaduan Sengketa Tanah
Lombok Timur SR- Sejak dibentuknya Bale Mediasi Lombok Timur (Lotim) pada Januari 2020, sampai dengan saat ini telah tercatat 37 permohonan mediasi dan berhasil mendamaikan delapan (8) kasus.
Koordinator Administrasi Bale Mediasi Lotim, Lalu Dhodik Martha Sumarna menjelaskan kasus permohonan mediasi yang tidak bisa selesai di Bale Mediasi, disarankan untuk menempuh jalur hukum.
“Kita kasi para pihak untuk menempuh jalur hukum, misalkan ke pengadilan,” jelas Dhodik pada Suara Rinjani di ruangannya, Selasa (29/09).
Adapun kasus permohonan mediasi yang sering masuk ke Bale Mediasi lebih banyak perkara sengketa tanah, harta warisan dan tuntutan masyarakat kepada pemerintah. Untuk kasus-kasus besar seperti narkotika dan pembunuhan, Bale Mediasi tidak bisa menerima aduan.
“Seperti kasus di pasar Paokmotong kemarin, tapi kasus itu juga sudah selsai kita mediasi,
kepala pasarnya datang dan relokasi pedagang itu diundurkan,” terangnya.
Lembaga yang bernaung di Bakesbangpoldagri ini tidak hanya melakukan mediasi di kantor Bale Mediasi saja, namun pihak yang bersengketa akan diberikan kebebasan untuk menentukan lokasi mediasi.
Lanjut Dhodik, apabila surat pemanggilan mediasi sudah dilayangkan tiga kali, kemudian yang bersangkutan tidak hadir, maka pihak Bale Mediasi akan mendatangi pihak yang bersangkutan untuk dilakukan mediasi di tempat tinggalnya.
“Kalau sudah tiga kali kita bersurat untuk dilakukan mediasi kemudian yang bersangkutan tidak datang kita datangi mereka kerumahnya, kita jemput bola lah,” imbuhnya.
Bale Mediasi juga berkerjasama dengan BP3AKB Lotim untuk menangani permasalahan keluarga dan sampai saat ini sudah menangani dua kasus yang sudah dimediasi.
“Untuk kasus-kasus dalam keluarga seperti pernikahan di bawah umur, sengketa keluarga dan warisan tanah, sampai saat ini kami sudah mendapat beberapa laporan dan mampu mendamaikannya,” pungkasnya.(sop)

Share this post