Bermitra dengan Sadana, Lahan Tembakau di Dompu Meningkat

Dompu SR –   Kecamatan Manggelewa adalah sentral produksi pangan dan tembakau lebih khususnya petani tembakau dari orang-orang Lombok berawal di daerah Kabupaten Dompu bermula sejak Tahun 2012 lalu melalui mitra dengan PT. Sadana

Awalnya, melalui sistem percobaan dengan anggota sekitar 22 orang yang berlokasi di Desa Kandidi Kecamatan Pekat. Melihat prospek sosial geografik di lokasi tersebut potensinya sangat mendukung di samping juga petani sudah menanam tembakau lokal.

“Dulu kita ajak mitra hanya sekitar 22 orang anggota di Desa Kandidi yang siap bekerja dengan pihak perusahaan,” kata Penanggungjawab bagian Greder PT. Sadana Cabang Dompu, Rahmat Aditiya saat di temui di kantornya, tepatnya, di Desa Nusa Jaya, Kec. Manggelewa pada Selasa(08/09).

Melalui mitra, PT. Sadana tersebut menyediakan fasilitas mulai pembibitan, pupuk, pestisida, mesin pemotong. Selain itu, juga petugas lapangan di tugaskan oleh perusahaan ini untuk mengarahkan para petani tembakau agar petani bekerja sesuai standar Operasional Prosedural (SOP) sehingga hasil produksinya maksimal.

“Bahkan hasil produksi petani nantinya menjual ke pihak perusahaan tersebut dengan harga rata-rata sesuai standar kualitas tembakau mulai harga Rp. 20.000 hingga 25.000 perkilogram,” terangnya.

Dalam pengembangan mitra pihak perusahaan dengan petani Dompu meningkat setiap tahun. “Pasar mitra setiap tahun meningkat 30 sampai 40 persen, yang memang petani sudah terdaftar di perusahaan,” katanya.

Lanjutnya, sementara saat ini perluasan lahan mitra tanaman tembakau di Kab. Dompu tercatat sejak tahun 2012 hingga tahun 2020 ini meningkat secara signifikat. “Luas area mitra sampai saat ini sekitar 675 hektar untuk Kab. Dompu,” ungkapnya.

Lebih jauh di katakan Rahmat Aditiya, pihak perusahaan menyediakan bibit dengan tipe dan varietas yang berbeda untuk disalurkan ke  petani dengan pembayarannya di potong setiap kali hasil produksinya, tergantung kisaran barang yang di pakai. “Jenis tembakau yang ditanam petani di Dompu rata-rata tipe DARK dan varietasnya ada tiga yakni Jepung, Marakot dan Jinten. Bahkan, dalam varietas tersebut pihak perusahaan targetnya, sekitar 2 ton perhektar, namun, biasanya dalam realisasi rata – rata hasil produksi petani dalam satu hektar sekitar 1.400 kilogram (kg) hingga 1600 kg,” urainya.

Secara umum, dikatakan Rahmat Aditiya hasil produksi tembakau di Dompu pihaknya menilai masuk pada level medium belum masuk kategori level atas namun  produk dompu ini masuk ke level pasar.

“Tembakau ini akan dikirim ke pabrik rokok Surabaya bahkan, Sadana suplaiyer dari sempurna sebagian persen ekspor ke Negara Jepang, Filipina,” tandasnya.

Terkait isu anjloknya harga, adanya berita pembakaran tembakau  melalui media tevelesi di pulau Jawa, pihaknya menanggapi itu disebabkan kebutuhan pasar global akan mempengaruhi harga pasar apalagi saat ini di tengah pandemik virus corona. “Pengaruh harga tergantung kebutuhan pasar, dan kemungkinan besar petani yang melakukan pembakaran tembakau itu mungkin belum mitra dengan pihak perusahaan,” tegasnya.

Pihaknya berharap agar petani tembakau di Dompu tidak nafsu dalam menanam tembakau bukan hitungan banyak yang di tanam tetapi kualitas produksinya yang di jaga. “Walaupun lahan sedikit namun tetap dalam perawatan yang intens  itu lebih baik hasilnya,” pungkasRahmat Aditiya. (ML).

Share this post