Demo, AGRA Tuntut Bebaskan Petani yang Ditahan Polisi

Demo, AGRA Tuntut Bebaskan Petani yang Ditahan Polisi

Lombok Timur SR- Aksi demontrasi kembali terjadi di wilayah Lombok Timur (Lotim). Kali ini, puluhan massa melakukan demonstrasi di depan Kantor DPRD Lotim, Rabu (26/8).

Demontrasi yang dilakukan Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) NTB tersebut menuntut dibebaskannya empat orang petani dan pengembalian lahan petani di Elong-Elong Desa Bilok Petung Kecamatan Sembalun Lotim.

“Mohon kepada bapak dewan yang terhormat untuk membebaskan empat orang petani yang ditahan di Polres Lotim,” ujar Zakirin, perwakilan AGRA NTB kepada Wakil Ketua DPRD Lotim,

Selain itu, beberapa perwakilan aksi juga menuntut kepada anggota dewan untuk memberikan kejelasan mengenai pemilik lahan yang dikuasai PT. Kosambi Victorylac yang sebelumnya bertahun-tahun digarap oleh para petani.

“Selanjutnya saya mengharapkan kepada Anggota Dewan untuk mengklarifikasi siapa yang berhak atas lahan tersebut,” seru Zakirin kembali.

Sementara itu, Ketua Komisi I DPRD Lotim saat menemui perwakilan AGRA NTB berjanji akan segera memenuhi tuntutan massa. Pihaknya akan segera memanggil pihak-pihak yang bersangkutan guna menyelesaikan permasalahan tersebut hingga tuntas.

“Kami akan memanggil pihak-pihak terkait. Kami akan jadwalkan ulang pertemuan ini. Untuk empat orang petani yang ditahan, kami akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian,” jelas Mualani, SE, di hadapan perwakilan massa.

Pada kesempatan yang sama, Dosen Fakultas Hukum Universitas Mataram (UNRAM), Widodo menjelaskan, hal yang dilakukan PT. Kosambi Victorylac merupakan pelanggaran hukum. Menurutnya, warga tidak akan melakukan pengerusakan jika PT. Kosambi Victorylac tidak melakukan penutupan.

“Jadi secara hukum pidana menutup jalan atau akses publik merupakan pelanggaran hukum dan bisa dikenakan hukum pidana sembilan tahun penjara,” terang Widodo.

Permasalahan yang terjadi antara warga Elong-Elong dan PT. Kosambi Victorylac bermula ketika PT. Kosambi Victorylac menutup akses jalan warga. Warga yang keberatan dengan penutupan akses jalan tersebut melakukan pembukaan jalan kembali yang dianggap PT. Kosambi Victorylac sebagi sebuah pengerusakan aset milik mereka. PT. Kosambi Victorylac mengklaim sudah memberikan ganti rugi kepada warga Elong-Elong sebesar Rp. 15 juta per kepala keluarga (KK) yang dimediasi oleh pemerintah. Dengan demikian PT. Kosambi Victorylac berhak menutup akses jalan tersebut. Akan tetapi, karena jalan tersebut merupakan akses yang sudah dilalui masyarakat sejak puluhan tahun yang menyebabkan warga Elong-Elong tidak terima atas tindakan penutupan jalan tersebut. Sehingga terjadilah pembukaan jalan kembali yang berujung penangkapan empat orang petani.(sop)

 

Advertisements

Share this post

Post Comment

Or