Tuntut Keadilan, Ratusan Massa GPI Sumbawa Gelar Aksi Mimbar Bebas

Sumbawa, SR – Ratusan Massa Sumbawa yang tergabung dalam Generasi Pembela Islam Samawa (GPI-S) menggelar Mimbar Bebas  di Perempatan Boak dan di pusat perkotaan Sumbawa (Jam Gadang), Rabu (19/08).

Aksi yang dipimpin lansung Ketua GPI-S, Muhammad Taufan ini mempersoalkan terkait dengan penangkapan mantan pensiunan polisi yang berinisial (AC) dan (ES) sekitar 19 Juli 2020 di Hotel Crown, Mataram NTB.

Dalam orasinya, Muhammad Taufan mengatakan, penangkapan ES  dan kawan-kawan tidak berdasarkan aturan yang ada, karena pada saat digeledah aparat polisi yang melakukan penangkapan, saudara ES dan kawan-kawan tidak memiliki barang terlarang jenis sabu-sabu, akan tetapi, setelah ES kembali dari toilet (sekitar 30-40 menit) setelah selesai digeledah, salah seorang oknum aparat polisi menyuruh ES untuk mengakui sebuah bungkusan yang sebenarnya bukan bungkusan miliknya.

“Saya menduga, dalam kasus penangkapan ini, ES sengaja dijebak oleh oknum polisi satuan narkoba 2 Polda NTB dengan bantuan seorang wanita yang merupakan tahanan narkoba berinisial (R),”ungkap Muhammad Taufan yang akrab disapa Ope ini.

Ope juga menambahkan, sangat menyayangkan proses hukum di negeri ini yang sudah melenceng dari konstitusi. Karena menurut pengetahuannya, selain proses penangkapannya yang diduga dijebak, pengembalian barang buktinya juga tidak sesuai.

“Menurut pendapat saya terkait prosedur penangkapan terduga pelaku kejahatan pertama, oknum petugas tidak dibenarkan melakukan pemaksaan dan penganiayaan terhadap warga sipil yang masih berstatus sebagai terduga untuk mengakui barang yang bukan miliknya,” tandasnya.

Lanjutnya, kemudian uang senilai Rp.65 juta lebih itu yang dijadikan sebagai barang bukti dalam penangkapan ES tidak bisa dijadikan sebagai barang bukti, karena uang tersebut murni hasil pencairan Asabri dan koperasi Polres Bima, dan kalaupun uang dan mobil ES dijadikan alat bukti, berarti uang yang diambil dari ES tidak boleh dikurangi jumlahnya.

“Ini kok aneh, uang yang pada hari penangkapan sebesar Rp. 65 juta lebih dikembalikan ke ibu terduga pelaku hanya Rp. 18 juta pada hari ke empat penahanannya padahal uang tersebut dijadikan alat bukti,” jelas Ope.

Parahnya lagi lajut Ope, pada kasus penangkapan ini, baru diwilayah hukum Polda NTB ini kami mendengar orang yang sudah menjadi tahanan dikeluarkan dari sel tahanan dan membawa barang haram jenis sabu-sabu untuk dijual lagi ke orang lain.

“Nah berangkat dari kronologi penangkapan tersebut, saya menyimpukan  bahwa besar kemungkinan (ES) sengaja dijebak oleh oknum polisi yang menangkapnya atau kata lainnya, penangkapan ini sebagai upaya tukar kepala antara (R) dan (ES)”. Imbuh ketua GPI-S ini dalam orasinya dipertigaan Jam Gadang.

Orator lain,  Arfandi Yahya, politisi muda dari bagian timur Sumbawa ini juga angkat bicara, dia sangat prihatin terhadap hukum di negeri ini, terutama penangkapan yang dilakukan terhadap saudara ES dan kawan-kawan yang menurutnya tidak sesuai prosedur dan SOP.

“Saya sangat prihatin karena hukum dinegeri ini telah mati. Hukum dijadikan lahan bisnis dan menjadi tempat para oknum mencari uang. Kami hadir disini menekankan dan ingin menegakkan upaya hukum di negeri ini, khusunya NTB menjadi panglima tertinggi dan tidak boleh digunakan seenaknya untuk kepentingan pribadi ataupun kelompok lembaga penegak hokum,” ungkap Arfandi Yahya.

Sebelum membubarkan diri di pertigaan Jam Gadang, Arfandy Yahya, mewakili massa aksi dan GPI-S membacakan tuntutan sekaligus pernyataan sikap GPI-S yang diantaranya :

  1. Meminta Kapolda NTB untuk menghentikan praktek tukar kepala, karena praktek tukar kepala tersebut merupakan kejahatan HAM yang mengorbankan masyarakat tak berdosa.
  2. Meminta Kapolda NTB untuk mencopot Dir Satuan Narkoba Polda NTB dan kawan-kawan dari jabatannya.
  3. Segera mengembalikan uang senilai Rp. 65.250.000,- dan satu unit mobil yang dijadikan barang bukti pada kasus penangkapan (ES), karena uang dan mobil tersebut bukan hasil transaksi narkoba.
  4. Meminta Kapolda NTB untuk membebaskan (ES) dan kawan-kawan atas sangkaan yang disangkakan.
  5. Meminta Kapolda NTB untuk menangkap kembali wanita berinisial (“R”) karena memiliki barang bukti pada saat ditangkap oleh satnarkoba NTB.

“Jika tuntutan kami tidak diindahkan maka kami akan kembali melakukan aksi demonstrasi jilid II dengan massa yang lebih banyak lagi,” ancam politisi muda yang akrab disapa Gones ini. (als/bgs)

Share this post