Selain Corona, Virus Gigitan Anjing Liar di Dompu Masuk KLB

Dompu SR – Kabupaten Dompu menghadapi dua kejadian yang cukup menakutkan. Selain pandemi corona, Dompu juga dihadapkan dengan merebaknya virus gigitan anjing liar yang menimpa ribuan masyarakatnya.
bahkan virus bekas gigitan anjing liar ini bermula sejak 2018 lalu. Kasus ini muncul dalam catatan petugas lapangan pada Bidang Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Dompu.
Namun saat itu, publik belum menyadari betapa berbahayanya virus tersebut apabila diidap oleh manusia. Baru setelah pertengahan tahun 2019 publik dikagetkan dengan tingginya angka penularan penyakit tersebut hingga mencapai ribuan kasus. Terang saja, segera pada akhir 2019 kasus penularan penyakit yang hampir seluruhnya disebabkan oleh gigitan anjing ini memaksa Pemerintah Daerah (Pemda ) Dompu menetapkannya sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) yang harus ditangani secepatnya.
Satgas Pengendalian Penyakit itu pun dibentuk dan melibatkan sejumlah dinas terkait seperti Dikes, PUPR, Lingkungan Hidup, dan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan. Ratusan petugas bersama masyarakat menggalakkan gerakan eliminasi sejumlah anjing yang berpotensi menularkan virus Rabies Lyssavirus itu.
Di atas kertas, hingga saat ini kasus gigitan anjing sudah mencapai 2219 kasus. 944 korban gigitan diataranya anak-anak berusia dibawah 15 tahun. Jumlah ini kian meningkat.
“Kami saat ini tidak dapat mendeteksi apakah korban gigitan ini positif atau negative tertular virus Rabies. Yang pasti, setengah dari 188 jumlah sample otak anjing yang pernah menggigit warga sudah dipastikan positif Rabies”, ungkap Kepala Seksi Pencegahan dan Pembatasan Penyakit Menular Dikes Dompu Edi Suharjan S.Kep, Ners kepada wartawan di ruang kerjanya Senin (10/08).
Lebih rinci, Edi menjelaskan bahwa dengan kemampuan pemda saat ini petugas hanya bisa mendeteksi  korban gigitan tersebut positif Rabies ketika menunjukkan gejala-gejala tertentu seperti takut air, cahaya, dan gejala rabies lainnya hingga si penderita meninggal dunia.
“Data kematian akibat rabies hingga saat ini sudah mencapai 15 jiwa. Angka ini jauh melampaui angka Kematian akibat pandemi Corona yang hanya berjumlah 2 orang saja. Bahkan dapat dikatakan hampir separuh suspect Rabies adalah anak-Anak usia sekolah yang berumur 17 tahun kebawah,” katanya.
Meski sebagian anggaran penangan Rabies disesuaikan dengan kebutuhan penganggaran pandemi corona, Edi tetap optimis Pemda Dompu akan mampu menekan penyebaran Rabies di Kabupaten Dompu dengan tetap memberikan imbauan kepada masyarakat serta bekerja sama dengan bidang Promosi Kesehatan di Dikes Dompu dan anggota satgas lainnya. “Insya Allah, segini adanya dana, ya udah kita berinovasi saja. Kita tetap lakukan imbauan, yang bekerja sama dengan seksi yang lain. Kita juga tetap melakukan pemantauan lapangan dan melakukan vaksinasi,”pungkasnya.(ML)

Share this post