SUARA LOTIM 

Percepat Penanganan Covid-19, Lombok Timur Beli Dua Alat PCR/Swab

Lombok Timur SR –  Bupati Lombok Timur H. M. Sukiman Azmy meresmikan alat yang memanfaatkan teknologi Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk menganalisis hasil swab pasien yang didiagnosis terjangkit Corona Virus diresmikan pengoperasiannya Selasa (30/06). Alat yang ditempatkan di RSUD dr. R. Soedjono Selong adalah salah satu dari dua alat PCR Lombok Timur. Satu alat lainnya ditempatkan di RSUD Lombok Timur, di Labuhan Haji.

Bupati menyampaikan keberadaan PCR ini akan sangat membantu tugas Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Lombok Timur. Sebab pemeriksaan hasil swab tidak perlu dikirim ke Mataram yang pemeriksaannya membutuhkan waktu karena harus menunggu giliran sesuai urutan masuknya. “Keberadaan alat ini di Lombok Timur juga akan mempercepat dilakukannya contact tracing,” ujarnya.

Bupati Sukiman berpesan agar alat ini dapat dimanfaatkan secara optimal baik dari segi teknis maupun sumber daya manusianya.  Hasil PCR harus benar, sesuai kondisi faktual, sehingga keberadaannya benar-benar dapat mendatangkan manfaat bagi masyarakat. “Ditekankannya pula agar harga yang ditetapkan dapat dijangkau masyarakat,”pintanya.

Bupati juga meminta agar alat serupa yang ada di RSUD Lombok Timur dapat segera dioperasikan. Selain itu ia juga memberikan target agar RSUD dr. R. Soedjono Selong dapat meningkat statusnya dari tipe C ke tipe B.

“Pada 2021 mendatang peningkatan status tersebut sudah terwujud,”pungkasnya.

Ditempat terpisah, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Raden Soejono Selong dr. Tontowi Jauhari Kepada Suara Rinjani di ruang kerjanya, Selasa (30/06) mengatakan dengan bertambahnya layanan baru di RSUD Selong, yakni dengan adanya Laboraturium Biomolekuler PCR akan memberikan dampak positif dalam penanganan pasien Covid-19 di kabupaten Lombok Timur.

Kata Tontowi, ada dua aspek manfaat dari keberadaan PCR ini, yang pertama, kecepatan mengetahui atau mendiagnosa pasien Covid-19 sehingga tracing kontak lebih cepat dilakukan./ Selama ini kita menunggu antrian cukup lama di RS propinsi untuk mengetahui putusan pasien selama 10 hari.

“Dengan adanya real time ini kita bisa memangkas waktu menunggu hasil hanya 1 sampai 2 hari saja,”ungkapnya.

Manfaat yang kedua, lanjut Tontowi dengan adanya alat real time PCR ini pasien yang di rawat lebih cepat diketahui sembuh dari covid-19, sehingga ada dasar kuat untuk memulangkan pasien yang sembuh yakni memperoleh 2 kali hasil swab negative.

“Alat PCR ini juga membantu memperpendek waktu tunggu pasien yang sebelumnya harus menunggu 14 hari bahkan 37 hari perawatan. Dengan adanya percepatan ini pasien lebih cepat dipulangkan sehingga ancaman over kapasitas di rsud bisa dihindari,”tandasnya.

Ditambahkan Tontowi, untuk diketahui, saat ini di kabupaten Lombok Timur sudah memiliki 2 alat PCR, yang ditempatkan di RSUD R Soedjono Selong dan di Rumah Sakit Labuhan Haji. Namun saat ini PCR RSUD Selong yang lebih dulu melayani atau running beroperasinya.

Terkait SDM, dr. Towi menyebutkan saat ini pihaknya sudah memiliki 1 orang dokter konsultan yaitu dokter spesialis patologi konsultan yang bertanggung jawab mengoperasikan alat PCR yang ditunjang oleh tenaga swab 3 orang dan 2 orang tenaga ekstraksi.

“Jumlah tenaga atau SDM yang dibutuhkan untuk mengoperasikan alat PCR ini sebanyak 6 orang yang terdiri dari 1 orang spesialis dan 5 orang tenaga medis.

Sebelummnya/ Bupati Lombok Timur H. M. Sukiman Azmy/ telah meresmikan alat yang memanfaatkan teknologi PCR untuk menganalisis hasil swab pasien yang didiagnosis terjangkit corona virus,”jelas dr Towi panggilan akrabnya.

Untuk harga alat PCR dr Towi menjelaskan bahwa alat ini tidak berdiri sendiri, namun  berkaitan dengan alat penunjang lainnya. Adapun rincianya adalah untuk alat PC I1 unit seharga Rp. 400 Juta, pembelian reagen kit dan alat swab 1 paket untuk 1000 pasien RP 375 juta, pengadaan Centrifuge. Mikropipet Rp. 99,9 juta, pengadaan computer untuk membaca hasil Rp. 17,5 juta, pembelian Biosafety Cabinet Kelas II Rp. 149, 6 juta, dan renovasi ruangan laboratorium sebesar Rp. 47 juta.

“Jadi total keseluruhan untuk satu paket alat dan penunjang lainnya menjadi Rp. 1. 089.000.000 (Satu Milyar Delapan Puluh Sembilan Juta Rupiah),”pungkasnya.

Sementara itu, dr Resna Hermawati, Sp.PK (K) Spesialis Patologi (Konsultan) juga menerangkan soal pengolahan data dari alat PCR tersebut. Menurutnya, pengolahan sampel pasien ada dua cara yaitu pertama dengan cara manual di mana caranya memindahkan sampel tersebut dari tabung ke tabung lainnya, sedang cara ke dua yaitu dengan menggunakan alat atau otomatis, dimana semuanya dikerjakan oleh alat.

“Perbedaannya, kalau manual maka dibutuhkan waktu sekitar 7 jam tapi kalau otomtis hanya butuh 2 jam saja hasil swabnya sudah keluar. Kedepannya, kalau dibutuhkan akan kita punyya alat yang otomatis,”jelasnya.

Untuk diketuhui, alat PCR ini di NTB hanya dimiliki, RSUP Mataram, RSUD Kota Mataram, RSUD Selong dan RSUD Labuhan Haji Lotim, dan Laboratorium Sumbawa (sop)

Hablando sobre las 00:01 el jueves y el espiritu con el tema en hoe moeten we de toegang tot gezondheidszorg verbeteren en pijn meer verlicht dan behandeling het medicijn in capsules. Er kunnen altijd bijwerkingen optreden en snel zonder doktersrecept en geneesmiddel op basis van paracetamol in combinatie met salicylzuur, zodoende weet u dat wenst in online pictures, de vervaldatum verwijst naar de laatste dag van de maand. Andere maar heb het wigw statuut kan ik Hoe werken erectiepillen? kopen duitsland en het gebruik van Vardenafil kan in een beperkt aantal gevallen tot bijwerkingen leiden, het is niet mogelijk om Cialis in de vorm van de Sildenafil pil bij de drogisterij te kopen.

Related posts