PARIWISATA DI ERA NEW NORMAL

Oleh Dr.H. Mugni, M.Pd.,M.Kom. (Kadispar Lombok Timur)

Awal Maret 2020 tercatan dalam sejarah republik ini sebagai hari pertama ditemukannya kasus Covid-19. Dua orang terdeteksi positif Covid dan diumumkan langsung oleh Presiden. Virus Corona yang muncul pertama kali di Negeri Tirai Bambu pada akhir tahun 2019. Virus yang melahirkan penyakit yang belum ditemukan obatnya yang akhirnya melanda seluruh dunia. Sekalpun belum ada obat tapi bisa dicegah dengan melaksanakan protokol pencegahan sesuai dengan teori medis.

Penularan visus ini melalui droplet (percikan liur) orang yang terpapar ke orang lain. Droplet (percikan) ke orang lain yang mengenai mulut, hidup, dan mata. Atau lewat benda-benda yang telah terpapar dan terpegang tangan dan tangan menyentuh areal mulut, lubang hidung, dan mata. Untuk itu ilmu  pencegahan penularannya dengan melalukan : (1) sering cuci tangan dengan sabun di air mengalir; (2) memakai masker; (3) jaga jarak dan tidak salaman;  dan (5) tidak bertemu dengan orang lain atau stay at home (diem) di rumah.

Dari lima protokol pencegahan ini yang paling efektif adalah tidak bertemu dengan orang lain alias diam di rumah (stay at home). Stop total aktivitas selain di kompleks rumah.  Bila gerakan stay at home dapat dilakukan oleh semua dalam jangka waktu 14 hari atau 21 hari maka sang virus dapat “dipastikan” terputus penularannya. Tetapi  konsekuensi dari langkah ini maka seluruh rakyat harus difasilitasi hidupnya oleh negara sesuai dengan Undang-Undang Nomor 6 tahun 2018 tentang  Kekarantinaan. Faktanya, negara tidak melakukankan hal tersebut. Negara hanya melakukan langkah-langkah farsial untuk pencegahan sehingga sampai dengan masuk bulan ke-4 sejak sang virus ditemukan belum ada tanda-tanda akan berakhir. Bahkan dari laporan harian jubir gugus tugas nasional pencegahan covid trennya terus bertambah.

Dari teori pencegahan seperti dikemukan di atas maka semua sektor kehidupan terdampak. Sosial ekonomi, kemasyarakatan, pendidikan, budaya dan agama. Tempat ibadah tutup, sekolah tutup, pertemuan-petermuan ditiadakan, pertunjukan-pertujukan ditiadakan. Salah sektor yang paling terdampak dalam aktivitas pencegahan ini adalah sektor pariwisata.

Aktivitas kepariwisataan sangat kontradiksi dengan protokol pencegahan. Pariwisata bernilai tinggi bila banyak orang berkunjung/datang dan lama tinggal. Semakin banyak orang datang ke obyek wisata dan semakin lama menginap/tinggal nilai ekonomi pariwisata semakin baik. Mengapa demikian? Karena semakin banyak orang yang membelanjakan uangnya dan semakin banyak yang dihabiskan dengan berlama-malama tinggal/menginap. Itulah sebabnya, para pelalu pariwisata harus membuat paket-paket dan memperbanyak atraksi. Ada paket sehari, dua hari, tiga hari, mingguan, dan sterusnya. Paket wisata adaalh rangkaian tour/kegiatan yang akan dilalui/diikuti/dinikmati oleh wisatawan.

Pada sisi lain,  protokol covid menegaskan jangan ada orang asing yang datang karena takut menjadi orang tanpa gejala (OTG). Orang sehat membawa  virus dan menularkan kepada orang yang kondisi tubuhnya tidak sehat/kurang imun.  Jangan lama-lama berkumpul, takut ada di antara yang hadir juga OTG. Sudah hampir 4 bulan peristiwa protokol covid dijalankan dalam kehidupan kepariwisataan. Seluruh pelaku pariwisata terdampak. Bahkan terdampak total. Mereka tidak lagi bekerja. Mereka tidak mendapat penghasilan. Semetara hidup harus terus berjalan. Di sisi lain, vaksin covid belum juga ditemukan dan entah sampai kapan. Tidak mungkin terus menyerahkan pada covid dengan mengabaikan aktivitas sosial kemasyarakatan, ekonomi, buadaya, dan keagamaan.

Pariwisata sebagai salah satu penggerak perekonomian bangsa harus terus bergerak dan berkembang. Para pelaku pariwisata harus merespon kebijakan yang diambil oleh negara dengan konsep new normal atau kenormalan baru. Kenormalan baru diambil oleh negara karena vaksin virus corona belum juga ditemukan dan entah sampai kapan. Kenormalan baru menghendaki bahwa kehidupan kemasyarakatan, sosial ekonomi, agama dan budaya harus berjalan seperti sebelum terjadinya covid-19 dan disertai dengan kesadaran bahwa ada covid di sekitar kita. Covid adalah penyakit yang dibawa oleh virus yang penularannya dari manusia ke manusia atau dari benda-benada yang terpapar oleh sang virus dan tersentuh tangan. Untuk itu dalam mejalankan kehidupan normal harus juga melaksanakan standar protokol pencegahan covid.

Dalam mejalankan kenormalan baru setiap individu harus menyadari dan melaksanakan minimal 4 hal, yakni (1) sering-sering cuci tangan dengan sabun di air mengalair; (2) selalu memakai masker dengan benar; (3) menjaga jarak bila bertemu orang lain; dan (4) sadari kafasitas ruang publik, yakni ruang publik minimal diisi 50 % dari isi normal.

Terhitungan 20 Juni 2020, aktivitas kepariwisataan sudah mulai dibuka. Seluruh sektor kepariwisataan dipersilahkan untuk beraktivitas dengan normal. Empat sektor aktvitas kepariwisataan sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang Kepariwisataan, yakni destinasi, industri, pemasaran, dan kelembagaan dipersilahkan untuk beraktivitas dengan berpegang teguh pada standar pencegahan covid-19 era new normal.

Dinas Pariwisata Lombok Timur dalam rangka menyambut era new normal sektor kepariwisataan telah menetapkan satand operasional prosedur (SOP) yang harus dijalankan oleh para pihak yang terlibat dalam kepariwisataan, yakni pelaku/pengelola, pengunjung, dan pemerintah. Dalam SOP tersebut dijelaskan bahwa pengelola/pelaku pariwiata diharuskan (1) menyiapkan tempat cuci tangan dari gentong (gerabah/bong) produksi Dusun Penakak Desa Masbagik Timur. Gentong juga harus selalu terisi air, tersedia sabun cari, lap tangan, dan pembuangan limbah air bekas cuci tangan. Dianjurkan dari gerabah/gentong/bong buatan Penakak supaya budaya masyarakat yang menjadi mata pencarian terus berkembang dan bergairah. Kerajinan gerabah mati suri karena tidak ada pembeli. Konsep harus diubah untuk menggairahkan usaha-usaha kecil masyarakat, dengan tanggling, “kita buat, kita beli, kita pakai, dan kita jual.

Covid yang mengharuskan setiap orang harus rajin-rajin cuci tangan harus dimanfaatkan untuk menggairahkan kembali kerjanian lokal tersebut. Bila ini kita lakukan maka hakikat stay at home akan bermakna bahwa masyarakat diam di rumah sambil bekerja. Kita jangan hanya ingin yang praktis dan murah tetapi tidak ada nilainya untuk budaya dan pariwisata. Bila tempat air cuci tangan berasal dari gentong maka ada 4 profesi masyarakat yang akan mendapatkan manfaat ekonomi, yakni (1) penguasa dam truck; (2) sopir dam; (3) pengerajin; dan (4) pedagang gentong/gerabah (show room).

Di samping menyiapkan tempat cuci tangan, pengelola/pelaku pariwisata juga harus menyiapkan thermo gun. Thermo gun ini digunakan untuk mengukur suhu tubuh setiap pengunjung/tamu, baik di desatinasi, restauran/rumah makan/penginapan/hotel, penjual cendera mata, dan lain-lain. Setiap yang berkunujng harus dicek suhu tubuhnya. Pengunjung yang suhu tubuhnya di atas ketentuan medis harus direkomendasikan untuk cek diri ke fasilitas kesehatan  dan/atau dikoordinasikan dengan faslitas/petugas kesehatan.

Pengelola juga harus menyiapkan masker. Bila ada pengunjung yang tidak memakai masker maka yang bersangkutan harus diberikan masker. Masker ini jangan gratis dan harus beli. Salah satu ketentuan new normal bahwa setiap orang yang keluar rumah wajib memakai masker. Mengapa tidak memakai? Dia lalai atau sengaja. Bila terus diberikan gratis maka kesengajaan/kelaian akan semakin menjadi-jadi. Untuk itu masker harus dibeli. Dalam SOP yang dikeluarkan oleh Dinas Pariwisata Lombok Timur, setidaknya ada enam belas kewajiban yang harus dilakukan oleh pengelola/pelaku pariwisata dalam menghadapi  kenormalan baru di sektor pariwisata.

Di samping kewajiban pengelola/pelaku pariwisat, ada juga kewajiban para pengunjung/wisatawan. Dalam SOP tersebut sekitar lima hal yang harus dilakukan oleh pengunjung/wisatawan, yakni (1) meyakini diri sehat; (2) selalu memakai masker dengan benar; (3) menjaga jarak; (4) tidak berlama-lama di destinasi/fasilitas pariwisata; dan (5) menaati seluruh arahan petugas;

Wisatawan/pengunjung fasilitas pariwisata sebelum berangkat dari rumah harus meyakini diri sehat. Bila merasa sakit janganlah meninggalkan rumah. Berangkat darti rumah harus memaki masker. Masker harus dipakai dengan benar. Memakai masker harus dengan kesadaran sendir bahwa masker bermanfaat untuk diri sendiri. Masker mejaga diri dan menjaga orang lain. Memang memakai masker tidak nyaman. Susah bernafas, dan setrusnya. Maklum barang baru dan belum terbiasa. Bila terus dipaksakan maka akhirnya akan terbiasa  dan akan nyaman serta akan menjadi kebutuhan. Dan, bila telah tiba di destinasi/fasilitas pariwisata pengunjung/wisatawan harus menaati seluruh arahan/kenetuan yang diarahkan oleh petugas/karyawan. Petugas akan selalu mengarahakan cuci tangan, pakai masker, jaga jarak, sabar antri, dan lain-lain.  Semua yang dilakukan oleh petugas (pemerintah) untuk kepentingan bersama, yakni pariwisata terus berkembang dan semua terhindar dari bahaya Covid-19. Wallahuaklambissawab.

 

 

Share this post