Maulanassyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Seorang Muslim Pancasilais Sejati

Maulanassyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Seorang Muslim Pancasilais Sejati

Oleh : Hasanah Efendi ( Ketua PD PEMUDA NW Lotim)

Kelahiran Pancasila 75 tahun silam yang dijadikan Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),  menjadi penegas bahwa bangsa Indonesia didirikan oleh para tokoh bangsa dan tokoh agama. Berkolaborasinya tokoh agama dengan para founder bangsa ini menjadi bukti kekuatan yang maha dahsyat untuk mengusir kaum penjajah dari bumi pertiwi tercinta ini.

Salah satunya adalah tokoh agama sekaligus ulama kharismatik asal NTB Maulanassyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (Pahlawan Nasional) bersama santri dan masyarakat NTB juga bergerak melawan dan mengusir kaum penjajah untuk menegakan NKRI yang berlandaskan Pancasila.

Berbicara soal Pancasila yang menjadi dasar NKRI, Maulanassyaikh sudah menanamkan kepada santri dan warganya kecintaan kepada bangsa dan negara serta kesetiaannya kepada Pancasila.

Hal ini terlihat dari orasi kebangsaan yang beliau ungkapkan, maupun tulisan-tulisan yang tertuang dalam karangannya. Bagaimana bersemangatnya Sang Pahlawan Nasional ini menanamkan di hati warga NW untuk berpegang teguh kepada Pancasila, yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

“Saya tetap setia, taat dan patuh kepada semua ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku dalam Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,”

Demikian orasi Maulanassyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, di depan Ketua Umum Golkar H Sudarmono, SH di Pancor pada tanggal 26 April 1986.

Sedangkan pesan dan penanaman nilai Pancasila kepada warga NW dan santri NW, Maulanassyaikh mencantumkan dalam lembaran Baiat dan Sumpah yang dibaca oleh setiap Santri NW, baik yang baru masuk ataupun yang menamatkan studinya di madrasah/sekolah NW.

“Saya berjanji, bahwa saya akan menjadi warga Negara yang baik, warga Negara yang bertaqwa kepada Allah SWT, warga Negara yang bangga menjadi bangsa Indonesia, warga Negara yang berorientasi kepada kepentingan ummat, setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945” (Inilah bunyi salah satu baiat bagi Santri Nahdlatul Wathan point 3 tahun 1985/1986).

Hal serupa juga dimasukan Maulanassyaikh kedalam bait-bait-bait lagu perjuangan NW yang terus dilantunkan oleh warga NW di setiap kesempatan dan kegiatan Nahdlatul Wathan. Salah satu baitnya yang berbunyi;

“Pancasila Dasar Negara kita

Ketuhanan adalah sila yg utama

Mengabdi kepada negara dan bangsa

Dengan Iman tertanam dalam Dada” (Mars NW).

Tidak sampai disitu ungkapan kecintaan Maulanassyaikh, kepada Negaranya yang berdasarkan Pancasila. Bahkan dalam wasiat yang ditulis beliau yang diperuntukkan kepada keluarga besar Nahdlatul Wathan juga mencantumkan kata-kata yang mengajak kepada warganya agar tetap patuh dan taat kepada Pancasila. Seperti termaktub dalam Buku Wasiat Renungan Masa bait ke 44, 68 dan 123 yang berbunyi

“Negara kita berpancasila

Berketuhanan Yang Maha Esa

Ummat Islam paling setia

Tegakkan Sila yang paling utama”

“Hidupkan iman hidupkan taqwa

Agar hiduplah semua jiwa

Cinta kokoh pada agama

Cinta teguh pada Negara”

“Perlu dijaga bersama-sama

Selaku andil bersama kita

Tegakkan iman tegakkan taqwa

Di Negara merdeka berpancasila”

Selain ungkapan kesetiaan Maulanassyaikh kepada Pancasila yang disebutkan di dalama tulisan ini, masih terlalu banyak kampanye beliau kepada ummat dan masyarakat Indonesia soal kepatuhan dan ketaatan bernegara sesuai dengan dasar Negara yaitu Pancasila dan UUD 1945.

Beliau tidak sedikit menerima ancaman dari kaum penjajah dan para pengkhiat bangsa untuk mencelakakan dirinya, baik secara cercaan, hinaan bahkan ancaman pembunuhan, namun sedikitpun beliau tidak gentar apalagi mundur, karena beliau terlahir dari ayah seorang pejuang sejati pada masanya.

Kesetiaan beliau terhadap Pancasila, juga terlihat dengan beraninya beliau membuka madrasah yang memuat pelajaran dan sistem pendidikan yang tidak lazim di daerahnya pada waktu itu, dengan resiko beliau harus merelakan dikucilkan dan diberhentikan menjadi khotib dan imam di masjid kampung halamannya, Pancor.

Dengan melihat kegigihan beliau menegakan Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI yang berdasrkan Pancasila dan UUD 1945, maka tidaklah berlebihan dan sudah sepantasnya beliau diangkat oleh Negara menjadi Pahlawan Nasional dan seharusnya juga beliau digelari sebagai seorang Muslim yang Pancasilais Sejati.

Di zaman sekarang akan sangat sulit kita jumpai orang seperti Maulanassyaikh yang begitu gigih mempertahankan Pancasila. Jiwa dan raganya dipertaruhkan demi tegaknya NKRI berpancasila, kendati beliau adalah seorang ulama besar dan khrismatik, namun beliau dengan dakwah bilhalnya mengajarkan kepada kita semua, bagaimana cara dan bagaimana menjadi warga Negara yang baik dan tunduk kepada dasar Negara.

SELAMAT HARI KELAHIRAN PANCASILA

SAYA INDONESIA

SAYA PANCASILA (*)

Advertisements

Share this post

Post Comment

Or