HILANGNYA ‘MIMBAR’ DI PULAU SERIBU MASJID

HILANGNYA ‘MIMBAR’ DI PULAU SERIBU MASJID

Muh. Hasanain Hamid (Pegawai Kemenag Lombok Tengah)

Dalam situasi-kondisi saat sekarang ini seperti dengan adanya bala’ (ujian) berupa mewabahnya Corona Virus Disease (Covid-19) yang melanda hampir seluruh belahan dunia tak terkecuali Indonesia tercinta yang didalamya Nusa Tenggara Barat (NTB) pada umumnya dan Sasak-Lombok khususnya yang lebih dikenal dengan pulau seribu masjid. Masjid bagi masyakat Sasak-Lombok merupakan baitullah  yang diyakini suci dan aman bagi orang yang berada di dalamnya “wa man dakhalahu kaana amina”. Masjid adalah baitullah yang memiliki “magnet”sangat besar dalam kehidupan masyarakat pulau Sasak-Lombok dan menjadi tumpuan dan harapan umat untuk dapat keluar dari semua masailah yang dihadapi.

Berdasarkan Direktori Masjid & Mushalla Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2019 bahwa jumlah masjid di NTB sebanyak 4.689 masjid dengan sebaran di Mataram 260 masjid, Lobar 660 masjid, Loteng 1.206 masjid, Lotim 1.245 masjid, KLU 326 masjid, Sumbawa 519 masjid, KSB 175 masjid, Dompu 219 masjid, Bima 57 masjid dan Kota Bima 22 masjid. Sedangkan mushalla sebanyak 4.116 mushalla dengan sebaran di Mataram 57 mushalla, Lombok Barat 664 mushalla, Lombok Tengah 321 mushalla, Lombok Timur 1.194 mushalla, KLU 223 mushalla, Sumbawa 227 mushalla, KSB 22 mushalla, Dompu 79 mushalla, Bima 35 mushalla dan Kota Bima 12 mushalla.

Berdasarkan jumlah masjid & mushalla sebanyak 8.805 masjid-mushalla mengindikasikan bahwa hampir 99% penduduk provinsi NTB khususnya Sasak-Lombok rata-rata beragama Islam (muslim comonity) sebanyak 4.341.284 jiwa dengan sebaran  Mataram 332.295 orang/jiwa, Lombok Barat 563.56 orang/jiwa, Lombok Tengah 855.820 orang/jiwa, Lombok Timur 1.104.232 orang/jiwa, KLU 183.790 orang/jiwa, Sumbawa 398.502 orang/jiwa, KSB 112.140 orang/jiwa, Dompu 214.119 orang/jiwa, Bima 436.886 orang/jiwa dan Kota Bima 139.580 orang/jiwa.

Dari data tersebut mengisyaratkan bahwa masjid menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan umat Islam, hubungan interaktif antara masjid dengan umat sangat erat dan kuat karena masjid memiliki kontribusi yang besar bagi kemaslahatan umat dan umat pun memiliki loyalitas (kepedulian) yang tinggi ke pada masjid. Potensi asset berupa masjid & mushalla yang telah diamanatkan Allah Swt. sebagai waqaf (milik Allah) inilah yang sejatinya harus dapat dimanfaatkan oleh semua (pemerintah- umat) dalam menangani dan mengendalikan intisyar (penyebaran) Covid-19 ini. Masjid tidak hanya dijadikan sebagi tempat ibadah mahdlah (shalat jumat, rawatif, ghairu rawatif, maktubah maupun mandubah) saja, tapi lebih dari itu masjid seyokyanya harus dapat dijadikan sebagai sarana ibadah ghairu mahdlah (sosial seperti peningkatan kecerdasan, kesehatan dan kesejahteraan) bagi umat sehingga masjid betul-betul berfungsi multi-vased.

Peristiwa mewabahnya Covid-19 ini, telah menimbulkan dampak sosial dan kepanikan yang sungguh luar biasa pada semua lapisan masyarakat terlebih pemerintah yang sangat khuwatir akan wabah covid-19 dapat menjangkiti masyarakat siapa saja (tanpa pilih kasih) tidak mengenal strata sosial dan kecerdasan setiap orang. Corona Virus Disease (Covid-19) bagaikan Jin Ifrit (makhluk ghaib) yang kasat mata (tidak bisa dilihat dengan mata telanjang) tapi bisa dilihat dengan alat terpasang (microskop) saja. Corona ini dapat menyerang kapan saja dan dapat menular kepada siapa saja tanpa disadari oleh si penderita bahwa dia menjadi currir dari wabah tersebut.

Kekhawatiran dan kepanikan akan keselamatan diri dan keluarga muncul seketika dengan melakukan berbagai upaya pencegahan guna menjaga diri dan keluarga seperti karantina dan isolasi bahkan mengunci (lock) diri mulai dari stay at home (tetap di rumah), work from home/WFH (beramal dari rumah), social distancing(menjaga jarak) dan psyicalvdistancing (menghindari kontak fisik). Hal ini wajar terjadi karena bagian dari kewaspadaan dan kesadaran yang tinggi akan keselamatan diri sendiri “wiqayah an-nafsi khairun min al-‘ilaji (antisipasi lebih baik dari mengobati).

Dalam hal ini, masjid dan mushalla hendaknya dapat dijadikan juga sebagai epicentrum dalam penanganan Covid-19 yang melanda. Masjid dapat diperankan dan difungsikan sebagai imaman wa hudan (garda terdepan) dalam mengendalikan penyebaran virus Corona (BAHLA COROK) istilah orang tua tempo douloe. Potensi yang dimiliki masjid dan human resources (sumber daya manusia) yang terdapat di dalamnya sungguh luar biasa dan sangat banyak. Hal ini  tidak boleh disia-siakan begitu saja. Potensi-potensi tersebut diidentikkan dengan adanya tokoh sentral masjid seperti: tuan guru, kiyai, ustaz/ustazah, imam, khatib dan penyuluh agama dan tokoh agama dan pemuda lainnya). Mereka-mereka ini hendaknya diajak bersama-sama dan diberdayakan, karena dalam sikon yang sangat rumit dan cukup berat ini solusi sebenarnya ada pada diri kita bagaimana kita mengelolahuman resources (SDM) dan asset umat, terlebih pada masjid dan mushalla yang di dalamnya terdapat kaum milenial dan terpelajar (remaja masjid).

Masjid harus diberikan peran sebagai imam (pemimpin) grassroots (arus bawah) karena masjid hadir dari umat, oleh umat dan untuk umat. Ini berarti bahwa masjid dengan multi-fungsiyang dimilikinya dapat melayani jamaah, memastikan kelangsungan hidup dan kesehatan jamaah, memastikan pasokan sandang pangan jamaah terlebih pada saat sulit dan tidak menentu seperti sekarang ini. Jangan sampai ada jamah masjid yang tidak bisa makan, atau meninggal sendirian tanpa masjid hadir dan peduli dengan mereka. Masjid harus siap menjadi pensupply segala hajat (kebutuhan) jamaah baik hajat jasmaniah maupun rohaniyah.

Selain itu, masjid dapat pula dijadikan sebagai tempat edukasi penanganan dan pencegahan virus corona bagi setiap jamaah karena tidak semua jamaah khusunya local (pedesaan/terpencil) paham dan teredukasi dengan sosmed (sosial media) seperti: facebook, istagram, twitter, WA dan SMS lainnya. Edukasi jamaah dimaksudkan bahwa sehat saja tidak cukup seperti biasanya terlebih pada masa wabah Covid-19 ini, sehat bisa saja menjadi carrier, gejala bisa saja ringan, tapi jangan sampai menulari jamaah lain terutama erder. Orang manula (kolonial) istilah jaman penjajah diedukasi dengan “fiqih covid-19” dan penanganan serta pencegahannya. Adapun para pemuda/remaja sebagai kaum milenial dan terpelajar diedukasi tentang bagaimana mereka dapat memberikan penerangan dengan bahasa dan budaya mereka agar umat menjadi faham dan mengerti bahaya dan dampak dari covid-19 ini sehingga jamaah menjadi ridha dan legowo terhadap berbagai kebijakan dan keputusan yang akan dan telah dambil pemerintah tanpa ada kontroversi terhadap langkah dan kebijakan tersebut. Pemerintah perlu sosialiasi dan pendekatan dalam segala keputusan yang diambil tanpa mengecilkan dan membandingkan tingkat keilmuan, kelebihan, kemampuan dan peran serta kharismatik tokoh-tokoh agama pada setiap lapisan masyarakat. Semuanya itu sesungguhnya dapat dilakukan melalui masjid.

Namun kenyataannya terbalik 1800, eksistensi masjid sebagai baitullah yang suci dan aman dimasuki namun dikebiri akan fungsi dan peran masjid itu sendiri bahkan dianggap sebagai bakalan ladang penyebar covid 19 ini. Keadaan ini dapat dirasakan dengan dilakukannya kebijakan pemerintahan seperti melakukan louck (menutup) sarana dan fasilitas public antara lain: pelarangan sementara shalat jum’at, shalat lima waktu dan bentuk kegiatan di masjid dan di kerumunan massa pada masyarakat lainnya. Sehingga hal ini menjadi polemic dan menimbulkan pro-kontra dikalangan masyarakat khususnya jamaah masjid karena dianggap kebijakan yang terlalu terburu-buru tanpa sosialisasi dan pandang bulu ghairu lazim bagi mereka.

Pemerintah agaknya lebih memperhatikan hajat jasmaniyah dari pada hajat rohaniyah umat. Terlihat dari perlakuan yang tidak sama antara pemenuhan akan kebutuhan rohani seperti shalat jumat, shalat berjamaah di masjid/mushalla terlebih pada bulan ramadhan yang masih dikekang dan diawasi dengan ketat namun pemenuhan hajat jasmani dibiarkan bebas tanpa ada batasan jarak didalamnya seperti tetap dibukanya pasar, toko-toko dan pusat perbelanjaan lainnya, sehingga kesannya pemerintah hanya tegas kepada masjid/mushalla namun tidak tegas kepada yang lainnya.Perlu diingat bahwa dengan tidak terpenuhinya kebutuhan rohani umat dapat menyebabkan penyakit yang lebih berbahya dari Covid 19 ini. Pemerintah sejatinya lebih bijak dan selektif mengambil kebijakan dan dapat mengedukasi umat melalui pemberdayaan masjid (membuka kembali masjid/mushalla dengan tetap mengedepankan protap Covid-19) sehingga kebutuhan rohani umat dapat tersalurkan. Masjid harus menjadi clinik(rumah kesehatan) bagi jamaah. Artinya masjid hendaknya dijadikan central information(pusat informasi) kesehatan bagi jamaah apalagi kalau masjid dapat meyediakan salah satu/sebagian asset masjid sebagi darussyifa’ (rumah isolasi) bagi jamah yang terdampak Covid-19. Selain itu, masjid dapat mengajak jamaah lain untuk menunjukkan kepedulian mereka terhadap jamaah yang terdampak dengan membantu supply kebutuhan jamah. Inilah saatnya para aktivis masjid (ta’mir masjid, badan kesejahteraan masjid/BKM, dewan masjid Indonesia/DMI, badan komonikasi dan koordinasi pemuda remaja masjid Indonesia/BKPRMI) membuktikan eksistensi dan perhatian mereka sebagai khadimul umat (pelayan dan pengayom  umat) bukan sebagai sayyidul umat (pemimpin umat) yang harus diikuti tatkala meminta sumbangan dan ajakan gotong royong saja seperti dalam membangun masjid.

Ataukah ini sebagai isyarat bahwa masjid yang menjadi kebanggan umat masih dipandang sebelah mata dan belum siap dan belum mampu untuk diajak berpartisipasi dalam menangani wabah corona ini…?. Wabah pandemi corona ini tidak bisa cepat ditangani dan memutus mata rantai penularannya hanya dengan mengandalkan pemerintah saja, melainkan semua pihak harus mengambil peran dan ikut serta dengan cara membentuk claster-claster kecil yang pengelolaan dan pembinaannya diserahkan kepada masjid melalui gerakan bersama (berjamaah) dalam mengantisipasi dan mencegah menularnya wabah corona. Masjid kiranya dapat dijadikan basis kesehatan umat dan kesehatan umat yang berbasis masjid, karena selama ini masjid selalu dima’murkan oleh umat dan inilah saat dan waktu yang tepat bagi masjid untuk mema’murkan jamaahnya. Sehingga terujud peran dan fungsi masjid yaitu dari masjid sehatkan umat.

Merujuk dari data masjid/mushalla dan data umat Islam tersebut mayoritas penduduk NTB pada umumnya dan Sasak-Lombok pada khusunya adalah mayoritas muslim, ini berarti bahwa tidak menutup kemungkinan sebagian besar dari orang yang terkena dampak (terpapar) dari wabah virus corona ini adalah umat Islam. Itulah sebabnya umat Islam harus memiliki kepekaan terhadap saudaranya yang menghadapi musibah “al-muslimu akhul muslim, idza isytaka udwun tada’alahu saairu jasadihi  bissahariwal humma”. (al-Hadits). Dalam hal ini masjid harus dapat diperankan secara optimal dan maksimal peran dan fungsinya khususnya bagi kesehatan umat.

Nurul ‘Athiqah Baharudin & Alice Sabrina Ismail dalam Communal Mosques: Design functionality towards the development of sustainability for community menyebutkan bahwa masjid merupakan tempat beribadah yang multifungsi bagi umat Islam. Namun dewasa ini kebanyakan masjid lebih fokos pada aspek riayah (bentuk bangunan, ornament, gaya dan teknik desain masjid), dan sedikit sekali masjid yang fokos pada imarah (pemakmuran masjid) baik dari sisi peran dan fungsi masjid itu sendiri seperti fungsi pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan umat. Di negara muslim saat ini peran dan fungsi masjid banyak disalah tafsirkan. Hal ini dapat dilihat dari fungsi masjid modern yang tidak menggambarkan peran berkesinambungan untuk memfasilitasi pengembangan umat di sekitarnya. Hal ini terjadi karena banyak perubahan politik dan sosial yang terjadi di masyarakat modern.

Bashir Said Mohammaed Abul Qaraya dalam The Civic and Cultural Role of the Sheikh Zayed Grand Mosque (Bali, Indonesi;2nd Global Conference on Business and Social Science)mengungkapkan bahwa  masjid memiliki posisi yang luar biasa dalam Islam, masjid dipandang sebagai baitullah dansecara umum memiliki tiga fungsi utama yaitu: fungsi monoteistik, fungsi sosialisasi dan fungsi komunikatif.

Pertama, fungsi monoteistik, merupakan sumber utama dari semua fungsi masjid. Fungsi ini memiliki tiga tingkatan yaitu tingkat individu, tingkat bangsa dan tingkat global. Dan dari ketiga tingkatan tersebut menacakup tiga peran antara lain: peran sekunder (masjid menanamkan tauhid, dan ajaran Islam yang toleran jauh di dalam pikiran dan jiwa muslim), peran bangsa (perannya dalam mempersatukan umat/bangsa seperti: shalat jamaah, shalat Jum’at, sholat Ied, haji, dan umrah) dan peran global (masjid tempat dakwah mengundang orang lain ke Islam dengan hikmat dan dakwah yang bijak).

Kedua, fungsi sosialisasi,fungsi masjid sebagai pusat kegiatan pendidikan, sosial dan dakwah untuk memperoleh pengetahuan dan nilai-nilai moral yang tinggi guna membantu menumbuhkan kepribadian dan moralitas yang baik serta kepekaan sosial yang kuat melalui proses menanamkan nilai-nilai positif seperti: kebijaksanaan, moderitas dan toleransi. Selain itu, ini membantunya menjadi kontributor nyata bagi proses peradaban dan penghasil pengetahuan guna peningkatan kesejahteraan umat.

Ketiga, fungsikomunikatif, masjid menjadi tempat ibadah yang sering dikunjungi, Peran penting masjid dalam komunikasi sosial, membantu menyebarkan cinta-kasih, toleransi dan tolong menolong antar sesame umat. Hal ini juga menjadikan masjid sebagai saluran komunikasi yang aktif dan dapat menghubungkan para pencari pengetahuan dengan duniadan penguasa dengan rakyatnya sehingga peran masjid sebagai platform media massa yang dijiwai oleh kejujuran, kebaikan, dan panggilan untuk kebaikan dan kebenaran.

HIKMAH DIBALIK PANDEMI CORONA

Pandemi corona virus disease (Covid-19) telah banyak menyita perhatian public, mulai dari pemerintah, masyarakat, dokter, para medis ekonom guru dan lainnya. Sehingga berbagai macam asumsi muncul apakah ini merupakan bagian dari balaan hasanan-azaban syadidan. Namun sebagai muslim yang bertauhidharus selalu husnuzzhan terlebih pada taqdir Allah bahwa semua kejadian di dalam penuh dengan hikmah ilahiyahrabbana ma khalaqta hadza bathila”tidak ada sesuatu apapun yang Allah Swt. ciptakan dalam keadaan sia-sia.

Syaikh Mohamed al-Sayed (Imam di Kementerian Wakaf Mesir) dalam tulisannya al-wajhu al-abyadh li wabai kuruna (wajah putih pandemi corona) mengatakan bahwa apakah pandemi Covid-19 meberikan manfaat berupa kebaikan dan keburukan. Dulu sebelum Covid-19 ini muncul sebagian besar dari kita jarang dirumah, istri dan anak terabaikan, siang-malam hanya untuk kerja memenuhi kebutuhan, panggilan azan dari masjid tak dihiraukan, perjumpaan dan jabat tangan jadi hindaran, bebas keluyuran tanpa batasan, seolah-olah itulah nikmat-nikmat Tuhan yang sangat berkesan. Namun setelah pandemi Covid-19 menjumpai kita harus stay at home (tetap tinggal dirumah) bersama istri, anak tercinta yang selama ini terabaikan, work from house (beramal dari rumah) via online sehingga kerinduan  akan perjumpaan, suara azan, serta jabat tangan menjadi kerinduan yang selama ini kita hindarkan. Kita baru menyadari bahwa betapa nikmatnya kumpul bareng istri, anak dan keluarga, betapa rindunnya shalat dimasjid dan jabat tangan sesamamuslim. Sekarang kita diminta stay at home, psyical and social distance dan hindari kerumunan. Ternyata itu semua adalah bagian dari Aala’ (nikmat-nikmat Tuhan) yang selama ini barangkali kita sering abaikan.

Akhirnya, dengan tawakkal (berserah diri) spenuhnya kepada Allah Rabbal Baraya, beristigfar dan muhasabah atas segala khilaf semoga Covid-19 ini menjadi balaan hasanan (ujian kebaikan) bagi kita. Dan  semoga cepat diangkat oleh Allah Jalla Wa Ala dengan selalu berdo’a”Allahuma inna fi himaka, wa tahta liwaka, fahmi himaka, wan syur liwaka, wah fazna min balaika an-nasyiri fi ardika wan nazili min samaika”. ( Ya Allah …kami berada di dalam lindungan-Mu dan dibawah panji-panji-Mu, maka lindungilah kami dengan perlindungan-Mu, dan sebar luaskanlah panji-panji (agama) Mu, peliharalah kami dari bala-bala yang menyebar di bumi Mu, dan yang turun dari langit Mu”.   Wallahu ‘Alamu Bissawab.(*)

Advertisements

Share this post

Post Comment

Or