Harga Jagung Anjlok, Pemerintah Harus Ambil Sikap

Harga Jagung Anjlok, Pemerintah Harus Ambil Sikap

Lombok Tengah SR- Tahun ini, sepertinya bukan tahun keberuntungan bagi para petani jagung. Pasalnya, dalam kurun beberapa minggu, harga jagung khususnya di Lombok Tengah (Loteng), mengalami penurunan drastis, dan hal ini membuat para petani jagung merugi.

Petani muda asal Desa Mertak Kecamatan Pujut Loteng Sri Anom Putra Sanjaya mengaku, tahun 2020 bukan tahun keberuntungan bagi para petani jagung.

“Memang tahun ini, bukan tahun keberuntungan bagi kami para petani jagung, namun paling tidak pemerintah harus peka melihat kondisi seperti ini,” katanya kepada Suara Rinjani, di kediamannya, Kamis (30/04).

Kenapa harus demikian, keberadaan pemerintah tidak harus ada ketika membutuhkan saja, namun sebaliknya ketika dibutuhkan, pemerintah harus siap. Sehingga paling tidak, mereka tau bagaimana rasanya orang susah.

“Setiap ada kebutuhan, seperti pilkada atau yang lainnya, mereka tidak canggung canggung turun lapangan. Namun sekarang ketika kami para petani membutuhkan, seolah olah mereka tutup mata jarang jarang,” kesalnya.

Menanam jagung dengan modal sendiri lanjut ketua karang taruna Kecamatan Pujut Loteng, itu tidak main-main, artinya baik dana dan tenaga harus dikuras. Ketika menghadapi musibah kayak seperti ini, pemerintah daerah mestinya tidak tinggal diam. Tetapi hadir memberi solusi terbaik agar petani jagung tak sampai jera bercocok tanam dan setidaknya modal kembali.

Dijabarkan, pada akhir Maret kemarin harga perkilogram jagung pipil kering panen tembus Rp 4.200. Itu nilai pembelian tengkulak di lapangan atau lahan. Ketika dibawa langsung sendiri ke gudang harganya tentu berubah, bisa mencapai Rp 4.600/Kg.

Harga pembelian tersebut rupanya tidak bertahan lama, seiring meningkatnya ancaman penyebaran Covid-19 di wilayah ini. Dari awal April nilai pengambilan tengkulak terus bekurang tiap pekannya, sekarang pada angka Rp 2.900/kg. “Harga Rp 2.900 ini di lokasi, besok kemungkinan turun lagi,” terangnya.

Tak diketahui pasti penyebab turunnya harga komoditas unggulan tersebut. Apakah imbas penyebaran Covid-19 atau memang sengaja dipermainkan oknum pengusaha gudang dan tengkulak.

Kondisi tersebut, lanjut Anom yang saat ini juga menjabat sebagai ketua BUMDes Mertak, membuat dirinya dan para petani di desanya mengalami kerugian besar jika melihat beban biaya produksi yang dikeluarkan selama ini. Mulai dari kebutuhan pupuk, obat-obatan, biaya tanam dan keperluan lain yang notabene tak bisa ditawar.

Atas kondisi ini, pemerintah daerah mestinya tidak tinggal diam. Tetapi hadir memberi solusi terbaik agar petani jagung tak sampai jera bercocok tanam dan setidaknya modal kembali.

Menurunnya harga jagung tersebut, pihaknya menduga wabah Covid-19 ini sengaja dimanfaatkan oknum pengusaha untuk memainkan. Pasalnya, temuan di lapangan jagung-jagung yang sudah masuk gudang tetap dikirim keluar daerah lewat kapal barang di pelabuhan dan juga perusahaan yang langsung menyimpan Jagung juga terus berlanjut.

“Jadi sebetulnya kan tidak ada pengaruh apa-apa. Makanya harapan saya pemerintah turun tangan melihat persoalan ini, mencari tahu apa penyebabnya, jangan sampai kondisi ini dimanfaatkan dan akhirnya petani yang sudah rugi kini kembali di hantam,” pungkasnya.

Sementara itu Kepala Bidang (Kabid)  Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Perternakan Loteng,  Mujahidin mengatakan, menurunnya harga jagung secara khusus, bukan hanya terjadi di Loteng saja, namun menyeluruh. Sebab menurunnya harga jagung, itu sudah masuk isu nasional, sehingga pihaknya menilai, itu tidak terjadi di Loteng semata.

“Saya rasa kasus harga jagung ini, bukan di Loteng saja terjadi namun ini sudah menjadi isu Nasional,” katanya.

Menurutnya, penurunan tersebut tidak terlalu signifikan, artinya tidak belum sampai dikatakan anjloknya. “Harga pasaran sesuai aturan pemerintah, satu kilo harganya Rp 3.150, sedangkan harga saat ini kurang lebih Rp 2.900, selisih sedikit dari harga yang sudah ditetapkan.

Dikatakan, menurunnya harga jagung, baginya itu tidak akan lama, sebab sesuai informasi yang ia terima, terdapat 11 provinsi di Indonesia, sampai saat ini membutuhkan pasokan jagung. Namun karena saat ini Covid-19 masih mewabah, sehingga penerbangan ke 11 provinsi tersebut, tidak bisa diangkut.

“Mohon bersabar saja dulu, dalam waktu dekat ini insyaallah harga jagung akan normal. Kenapa anjlok, bagi saya ini bagian dari dampak penyebaran virus Corona,” ujarnya. (ap)

Share this post