Marhaban Ya Ramadhan di Tengah Wabah Covid-19

Marhaban Ya Ramadhan di Tengah Wabah Covid-19
Oleh: Dr. Lalu Muhammad Nurul Wathoni, M.Pd.I.
(Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram )
Marhaban ya Ramadhan.
Marhaban ya Ramadhan, dalam menyambut bulan suci ramadhan biasanya kalimat ucapan tersebut dengan berbagai pernak-perniknya menghiasi tepian jalan di negeri kita membuat suasana ramai. Kata marhaban berasal dari kata rahaba yang berarti tanah lapang (al-Shahih ibn ‘Abbad, al-Muhith fi al-Lughah: 1/222). Seakan-akan orang yang mengucapkan kalimat itu ingin berkata, “Hati kami terasa lapang menyambutmu wahai bulan Ramadan”.
Ironisnya di tahun 2020 ini, sekali pun Ramadhan sudah hampir tiba namun penyambutannya tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Hampir tidak ada pernak-pernik penyembutan dan tidak tersiar tradisi penyembutan yang menjadi representasi kesyukuran atas datangnya Ramadan sebagai bulan Mulia ummat muslim. Kemegahan dan keramaian Ramadhan itu kini tidak tersa, hanya sepi dan sunyi menyelimuti. Sudah mulai terasa bahwa Ramadhan yang akan kita jalani akan berbeda seiring adanya pandemi wabah virus corona (covid-19).
Bahkan syiar Ramadhan pun akan dibatasi pelaksanaannya karena Covid-19, dalam hal ini pemerintah melalui Kementerian Agama menerbitkan edaran terkait Panduan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri 1 Syawal 1441H di tengah Pandemi Wabah Covid-19. Yaitu tertuang dalam Surat Edaran No 6 tahun 2020 yang inti dari surat edaran tersebut adalah sahur, buka puasa, salat tarawih, tadarus Al-Qur’an dilakukan di rumah masing-masing bersama keluarga inti. Buka puasa bersama (kelompok/instansi), nuzulul Qur’an, i’tikaf, halal bihalal dalam perkumpulan dan sholat idul fitri di Masjid/lapangan ditiadakan hingga terbitnya Fatwa MUI. Dan kegiatan zakat lebih disegarakan pengumpulan dan pendistribusian, serah terima zakat harus dilengkapi dengan alat pelindung kesehatan seperti masker, sarung tangan dan alat pembersih sekali pakai (tissue).
Pedoman tersebut memang sangat membatasi syiar Ramadhan yang bisanya Ramadan identik dengan ibadah berjamaah, berkumpul dalam kegiatan Islami menuntut ilmu dan syiar Islam yang banyak dan semarak, dan te­levisi penuh dengan tayangan-tayangan religius. Namun demi mencegah, mengurangi penyebaran, dan melindungi pegawai serta masyarakat muslim di Indonesia dari risiko Covid-19, maka surat edaran tersebut tidak boleh diabaikan dan harus dipindahkan oleh seluruh kaum Muslimin di Indonesia.
Bagi penulis, isi surat edaran tersebut sangat tepat untuk diberlakukan bila melihat keberadaan Covid-19 yang semakin menyebar, karena apa yang lakukan pemerintah saat ini persis seperti apa yang pernah dilakukan oleh Umar Bin Khattab ketika wilayah bagian barat Palestina dijangkiti oleh wabah penyakit Amawas yang menyebar hingga ke Syam dan Irak. Akhirnya khalifah Umar bin Khattab memberlakukan karantina, social distancing dan social containment dengan tetap menjalankan ibadah yang sejalan dengan Syariat Islam. Begitulah yang hari diberlakukan oleh pemerintah Indonesia, tentunya harus kita dukung sebagai bentuk iktiar agar Covid-19 mereda dan hilang.
Klinik Ramadhan Menjadi Benteng Pelindung dari Virus.
Sesuai dengan makna Ramadan yaitu pembakaran, berharap Covid-19 terbakar hilang lenyap seiring dengan lenyapnya segala sifat negatif manusia, lenyapnya kekejian dan maksiat. Bulan Ramadan membakar, meng­hanguskan, dan melenyapkan semua dosa dan angkara murka yang melekat pada diri manusia.
Kaitannya dengan Covid-19 Ramadhan dapat menjadi klinik penangakal virus dan klinik penyembuhan dari virus karena klinik Ramadan menggiring individual dan sosial keummatan untuk melestarikan nilai-nilai Ilahiyah (ketuhanan) yang dapat meredam murka Allah dan tercurah rahmat Allah. Kedatangan Ramadan sebagai upaya  preventisasi, kuratisasi, dan konstruksasi dalam menuntaskan perilaku-perilaku keji dan fakhsya’. Pendekatan preventif, (pencegahan dan pengawasan) berorientasi pada perwujudan dan integritas diri melalui pengawasan, pengurangan dan penghindaran diri dari perilaku-perilaku buruk yang dapat mendatangkan dosa dan maksiat. Manusia pun kembali kepada kesucian dan ketenangan jiwa. Menurut Ibnu Sina dalam bukunya yang berjudul Qonun Fi Tib bahwa jiwa yang tenang sebagai penangkal dan sebagai obat dari pandemi wabah penyakit.
Klinikal Ramadan adalah religi terapi kejiwaan, di mana individu beribadah yang ikhlas kepada Allah Azza Wajalla, memasung jiwa dalam kebaikan, meninggalkan perbuatan angkara murka, membelenggu sifat individual, hasad, iri hati, takabbur, pongah, angkuh, berucap kata-kata kotor, mengumpat, dan menggunjing, maka proses terapeutik melalui metodologi klinikal Ramadhan telah bergulir, untuk kemudian individu merasakan kenyamanan, kedamaian, ketenangan, ketenteraman, dan kesehatan mental paripurna. Dan orang yang senantiasa dalam kejiwaan tersebut akan menghasilkan getaran frekuensi tinggi yang dapat mengusir virus. Karena David Hawkins seorang peneliti tentang frekuensi menyatakan bahwa virus tidak bisa hidup pada frekuensi tinggi manusia namun virus berada pada manusia dengan frekuensi rendah yang diakibatkan dari rasa panik, takut, kuatir, sedih, frustasi, panik dan jauh dari nilai-nilai agama. Saya pun yakin bila kaum muslimin menjalani bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya tidak ada lagi tempat tinggal bagi Covid-19. Dan kesibukan ibadah pada bulan Ramadhan akan mensukseskan social distancing dan social containment.
Bulan Ramadan adalah bulan pesantren kejiwaan. Individu yang tadinya bersifat individulis, hasad, senang melihat orang susah, susah melihat orang senang (penyakit SMS), mengganggu kenyamanan orang lain, menjahili, dan menabur kebencian, maka di masa proses klinikal Ramadhan sifat itu berubah menjadi positif, bahagia melihat orang senang, damai dengan ketenteraman orang, berlaku ma’ruf, dan menabur kasih sayang antar sesama, berbagi kepada sesama terutama dalam situasi Covid-19 sifat-sifat mulia seperti ini yang sangat di butuhkan, disamping mencegah juga menanggulangi korban Covid-19 dengan membantu pengobatan dan membantu yang kekurangan finansial karena terbatasnya mencari nafkah dengan berbagi rizki sesui dengan prinsip zakat fitrah dan zakat maal di bulan Ramadhan.
Puasa Menciptakan Lingkungan Terbebas dari Virus
Puasa dalam Alquran disebut dengan Shoum yang memiliki arti menahan dan menjaga. Menjaga diri dari berbuat maksiat, menjauhi kemudaratan, menghindari penyakit, menjaga kebersihan atau pun menjaga lingkungan semuanya adalah perbuatan puasa dari segi bahasa. Sedangkan menurut syariat islam pengertian ibadah puasa yaitu menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan syarat tertentu, untuk meningkatkan ketakwaan seorang muslim.
Selain itu libadah puasa adalah ibadah yang tertua yang terdapat dalam semua agama umat manusia. Ibadah puasa lebih tua daripada salat, zakat, haji dan lain-lain. Puasa tidak hanya dilakukan oleh manusia. Juga oleh hewan dan tumbuh-tumbuhan, bahkan bangsa jin dan para malaikat untuk mencapai kesempurnaan mereka. Bagaimana hubungan puasa dengan lingkungan yang semakim hari semakin krisis yang dapat mengundang wabah penyakit seperti Covid-19, yang kita sebut dengan krisis lingkungan (environmental crisis).
Krisis lingkungan hidup yang terjadi dewasa ini merupakan gambaran krisis spiritual paling dalam yang pernah melanda umat manusia akibat pandangan antropocentris. Yakni  pendewaan humanisme, materialisme, hedonism dan pragmatisme. Manusia cenderung mengekploitasi alam tanpa batas, sehingga terjadilah ekploitas terhadap alam yang mengatasnamakan keperluan manusia. Hal ini diperlukan penyelamatan bumi  dengan segera melalui ibadah puasa yang mengajarkan hidup yang tidak memprioritaskan kepada kehidupam material secara berlebihan.
Puasa lebih menitikberatkan kepada ke kehidupan yang spiritualisme (rohani) memiliki perspektif ecoreligius dalam menyelamatkan pelestarian lingkungan hidup secara efektif dan mendasar. Tanpa adanya pemahaman ecoreligius dan implementasinya akan mengakibatkan kehancuran bumi dan krisis lingkungan tidak pernah kunjung berhenti. Padahal kerusakan lingkungan akan mendatangkan bencana alam. Kerusakan alam juga akan menimbulkan wabah penyakit yang diakibatkan karena industrial yang tidak diiringi dengan pelestarian alam. Atau akibat pemburuan bintang di alam liar untuk bahan konsumtif yang akhirnya binatang liar hidup bukan pada tempatnya lagi.
Dalam kehidupan sehari-hari tanpa adanya pemahaman ecoreligius dan implementasinya akan mengakibatkan lingkungan hidup seperti rumah, sekolah, tempat ibadah, kantor dan tempat  tinggal dan beraktivitasnya manusia menjadi jorok dan kotor yang akan mengundang penyakit melalui hewan, seperti kecoa, lalat, nyamuk, tikus, dan sebagainya. Abai terhadap ecoreligius melahirkan budaya buruk malas mencuci, buang sampah sembarangan, padahal kebersihan pangkal kesehatan. Disini, puasa untuk menjadikan seseorang bersih (fitrah) bukan hanya terbatas pada bersih jiwa namun juga bersih raga (lingkungan). Sebagaimana doktrin Islam “athuru minal iman” atau “annazhofatu minal iman”, kebersihan bagian dari iman.
Maka, makna ibadah puasa secara filosofi dalam kaitannya dengan lingkungan hidup dan alam semesta tidak akan dapat dimengerti sepenuhnya tanpa mengaitkan dengan konsep Islam tentang manusia. Dalam berbagai agama, manusia selalu dipandang sebagai pemelihara lingkungan namun dalam pandangan antropocentrisme manusia telah berubah menjadi  perusak lingkungan dan pengekploitasi alam  semesta. Dalam konteks ini kondekuensinya makna spiritual  puasa sendiri dalam hal ini memandang manusia dari dua arah, yaitu sebagai wakil Tuhan (QS al-Baqarah: 30) yang cenderung agresif-aktif dan sekaligus hamba Tuhan yang bersifat pasif dalam pengertian yang sebenarnya (QS al-A’rraf: 172).
Dalam hal ini, ibadah puasa mengajarkan mendahulukan tanggung jawab dari pada hak, karena pada hakikatnya manusia tidak memiliki hak apapun yang berada di luar kontrol Allah. Baik hak terhadap alam semesta maupun hak atas dirinya sendiri. Oleh sebab itu, puasa dalam perspektif ecoreligius menghendaki harmonisasi manusia dan alam sesuai aturan Tuhan (Teoantroposentris) sehingga tercipta lingkungan yang tertata rapi, asri, indah dan bersih sehingga lingkungan pun terbebas dari wabah penyakit kuman ataupun virus.
Motivasi Puasa dan Covid-19 Untuk Merarih Derajat Muttaqin
Tujuan puasa adalah mencapai ketakwaan. Ketakwaan adalah memelihara diri dari segala yang membahayakan dan menyengsarakan hidup, dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Jadi memelihara diri dari wabah penyakit seperti Covid-19 merupakan bagian dari terjemahan takwa.
Ketakwaan dapat dipandang sebagai ukuran derajat kemanusiaan manusia. Semakin tinggi ketakwaan seseorang, semakin tinggi derajat kemanusiaannya. Yaitu ketakwaan dalam arti sebenarnya mencerminkan bukan hanya ketakwaan pribadi, tapi juga ketakwaan yang mampu melahirkan kebajikan komunitas, yang berguna bagi orang banyak. Dapat dikatakan manusia yang mulia di mata Allah adalah manusia yang bermanfaat bagi dirinya dan orang banyak.
Orang yang tidak bermanfaat bagi orang banyak bukan orang saleh dan bukan pula orang bertakwa. Maka motivasi puasa dan Covid-19 kesempatan bagian kita untuk mencapai gelar Muttaqin dengan memberi manfaat malalui berbagi rizki kepada sesama karena hari ini banyak yang membutuhkan bantuan finansial disebabkan Covid-19 yang membatasi masyarakat mencari nafkah.
kebaikan, yang sekaligus adalah ukuran ketakwaan dan kesalehan. Rasulullah Muhammad SAW mengatakan bahwa manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang banyak. Tetapi harus diingat bahwa semua perbuatan yang dilakukan untuk kesalehan harus disertai dengan niat untuk mengabdi kepada Tuhan. Jika suatu perbuatan tidak disertai niat untuk mengabdi kepada Tuhan, akan timbul godaan kuat untuk pamer diri (riya’).
Puasa yang berhasil mencapai tujuannya, yaitu ketakwaan, melahirkan sifat-sifat terpuji seperti kejujuran, kesabaran, ketabahan, kepedulian sosial, kedermawanan, kasih sayang, keramahan, dan toleransi. Puasa yang lebih tinggi kualitasnya bukan hanya menahan diri dari perbuatan yang membatalkannya, tetapi juga menahan diri dari perbuatan-perbuatan tercela seperti: berbohong, menipu, memfitnah, bergunjing, mendengar yang tidak bermanfaat, melakukan kekerasan, menghina, dan mencaci-maki.
Pesan takwa dalam puasa ini perlu dipahami di tengah gejala menguatkan pandemi wabah Covid-19. Puasa dan Covid-19 dapat penjadi wadah tercapai gelar Muttaqin, puasa yang identik dengan menjaga diri untuk senantiasa suci secara zhohir batin dan Covid-19 yang menutut manusia untuk hidup bersih, saling menolong dalam kondisi kekurangan dan bekerja sama dalam kebaikan. Dua entitas yang memiliki tujuan yang sama.
Apabila predikat mukmin, mushlihin, dan muttaqin dapat diraih selama menjalani proses Ramadan di tengah Covid-19, maka kesehatan mental dan  fiskal adalah bagian-bagian yang menjadi hak dan anugerah Allah, khusus bagi orang-orang yang akan memasuki pintu syurga al-Rayyan. Allahu a’lam bisshawwab.
Advertisements

Share this post

Post Comment

Or