Kategori: SUARA OPINI

Spirit Resolusi Jihad ; Antara Dimensi Kinerja dan Gema Zikir (Muhasbah Hari Santri Nasional 22 Oktober Tahun 2020)

 

Oleh : M. Zaidi Abdad
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTB

SANTRI telah menjadi entitas yang khas dalam khazanah bangsa Indonesia. Keberadaan kaum santri dalam oase dan sejarah panjang banga Indonesia, telah menorehkan prasasti peradaban penting tentang hakikat kehidupan, dalam banyak hal dan dimensi. Santri telah berkonstibusi dan mengajarkan tentang nilai-nilai universal, tentang pesan-pesan etik dan moral, nilai-nilai ketulusan dan keikhlasan, perjuangan, ketundukan, keilmuan, kebangsaan, kesatuan dan kesederhanaan.

Dalam nukilan historisnya, keberadaan santri sebagai diri (personality) dan kelompoknya (community), telah sukses memproklamirkan gagasan dan ide serta keadaan-keadaan penting lainnya, bagi perjalanan panjang bangsa Indonesia. Resolusi Jihad kaum santri, adalah sebuah tonggak dan akar perjuangan kaum santri, atas pembelaanya yang sungguh-sungguh terhadap bangsa. Tampilnya para Kyai bersama para santri dalam sebuah gerakan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 silam, merupakan bentuk resphon kalangan Kyai dan santri terhadap upaya agresi militer Belanda kedua di Indonesia. Sungguh, resolusi itu merupakan bentuk dari komitment kebangsaan, sekaligus sebagi bentuk nyata dari pengkhidmatan santri dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Sejarah mencatat, bahwa Resolusi Jihad hadir dan dicetuskan dari sebuah musyawarah (dialog moral) para Kyai di seluruh Nusantara, tentang pentingnya bangkit dan melawan segala macam bentuk upaya keterjajahan, ketertinggalan dan penindasan. Sehingga itulah kemudian, salah satu Kyai tersohor nusantara saat itu, K.H. Hasyim Asy’ari memimpin dan menyerukan para santri untuk berjihad, bersama dengan Kyai-Kyai lainnya seperti K.H. Ahmad Dahlan dari Muhammadiyah, A. Hasan dari Persis, Ahmad Soeharti dari Al-irsyad, Mas Abdul Rahman dari Matlaul Anwar serta beberapa Kyai dan tokoh-tokoh lainnya. Nukilan historis ini menegaskan, bahwa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia- tidak lepas dari peran ulama dan perjuangan santri, fakta sejarah ini tidak dapat dinegasikan oleh siapapun.

Penetapan setiap tanggal 22 Oktober sebagai peringatan Hari Santri Nasional, melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, adalah bentuk apresiasi dan penegasan negara terhadap kiprah dan perjuangan santri di Indonesia selama ini. Sikap negara seperti ini, patut disyukuri dengan sungguh-sungguh, bahwa negara memiliki kesadaran rasional-kontitusional yang baik, tentang cara menghormati dan menghargai perjuangan ulama dan santri di Indonesia. Demikianlah negara dan kaum santri, telah mencoba saling memahami, dalam spirit kebangsaan dan keindonesiaan, yang memiliki sejarah masa lalu dan juga memiliki optimisme masa depan.

Resolusi jihad kaum santri tidak saja meninggalkan jejak-jejak kebaikan historis masa lalu, dalam konteks fase awal Indonesia merdeka. Senyatanya, bahwa ada yang luhur dari sekedar cerita sejarah, yang sesungguhnya ditinggalkan kepada seluruh bangsa Indonesia hari ini, dengan segala dinamika situasi dan keadaan kekininian kita. Di saat dulu kaum santri mematri dan mentradisikan ketulusan dan keikhlasan dalam perjuangan, pada saat yang bersamaan, bangsa Indonesia saat ini dihadapkan dengan ambisi, kepentingan pribadi dan kelompok, pragmatis-matrialis dan sejenisnya. Begitu pula, di saat dulu perjuangan kaum santri, hadir untuk meneguhkan persatuan dan kesatuan dalam merebut dan mempertahankan bangsa, pada saat yang sama pula, hari ini kita tergoda untuk asyik saling mejebak dalam konflik dan isu-isu yang memantik perpecahan antar sesama anak bangsa. Itulah kondisi tentang dialektika nilai dan zaman, yang saat ini cendrung ekstrim dan paradoks, di tengah-tengah kehidupan kebangsaan kita. Termasuk pula, tentang pesan moral perjuangan santri yang mengajarkan konsep memberi (sedeqah), dengan ketulusan untuk bangsa dan negara, di sisi lain kita lebih banyak meminta dan bahkan menjarah, atas sesuatu yang bukan menjadi hak diri kita. Sejatinya, nilai-nilai yang ditradisikan dalam perjuangn ualama dan kaum santri selama ini, harus tetap kita pegang dan kita jaga secara konsisten.

Diskusi tentang santri, hakikatnya adalah tentang integritas dan kepribadian. Santri adalah sosok yang secara personal padanya terdapat kelebihan dan juga kekhasan. Dawam Rahardjo (1985) menjelaskan tentang kepribadian santri sebagai sebuah pancaran dari keperibadaian seorang ulama yang menjadi pemimpin dan guru bagi mereka. Bahkan bagi kepribadian santri, ulama tidak saja sebagai pemimpin dan guru, tetapi juga uswah hasanah, sehingga wibawa dan kharisma ulama, sangat mempengruhi kehidupan dan kepribadian santri pada setiap aspek kehidupannya. Kepribadian dalam dimensi yang lebih maknawi adalah sistem diri yang ada pada diri individu, yang kemudian akan mempengaruhi terhadap pola berpikir (mindset) dan kinerja (performance).

Hubungan antara integritas dan kinerja adalah hubungan kebutuhan dan hubungan tanggung jawab, terhadap diri sendiri dan terhadap setiap amanah dan tugas-tugas kehidupan lainnya. Maka dalam konteks kepribadian santri, penting dihadirkan sebanyak-banyaknya uswah hasanah, orang-orang yang baik, contoh-contoh yang baik dan kinerja-kinerja yang baik (best practice), dalam tugas dan amanah kehidupan sehari-hari. Perwujudan inilah yang kemudian secara teoritis disebut sebagai sikap yang utuh (total attitude), yang di dalamnya ada unsur cognitive, affektive dan conative dalam satu kesatuan perwujudan sikap.

Pada spektrum lain, karakter kepribadian santri tidak saja dapat dilihat dari atribut-atribut matrial yang sarat dengan kebersahajaan. Namun, pada karakter lainnya juga terlihat sifat survivelity dan ketangguhan dalam mengabdi berdedikasi kepada negeri. Santri tidak mengeluh dengan tugas dan bebannya, mereka sadar bahwa apa yang dijalaninya saat ini, adalah tentang masa depan dan hari esok (futuristic) yang lebih baik. Dalam konteks kinerja, keberadaan organisasi sangat memerlukan karakter (santri) yang tangguh semacam itu. Terlebih, pada era yang serba sengit, ketatnya berbagai macam persaingan, yang kemudian mengharuskan karakter-karakter yang siap dengan segala tuntutan dan medan. Sehingga kemudian menjadi pemenang dalam sebuah persaingan global (global competitiveness), dengan modal integritas kepribadian tangguh dan keunggulan atau skill yang andal.

Fungsi Formal-Moral Agama ?
Dalam konteks kehidupan pembangunan umat beragama di Indonesia, kehadiran negara dalam memfasilitasi kualitas kehidupan dan harmoninya umat beragama, adalah hal yang sangat mendasar dan elementer. Kementerian Agama sebagai institusi legal negara, sebagaimana marwah dan tujuan pendiriannya, berkomitmen untuk mewujudkan pembangunan umat beragama yang berkualitas, harmoni, toleran, moderat dan mengedepankan semangat persatuan (ukhwah) dalam segala dimensi, konteks dan persepektif. Oleh sebab itulah, dalam terwujudnya harmoni dan kualitas kehidupan umat beragama, peran-peran konstruktif agama dan umat beragama, menjadi seuatu yang urgent yang sangat diperlukan.

Gerakan Kementerian Agama Menuju Zona Integritas Dan Kepedulian Individu Yang Religius (Gema Zikir) adalah sebuah program dan ikhtiar Kementerian Agama NTB (dalam konteks lokal), yang memiliki pesan formal dan sekaligus moral, untuk sebuah gerakan perubahan penting dan mendasar, bagi kebaikan aparatus dan umat beragama secara kolektif. Bahwa dari individu yang religius akan terhimpun komunitas religus, daerah yang religius dan kemudian bertransformasi secara gradual, menjadi bangsa yang religius. Memahami makna religius pada persepktif ini, adalah dengan pendekatan makna dan konteks (universal), bahwa dengan sikap beragama yang baik, akan melahirkan kualitas umat mejadi lebih produktif, inovatif, kualitatif dan berkinerja. Kepribadian-kepribadian yang baik atau berintegritas dalam sebuah sistem organisasi, adalah faktor determinan yang menentukan kualitas dan performance capaian tujuan organisasi itu sendiri. Dalam bahasa sederhana, memperbanyak orang baik dan berkualitas, adalah kebutuhan setiap organisasi untuk capain yang lebih baik.

Resolusi jihad untuk kinerja yang lebih baik dan produktif, pada hakikatnya dalah sebuah “fatwa”, tentang perlunya sebuah perubahan, bersama-sama, berjuang, bergerak, bersemangat, bersungguh-sungguh dan secara total mendedikasikan diri dalam perjuangan dan pengkhidmatan, pada setiap tanggung jawab jabatan dan amanah yang melekat pada diri setiap manusia. Prilakunya adalah, dengan berkonstribusi memberikan yang terbaik, bagi kemaslahatan umat. Resolusi jihad pada konteks tugas dan fungsi Kementerian Agama, hakikatnya adalah ajakan untuk berani berubah untuk menjadi baik, seruan untuk komitment pada visi bersama, menuju pada pencapaian cita-cita organisasi, dengan menaggalkan tradasi-tardisi “jahiliyah”, yang identik dengan malas, tidak disiplin, tidak kreatif, tidak produktif dan bentuk pelayanan serta prilaku kurang baik lainnya. Artinya, padanan Resolusi jihad dengan resolusi kinerja, ada pada spirit dan semangat yang sama, yakni pada konteks etik dan moral.

Resolusi jihad yang proklamirkan oleh para ulama pada tahun 1945 adalah sebuah fatwa, sekaligus juga sebagai gerakan yang memiliki moral effect dahsyat, bagi mentalitas umat dan bangsa Indonesia saat itu. Sebuah titik balik (turning point), yang kemudian menghadirkan nilai dan pesan-pesan penting bagi bangsa Indonensia, tentang makna dan kedudukan sifat-sifat ikhlas dalam perrjuangan (kerja ikhlas), selalu menyandarkan segala perjuangan dan aktivitas untuk menggapai ridho Tuhan. Dasar keikhlasan itulah yang kemudian menjadi kapasitor moral dan mental dalam berkhidmat dan mengabdi, dengan penuh totalitas, berkinerja maksimal , taat asas serta penuh konsistensi (istiqomah). Profile dari integritas pribadi yang kuat dalam sebuah oragnisasi, dapat diketahui dari keikhlasan mengabdi dan kualitas kinerja yang unggul pada setiap orang yang ada dalamnya. Pada konteks inilah, program Gema Zikir hadir sebagai ikhtiar konstruktif, yang diharapkan dapat menjadi nilai dan prilaku, serta menjadi spirit kolektif menuju cita-cita perubahan yang lebih baik.

Point dan ibrah lainnya adalah, sebuah gerakan (harakah) dengan basis pilosofis yang kuat, harus memiliki effect pada praktik-praktik baik, pada setiap bentuk aktivitas dan tugas formal-moral manusia, sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Selamat Hari Santri Nasional 2020, Santri Sehat Indonesia Kuat. Wallahu a’lam bish-shawabi .

Spirit Resolusi Jihad ; Antara Dimensi Kinerja dan Gema Zikir
(Muhasbah Hari Santri Nasional 22 Oktober Tahun 2020)

M. Zaidi Abdad
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTB

SANTRI telah menjadi entitas yang khas dalam khazanah bangsa Indonesia. Keberadaan kaum santri dalam oase dan sejarah panjang banga Indonesia, telah menorehkan prasasti peradaban penting tentang hakikat kehidupan, dalam banyak hal dan dimensi. Santri telah berkonstibusi dan mengajarkan tentang nilai-nilai universal, tentang pesan-pesan etik dan moral, nilai-nilai ketulusan dan keikhlasan, perjuangan, ketundukan, keilmuan, kebangsaan, kesatuan dan kesederhanaan.

Dalam nukilan historisnya, keberadaan santri sebagai diri (personality) dan kelompoknya (community), telah sukses memproklamirkan gagasan dan ide serta keadaan-keadaan penting lainnya, bagi perjalanan panjang bangsa Indonesia. Resolusi Jihad kaum santri, adalah sebuah tonggak dan akar perjuangan kaum santri, atas pembelaanya yang sungguh-sungguh terhadap bangsa. Tampilnya para Kyai bersama para santri dalam sebuah gerakan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 silam, merupakan bentuk resphon kalangan Kyai dan santri terhadap upaya agresi militer Belanda kedua di Indonesia. Sungguh, resolusi itu merupakan bentuk dari komitment kebangsaan, sekaligus sebagi bentuk nyata dari pengkhidmatan santri dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Sejarah mencatat, bahwa Resolusi Jihad hadir dan dicetuskan dari sebuah musyawarah (dialog moral) para Kyai di seluruh Nusantara, tentang pentingnya bangkit dan melawan segala macam bentuk upaya keterjajahan, ketertinggalan dan penindasan. Sehingga itulah kemudian, salah satu Kyai tersohor nusantara saat itu, K.H. Hasyim Asy’ari memimpin dan menyerukan para santri untuk berjihad, bersama dengan Kyai-Kyai lainnya seperti K.H. Ahmad Dahlan dari Muhammadiyah, A. Hasan dari Persis, Ahmad Soeharti dari Al-irsyad, Mas Abdul Rahman dari Matlaul Anwar serta beberapa Kyai dan tokoh-tokoh lainnya. Nukilan historis ini menegaskan, bahwa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia- tidak lepas dari peran ulama dan perjuangan santri, fakta sejarah ini tidak dapat dinegasikan oleh siapapun.

Penetapan setiap tanggal 22 Oktober sebagai peringatan Hari Santri Nasional, melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, adalah bentuk apresiasi dan penegasan negara terhadap kiprah dan perjuangan santri di Indonesia selama ini. Sikap negara seperti ini, patut disyukuri dengan sungguh-sungguh, bahwa negara memiliki kesadaran rasional-kontitusional yang baik, tentang cara menghormati dan menghargai perjuangan ulama dan santri di Indonesia. Demikianlah negara dan kaum santri, telah mencoba saling memahami, dalam spirit kebangsaan dan keindonesiaan, yang memiliki sejarah masa lalu dan juga memiliki optimisme masa depan.

Resolusi jihad kaum santri tidak saja meninggalkan jejak-jejak kebaikan historis masa lalu, dalam konteks fase awal Indonesia merdeka. Senyatanya, bahwa ada yang luhur dari sekedar cerita sejarah, yang sesungguhnya ditinggalkan kepada seluruh bangsa Indonesia hari ini, dengan segala dinamika situasi dan keadaan kekininian kita. Di saat dulu kaum santri mematri dan mentradisikan ketulusan dan keikhlasan dalam perjuangan, pada saat yang bersamaan, bangsa Indonesia saat ini dihadapkan dengan ambisi, kepentingan pribadi dan kelompok, pragmatis-matrialis dan sejenisnya. Begitu pula, di saat dulu perjuangan kaum santri, hadir untuk meneguhkan persatuan dan kesatuan dalam merebut dan mempertahankan bangsa, pada saat yang sama pula, hari ini kita tergoda untuk asyik saling mejebak dalam konflik dan isu-isu yang memantik perpecahan antar sesama anak bangsa. Itulah kondisi tentang dialektika nilai dan zaman, yang saat ini cendrung ekstrim dan paradoks, di tengah-tengah kehidupan kebangsaan kita. Termasuk pula, tentang pesan moral perjuangan santri yang mengajarkan konsep memberi (sedeqah), dengan ketulusan untuk bangsa dan negara, di sisi lain kita lebih banyak meminta dan bahkan menjarah, atas sesuatu yang bukan menjadi hak diri kita. Sejatinya, nilai-nilai yang ditradisikan dalam perjuangn ualama dan kaum santri selama ini, harus tetap kita pegang dan kita jaga secara konsisten.

Diskusi tentang santri, hakikatnya adalah tentang integritas dan kepribadian. Santri adalah sosok yang secara personal padanya terdapat kelebihan dan juga kekhasan. Dawam Rahardjo (1985) menjelaskan tentang kepribadian santri sebagai sebuah pancaran dari keperibadaian seorang ulama yang menjadi pemimpin dan guru bagi mereka. Bahkan bagi kepribadian santri, ulama tidak saja sebagai pemimpin dan guru, tetapi juga uswah hasanah, sehingga wibawa dan kharisma ulama, sangat mempengruhi kehidupan dan kepribadian santri pada setiap aspek kehidupannya. Kepribadian dalam dimensi yang lebih maknawi adalah sistem diri yang ada pada diri individu, yang kemudian akan mempengaruhi terhadap pola berpikir (mindset) dan kinerja (performance).

Hubungan antara integritas dan kinerja adalah hubungan kebutuhan dan hubungan tanggung jawab, terhadap diri sendiri dan terhadap setiap amanah dan tugas-tugas kehidupan lainnya. Maka dalam konteks kepribadian santri, penting dihadirkan sebanyak-banyaknya uswah hasanah, orang-orang yang baik, contoh-contoh yang baik dan kinerja-kinerja yang baik (best practice), dalam tugas dan amanah kehidupan sehari-hari. Perwujudan inilah yang kemudian secara teoritis disebut sebagai sikap yang utuh (total attitude), yang di dalamnya ada unsur cognitive, affektive dan conative dalam satu kesatuan perwujudan sikap.

Pada spektrum lain, karakter kepribadian santri tidak saja dapat dilihat dari atribut-atribut matrial yang sarat dengan kebersahajaan. Namun, pada karakter lainnya juga terlihat sifat survivelity dan ketangguhan dalam mengabdi berdedikasi kepada negeri. Santri tidak mengeluh dengan tugas dan bebannya, mereka sadar bahwa apa yang dijalaninya saat ini, adalah tentang masa depan dan hari esok (futuristic) yang lebih baik. Dalam konteks kinerja, keberadaan organisasi sangat memerlukan karakter (santri) yang tangguh semacam itu. Terlebih, pada era yang serba sengit, ketatnya berbagai macam persaingan, yang kemudian mengharuskan karakter-karakter yang siap dengan segala tuntutan dan medan. Sehingga kemudian menjadi pemenang dalam sebuah persaingan global (global competitiveness), dengan modal integritas kepribadian tangguh dan keunggulan atau skill yang andal.

Fungsi Formal-Moral Agama ?
Dalam konteks kehidupan pembangunan umat beragama di Indonesia, kehadiran negara dalam memfasilitasi kualitas kehidupan dan harmoninya umat beragama, adalah hal yang sangat mendasar dan elementer. Kementerian Agama sebagai institusi legal negara, sebagaimana marwah dan tujuan pendiriannya, berkomitmen untuk mewujudkan pembangunan umat beragama yang berkualitas, harmoni, toleran, moderat dan mengedepankan semangat persatuan (ukhwah) dalam segala dimensi, konteks dan persepektif. Oleh sebab itulah, dalam terwujudnya harmoni dan kualitas kehidupan umat beragama, peran-peran konstruktif agama dan umat beragama, menjadi seuatu yang urgent yang sangat diperlukan.

Gerakan Kementerian Agama Menuju Zona Integritas Dan Kepedulian Individu Yang Religius (Gema Zikir) adalah sebuah program dan ikhtiar Kementerian Agama NTB (dalam konteks lokal), yang memiliki pesan formal dan sekaligus moral, untuk sebuah gerakan perubahan penting dan mendasar, bagi kebaikan aparatus dan umat beragama secara kolektif. Bahwa dari individu yang religius akan terhimpun komunitas religus, daerah yang religius dan kemudian bertransformasi secara gradual, menjadi bangsa yang religius. Memahami makna religius pada persepktif ini, adalah dengan pendekatan makna dan konteks (universal), bahwa dengan sikap beragama yang baik, akan melahirkan kualitas umat mejadi lebih produktif, inovatif, kualitatif dan berkinerja. Kepribadian-kepribadian yang baik atau berintegritas dalam sebuah sistem organisasi, adalah faktor determinan yang menentukan kualitas dan performance capaian tujuan organisasi itu sendiri. Dalam bahasa sederhana, memperbanyak orang baik dan berkualitas, adalah kebutuhan setiap organisasi untuk capain yang lebih baik.

Resolusi jihad untuk kinerja yang lebih baik dan produktif, pada hakikatnya dalah sebuah “fatwa”, tentang perlunya sebuah perubahan, bersama-sama, berjuang, bergerak, bersemangat, bersungguh-sungguh dan secara total mendedikasikan diri dalam perjuangan dan pengkhidmatan, pada setiap tanggung jawab jabatan dan amanah yang melekat pada diri setiap manusia. Prilakunya adalah, dengan berkonstribusi memberikan yang terbaik, bagi kemaslahatan umat. Resolusi jihad pada konteks tugas dan fungsi Kementerian Agama, hakikatnya adalah ajakan untuk berani berubah untuk menjadi baik, seruan untuk komitment pada visi bersama, menuju pada pencapaian cita-cita organisasi, dengan menaggalkan tradasi-tardisi “jahiliyah”, yang identik dengan malas, tidak disiplin, tidak kreatif, tidak produktif dan bentuk pelayanan serta prilaku kurang baik lainnya. Artinya, padanan Resolusi jihad dengan resolusi kinerja, ada pada spirit dan semangat yang sama, yakni pada konteks etik dan moral.

Resolusi jihad yang proklamirkan oleh para ulama pada tahun 1945 adalah sebuah fatwa, sekaligus juga sebagai gerakan yang memiliki moral effect dahsyat, bagi mentalitas umat dan bangsa Indonesia saat itu. Sebuah titik balik (turning point), yang kemudian menghadirkan nilai dan pesan-pesan penting bagi bangsa Indonensia, tentang makna dan kedudukan sifat-sifat ikhlas dalam perrjuangan (kerja ikhlas), selalu menyandarkan segala perjuangan dan aktivitas untuk menggapai ridho Tuhan. Dasar keikhlasan itulah yang kemudian menjadi kapasitor moral dan mental dalam berkhidmat dan mengabdi, dengan penuh totalitas, berkinerja maksimal , taat asas serta penuh konsistensi (istiqomah). Profile dari integritas pribadi yang kuat dalam sebuah oragnisasi, dapat diketahui dari keikhlasan mengabdi dan kualitas kinerja yang unggul pada setiap orang yang ada dalamnya. Pada konteks inilah, program Gema Zikir hadir sebagai ikhtiar konstruktif, yang diharapkan dapat menjadi nilai dan prilaku, serta menjadi spirit kolektif menuju cita-cita perubahan yang lebih baik.

Point dan ibrah lainnya adalah, sebuah gerakan (harakah) dengan basis pilosofis yang kuat, harus memiliki effect pada praktik-praktik baik, pada setiap bentuk aktivitas dan tugas formal-moral manusia, sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Selamat Hari Santri Nasional 2020, Santri Sehat Indonesia Kuat. Wallahu a’lam bish-shawabi .

 

 

Spirit Resolusi Jihad ; Antara Dimensi Kinerja dan Gema Zikir
(Muhasbah Hari Santri Nasional 22 Oktober Tahun 2020)

M. Zaidi Abdad
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTB

SANTRI telah menjadi entitas yang khas dalam khazanah bangsa Indonesia. Keberadaan kaum santri dalam oase dan sejarah panjang banga Indonesia, telah menorehkan prasasti peradaban penting tentang hakikat kehidupan, dalam banyak hal dan dimensi. Santri telah berkonstibusi dan mengajarkan tentang nilai-nilai universal, tentang pesan-pesan etik dan moral, nilai-nilai ketulusan dan keikhlasan, perjuangan, ketundukan, keilmuan, kebangsaan, kesatuan dan kesederhanaan.

Dalam nukilan historisnya, keberadaan santri sebagai diri (personality) dan kelompoknya (community), telah sukses memproklamirkan gagasan dan ide serta keadaan-keadaan penting lainnya, bagi perjalanan panjang bangsa Indonesia. Resolusi Jihad kaum santri, adalah sebuah tonggak dan akar perjuangan kaum santri, atas pembelaanya yang sungguh-sungguh terhadap bangsa. Tampilnya para Kyai bersama para santri dalam sebuah gerakan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 silam, merupakan bentuk resphon kalangan Kyai dan santri terhadap upaya agresi militer Belanda kedua di Indonesia. Sungguh, resolusi itu merupakan bentuk dari komitment kebangsaan, sekaligus sebagi bentuk nyata dari pengkhidmatan santri dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Sejarah mencatat, bahwa Resolusi Jihad hadir dan dicetuskan dari sebuah musyawarah (dialog moral) para Kyai di seluruh Nusantara, tentang pentingnya bangkit dan melawan segala macam bentuk upaya keterjajahan, ketertinggalan dan penindasan. Sehingga itulah kemudian, salah satu Kyai tersohor nusantara saat itu, K.H. Hasyim Asy’ari memimpin dan menyerukan para santri untuk berjihad, bersama dengan Kyai-Kyai lainnya seperti K.H. Ahmad Dahlan dari Muhammadiyah, A. Hasan dari Persis, Ahmad Soeharti dari Al-irsyad, Mas Abdul Rahman dari Matlaul Anwar serta beberapa Kyai dan tokoh-tokoh lainnya. Nukilan historis ini menegaskan, bahwa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia- tidak lepas dari peran ulama dan perjuangan santri, fakta sejarah ini tidak dapat dinegasikan oleh siapapun.

Penetapan setiap tanggal 22 Oktober sebagai peringatan Hari Santri Nasional, melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, adalah bentuk apresiasi dan penegasan negara terhadap kiprah dan perjuangan santri di Indonesia selama ini. Sikap negara seperti ini, patut disyukuri dengan sungguh-sungguh, bahwa negara memiliki kesadaran rasional-kontitusional yang baik, tentang cara menghormati dan menghargai perjuangan ulama dan santri di Indonesia. Demikianlah negara dan kaum santri, telah mencoba saling memahami, dalam spirit kebangsaan dan keindonesiaan, yang memiliki sejarah masa lalu dan juga memiliki optimisme masa depan.

Resolusi jihad kaum santri tidak saja meninggalkan jejak-jejak kebaikan historis masa lalu, dalam konteks fase awal Indonesia merdeka. Senyatanya, bahwa ada yang luhur dari sekedar cerita sejarah, yang sesungguhnya ditinggalkan kepada seluruh bangsa Indonesia hari ini, dengan segala dinamika situasi dan keadaan kekininian kita. Di saat dulu kaum santri mematri dan mentradisikan ketulusan dan keikhlasan dalam perjuangan, pada saat yang bersamaan, bangsa Indonesia saat ini dihadapkan dengan ambisi, kepentingan pribadi dan kelompok, pragmatis-matrialis dan sejenisnya. Begitu pula, di saat dulu perjuangan kaum santri, hadir untuk meneguhkan persatuan dan kesatuan dalam merebut dan mempertahankan bangsa, pada saat yang sama pula, hari ini kita tergoda untuk asyik saling mejebak dalam konflik dan isu-isu yang memantik perpecahan antar sesama anak bangsa. Itulah kondisi tentang dialektika nilai dan zaman, yang saat ini cendrung ekstrim dan paradoks, di tengah-tengah kehidupan kebangsaan kita. Termasuk pula, tentang pesan moral perjuangan santri yang mengajarkan konsep memberi (sedeqah), dengan ketulusan untuk bangsa dan negara, di sisi lain kita lebih banyak meminta dan bahkan menjarah, atas sesuatu yang bukan menjadi hak diri kita. Sejatinya, nilai-nilai yang ditradisikan dalam perjuangn ualama dan kaum santri selama ini, harus tetap kita pegang dan kita jaga secara konsisten.

Diskusi tentang santri, hakikatnya adalah tentang integritas dan kepribadian. Santri adalah sosok yang secara personal padanya terdapat kelebihan dan juga kekhasan. Dawam Rahardjo (1985) menjelaskan tentang kepribadian santri sebagai sebuah pancaran dari keperibadaian seorang ulama yang menjadi pemimpin dan guru bagi mereka. Bahkan bagi kepribadian santri, ulama tidak saja sebagai pemimpin dan guru, tetapi juga uswah hasanah, sehingga wibawa dan kharisma ulama, sangat mempengruhi kehidupan dan kepribadian santri pada setiap aspek kehidupannya. Kepribadian dalam dimensi yang lebih maknawi adalah sistem diri yang ada pada diri individu, yang kemudian akan mempengaruhi terhadap pola berpikir (mindset) dan kinerja (performance).

Hubungan antara integritas dan kinerja adalah hubungan kebutuhan dan hubungan tanggung jawab, terhadap diri sendiri dan terhadap setiap amanah dan tugas-tugas kehidupan lainnya. Maka dalam konteks kepribadian santri, penting dihadirkan sebanyak-banyaknya uswah hasanah, orang-orang yang baik, contoh-contoh yang baik dan kinerja-kinerja yang baik (best practice), dalam tugas dan amanah kehidupan sehari-hari. Perwujudan inilah yang kemudian secara teoritis disebut sebagai sikap yang utuh (total attitude), yang di dalamnya ada unsur cognitive, affektive dan conative dalam satu kesatuan perwujudan sikap.

Pada spektrum lain, karakter kepribadian santri tidak saja dapat dilihat dari atribut-atribut matrial yang sarat dengan kebersahajaan. Namun, pada karakter lainnya juga terlihat sifat survivelity dan ketangguhan dalam mengabdi berdedikasi kepada negeri. Santri tidak mengeluh dengan tugas dan bebannya, mereka sadar bahwa apa yang dijalaninya saat ini, adalah tentang masa depan dan hari esok (futuristic) yang lebih baik. Dalam konteks kinerja, keberadaan organisasi sangat memerlukan karakter (santri) yang tangguh semacam itu. Terlebih, pada era yang serba sengit, ketatnya berbagai macam persaingan, yang kemudian mengharuskan karakter-karakter yang siap dengan segala tuntutan dan medan. Sehingga kemudian menjadi pemenang dalam sebuah persaingan global (global competitiveness), dengan modal integritas kepribadian tangguh dan keunggulan atau skill yang andal.

Fungsi Formal-Moral Agama ?
Dalam konteks kehidupan pembangunan umat beragama di Indonesia, kehadiran negara dalam memfasilitasi kualitas kehidupan dan harmoninya umat beragama, adalah hal yang sangat mendasar dan elementer. Kementerian Agama sebagai institusi legal negara, sebagaimana marwah dan tujuan pendiriannya, berkomitmen untuk mewujudkan pembangunan umat beragama yang berkualitas, harmoni, toleran, moderat dan mengedepankan semangat persatuan (ukhwah) dalam segala dimensi, konteks dan persepektif. Oleh sebab itulah, dalam terwujudnya harmoni dan kualitas kehidupan umat beragama, peran-peran konstruktif agama dan umat beragama, menjadi seuatu yang urgent yang sangat diperlukan.

Gerakan Kementerian Agama Menuju Zona Integritas Dan Kepedulian Individu Yang Religius (Gema Zikir) adalah sebuah program dan ikhtiar Kementerian Agama NTB (dalam konteks lokal), yang memiliki pesan formal dan sekaligus moral, untuk sebuah gerakan perubahan penting dan mendasar, bagi kebaikan aparatus dan umat beragama secara kolektif. Bahwa dari individu yang religius akan terhimpun komunitas religus, daerah yang religius dan kemudian bertransformasi secara gradual, menjadi bangsa yang religius. Memahami makna religius pada persepktif ini, adalah dengan pendekatan makna dan konteks (universal), bahwa dengan sikap beragama yang baik, akan melahirkan kualitas umat mejadi lebih produktif, inovatif, kualitatif dan berkinerja. Kepribadian-kepribadian yang baik atau berintegritas dalam sebuah sistem organisasi, adalah faktor determinan yang menentukan kualitas dan performance capaian tujuan organisasi itu sendiri. Dalam bahasa sederhana, memperbanyak orang baik dan berkualitas, adalah kebutuhan setiap organisasi untuk capain yang lebih baik.

Resolusi jihad untuk kinerja yang lebih baik dan produktif, pada hakikatnya dalah sebuah “fatwa”, tentang perlunya sebuah perubahan, bersama-sama, berjuang, bergerak, bersemangat, bersungguh-sungguh dan secara total mendedikasikan diri dalam perjuangan dan pengkhidmatan, pada setiap tanggung jawab jabatan dan amanah yang melekat pada diri setiap manusia. Prilakunya adalah, dengan berkonstribusi memberikan yang terbaik, bagi kemaslahatan umat. Resolusi jihad pada konteks tugas dan fungsi Kementerian Agama, hakikatnya adalah ajakan untuk berani berubah untuk menjadi baik, seruan untuk komitment pada visi bersama, menuju pada pencapaian cita-cita organisasi, dengan menaggalkan tradasi-tardisi “jahiliyah”, yang identik dengan malas, tidak disiplin, tidak kreatif, tidak produktif dan bentuk pelayanan serta prilaku kurang baik lainnya. Artinya, padanan Resolusi jihad dengan resolusi kinerja, ada pada spirit dan semangat yang sama, yakni pada konteks etik dan moral.

Resolusi jihad yang proklamirkan oleh para ulama pada tahun 1945 adalah sebuah fatwa, sekaligus juga sebagai gerakan yang memiliki moral effect dahsyat, bagi mentalitas umat dan bangsa Indonesia saat itu. Sebuah titik balik (turning point), yang kemudian menghadirkan nilai dan pesan-pesan penting bagi bangsa Indonensia, tentang makna dan kedudukan sifat-sifat ikhlas dalam perrjuangan (kerja ikhlas), selalu menyandarkan segala perjuangan dan aktivitas untuk menggapai ridho Tuhan. Dasar keikhlasan itulah yang kemudian menjadi kapasitor moral dan mental dalam berkhidmat dan mengabdi, dengan penuh totalitas, berkinerja maksimal , taat asas serta penuh konsistensi (istiqomah). Profile dari integritas pribadi yang kuat dalam sebuah oragnisasi, dapat diketahui dari keikhlasan mengabdi dan kualitas kinerja yang unggul pada setiap orang yang ada dalamnya. Pada konteks inilah, program Gema Zikir hadir sebagai ikhtiar konstruktif, yang diharapkan dapat menjadi nilai dan prilaku, serta menjadi spirit kolektif menuju cita-cita perubahan yang lebih baik.

Point dan ibrah lainnya adalah, sebuah gerakan (harakah) dengan basis pilosofis yang kuat, harus memiliki effect pada praktik-praktik baik, pada setiap bentuk aktivitas dan tugas formal-moral manusia, sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Selamat Hari Santri Nasional 2020, Santri Sehat Indonesia Kuat. Wallahu a’lam bish-shawabi .

PARIWISATA DI ERA NEW NORMAL

Oleh Dr.H. Mugni, M.Pd.,M.Kom. (Kadispar Lombok Timur)

Awal Maret 2020 tercatan dalam sejarah republik ini sebagai hari pertama ditemukannya kasus Covid-19. Dua orang terdeteksi positif Covid dan diumumkan langsung oleh Presiden. Virus Corona yang muncul pertama kali di Negeri Tirai Bambu pada akhir tahun 2019. Virus yang melahirkan penyakit yang belum ditemukan obatnya yang akhirnya melanda seluruh dunia. Sekalpun belum ada obat tapi bisa dicegah dengan melaksanakan protokol pencegahan sesuai dengan teori medis.

Penularan visus ini melalui droplet (percikan liur) orang yang terpapar ke orang lain. Droplet (percikan) ke orang lain yang mengenai mulut, hidup, dan mata. Atau lewat benda-benda yang telah terpapar dan terpegang tangan dan tangan menyentuh areal mulut, lubang hidung, dan mata. Untuk itu ilmu  pencegahan penularannya dengan melalukan : (1) sering cuci tangan dengan sabun di air mengalir; (2) memakai masker; (3) jaga jarak dan tidak salaman;  dan (5) tidak bertemu dengan orang lain atau stay at home (diem) di rumah.

Dari lima protokol pencegahan ini yang paling efektif adalah tidak bertemu dengan orang lain alias diam di rumah (stay at home). Stop total aktivitas selain di kompleks rumah.  Bila gerakan stay at home dapat dilakukan oleh semua dalam jangka waktu 14 hari atau 21 hari maka sang virus dapat “dipastikan” terputus penularannya. Tetapi  konsekuensi dari langkah ini maka seluruh rakyat harus difasilitasi hidupnya oleh negara sesuai dengan Undang-Undang Nomor 6 tahun 2018 tentang  Kekarantinaan. Faktanya, negara tidak melakukankan hal tersebut. Negara hanya melakukan langkah-langkah farsial untuk pencegahan sehingga sampai dengan masuk bulan ke-4 sejak sang virus ditemukan belum ada tanda-tanda akan berakhir. Bahkan dari laporan harian jubir gugus tugas nasional pencegahan covid trennya terus bertambah.

Dari teori pencegahan seperti dikemukan di atas maka semua sektor kehidupan terdampak. Sosial ekonomi, kemasyarakatan, pendidikan, budaya dan agama. Tempat ibadah tutup, sekolah tutup, pertemuan-petermuan ditiadakan, pertunjukan-pertujukan ditiadakan. Salah sektor yang paling terdampak dalam aktivitas pencegahan ini adalah sektor pariwisata.

Aktivitas kepariwisataan sangat kontradiksi dengan protokol pencegahan. Pariwisata bernilai tinggi bila banyak orang berkunjung/datang dan lama tinggal. Semakin banyak orang datang ke obyek wisata dan semakin lama menginap/tinggal nilai ekonomi pariwisata semakin baik. Mengapa demikian? Karena semakin banyak orang yang membelanjakan uangnya dan semakin banyak yang dihabiskan dengan berlama-malama tinggal/menginap. Itulah sebabnya, para pelalu pariwisata harus membuat paket-paket dan memperbanyak atraksi. Ada paket sehari, dua hari, tiga hari, mingguan, dan sterusnya. Paket wisata adaalh rangkaian tour/kegiatan yang akan dilalui/diikuti/dinikmati oleh wisatawan.

Pada sisi lain,  protokol covid menegaskan jangan ada orang asing yang datang karena takut menjadi orang tanpa gejala (OTG). Orang sehat membawa  virus dan menularkan kepada orang yang kondisi tubuhnya tidak sehat/kurang imun.  Jangan lama-lama berkumpul, takut ada di antara yang hadir juga OTG. Sudah hampir 4 bulan peristiwa protokol covid dijalankan dalam kehidupan kepariwisataan. Seluruh pelaku pariwisata terdampak. Bahkan terdampak total. Mereka tidak lagi bekerja. Mereka tidak mendapat penghasilan. Semetara hidup harus terus berjalan. Di sisi lain, vaksin covid belum juga ditemukan dan entah sampai kapan. Tidak mungkin terus menyerahkan pada covid dengan mengabaikan aktivitas sosial kemasyarakatan, ekonomi, buadaya, dan keagamaan.

Pariwisata sebagai salah satu penggerak perekonomian bangsa harus terus bergerak dan berkembang. Para pelaku pariwisata harus merespon kebijakan yang diambil oleh negara dengan konsep new normal atau kenormalan baru. Kenormalan baru diambil oleh negara karena vaksin virus corona belum juga ditemukan dan entah sampai kapan. Kenormalan baru menghendaki bahwa kehidupan kemasyarakatan, sosial ekonomi, agama dan budaya harus berjalan seperti sebelum terjadinya covid-19 dan disertai dengan kesadaran bahwa ada covid di sekitar kita. Covid adalah penyakit yang dibawa oleh virus yang penularannya dari manusia ke manusia atau dari benda-benada yang terpapar oleh sang virus dan tersentuh tangan. Untuk itu dalam mejalankan kehidupan normal harus juga melaksanakan standar protokol pencegahan covid.

Dalam mejalankan kenormalan baru setiap individu harus menyadari dan melaksanakan minimal 4 hal, yakni (1) sering-sering cuci tangan dengan sabun di air mengalair; (2) selalu memakai masker dengan benar; (3) menjaga jarak bila bertemu orang lain; dan (4) sadari kafasitas ruang publik, yakni ruang publik minimal diisi 50 % dari isi normal.

Terhitungan 20 Juni 2020, aktivitas kepariwisataan sudah mulai dibuka. Seluruh sektor kepariwisataan dipersilahkan untuk beraktivitas dengan normal. Empat sektor aktvitas kepariwisataan sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang Kepariwisataan, yakni destinasi, industri, pemasaran, dan kelembagaan dipersilahkan untuk beraktivitas dengan berpegang teguh pada standar pencegahan covid-19 era new normal.

Dinas Pariwisata Lombok Timur dalam rangka menyambut era new normal sektor kepariwisataan telah menetapkan satand operasional prosedur (SOP) yang harus dijalankan oleh para pihak yang terlibat dalam kepariwisataan, yakni pelaku/pengelola, pengunjung, dan pemerintah. Dalam SOP tersebut dijelaskan bahwa pengelola/pelaku pariwiata diharuskan (1) menyiapkan tempat cuci tangan dari gentong (gerabah/bong) produksi Dusun Penakak Desa Masbagik Timur. Gentong juga harus selalu terisi air, tersedia sabun cari, lap tangan, dan pembuangan limbah air bekas cuci tangan. Dianjurkan dari gerabah/gentong/bong buatan Penakak supaya budaya masyarakat yang menjadi mata pencarian terus berkembang dan bergairah. Kerajinan gerabah mati suri karena tidak ada pembeli. Konsep harus diubah untuk menggairahkan usaha-usaha kecil masyarakat, dengan tanggling, “kita buat, kita beli, kita pakai, dan kita jual.

Covid yang mengharuskan setiap orang harus rajin-rajin cuci tangan harus dimanfaatkan untuk menggairahkan kembali kerjanian lokal tersebut. Bila ini kita lakukan maka hakikat stay at home akan bermakna bahwa masyarakat diam di rumah sambil bekerja. Kita jangan hanya ingin yang praktis dan murah tetapi tidak ada nilainya untuk budaya dan pariwisata. Bila tempat air cuci tangan berasal dari gentong maka ada 4 profesi masyarakat yang akan mendapatkan manfaat ekonomi, yakni (1) penguasa dam truck; (2) sopir dam; (3) pengerajin; dan (4) pedagang gentong/gerabah (show room).

Di samping menyiapkan tempat cuci tangan, pengelola/pelaku pariwisata juga harus menyiapkan thermo gun. Thermo gun ini digunakan untuk mengukur suhu tubuh setiap pengunjung/tamu, baik di desatinasi, restauran/rumah makan/penginapan/hotel, penjual cendera mata, dan lain-lain. Setiap yang berkunujng harus dicek suhu tubuhnya. Pengunjung yang suhu tubuhnya di atas ketentuan medis harus direkomendasikan untuk cek diri ke fasilitas kesehatan  dan/atau dikoordinasikan dengan faslitas/petugas kesehatan.

Pengelola juga harus menyiapkan masker. Bila ada pengunjung yang tidak memakai masker maka yang bersangkutan harus diberikan masker. Masker ini jangan gratis dan harus beli. Salah satu ketentuan new normal bahwa setiap orang yang keluar rumah wajib memakai masker. Mengapa tidak memakai? Dia lalai atau sengaja. Bila terus diberikan gratis maka kesengajaan/kelaian akan semakin menjadi-jadi. Untuk itu masker harus dibeli. Dalam SOP yang dikeluarkan oleh Dinas Pariwisata Lombok Timur, setidaknya ada enam belas kewajiban yang harus dilakukan oleh pengelola/pelaku pariwisata dalam menghadapi  kenormalan baru di sektor pariwisata.

Di samping kewajiban pengelola/pelaku pariwisat, ada juga kewajiban para pengunjung/wisatawan. Dalam SOP tersebut sekitar lima hal yang harus dilakukan oleh pengunjung/wisatawan, yakni (1) meyakini diri sehat; (2) selalu memakai masker dengan benar; (3) menjaga jarak; (4) tidak berlama-lama di destinasi/fasilitas pariwisata; dan (5) menaati seluruh arahan petugas;

Wisatawan/pengunjung fasilitas pariwisata sebelum berangkat dari rumah harus meyakini diri sehat. Bila merasa sakit janganlah meninggalkan rumah. Berangkat darti rumah harus memaki masker. Masker harus dipakai dengan benar. Memakai masker harus dengan kesadaran sendir bahwa masker bermanfaat untuk diri sendiri. Masker mejaga diri dan menjaga orang lain. Memang memakai masker tidak nyaman. Susah bernafas, dan setrusnya. Maklum barang baru dan belum terbiasa. Bila terus dipaksakan maka akhirnya akan terbiasa  dan akan nyaman serta akan menjadi kebutuhan. Dan, bila telah tiba di destinasi/fasilitas pariwisata pengunjung/wisatawan harus menaati seluruh arahan/kenetuan yang diarahkan oleh petugas/karyawan. Petugas akan selalu mengarahakan cuci tangan, pakai masker, jaga jarak, sabar antri, dan lain-lain.  Semua yang dilakukan oleh petugas (pemerintah) untuk kepentingan bersama, yakni pariwisata terus berkembang dan semua terhindar dari bahaya Covid-19. Wallahuaklambissawab.

 

 

Maulanassyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Seorang Muslim Pancasilais Sejati

Oleh : Hasanah Efendi ( Ketua PD PEMUDA NW Lotim)

Kelahiran Pancasila 75 tahun silam yang dijadikan Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),  menjadi penegas bahwa bangsa Indonesia didirikan oleh para tokoh bangsa dan tokoh agama. Berkolaborasinya tokoh agama dengan para founder bangsa ini menjadi bukti kekuatan yang maha dahsyat untuk mengusir kaum penjajah dari bumi pertiwi tercinta ini.

Salah satunya adalah tokoh agama sekaligus ulama kharismatik asal NTB Maulanassyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (Pahlawan Nasional) bersama santri dan masyarakat NTB juga bergerak melawan dan mengusir kaum penjajah untuk menegakan NKRI yang berlandaskan Pancasila.

Berbicara soal Pancasila yang menjadi dasar NKRI, Maulanassyaikh sudah menanamkan kepada santri dan warganya kecintaan kepada bangsa dan negara serta kesetiaannya kepada Pancasila.

Hal ini terlihat dari orasi kebangsaan yang beliau ungkapkan, maupun tulisan-tulisan yang tertuang dalam karangannya. Bagaimana bersemangatnya Sang Pahlawan Nasional ini menanamkan di hati warga NW untuk berpegang teguh kepada Pancasila, yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

“Saya tetap setia, taat dan patuh kepada semua ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku dalam Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,”

Demikian orasi Maulanassyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, di depan Ketua Umum Golkar H Sudarmono, SH di Pancor pada tanggal 26 April 1986.

Sedangkan pesan dan penanaman nilai Pancasila kepada warga NW dan santri NW, Maulanassyaikh mencantumkan dalam lembaran Baiat dan Sumpah yang dibaca oleh setiap Santri NW, baik yang baru masuk ataupun yang menamatkan studinya di madrasah/sekolah NW.

“Saya berjanji, bahwa saya akan menjadi warga Negara yang baik, warga Negara yang bertaqwa kepada Allah SWT, warga Negara yang bangga menjadi bangsa Indonesia, warga Negara yang berorientasi kepada kepentingan ummat, setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945” (Inilah bunyi salah satu baiat bagi Santri Nahdlatul Wathan point 3 tahun 1985/1986).

Hal serupa juga dimasukan Maulanassyaikh kedalam bait-bait-bait lagu perjuangan NW yang terus dilantunkan oleh warga NW di setiap kesempatan dan kegiatan Nahdlatul Wathan. Salah satu baitnya yang berbunyi;

“Pancasila Dasar Negara kita

Ketuhanan adalah sila yg utama

Mengabdi kepada negara dan bangsa

Dengan Iman tertanam dalam Dada” (Mars NW).

Tidak sampai disitu ungkapan kecintaan Maulanassyaikh, kepada Negaranya yang berdasarkan Pancasila. Bahkan dalam wasiat yang ditulis beliau yang diperuntukkan kepada keluarga besar Nahdlatul Wathan juga mencantumkan kata-kata yang mengajak kepada warganya agar tetap patuh dan taat kepada Pancasila. Seperti termaktub dalam Buku Wasiat Renungan Masa bait ke 44, 68 dan 123 yang berbunyi

“Negara kita berpancasila

Berketuhanan Yang Maha Esa

Ummat Islam paling setia

Tegakkan Sila yang paling utama”

“Hidupkan iman hidupkan taqwa

Agar hiduplah semua jiwa

Cinta kokoh pada agama

Cinta teguh pada Negara”

“Perlu dijaga bersama-sama

Selaku andil bersama kita

Tegakkan iman tegakkan taqwa

Di Negara merdeka berpancasila”

Selain ungkapan kesetiaan Maulanassyaikh kepada Pancasila yang disebutkan di dalama tulisan ini, masih terlalu banyak kampanye beliau kepada ummat dan masyarakat Indonesia soal kepatuhan dan ketaatan bernegara sesuai dengan dasar Negara yaitu Pancasila dan UUD 1945.

Beliau tidak sedikit menerima ancaman dari kaum penjajah dan para pengkhiat bangsa untuk mencelakakan dirinya, baik secara cercaan, hinaan bahkan ancaman pembunuhan, namun sedikitpun beliau tidak gentar apalagi mundur, karena beliau terlahir dari ayah seorang pejuang sejati pada masanya.

Kesetiaan beliau terhadap Pancasila, juga terlihat dengan beraninya beliau membuka madrasah yang memuat pelajaran dan sistem pendidikan yang tidak lazim di daerahnya pada waktu itu, dengan resiko beliau harus merelakan dikucilkan dan diberhentikan menjadi khotib dan imam di masjid kampung halamannya, Pancor.

Dengan melihat kegigihan beliau menegakan Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI yang berdasrkan Pancasila dan UUD 1945, maka tidaklah berlebihan dan sudah sepantasnya beliau diangkat oleh Negara menjadi Pahlawan Nasional dan seharusnya juga beliau digelari sebagai seorang Muslim yang Pancasilais Sejati.

Di zaman sekarang akan sangat sulit kita jumpai orang seperti Maulanassyaikh yang begitu gigih mempertahankan Pancasila. Jiwa dan raganya dipertaruhkan demi tegaknya NKRI berpancasila, kendati beliau adalah seorang ulama besar dan khrismatik, namun beliau dengan dakwah bilhalnya mengajarkan kepada kita semua, bagaimana cara dan bagaimana menjadi warga Negara yang baik dan tunduk kepada dasar Negara.

SELAMAT HARI KELAHIRAN PANCASILA

SAYA INDONESIA

SAYA PANCASILA (*)

HILANGNYA ‘MIMBAR’ DI PULAU SERIBU MASJID

Muh. Hasanain Hamid (Pegawai Kemenag Lombok Tengah)

Dalam situasi-kondisi saat sekarang ini seperti dengan adanya bala’ (ujian) berupa mewabahnya Corona Virus Disease (Covid-19) yang melanda hampir seluruh belahan dunia tak terkecuali Indonesia tercinta yang didalamya Nusa Tenggara Barat (NTB) pada umumnya dan Sasak-Lombok khususnya yang lebih dikenal dengan pulau seribu masjid. Masjid bagi masyakat Sasak-Lombok merupakan baitullah  yang diyakini suci dan aman bagi orang yang berada di dalamnya “wa man dakhalahu kaana amina”. Masjid adalah baitullah yang memiliki “magnet”sangat besar dalam kehidupan masyarakat pulau Sasak-Lombok dan menjadi tumpuan dan harapan umat untuk dapat keluar dari semua masailah yang dihadapi.

Berdasarkan Direktori Masjid & Mushalla Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2019 bahwa jumlah masjid di NTB sebanyak 4.689 masjid dengan sebaran di Mataram 260 masjid, Lobar 660 masjid, Loteng 1.206 masjid, Lotim 1.245 masjid, KLU 326 masjid, Sumbawa 519 masjid, KSB 175 masjid, Dompu 219 masjid, Bima 57 masjid dan Kota Bima 22 masjid. Sedangkan mushalla sebanyak 4.116 mushalla dengan sebaran di Mataram 57 mushalla, Lombok Barat 664 mushalla, Lombok Tengah 321 mushalla, Lombok Timur 1.194 mushalla, KLU 223 mushalla, Sumbawa 227 mushalla, KSB 22 mushalla, Dompu 79 mushalla, Bima 35 mushalla dan Kota Bima 12 mushalla.

Berdasarkan jumlah masjid & mushalla sebanyak 8.805 masjid-mushalla mengindikasikan bahwa hampir 99% penduduk provinsi NTB khususnya Sasak-Lombok rata-rata beragama Islam (muslim comonity) sebanyak 4.341.284 jiwa dengan sebaran  Mataram 332.295 orang/jiwa, Lombok Barat 563.56 orang/jiwa, Lombok Tengah 855.820 orang/jiwa, Lombok Timur 1.104.232 orang/jiwa, KLU 183.790 orang/jiwa, Sumbawa 398.502 orang/jiwa, KSB 112.140 orang/jiwa, Dompu 214.119 orang/jiwa, Bima 436.886 orang/jiwa dan Kota Bima 139.580 orang/jiwa.

Dari data tersebut mengisyaratkan bahwa masjid menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan umat Islam, hubungan interaktif antara masjid dengan umat sangat erat dan kuat karena masjid memiliki kontribusi yang besar bagi kemaslahatan umat dan umat pun memiliki loyalitas (kepedulian) yang tinggi ke pada masjid. Potensi asset berupa masjid & mushalla yang telah diamanatkan Allah Swt. sebagai waqaf (milik Allah) inilah yang sejatinya harus dapat dimanfaatkan oleh semua (pemerintah- umat) dalam menangani dan mengendalikan intisyar (penyebaran) Covid-19 ini. Masjid tidak hanya dijadikan sebagi tempat ibadah mahdlah (shalat jumat, rawatif, ghairu rawatif, maktubah maupun mandubah) saja, tapi lebih dari itu masjid seyokyanya harus dapat dijadikan sebagai sarana ibadah ghairu mahdlah (sosial seperti peningkatan kecerdasan, kesehatan dan kesejahteraan) bagi umat sehingga masjid betul-betul berfungsi multi-vased.

Peristiwa mewabahnya Covid-19 ini, telah menimbulkan dampak sosial dan kepanikan yang sungguh luar biasa pada semua lapisan masyarakat terlebih pemerintah yang sangat khuwatir akan wabah covid-19 dapat menjangkiti masyarakat siapa saja (tanpa pilih kasih) tidak mengenal strata sosial dan kecerdasan setiap orang. Corona Virus Disease (Covid-19) bagaikan Jin Ifrit (makhluk ghaib) yang kasat mata (tidak bisa dilihat dengan mata telanjang) tapi bisa dilihat dengan alat terpasang (microskop) saja. Corona ini dapat menyerang kapan saja dan dapat menular kepada siapa saja tanpa disadari oleh si penderita bahwa dia menjadi currir dari wabah tersebut.

Kekhawatiran dan kepanikan akan keselamatan diri dan keluarga muncul seketika dengan melakukan berbagai upaya pencegahan guna menjaga diri dan keluarga seperti karantina dan isolasi bahkan mengunci (lock) diri mulai dari stay at home (tetap di rumah), work from home/WFH (beramal dari rumah), social distancing(menjaga jarak) dan psyicalvdistancing (menghindari kontak fisik). Hal ini wajar terjadi karena bagian dari kewaspadaan dan kesadaran yang tinggi akan keselamatan diri sendiri “wiqayah an-nafsi khairun min al-‘ilaji (antisipasi lebih baik dari mengobati).

Dalam hal ini, masjid dan mushalla hendaknya dapat dijadikan juga sebagai epicentrum dalam penanganan Covid-19 yang melanda. Masjid dapat diperankan dan difungsikan sebagai imaman wa hudan (garda terdepan) dalam mengendalikan penyebaran virus Corona (BAHLA COROK) istilah orang tua tempo douloe. Potensi yang dimiliki masjid dan human resources (sumber daya manusia) yang terdapat di dalamnya sungguh luar biasa dan sangat banyak. Hal ini  tidak boleh disia-siakan begitu saja. Potensi-potensi tersebut diidentikkan dengan adanya tokoh sentral masjid seperti: tuan guru, kiyai, ustaz/ustazah, imam, khatib dan penyuluh agama dan tokoh agama dan pemuda lainnya). Mereka-mereka ini hendaknya diajak bersama-sama dan diberdayakan, karena dalam sikon yang sangat rumit dan cukup berat ini solusi sebenarnya ada pada diri kita bagaimana kita mengelolahuman resources (SDM) dan asset umat, terlebih pada masjid dan mushalla yang di dalamnya terdapat kaum milenial dan terpelajar (remaja masjid).

Masjid harus diberikan peran sebagai imam (pemimpin) grassroots (arus bawah) karena masjid hadir dari umat, oleh umat dan untuk umat. Ini berarti bahwa masjid dengan multi-fungsiyang dimilikinya dapat melayani jamaah, memastikan kelangsungan hidup dan kesehatan jamaah, memastikan pasokan sandang pangan jamaah terlebih pada saat sulit dan tidak menentu seperti sekarang ini. Jangan sampai ada jamah masjid yang tidak bisa makan, atau meninggal sendirian tanpa masjid hadir dan peduli dengan mereka. Masjid harus siap menjadi pensupply segala hajat (kebutuhan) jamaah baik hajat jasmaniah maupun rohaniyah.

Selain itu, masjid dapat pula dijadikan sebagai tempat edukasi penanganan dan pencegahan virus corona bagi setiap jamaah karena tidak semua jamaah khusunya local (pedesaan/terpencil) paham dan teredukasi dengan sosmed (sosial media) seperti: facebook, istagram, twitter, WA dan SMS lainnya. Edukasi jamaah dimaksudkan bahwa sehat saja tidak cukup seperti biasanya terlebih pada masa wabah Covid-19 ini, sehat bisa saja menjadi carrier, gejala bisa saja ringan, tapi jangan sampai menulari jamaah lain terutama erder. Orang manula (kolonial) istilah jaman penjajah diedukasi dengan “fiqih covid-19” dan penanganan serta pencegahannya. Adapun para pemuda/remaja sebagai kaum milenial dan terpelajar diedukasi tentang bagaimana mereka dapat memberikan penerangan dengan bahasa dan budaya mereka agar umat menjadi faham dan mengerti bahaya dan dampak dari covid-19 ini sehingga jamaah menjadi ridha dan legowo terhadap berbagai kebijakan dan keputusan yang akan dan telah dambil pemerintah tanpa ada kontroversi terhadap langkah dan kebijakan tersebut. Pemerintah perlu sosialiasi dan pendekatan dalam segala keputusan yang diambil tanpa mengecilkan dan membandingkan tingkat keilmuan, kelebihan, kemampuan dan peran serta kharismatik tokoh-tokoh agama pada setiap lapisan masyarakat. Semuanya itu sesungguhnya dapat dilakukan melalui masjid.

Namun kenyataannya terbalik 1800, eksistensi masjid sebagai baitullah yang suci dan aman dimasuki namun dikebiri akan fungsi dan peran masjid itu sendiri bahkan dianggap sebagai bakalan ladang penyebar covid 19 ini. Keadaan ini dapat dirasakan dengan dilakukannya kebijakan pemerintahan seperti melakukan louck (menutup) sarana dan fasilitas public antara lain: pelarangan sementara shalat jum’at, shalat lima waktu dan bentuk kegiatan di masjid dan di kerumunan massa pada masyarakat lainnya. Sehingga hal ini menjadi polemic dan menimbulkan pro-kontra dikalangan masyarakat khususnya jamaah masjid karena dianggap kebijakan yang terlalu terburu-buru tanpa sosialisasi dan pandang bulu ghairu lazim bagi mereka.

Pemerintah agaknya lebih memperhatikan hajat jasmaniyah dari pada hajat rohaniyah umat. Terlihat dari perlakuan yang tidak sama antara pemenuhan akan kebutuhan rohani seperti shalat jumat, shalat berjamaah di masjid/mushalla terlebih pada bulan ramadhan yang masih dikekang dan diawasi dengan ketat namun pemenuhan hajat jasmani dibiarkan bebas tanpa ada batasan jarak didalamnya seperti tetap dibukanya pasar, toko-toko dan pusat perbelanjaan lainnya, sehingga kesannya pemerintah hanya tegas kepada masjid/mushalla namun tidak tegas kepada yang lainnya.Perlu diingat bahwa dengan tidak terpenuhinya kebutuhan rohani umat dapat menyebabkan penyakit yang lebih berbahya dari Covid 19 ini. Pemerintah sejatinya lebih bijak dan selektif mengambil kebijakan dan dapat mengedukasi umat melalui pemberdayaan masjid (membuka kembali masjid/mushalla dengan tetap mengedepankan protap Covid-19) sehingga kebutuhan rohani umat dapat tersalurkan. Masjid harus menjadi clinik(rumah kesehatan) bagi jamaah. Artinya masjid hendaknya dijadikan central information(pusat informasi) kesehatan bagi jamaah apalagi kalau masjid dapat meyediakan salah satu/sebagian asset masjid sebagi darussyifa’ (rumah isolasi) bagi jamah yang terdampak Covid-19. Selain itu, masjid dapat mengajak jamaah lain untuk menunjukkan kepedulian mereka terhadap jamaah yang terdampak dengan membantu supply kebutuhan jamah. Inilah saatnya para aktivis masjid (ta’mir masjid, badan kesejahteraan masjid/BKM, dewan masjid Indonesia/DMI, badan komonikasi dan koordinasi pemuda remaja masjid Indonesia/BKPRMI) membuktikan eksistensi dan perhatian mereka sebagai khadimul umat (pelayan dan pengayom  umat) bukan sebagai sayyidul umat (pemimpin umat) yang harus diikuti tatkala meminta sumbangan dan ajakan gotong royong saja seperti dalam membangun masjid.

Ataukah ini sebagai isyarat bahwa masjid yang menjadi kebanggan umat masih dipandang sebelah mata dan belum siap dan belum mampu untuk diajak berpartisipasi dalam menangani wabah corona ini…?. Wabah pandemi corona ini tidak bisa cepat ditangani dan memutus mata rantai penularannya hanya dengan mengandalkan pemerintah saja, melainkan semua pihak harus mengambil peran dan ikut serta dengan cara membentuk claster-claster kecil yang pengelolaan dan pembinaannya diserahkan kepada masjid melalui gerakan bersama (berjamaah) dalam mengantisipasi dan mencegah menularnya wabah corona. Masjid kiranya dapat dijadikan basis kesehatan umat dan kesehatan umat yang berbasis masjid, karena selama ini masjid selalu dima’murkan oleh umat dan inilah saat dan waktu yang tepat bagi masjid untuk mema’murkan jamaahnya. Sehingga terujud peran dan fungsi masjid yaitu dari masjid sehatkan umat.

Merujuk dari data masjid/mushalla dan data umat Islam tersebut mayoritas penduduk NTB pada umumnya dan Sasak-Lombok pada khusunya adalah mayoritas muslim, ini berarti bahwa tidak menutup kemungkinan sebagian besar dari orang yang terkena dampak (terpapar) dari wabah virus corona ini adalah umat Islam. Itulah sebabnya umat Islam harus memiliki kepekaan terhadap saudaranya yang menghadapi musibah “al-muslimu akhul muslim, idza isytaka udwun tada’alahu saairu jasadihi  bissahariwal humma”. (al-Hadits). Dalam hal ini masjid harus dapat diperankan secara optimal dan maksimal peran dan fungsinya khususnya bagi kesehatan umat.

Nurul ‘Athiqah Baharudin & Alice Sabrina Ismail dalam Communal Mosques: Design functionality towards the development of sustainability for community menyebutkan bahwa masjid merupakan tempat beribadah yang multifungsi bagi umat Islam. Namun dewasa ini kebanyakan masjid lebih fokos pada aspek riayah (bentuk bangunan, ornament, gaya dan teknik desain masjid), dan sedikit sekali masjid yang fokos pada imarah (pemakmuran masjid) baik dari sisi peran dan fungsi masjid itu sendiri seperti fungsi pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan umat. Di negara muslim saat ini peran dan fungsi masjid banyak disalah tafsirkan. Hal ini dapat dilihat dari fungsi masjid modern yang tidak menggambarkan peran berkesinambungan untuk memfasilitasi pengembangan umat di sekitarnya. Hal ini terjadi karena banyak perubahan politik dan sosial yang terjadi di masyarakat modern.

Bashir Said Mohammaed Abul Qaraya dalam The Civic and Cultural Role of the Sheikh Zayed Grand Mosque (Bali, Indonesi;2nd Global Conference on Business and Social Science)mengungkapkan bahwa  masjid memiliki posisi yang luar biasa dalam Islam, masjid dipandang sebagai baitullah dansecara umum memiliki tiga fungsi utama yaitu: fungsi monoteistik, fungsi sosialisasi dan fungsi komunikatif.

Pertama, fungsi monoteistik, merupakan sumber utama dari semua fungsi masjid. Fungsi ini memiliki tiga tingkatan yaitu tingkat individu, tingkat bangsa dan tingkat global. Dan dari ketiga tingkatan tersebut menacakup tiga peran antara lain: peran sekunder (masjid menanamkan tauhid, dan ajaran Islam yang toleran jauh di dalam pikiran dan jiwa muslim), peran bangsa (perannya dalam mempersatukan umat/bangsa seperti: shalat jamaah, shalat Jum’at, sholat Ied, haji, dan umrah) dan peran global (masjid tempat dakwah mengundang orang lain ke Islam dengan hikmat dan dakwah yang bijak).

Kedua, fungsi sosialisasi,fungsi masjid sebagai pusat kegiatan pendidikan, sosial dan dakwah untuk memperoleh pengetahuan dan nilai-nilai moral yang tinggi guna membantu menumbuhkan kepribadian dan moralitas yang baik serta kepekaan sosial yang kuat melalui proses menanamkan nilai-nilai positif seperti: kebijaksanaan, moderitas dan toleransi. Selain itu, ini membantunya menjadi kontributor nyata bagi proses peradaban dan penghasil pengetahuan guna peningkatan kesejahteraan umat.

Ketiga, fungsikomunikatif, masjid menjadi tempat ibadah yang sering dikunjungi, Peran penting masjid dalam komunikasi sosial, membantu menyebarkan cinta-kasih, toleransi dan tolong menolong antar sesame umat. Hal ini juga menjadikan masjid sebagai saluran komunikasi yang aktif dan dapat menghubungkan para pencari pengetahuan dengan duniadan penguasa dengan rakyatnya sehingga peran masjid sebagai platform media massa yang dijiwai oleh kejujuran, kebaikan, dan panggilan untuk kebaikan dan kebenaran.

HIKMAH DIBALIK PANDEMI CORONA

Pandemi corona virus disease (Covid-19) telah banyak menyita perhatian public, mulai dari pemerintah, masyarakat, dokter, para medis ekonom guru dan lainnya. Sehingga berbagai macam asumsi muncul apakah ini merupakan bagian dari balaan hasanan-azaban syadidan. Namun sebagai muslim yang bertauhidharus selalu husnuzzhan terlebih pada taqdir Allah bahwa semua kejadian di dalam penuh dengan hikmah ilahiyahrabbana ma khalaqta hadza bathila”tidak ada sesuatu apapun yang Allah Swt. ciptakan dalam keadaan sia-sia.

Syaikh Mohamed al-Sayed (Imam di Kementerian Wakaf Mesir) dalam tulisannya al-wajhu al-abyadh li wabai kuruna (wajah putih pandemi corona) mengatakan bahwa apakah pandemi Covid-19 meberikan manfaat berupa kebaikan dan keburukan. Dulu sebelum Covid-19 ini muncul sebagian besar dari kita jarang dirumah, istri dan anak terabaikan, siang-malam hanya untuk kerja memenuhi kebutuhan, panggilan azan dari masjid tak dihiraukan, perjumpaan dan jabat tangan jadi hindaran, bebas keluyuran tanpa batasan, seolah-olah itulah nikmat-nikmat Tuhan yang sangat berkesan. Namun setelah pandemi Covid-19 menjumpai kita harus stay at home (tetap tinggal dirumah) bersama istri, anak tercinta yang selama ini terabaikan, work from house (beramal dari rumah) via online sehingga kerinduan  akan perjumpaan, suara azan, serta jabat tangan menjadi kerinduan yang selama ini kita hindarkan. Kita baru menyadari bahwa betapa nikmatnya kumpul bareng istri, anak dan keluarga, betapa rindunnya shalat dimasjid dan jabat tangan sesamamuslim. Sekarang kita diminta stay at home, psyical and social distance dan hindari kerumunan. Ternyata itu semua adalah bagian dari Aala’ (nikmat-nikmat Tuhan) yang selama ini barangkali kita sering abaikan.

Akhirnya, dengan tawakkal (berserah diri) spenuhnya kepada Allah Rabbal Baraya, beristigfar dan muhasabah atas segala khilaf semoga Covid-19 ini menjadi balaan hasanan (ujian kebaikan) bagi kita. Dan  semoga cepat diangkat oleh Allah Jalla Wa Ala dengan selalu berdo’a”Allahuma inna fi himaka, wa tahta liwaka, fahmi himaka, wan syur liwaka, wah fazna min balaika an-nasyiri fi ardika wan nazili min samaika”. ( Ya Allah …kami berada di dalam lindungan-Mu dan dibawah panji-panji-Mu, maka lindungilah kami dengan perlindungan-Mu, dan sebar luaskanlah panji-panji (agama) Mu, peliharalah kami dari bala-bala yang menyebar di bumi Mu, dan yang turun dari langit Mu”.   Wallahu ‘Alamu Bissawab.(*)

COVID19 DAN FOKUS PADA INOVASI UNTUK MENINGKATKAN PENDIDIKAN

Oleh :  ALWI HILIR S,Kom.M.Pd. (Instruktur Laboratorium TIK SMK IMTAQ DARURRAHIM JAKARTA. dan anggota Komunitas Sabuara,a Ndai Mbojo).

Wabah coronavirus memiliki dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya pada pendidikan, menempatkan tekanan khusus pada akademisi dan siswa mereka. Di tengah-tengah banyak ketidakpastian dan informasi yang berubah dengan cepat, kami tahu banyak pendidik bekerja untuk melakukan transisi ke lingkungan kelas virtual, menemukan cara untuk terlibat dengan siswa online dan memastikan mereka memiliki sumber daya yang mereka butuhkan untuk melanjutkan studi mereka. Untuk mencoba dan meringankan tekanan luar biasa yang sedang terjadi di dunia akademis saat ini, Akhir-akhir ini ada sejumlah laporan media yang menyoroti seruan untuk memikirkan kembali secara radikal dalam kebijakan perubahan iklim dalam menghadapi krisis kesehatan dunia saat ini, dan suara-suara dalam komunitas penelitian mengusulkan cara untuk membangun kembali ekonomi kita dengan cara yang lebih bersih dan lebih berkelanjutan .

Tidak dapat disangkal bahwa kita saat ini menghadapi salah satu krisis kesehatan terbesar dalam waktu yang lama. Pertanyaannya adalah; bagaimana ini akan berdampak pada tindakan kita di masa depan? Apakah pandemi ini akan membuat kita merenungkan bagaimana kita memperlakukan planet kita atau kita akan menunda semua tindakan iklim sampai nanti? Bisakah kita keluar dari krisis ini dengan rencana aksi yang lebih kuat untuk menyelamatkan planet ini dan akankah pemerintah berkomitmen untuk kebijakan yang lebih ketat? Hanya waktu yang akan memberitahu.

Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-26 (singkat: COP26), yang dijadwalkan berlangsung pada akhir tahun ini di Glasgow telah ditunda hingga tahun 2021, memberi  waktu tambahan untuk membuat rencana aksi untuk masa depan yang lebih hijau. Salah satu ide yang dilaporkan secara luas untuk mewujudkan hal ini, adalah bahwa pemerintah harus menggabungkan dana talangan untuk bisnis yang terkena dampak COVID-19 dengan insentif atau ketentuan untuk meningkatkan energi bersih dan melakukan perubahan iklim. Pemerintah di seluruh dunia telah memikirkan kembali struktur tertentu, seperti rantai distribusi, memastikan bahwa orang dapat membeli makanan dan barang-barang penting lainnya, dan negara-negara juga bekerja sama dengan produsen nasional untuk memproduksi barang yang sebelumnya diimpor secara lokal lagi, seperti alat pelindung untuk perawatan kesehatan profesional dan ventilator. “Saya pikir saat krisis ini adalah kesempatan bagi pemerintah untuk merenungkan bagaimana cara hidup kita yang boros (konsumsi, produksi massal) berdampak pada dunia dan memiliki dampak negatif terhadap lingkungan,Untuk saat ini, kita semua harus bekerja bersama untuk mendukung yang paling rentan dalam masyarakat kita dan setelah itu membangun kembali perekonomian kita.(*)

Tata Tertib Zikir/Wirid Selesai Shalat Lima Waktu dalam Tradisi Nahdlatul Wathan:  Belajar Langsung dari Maulanassyaikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid
Oleh: Santri Nahdhaty (H. Fahrurrozi Dahlan Asnawi. QH.
Sekjend PB NW.)
Tradisi wirid atau zikir atau doa dalam Nahdhatul Wathan dapat dipetakan menjadi Empat kategori:
Zikir /wirid Sirr /khofi (tanpa suara)
Zikir Jahar/Jaaly (Nyaring-Bersuara.
Zikir Fardy: Zikir sendirian
Zikir Jamaiy: Zikir berjamaah-bersama-sama.
Masing-masing kategori tersebut dapat diterapkan sesuai dengan situasi dan kondisi pewirid-pengawal yang diajarkan oleh Maulanassyaikh kepada murid-murid beliau (termasuk kepada al-faqir langsung)
Al-Faqier mencoba mengingatkan kembali tradisi Maulanassyaikh dalam wirid harian beliau selesai shalat lima waktu,  berikut al-Faqier mencoba mencari dalilnya dari al-Qur’an atau dari Hadis nabi dan dari Aqwal para ulama.  Sehingga dengan cara demikian dapat menambah keyakinan kita akan apa yang diterapkan oleh Maulanassyaikh tetap berdasarkan kepada  Al-quran-Hadis dan pendapat para ulama Aswaja.
Syahdan. Setelah salam, Maulanassyaikh  Duduk bersila dan tetap membelakangi makmum, kemudian membaca doa dan wirid berikut ini:
Pertama: Membaca Istighfar sebanyak tiga kali.
استغفر الله العظيم لي ولوالدي ولمن له حق علي ولجميع المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات(٣x)
Kedua: membaca lafazh:
لا إله إلا الله وحده لا شريك له الملك وله الحمد يحي ويميت وهو على كل شيء قدير
Bacaan ini berdasarkan pada hadist Mughirah bin Syu’bah. Ra.
وعن المغيرة بن شعبة رضي الله عنه ان النبي صلى الله عليه وسلم كان يقول فى دبر كل صلاة مكتوبة لا إله إلا الله وحده لا شريك له الملك وله الحمد يحي ويميت وهو على كل شيء قدير  أللهم لا مانع لما اعطيت ولا معطي لما منعت ولا ينفع ذالحد منك الجد (متفق عليه)
Nabi selesai shalat lima waktu selalu membaca doa ..laa ila…
Ketiga: Membaca Doa Allahumma antassalam.
اللهم أنت السلام ومنك السلام واليك يعود السلام فاحينا ربنا بالسلام وأدخلنا الجنة دار السلام تباركت ربنا يا ذا الجلال والإكرام
 Ini bersumber dari hadis:
 عن ثوبان رضي الله عنه قال كان النبي صلى الله عليه وسلم اذا انصرف من صلاته استغفر ثلاثا وقال اللهم انت السلام ومنك السلام تباركت ياذا الجلال والإكرام.( رواه مسلم)
Keempat: kemudian membaca
سمعنا واطعنا غفرانك ربنا واليك المصير
Kelima: membaca Surat al-Fatihah:
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم
الفاتحة.  ١x
Keenam: membaca Ayat Kursi.
الله لا إله إلا هو الحي القيوم….. الخ
Ini bersumber dari hadis Abi Umamah:
عن ابى أمامة رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من قرأ آية الكرسى دبر كل صلاة لم يمنعه دخول الجنة إلا الموت. (رواه النسائي وصححه ابن حبان)
Siapa saja yang membaca ayat kursi setiap selesai shalat tak ada yang menghalanginya masuk syurga kecuali mati.
Ketujuh: Membaca ayat Due (dua ayat di akhir surat attaubah)
لقد جاءكم رسول من انفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رؤوف رحيم.
فان تولوا فقل حسبي الله لا اله الا هو عليه توكلت وهو رب العرش العظيم )(٧x)
Hal ini bersumber dari hadis:
من قرأ آيتين من آخر سورة التوبة كفتاه
Sesiapa yang membaca doa  pada akhir surat attaubah,  maka Akan tercukupkan dan akan dipelihara.
Kedelapan: Membaca doa:
اللهم اعنى على ذكرك و شكرك وحسن عبادتك (٣*)
Kesembilan:  membaca:
اللهم لا مانع لما اعطيت ولا معطي منعت ولاراد لما قضيت ولا ينفع ذا الجد منك
Berhujjah dari hadis: Muaz bin Jabal.
وعن معاذ بن جبل ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال له اوصيك يا معاذ لا تدعن دبر كل صلاة ان تقوك اللهم اعنى على ذكرك وشكرك وحسن عباتك (رواه احمد وابوا دوود النساءى)
 Kesepuluh : membaca:
ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب ومن يتوكل على الله فهو حسبه ان الله بالغ امره قد جعل الله لكل شيء قدرا..
Kesebelas: baru membaca zikir:
إلهي يا ربي
سبحان الله ٣٣x
الحمد لله ٣٣x
الله اكبر  ٣٣ x
Keduabelas: setelah itu membaca
لا إله إلا الله وحده لا شريك له الملك وله الحمد يحي ويميت وهو على كل شيء قدير
Mencukupkan seratus-tamamul miah)
Ketiga belas: membaca istighfar
استغفر الله العظيم الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه
Keempat belas: .membaca
 افضل الذكر
لا إله إلا الله ٣ x
لا إله إلا الله ٣٣-١٠٠  x
Kelima belas: membaca wirid penutup
كلمة حق عليها نحي عليها نموت وبها نبعث ان شاء الله تعالى من الآمنين بمنه وكرمه تعالى ان الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما.
Keenambelas : Berdoa dengan doa yang diinginkannya. Secara berjamaah dan makmum mengamini doa imam.
Khusus untuk shalat shubuh:
Maulanassyaikh menambahkan wirid beliau dengan tiga tahapan.
Pertama: Doa dan wirid setelah selesai shalat seperti di atas.
Kedua: Doa dan Wirid Thariqah Hizib NW.
Ketiga: Doa Umum.
يا لطيف ١٢٩  x
الا يعلم من خلق وهو اللطيف الخبير ١٢٩ x
يا مبدئ يا خالق ١٠٠ x
 يا وهاب يا رزاق ١٠٠ x
وهب لى يا وهاب علما وحكمة
وللرزق يا رزاق كن لى مسهلا
وبالخير يافتاح فافتح وبالهدى
وبالعلم يا عليم كن لى مفضلا…. ٢٧ x
Demikian tata cara wirid ala Maulasyyaikh semoga kita dapat mengamalkannya dengan yakin ikhlas istiqomah. Semoga Corona ini segera berlalu… Amin.

EMPAT BELAS HIKMAH KEMULIAAN PUASA DALAM KAJIAN SYAIKH ALI AHMAD AL-JURJAWY DALAM KITAB HIKMATUTTASYRI’ WA FALSAFATUHU.

Oleh: H. Fahrurrozi Dahlan.QH.
(Pegiat Ngaji Literasi Kitab Kuning-GB UIN Mataram)
**************************
Pembaca yang budiman,
Suasana Ramadhan saat ini memang berbeda dengan Ramadhan yang telah kita lalui tahun-tahun sebelumnya. Ramadhan saat ini adalah Ramadhan kontemplasi dan meditasi diri sebulan suntuk hanya berinteraksi dengan anggota hati yang menyatu dalam jiwa dan ragawi yaitu keluarga inti kita masing-masing karena ada sebab musabbabnya berupa wabah penyakit yang belum terdeteksi obatnya. Itu dia si Covid-19. Ibadah hanya di rumah saja, ber-jum’at di rumah, bertaraweh di rumah, bahkan nanti beriedul fitri di rumah, jika Corona ini masih terus menghantui dan menjangkiti. Suasana inilah yang mengharupilukan diri kita saat ini. Namun kita tetap optimis bahwa Covid 19 ini pasti berlalu.

Upaya mengisi kegiatan di rumah, penulis mengajak para pembaca untuk merefleksikan diri dalam membaca analisa-analisa ilmiah para ulama terkait dengan mutiara hikmah yang terkandung dalam ibadah puasa.
Kali ini penulis mengajak pembaca untuk sama-sama berselancar sambil berenang dalam lautan analisa keilmuan Syaikh Ali Ahmad al-Jurjani Salah seorang ulama Al-Azhar yang sangat mumpuni keilmuannya dan kesalehannya.
Penulis berusaha menerjemahkan dan mengomentari seperlunya dari tulisan beliau yang secara utuh tertuang dalam kitab Hikmatuttasyri’ wa falsafatuhu, Beirut:Dar al-Fikr, 1414/1994, cet. 1. Jilid I, mulai dari halaman 132-138 sebagai berikut:
فرض الصوم فى شهر شعبان المعظم من السنة الثانية من الهجرة والحكمة فى مشروعيته من جملة وجوه فهى :

اولا: شكر الله تعالى من حيث كونه عبادة وقد بينا فى غير هذا الموضوع أن العبادة مطلقا شكرا من العبد لمولاه على النعم التى لا تحصى( وإن تعدوا نعمت الله لا تحصوها : سورة مريم : ٢٦)
Puasa Ramadhan awal mula diwajibkan pada bulan Sya’ban tahun kedua setelah Nabi Muhammad Hijrah ke Madinah. Dan Hikmah Kemuliaan dan keagungan pensyariatan Puasa dapat dilihat dari berbagai segi:

Pertama: Refleksi Kesyukuran kepada Allah swt ditinjau dari segi substansi Ibadah itu. Kami sudah jelaskan pada kajian sebelumnya bahwa ibadah itu secara muthlak adalah karena menampakkan syukurnya Hamba Kepada Allah swt atas limpahan beraneka nikmat yang tak terhitung dan tak terhingga jumlahnya. Sesuai Firman Allah. Sekiranya Anda Sekalian menghitung jumlah nikmat Allah swt niscaya tak mampu kalian untuk menghitungnya. (Q.S. Maryam: 26).
وثانيا : لأجل أن يعلمنا الشارع الحكيم كيف نحافظ على أداء الأمانة ولا نضيعها أبدا ولا نفرط فيها. وذلك الأمر بالأمساك عن الطعام والشراب وما فى حكمهما بياض النهار وهو بمنزلة أمانة أودعها الله تعالى ذمتك. وهذه الأمانة تقتضى فى المحافظة عليها أتعابا ومشاقة كثيرة تجهد النفس وتتعب الأعضاء فاذا ما خلا الإنسان بنفسه فى مكان منفرد وقد بلغ به الجوع والظمأ جهد الطاقة ففى هذه الحالة يمكنها أن يأكل ويشرب ولا رقيب عليه فإذا ما أمرته نفسه الأمارة بالسوء أن يأكل ويشرب وحسنت له ذلك قائلة: كل واشرب فليس عليك رقيب وأطاعها فقد خان الأمانة وحقت عليه كلمة العذاب وانت تعلم مقدار عقوبة الخائن فى الدنيا والآخرة.
KEDUA: Agar Allah mengajarkan kepada kita bagaimana cara kita menjaga amanah dan cara menunaikannya dan juga agar tidak menyianyiakan amanah itu dan tak boleh semena-mena dalam menjalankannya. Perintah itu berupa menahan diri dari makan dan minum dan dengan segala rangkaian hukumnya di siang hari yang ini berposisi sebagai amanah yang Allah titipkan di atas tanggungan dan tugasmu. Amanah ini menghendaki untuk dijaga meski melelahkan dan banyak memberatkan yang dapat membebani jiwa dan melelahkan anggota badan. Jika sekiranya seorang menyendiri di tempat sepi dan dia merasa lafar dan sangat dahaga, Dalam kondisi ini mungkin saja dia makan dan minum tak ada yang mengawasinya. Jika nafsu ammarah yang jahat itu menyuruh untuk makan minum dan dia merayu untuk mengatakan :” makan aja minum aja toh tak ada yang mengawasimu”. Lantas dia mentaatinya. Sungguh dia telah mengkhianati amanah yang telah diberikan dan sangat pantas mendapatkan siksaan. Sementara Anda Tahu seberapa ukuran besarnya siksaan bagi orang yang khianat baik di dunia maupun di akhirat.

HIKMAH KETIGA:

والحكمة الثالثة:
أن البهيمة وهى التى لا هم لها إلا الأكل والشرب وما فى حكمهما من تناول الملاذ وما تصبو اليه البهائم من مأكل ومشرب ونكاح وغير ذلك. فإذا ما حبس الإنسان نفسه البهيمة عن كل هذه الملاذ التى هى شأن البهائم ثم صفت نفسه وخلصت روحه من صفة البهيمية صار الى الملكية أقرب. وفى هذه الحالة يكون ما يؤديه من العبادات الأخرى يؤديه بإخلاص نفس خلصت من شوائب الريب والغير. وإنك أيضا تجد الحكماء والفلاسفة وأهل الزهد والعبادة فى جميع الملل والنحل إذا أرادوا تأليفا فى علم أو أداء عبادة حبسوا البطن عن الإكثار من الطعام حتى تكون لهم قدرة فى تأدية ما يريدون..
HIKMAH KETIGA:
Sesungguhnya Binatang yabg tak memiliki hasrat lain kecuali makan dan minum dan segala apa yang berkaitan dengan keduanya itu berupa memperoleh kenikmatan dan apa yang dibutuhkan oleh binatang-binatang tersebut baik makanan, minuman, kawin dst. Apabila manusia mampun mengendalikan nafsu kebinatangannya tersebut dari segala kelezatan yang sesungguhnya sama dengan kebutuhan binatang kemudian jiwanya bersih, suci ruhnya dari sifat-sifat kebinatangan sehingga berubah menjadi sifat kemalaikatan yang lebih dekat menuju itu.
Dalam kondisi seperti ini apa yang dibutuhkan dalam penunaian ibadah-ibadah yang lain akan tertunaikan dengan keikhlasan jiwa suci dari gangguan-gangunguan kebimbangan dan kebingungan.
Dan sesungguhnya juga banyak Anda temukan Para ahli hikmah Ahli Filsafat Ahli ibadah Ahli Zuhud di semua agama dan penganut aliran keagamaan sekiranya mereka ingin menulis karya ilmu pengetahuan atau mau melaksanakan suatu ritual agama mereka mengendalikan perutnya dari banyak makan dan minum sehingga akhirnya mereka memiliki kemampuan untuk dapat melakukan apa yang mereka inginkan.

Intinya: Perut yang tidak terlalu kenyang oleh makanan dan minuman dapat menenangkan mata hati untuk tenang beribadah.
Perut dalam kondisi tidak terlalu kenyang akan mempercepat nalar logis berpikir bagi siapa saja yang ingin menuangkan ide-ide cerdasnya dalam bentuk karya tulis, buku, artikel,dll.
Orang yang disebut ahli hikmah ahli filsafat dan ahli ibadah adalah orang yang mampu mengendalikan isi perutnya dari makan minum yang berlebihan.

HIKMAH KEMPAT:
الحكمة الرابعة: إن الأطباء أشاروا وقالوا إن الإنسان لا يأكل بجشع ولا يكثر من الطعام لأن ذلك يحدث للمعدة الداء العضال كما ورد : المعدة بيت الداء والحمية رأس الدواء واعط كل بدن ما عودته : وقال بعض الحكماء من أكل كثيرا شرب كثيرا ومن كان كذلك نام كثيرا ومن كان كذلك ضاع عمره.
وإنك ترى الطبيب اذا اراد أن يعطى مريضا الدواء أخلى جوفه من كل شيء ثم باشر التطبيب أو أعطاه طعاما خفيفا على المعدة كاللبن مثلا فالصوم من حيث امساك عن الطعام والشراب فيه صحة للبدن.
Hikmah keempat: Para Dokter, ahli medis mengeluarkan resep dan berkomentar bahwa sesungguhnya manusia tak boleh makan dengan rakusnya dan tak boleh makan terlalu banyak. Karena makan secara rakus dan banyak menjadi penyebab munculnya banyak penyakit berbahaya terhadap lambung /perut. Sebagaimana dijelaskan dalam Hadis. Perut adalah rumahnya penyakit sementara perut yang kosong pangkal obat kesehatan maka berikanlah setiap anggota badanmu itu sesuai dengan takarannya dan porsinya.
Ahli hikmah berpendapat siapa saja makannya banyak minumnya banyak maka akibatnya banyak tidur dan siapa saja yang banyak tidur tentu umurnya sia-sia tak bermanfaat banyak.
Sesungguhnya Anda bisa lihat prakteknya dokter dan tenaga medis lainnya, Dokter kalau mau memberikan pasiennya obat maka dia kosongkan tenggorokannya dari segala sesuatu baru dia melakukan diagnosa penyakit pasiennya. Atau memberikan makanan ringan untuk persiapan lambungnya seperti minum susu. Maka Puasa dari sisi ini adalah gambaran tentang penahanan diri dari makan dan minum sebagai bukti memberikan kesehatan terhadap jasad-jasmani.

والحكمة الخامسة:
هى أضعاف شهوة الجماع تلك الشهوة التى يستوى فيها الإنسان والحيوان والتى تجد النفس من مقاومتها مشقة فإذا كان الإنسان فقيرا مثلا ولا قدرة له على الزواج وخاف على نفسه الوقوع فى جريمة الزنا فإنه يصوم حتى تضعف الشهوة وترفع عنه مؤنة مصاريف الزواج ومن أجل ذلك قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء.

HIKMAH KELIMA:
yaitu berlipatgandanya dan memuncaknya syahwat seksualitas. Syahwat seksual itu tak ada beda antara manusia dan binantang dan apa yang ditemukan oleh nafsu dari kesulitan untuk mengatasinya. Jika sekiranya manusia itu miskin papa yang tak mampu untuk menikah dan dia khawatir jatuh ke lembah perzinahan maka terapinya adalah puasa karena puasa dapat mengurangi syahwat dan dapat mengurangi beban hasrat pernikahan. Demikianlah apa yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad Saw. Duhai para pemuda siapa saja yang mampu menikah menikahlah karena menikah dapat menjaga dari pandangan mata. Jika tidak mampu berpuasalah karena dapat menjadi obat.

PUASA RAMADHAN MENGAJARKAN KITA UNTUK MENJAGA POLA MAKAN YANG SEHAT AGAR USIA MENJADI PANJANG.
PUASA ADALAH TERAPI PENGEKANG HAWA NAFSU SEKSUALITAS MAKA BERPUASALAH DENGAN PENUH KEIMANAN DAN KEIKHLASAN KARENA ITU MENJADI PENJAGA IMANITAS DAN IMUNITAS KITA DARI PENYAKIT ROHANI DAN JASMANI.

والحكمة السادسة:
إن الإنسان إذا صام وذاق مرارة الجوع وحصل عنده عطف ورحمة على الفقراء والمساكين الذين لا يجدون من القوت ما يسدون به الرمق ولفد ورد أن سيدنا يوسف عليه الصلاة والسلام كان لا يأكل ولا يتناول طعاما إلا إذا إشتد عليه الجوع لأجل أن يتذكر البائس الفقير والمحتاج المضطر.
ولقد ورد فى فصل الصوم وفوائد من الأحاديث وأقوال الحكماء ما لا يعد ولا يحصى وحيث إن مالا يدرك كله لا يترك كله فهاك بعض ما جاء منها قال رسول الله صلى الله عليه واله وسلم من جاع بطنه عظمت فكرته وفطن قلبه. وقال لقمان لابنه وهو يعظه يا بني إذا إمتلأت المعدة نامت الفكرة وخرست الحكمة وقعدت الأعضاء عن العبادة. وقال سليمان الدارانى احلى ما تكون لى العبادة إذا التصق ظهرى ببطنى وقال بعض ألاطباء الدواء الذى لا داء معه لا تأكل الطعام حتى تشتهى وهذا مأخوذ من معنى الحديث الذى قاله النبى صلى الله عليه وسلم للطبيب الذى ارسله المقوقس ضمن الهدية اذ قال : نحن قوم لا نأكل الا عن جوع وإذا أكلنا لا نملك نفسنا من الطعام. ومن ذلك رجع الطبيب الى المقوقس وقال له لقد ارسلتنى الى رجل جمع الطب فى كلمتين. وقال بعض السلف الصالح إذا شبع الإنسان خرست الحكمة وقعدت الأعضاء عن العبادة ولا ينال الإنسان صفاء القلب ولا يدرك لذة العبادة وحلاوة المناجاة والتأثر بالذكر الفكر الا الجوع. ولقد أجمع الأطباء فى هذا العصر على أن الصوم من أنجع الأدوية لمن يصاب بمرض السكر فانظر حكمة الشارع الحكيم التى تخفى على كثير من الناس.
Hikmah Keenam:
Sesengguhnya manusia jika dia berpuasa pasti dia merasakan pahit getirnya lapar maka muncul rasa kasihan dan empati terhadap pakir miskin yang tak mempunyai makanan yang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Sungguh telah ada keterangan dari Hadis bahwa Nabi Yusuf As beliau tak makan tak minum dan tak makan-makan yang lain kecuali kalau sudah kelewatan laparnya karena semata-mata ingin mengingat bagaimana rasa laparnya orang yang miskin papa orang yang sangat membutuhkan bantuan uluran tangan.
Dan juga sudah ada keterangan dari banyak hadis dan ungkapan ahli hikmah tentang faidah yang tak terhitung saking banyaknya penjelasan itu. Tetapi secara ringkas kita katakan bahwa segala sesuatunya jika tak bisa diraih semuanya jangan tinggalkan semuanya.
Maka dari itu ini sebagian dari apa yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw: Siapa saja yang lapar perutnya Fikirannya cemerlang dan Hatinya tenang. Nasihat Luqman Kepada anaknya: Duhai Anakku jika perut-lambung kekenyangan kepenuhan, maka pikiran anda tumpul/ tidur tak bisa berkreasi, Hikmah kearifanpun terkekakang Anggota tubuh merasa malas untuk beribadah. Syaikh Sulaiman Addaroni berucap Ibadah yang paling indah dan manis saat melaksanakannya jika punggungku bersentuh dengan perutku (lapar). Para Ahli Kedokteran berpendapat Obat yang tak ada penyakitnya adalah Anda tidak makan sampai Engkau merasa kenyang. Ini dikutip dari makna hadis nabi yang diucapkan oleh nabi kepada seorang dokter yang jadi utusan raja Muqauqis sebagai barter hadiah yang dia kirim kepada Nabi. Kala itu Nabi berucap: Kami Adalah Sekelompok kaum yang tak makan kecuali sudah lapar tapi jika kami sudah makan kami bisa menahan diri dari makanan itu (tidak terlalu kenyang). sebab itu baliklah sang dokter ke Raja Muqauqis sang dokter berucap: Duhai Raja Engkau telah mengutus aku ke seorang yang menghimpun teori kedokteran pada dua kalimat: (Makan saat Lapar-Jika Makan tak terlalu kekenyangan).
Sebagian ulama salaf bernasihat: Jika Manusia kekenyangan Hikmah kearifan terkekang Anggota Tubuh malas bangun ibadah dan manusia tak akan mempeeoleh kesucian hati dan juga tidak memperoleh kelezatan beribadah dan manisnya munajat juga efek dari zikir dan fikir kecuali dengan perut dalam keadaan lapar.
Sungguh telah konsensus para ahli kesehatan modern bahwa puasa adalah obat yang paling mempan bagi orang yang kena penyakit gula/deabetes. Lihatlah hikmah Allah swt yang maha bijaksana yang kebanyakan manusia tak bisa mengungkapkan rahasia yang tersembunyi dalam syariatnya.

Intinya:
PUASA MENCERDASKAN AKAL LOGIKA BERPIKIR.
PUASA MENENTERAMKAN MATA BATHIN MENUJU KEBENINGAN MATA BATHIN
PUASA MENYINGKAP TABIR-TABIR HIKMAH ILAHIYYAH YANG TERHALANG OLEH KOTORAN DOSA DAN NODA.
PUASA ADALAH OBAT MUJARRAB BAGI SEGALA PENYAKIT WABIL KHUSUS PENYAKIT DEABETES.

HIKMAH KETUJUH
الحكمة السابعة:
إن فى الصوم تقوية الإرادة وتغليب حكم العقل على الشهوة فإذا ارتاض الإنسان بذلك ارتياضا تاما واصبح السلطان للعقل لا للهوى كان ذلك من قوة العزيمة ما تصير به من خير الناس

Hikmah Ketujuh:
Sesungguhnya pada esensi puasa itu adalah sebagai peneguh dan penguat motivasi dan komitmen dan juga menjadi pemenangan akal logika dari gangguan syahwat. Jika manusia tetap terlatih dengan latihan yang sempurna maka dia menjadi raja terhadap akal pikirannya bukan oleh nafsunya. Yang demikian ini akan menjadi penopang yang kuat menuju manusia yang paripurna dan sempurna.

الحكمة الثامنة:
مراقبة الله تعالى والحياء منه فإنك كلما اشتهيت شيئا وأنت صائم تركته لله تعالى فتتربى فيك ملكة المراقبة لله عز وجل ويقوى فيك الأحساس بعظيم ألوهيته وملاحظة اطلاعه عليك ولو تملكت هذه المراقبة نفوس الناس جميعا لما وجد شيء من الجرائم ولما استعبد القوى الضعيف ولأصبحت الدنيا تماثل الفردوس فى هنائها وصفائها وطهارة القلوب فيها.

Hikmah kedelapan:
Puasa adalah gambaran pemantauan dan tilikan Allah swt dan ada rasa malu kepada-Nya. Acapkali Anda bersyahwat kepada sesuatu sementara Anda sedang berpuasa. Anda pasti tinggalkan karena Allah swt sehingga Anda tertempa dan terdidik berupa kepemilikan kepengawasaan Allah dan terpatri kuat rasa penghormatan dan pengagungan kemahaesaan Allah dan berikut pengawasan-Nya terhadap gerak gerikmu.
Jika semua jiwa manusia memiliki pengawasan Allah ini, Maka tak akan ditemukan kriminalitas sedikit pun dan manakala orang yang kuat memberdayakan orang yang lemah, Niscaya dunia ini tak ubahnya seperti Syurga Firdaus yang serba enak, bersih, suci hati dari segala penyakit hati.

الحكمة التاسعة:
التذكير بحال الفقرآء حتى تواسيهم وتشفق عليهم وليس يعرف حال المضطر الا من أصابه الإضطرار ولا يحس بما عند الجائع الا من كان جائعا ولا يدرك الألم ذوقا ووجدانا الا من كان فى شدة وقد قيل لبعض الملوك الذين يهمهم أمر الرعية لماذا تجوع؟ فقال لأذكر الجائعين.

Hikmah Kesembilan:
Puasa sebagai pengingat akan kondisi sosial orang-orang pakir miskin sehingga Anda merasa senasib sepenanggungan dengan mereka dan Anda merasa empati dan peduli atas kondisi mereka. Maka tak akan diketahui kondisi susah kecuali bagi orang yang ditimpa kesusahan juga tak akan merasakan pedihnya penyakit kecuali bagi siapa saja yang merasakan pedihnya penyakit itu.
Ada ungkapan pertanyaan kepada sebagian penguasa? kenapa anda berlapar-lapar? Sang Raja itu menjawab. Biar saya ingat dan merasakan bagaimana orang yang lapar itu merasakan laparnya.

Intinya:
PUASA MENGAJARKAN KITA AKAN PENGAWASAN ALLAH.
siapa saja yang selalu merasakan pengawasan Allah dalam hidupnya maka tak ubahnya dia telah menciptakan Syurga Firdaus di lembaran kehidupannya.
Puasa mengajarkan semangat empati sosial untuk berbagi kepada sesama.
Puasa mengajarkan kita kearifan sosial yang membawa kebaikan untuk semua golongan.

HIKMAH KESEPULUH

الحكمة العاشرة :
معرفتك نعم الله تعالى معرفة صحيحة فإن الشيء لا يعرف حقا الا عند فقده ولذلك كان المريض يعرف من فضل الصحة مالا يعرفه الصحيح. فالأشياء لا تزال مغفولا عنها حتى إذا فقدت عرفت قيمتها فالنفس لا تعرف مقدار ما كانت فيها من الملاذ إلا إذا حبست عنها حبسا طبيعيا أو صناعيا.
Pengetahuanmu akan nikmat Allah swt dengan pengetahuan yang sebenar-benarnya. Sebab sesuatu itu tak diketahui esensi utamanya kecuali di saat tidak adanya. Sama halnya dengan orang yang sakit dia paling sangat mengerti hakikat keutamaan sehat dibanding apa yang diketahui oleh orang yang sehat sekalipun. Segala sesuatu itu selalu dilupakan bahkan dilalaikan baru terasa fungsinya dan harganya manakala sudah tak ada lagi. Jiwa-Nafsu Syahwah ini dia tak akan mengetahui ukuran apa yang ada pada kenikmatan itu kecuali jika dikekang ditahan baik secara alami maupun direkayasa.

الحكمة الحادية عشرة:
معرفة ضعفك وحاجاتك ومن عرف ضعفه واحتياجه زالت عنه الكبرياء الكاذبة التى لا تليق بمن إذا أخرت عنه شربة ماء ذل وضعف وزالت منه الأنانية التى يريد بها أن يكون إلها لا عبدا وما أضعف عبد ينفعل من أجل أكلة أو شربة فيعرف الأنسان قدره بهذا. رحم الله أمرأ عرف قدره فيتأدب مع الله ومع خلق الله.
Pengenalanmu akan kelemahan dan segala hajat kebutuhanmu. Siapa saja yang mengetahui kekurangan dan kelemahannya berikut kebutuhannya, pasti hilang rasa keangkuhan dan kesombongan juga kebohongan yang tak pantas. Gambaran kelemahan seseorang tatkala ditunda untuk diberikan minum seteguk air niscaya dia merengek dan lemah minta untuk dikasihani. Mengetahui hakikat kelemahan dirinya dapat menghilangkan sifat ananiyyah (egoisme) diri kayaknya kepingin menjadi tuhan bukan justru menjadi hamba. Alangkah lemahnya hamba dia merintih hanya sebab sesuap makanan atau seteguk air. Disini diketahui ukuran kelemahan manusia. Sungguh Allah merahmati seseorang yang mengetahui ukuran dan takaran dirinya sendiri kemudian dia beradap sopan santun bersama Allah swt dan juga sesama manusia.

Intinya:
PUASA MENGAJARKAN KITA AKAN KELEMAHAN DIRI KITA.
siapa saja yang selalu merasa dirinya tak kuasa atas segala sesuatunya melainkan atas kehendak Allah maka dialah hamba Allah yang tak akan pernah merasa sombong angkuh dalam segala dimensi kehidupannya.

Puasa mengajarkan hakikat kehidupan yang tak bisa hidup dengan keegoisan diri melainkan hidup dengan penuh adab etika bersama Allah dan bersama manusia yang lain.

HIKMAH KEDUA BELAS

الحكمة الثانية عشرة:
ان النفوس متى قويت بشهواتها طغت : إن الإنسان ليطغى أن رآه استغنى(العلق: ٦-٧) فاذا منعت عنها شهواتها خمدت ومتى خمدت رجعت الى الله تعالى وأحست به احساسا صحيحا وكذلك تجد نفس المريض راجعة الى الله تعالى متعلقة به بخلاف نفس الصحيح وتجد فرقا كبيرا بين نفس الفقير الهامدة الخامدة التى ترجع الى الله دائماً وبين نفس الملك والوزير وذى الجاه والثروة. ودواء النفوس وسعادتها إنما هو فى التعلق بالله لأنه لا غنى عنه( يأيها الناس أنتم الفقرآء الى الله والله هو الغنى الحميد. (سورة فاطر : ١٥)

HIKMAH KEDUA BELAS:
Sesungguhnya jiwa manakala dia kuat dengan dorongan syahwatnya pasti dia lalai dan lalim. Allah menjelaskan, (sesungguhnya manusia pasti melampui batas karena dirinya merasa serba cukup. Q. S. Al-alaq: 6-7). Jika dirinya dihalangi oleh nafsunya maka dia (خمدت): melemah, mereda, surut, membasmi, surut, padam, kabur, mati. tatkala jiwa itu melemah, padam pasti akan kembali kepada Allah swt dan merasakan kehadiran Allah sebenar-benarnya.
Begitu juga halnya Anda jumpai jiwa yang sakit yang kembali kepada Allah pasti selalu resah dan selalu bergantung pada dirinya. Beda halnya dengan jiwa yang sehat. Anda bisa temukan perbedaan yang besar nan jelas antara jiwa yang pakir, lemah dan padam yang selalu mengeluh dan berkeluh kesah kepada Allah dan antara jiwa sang raja dengan menterinya dan jiwa orang yang punya kuasa dan wibawa.
Obat jiwa dan kebahagiannya sesungguhnya pada posisi bergantung semua hal dengan Allah swt, sebab itu tak ada bandingannya. Firman Allah swt Duhai Manusia Kalian semua fakir kepada Allah dan Allah swt maha kaya dan maha terpuji.
INTINYA: Jiwa itu ada yang sakit dan jiwa yang sehat. Jiwa yang sakit pasti merasa lemah tak berdaya tak punya motivasi. Sementara jiwa yang sehat pasti tenang bahagia dan penuh optimisme. Puasa adalah terapi menuju jiwa yang sehat dan bahagia.

الحكمة الثالثة عشرة :
إن فى الصوم تشبيها بالروحانيين من ملائكة الله المقربين فلا تكون مسغولا بنفسك طول يومك اذا كنت صائما بل با الله تعالى فتكون ذاكرا ومسبحا ومقدسا أو مصليا أو قارئا أو مفكرا فى خلق السموات والأرض أو مصالح العباد. وعلى كل حال فالصيام ليس لنفسه وإنما هو لربه فالصوم شبح وروح فاجتهد أن تفوز من الصوم بسره وروحه لا بشبحه وظاهره وعلى قدر ما تبتعد عن شهواتك والأشتغال بنفسك كالأطفال والجهال على ما تلتحق بالملأ الأعلى وعلى قدر ما تكون مستعبدا للشهوات منغمسا فى حمأة الماديات تكون المناسبة بينك وبين الشياطين وبقدر المناسبة يكون الإنجذاب بين المتنافسين.
HIKMAH KETIGA BELAS:
Sesungguhnya pada esensi puasa itu menyerupai dua ruh-ruh dari para malaikat Allah swt yang sangat dekat dengan Allah. Maka jangan anda sibuk dengan diri anda sendiri, nafsu anda sendiri selama anda berpuasa sepanjang harimu akan tetapi sibukkan dirimu dengan Allah swt. Jadilah dirimu pengingat Allah, Pemuji Allah, Pensuci, peshalat, pembaca, pemikir atas segala ciptaan langit dan bumi atau pemikir kemashlahatan manusia. Intinya adalah puasa bukan untuk yang puasa semata namun sesungguhnya untuk Allah swt.
Puasa itu bagaikan (Syabakhun): roh, momok, hantu, bayangan dst dan juga RUH, jiwa yang suci bersih. Maka berusahalah agar Anda berhasil dari puasanya dengan memperoleh rahasianya dan ruh suci substansinya bukan dari momoknya yang menghantui dan menakuti maupun yang membayang-banyangimu secara zahir.
Sebatas ukuran Anda menjauhi nafsumu dan sibuk dengan nafsumu (seperti anak kecil atau orang yang tolol) Maka sebesar itulah ukuran anda berhubungan bathin atau kedekatanmu dengan Allah yang maha tinggi.
Sebatas ukuran anda menghamba terhadap nafsumu tenggelam dalam dunia materi maka anda persis sama dengan diri anda dengan syaithan.
Sebatas ukuran kesesuaian Anda itu maka pasti ada ketertarikan untuk berkompetisi dengan para kompetitor yang lain.

PUASA SEPERTI BENINGNYA JIWA DAPAT MELEJITKAN POTENSI MENUJU POTENSI MALAIKAT BAHKAN POTENSI SIFAT KEILAHIYAN.

الحكمة الرابعة عشرة :
ما فى الصوم من الفوائد الطبية الجليلة فإن المعدة بيت الداءالحمية رأس الدواء وكل من الأعضاء يجب أن يستريح وقتا من الأوقات فلماذا لا تستريح اامعدة كما يستريح غيرها. وقال بعض الأطباء إن الصوم أمان من كثير من الأمراض المزمنة والمنتقلة ولا سيما السل والسرطان الجلدى والدملى الذى فشا فى أوربا جدا وذهب ضحيته ألوف كثيرة فى سنة واحدة أخذا من الإحصائيات الأخيرة فى بارس. اھ.

HIKMAH KEEMPAT BELAS:
Pada substansi ibadah puasa berupa faidah yang sangat jelas menyehatkan. Sejatinya Perut itu markas penyakit. Perut yang terjaga pangkal obatnya. Masing-masing anggota tubuh ini memerlukan jeda waktu untuk rehat, Lantas kenapa perut tak diberikan waktu untuk rehat sebagaimana rehatnya anggota yang lain.
Para dokter berkata bahwa puasa itu penjaga dari berbagai macam penyakit-penyakit yang mewabah (muzminah) dan penyakit yang menular (al-muntaqilah) terutama sekali penyakit asillu (TBC), penyakit kangker ( السرطان) kulit, penyakit bisul-bintik-bintik di kulit yang menyebar di Eropa. Beribu -ribu korban akibat wabah itu dimana selama setahun penuh wabah itu terjadi di Kota Paris Perancis.

PUASA ADALAH PENYEHAT RAGAWI DARI SEGALA PENYAKIT FISIK, PENYEHAT RAGAWI DARI PENYAKIT MEWABAH DAN MENULAR. PUASA JUGA BISA MENJAUHKAN DIRI DARI CORONA SEKALIPUN DENGAN PERPADUAN ANTARA KUATNYA IMANITAS ROHANI DAN IMUNITAS JASMANI. amin.

SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA 1441 H/2020 M

BERAGAMA DAN KE-“PAGAH”AN INDIVIDUAL & KOMUNAL : LIMA T vs LIMA T. 
Oleh:
H. Fahrurrozi Dahlan.QH. (Guru Besar UIN Mataram).
Penulis memohon maaf jika sekiranya penggunaan kata “Pagah” kurang berkenan di benak pikiran para pembaca. Atau hanya menggunakan bahasa satu etnis Sasak saja,  karena subjektivitas penulisnya,  kata pagahpun hanya mewakili bahasa sebagian suku yang ada di Etnis Sasak.
Tapi izinkanlah penulis untuk memulai mengkaji kata Pagah itu dalam konteks Antropologi Sasak sambil meramunya dengan perspektif-perspektif yang relevan.
Dalam judul tulisan ini,  dapat dianalisa dari lima kata kunci:
Pertama: Beragama,
Kedua: Kepagahan
Ketiga: Individual
Keempat: Komunal
Kelima: Lima T.
Dalam antropologi Sasak,      untuk melihat cara pandang masyarakat Sasak dalam mempertahankan prinsipnya baik prinsipnya itu baik atau tidak terlihat dalam istilah: Pagah, Pengkung, Pékèl,Bengel/tèlè, Bengkéh (Mau menang sendiri, Ngeyel, tak mau diatur, Nakal, Tak mau nurut ).
Tentu kata kata tersebut tak selamanya bermakna negatif ada juga sisi-sisi positifnya sedikit.
Untuk konteks beragama tentu kata Pagah,  Pengkung, Pekel, Bengel/telu, Bengkeh, kurang baik bahkan negatif dalam menjalankan sikap  keberagamaan masyarakat Sasak,  NTB atau bahkan Masyarakat Indonesia secara umum.
Beragama, terkandung maksud bagaimana menjalankan ajaran agama, mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya. Memeluk agama dengan keyakinannya, mengimani semua aspek ketuhanan dan hal-hal yang tak kasat mata (ghaib).
Untuk konteks masyarakat kita, banyak sekali kita temukan sikap beragama mereka dalam sikap, Pagah, Pengkung,  Pekel,  Bengel, Bengkeh yang terkadang sikap tersebut sangat berdampak pada inharmonisasi di tengah masyarakat, dalam bentuk konflik individual karena mempertahankan idenya sendiri, atau konflik komunal karena berembet kepada masing-masing kelompok masyarakat. Inharmonisasi ini sangat rentan disebabkan oleh cara dan sikap masyarakat yang pagah,  pengkung,  pekel,  bengel dan bekèh dalam beragama.
Lebih jelasnya,  padanan kata-kata atau istilah Antropologi Sasak di atas,  penulis merangkumnnya dalam
Lima T dalam sikap “negatif” beragama untuk mencari benang merah atau hubungan ke-pagah-an,  ke-pengkung-an,  ke-pekel-an,  Ke-bengel-an dan Ke-bekéh-an Masyarakat Islam Indonesia Khususnya Masyarakat Islam Sasak.
Pertama: al-Tasyaddud (التشدد)
Sikap Keras dalam beragama ini dapat dilihat dari cara pandang mereka melihat praktek beragamanya. Mereka berpendapat bahwa di luar komunitas mereka adalah ahli bid’ah-ahli khurafat,  ahli mengkafirkan orang yang seiman dengannya,  tak pernah menganggap ibadah orang sah dan benar jika tidak sefaham dan sependapat dengannya.  Sikap beragama seperti ini merupakan sikap ekstrim,  sikap radikal,  sikap keras,  sikap intoleran, sikap tak bisa diajak dialog,  yang dapat membahayakan kultur kebersamaan masyarakat yang telah terbiasa dalam keberagamaan dan kebhinekaan.
Sikap beragama seperti inilah yang mencoreng kemuliaan dan kesantunan Islam dan pemeluknya di mata dunia Global. Sehingga tak heran jika Islam disebut sebagai agama teroris,  agama radikal,  agama ekstrim karena ulah segelintir kelompok komunitas yang bersikap Pagah,  Pekel,  Pengkung dalam memahami ajaran agama Allah swt. Meski sesungguhnya cap-cap stereotip itu tak seluruhnya benar karena mereka Phobia terhadap kebangkitan Islam atau mungkin mereka benci terhadap Islam.
Kedua: al-Tafarruthu-al-Ifrath (التفرط-الإفراط)
Beragama tak baik terlalu melampui batas. Melampui batas atau Ifrath ini tidak dibenarkan dalam Islam sebab Islam memberikan tuntunan yang bersahaja,  berhikmah dalam kebijaksanaan dan kebaikan bukan pada pemaksaan berlebihan dalam beragama.
Nabi Muhammad Saw sebagai nabi yang paling mulia,  Hamba Allah yang paling taat,  hamba Allah yang dipastikan masuk syurga,  toh juga beliau bersikap “jamak-jamak” -biasa-biasa saja dalam bersikap,  beribadah bermuamalah.  Dalam hal beribadah,  Nabi Muhammad tak pernah memaksakan diri dengan tegas beliau menjelaskan,  bahwa pada dirimu sendiri ada hak yang harus ditunaikan, matamu punya hak,  pisikmu jasadmu punya hak,  keluargamu punya hak,  tetanggamu punya hak,dst.
Artinya nabi tak menyuruh ummatnya untuk beribadah terus menerus,  nabi menyuruh ummatnya untuk menyeimbangkan antara kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi.
Berlebihan dalam sikap bisa memberikan dampak negatif kepada diri sendiri dan orang lain.  Misalnya dalam menyikapi Korona ini,  diperlukan sikap beragama yang jamak-jamak beragama yang menenteramkan semua orang,  beragama dengan tidak mengukur kesalehan personal individual bahkan komunal dengan kesalehan sosial,  global dan universal yang disitu domain Islam Rahmatan lil alamiin. Nah ini lah yang menjadi salah satu penyebab cepatnya mewabahnya corona ini karena ketidaktaatan kita dalam beragama yang mengedepankan kepentingan sosial daripada kepentingan individual.
Ketiga: al-Tafrith -(التفريط)
Sikap Tafrith-meremehkan agama-menunda-nunda pelaksanaan ajaran agama karena mengentengkan bahkan melalaikan ajaran agama juga sikap yang negatif dalam beragama.  Diperintah untuk melakukan shalat, puasa, zakat,  haji dan ibadah ibadah yang lain tak pernah ada kemauan untuk melakukannya karena ada sikap sangat kurang dalam beragama. Kurang ibadah kurang bermuamalah Kurang berinteraksi berkomunikasi dengan sesama juga masuk dalam kategori tafrith. Dan sikap ini juga berbahaya karena dapat mencederai kewibawaan ajaran agama Allah swt.
Keempat: al-Tasaahul (التساهل)
Sikap memudah-mudahkan agama, acuh tak acuh terhadap ajaran agama juga sangat berdampak dalam sikap dan pola kehidupan beragama di tengah masyarakat.  Memudah-mudahkan agama bisa jadi orang ini disebut Fasiq oleh nabi karena tak peduli dengan khittah dan perintah Allah dan Nabi. Masyarakat yang bersikap seperti ini tidak sedikit,  alias banyak yang mengentengkan shalat,  mengentengkan puasa, mengentengkan zakat bahkan haji. Sikap seperti ini sikap yang tak sepantasnya dilakukan oleh masyarakat yang berketuhanan yang maha Esa. Sikap ini harus dihindari jauh-jauh karena bisa berdampak pada kegersangan religiusitas dan spiritualitas masyarakat.
Kelima: at-Tahaawun (التهاون).
Sikap mengentengkan-
Melalaikan meremehkan ajaran agama adalah sikap yang sangat negatif bahkan bisa jadi orang yang bersikap seperti ini dicap kafir oleh Nabi Muhammad saw. Meremehkan mengentengkan Shalat dst dapat membuat tidak bisa bersyukur kepada Allah,  tidak bisa berinteraksi dengan kehidupan kemanusiaan yang harmoni dan saling menghargai. Tentu sikap ini tak bisa dilepaskan dari sikap pekel bekeh dalam beragama.
Sedangkan lima T sikap
 “positif” beragama:
Pertama: Taallum (التعلم)
Beragama adalah belajar memahami substansi ajaran agama. Beragama harus diawali dengan sikap mau belajar. Beragama harus belajar agama yang baik dan benar. Beragama tidak ujug-ujug sepontan membuat orang menjadi paling pintar paling sholeh paling alim dalam beragama.  Tapi semua itu diawali dengan sikap mau belajar, belajar membaca,  belajar mendengar, belajar bersosialisasi, belajar menghargai.  Konsep taallum ini sungguh sangat universal dan fungsional dalam segala dimensional.
Kedua: Tafaqquh (التفقه)
Konsep Tafaqquh sejatinya bermakna mengerti sesungguhnya Trilogi syariat Islam baik dalam dimensi Fiqh (Syariah-Islam) Aqidah- (Teologi-Iman) dan akhlak (Sufistik-Ihsan) dengan baik dan benar juga komprehensif tak setengah-tengah. Sikap Tafaqquh dalam beragama merupakan sikap yang sangat menentukan arah sikap positif selanjutnya karena Nabi Muhammad menjabarkan:
من يرد الله به خيرا يفقه فى الدين
Siapa yang ingin diberikan kebaikan oleh Allah swt hendaklah memahami agama secara komprehensif.
Ketiga: Tafassuh (التفسح)
Kata tafassuh ini sesungguhnya penjabaran dari firman Allah swt.  تفسحوا فى المجالس
Berlapang-lapanglah di dalam suatu majlis.
Konteks ayat itu adalah sikap kita berlapang dada dan berterima dalam suatu hubungan dan relasi antarsesama. Beragama tak boleh egois harus ada sikap memberikan ruang dan kesempatan bagi orang lain setelah kita memperoleh bagian kita.  Sikap tafassuh ini lebih dekat pada kita saling menghargai dalam perbedaan pendapat dan pikiran. Tak bekeh (ngeyel) dengan pendapat sendiri,  namun menghargai pendapat orang lain meskipun kita tidak setuju dengan pendapatnya.
Inilah yang sering hilang dalam sikap keberagamaan masyarakat kita di Indonesia ini.  Saling adu pendapat diri masing-masing tanpa ada saling apresiasi terhadap pendapat yang berbeda- beda itu.  Tepatlah ajaran Agama mengajarkan kita untuk tafassahuu fil majaalis.
Keempat: Tafahum (التفاهم)
Sikap Tafahum-saling pengertian-saling memahami-saling menghargai adalah sikap beragama yang sangat elegan dan terhormat. Tak sedikit orang terkapar dalam wabah penyakit kerena kita tidak saling memahami bahwa penyakit menular itu berbahaya.  Tak sedikit konflik di mana-mana terjadi karena tak ada saling memahami tak ada yang saling menghargai satu sama lain. Masing-masing bekeh,  bengel, pagah dengan pendapatnya sendiri. Pagah dengan fahamnya sendiri yang tak mau menghargai apalagi mengapresiasi pikiran dan pendapat orang lain.  Ini tak eloklah beragama dengan bersikap seperti itu.
Kelima: Taraahum wa Tasaamuh (التراحم و التسامح)
Sikap saling menyayangi-saling menghormati- saling melengkapi adalah sikap moderasi beragama. Sikap tengah-tengah dalam beragama sikap yang tidak ifrath-tidak tafrith. Sikap toleransi dalam beragama telah diatur oleh agama juga telah diatur oleh negara. Tinggal sikap kita ini yang harus bertransformasi dari sikap kaku, rigit,  sempit,  pelit demit,  menuju sikap apresiatif, akomodatif, responsif, persuasif, produktif,  progresif dan transformatif.
Inilah cara kita beragama yang baik dan benar. Kita harus beranjak dari sikap pagah, pengkung,  pekel,  bekeh,  dan bengel dalam beragama menuju sikap Menge,  Molah,  Meneh,  Menéng, Mantap atau kata lain mengerti,  memahami, menghargai,  mengapreasi,  menyayangi dan memoderasi dalam toleransi yang sejati.
Waallahu A’lam bi asshawab (fahrurrozi dahlan. roziqi_iain@yahoo.co.id).

Marhaban Ya Ramadhan di Tengah Wabah Covid-19
Oleh: Dr. Lalu Muhammad Nurul Wathoni, M.Pd.I.
(Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram )
Marhaban ya Ramadhan.
Marhaban ya Ramadhan, dalam menyambut bulan suci ramadhan biasanya kalimat ucapan tersebut dengan berbagai pernak-perniknya menghiasi tepian jalan di negeri kita membuat suasana ramai. Kata marhaban berasal dari kata rahaba yang berarti tanah lapang (al-Shahih ibn ‘Abbad, al-Muhith fi al-Lughah: 1/222). Seakan-akan orang yang mengucapkan kalimat itu ingin berkata, “Hati kami terasa lapang menyambutmu wahai bulan Ramadan”.
Ironisnya di tahun 2020 ini, sekali pun Ramadhan sudah hampir tiba namun penyambutannya tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Hampir tidak ada pernak-pernik penyembutan dan tidak tersiar tradisi penyembutan yang menjadi representasi kesyukuran atas datangnya Ramadan sebagai bulan Mulia ummat muslim. Kemegahan dan keramaian Ramadhan itu kini tidak tersa, hanya sepi dan sunyi menyelimuti. Sudah mulai terasa bahwa Ramadhan yang akan kita jalani akan berbeda seiring adanya pandemi wabah virus corona (covid-19).
Bahkan syiar Ramadhan pun akan dibatasi pelaksanaannya karena Covid-19, dalam hal ini pemerintah melalui Kementerian Agama menerbitkan edaran terkait Panduan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri 1 Syawal 1441H di tengah Pandemi Wabah Covid-19. Yaitu tertuang dalam Surat Edaran No 6 tahun 2020 yang inti dari surat edaran tersebut adalah sahur, buka puasa, salat tarawih, tadarus Al-Qur’an dilakukan di rumah masing-masing bersama keluarga inti. Buka puasa bersama (kelompok/instansi), nuzulul Qur’an, i’tikaf, halal bihalal dalam perkumpulan dan sholat idul fitri di Masjid/lapangan ditiadakan hingga terbitnya Fatwa MUI. Dan kegiatan zakat lebih disegarakan pengumpulan dan pendistribusian, serah terima zakat harus dilengkapi dengan alat pelindung kesehatan seperti masker, sarung tangan dan alat pembersih sekali pakai (tissue).
Pedoman tersebut memang sangat membatasi syiar Ramadhan yang bisanya Ramadan identik dengan ibadah berjamaah, berkumpul dalam kegiatan Islami menuntut ilmu dan syiar Islam yang banyak dan semarak, dan te­levisi penuh dengan tayangan-tayangan religius. Namun demi mencegah, mengurangi penyebaran, dan melindungi pegawai serta masyarakat muslim di Indonesia dari risiko Covid-19, maka surat edaran tersebut tidak boleh diabaikan dan harus dipindahkan oleh seluruh kaum Muslimin di Indonesia.
Bagi penulis, isi surat edaran tersebut sangat tepat untuk diberlakukan bila melihat keberadaan Covid-19 yang semakin menyebar, karena apa yang lakukan pemerintah saat ini persis seperti apa yang pernah dilakukan oleh Umar Bin Khattab ketika wilayah bagian barat Palestina dijangkiti oleh wabah penyakit Amawas yang menyebar hingga ke Syam dan Irak. Akhirnya khalifah Umar bin Khattab memberlakukan karantina, social distancing dan social containment dengan tetap menjalankan ibadah yang sejalan dengan Syariat Islam. Begitulah yang hari diberlakukan oleh pemerintah Indonesia, tentunya harus kita dukung sebagai bentuk iktiar agar Covid-19 mereda dan hilang.
Klinik Ramadhan Menjadi Benteng Pelindung dari Virus.
Sesuai dengan makna Ramadan yaitu pembakaran, berharap Covid-19 terbakar hilang lenyap seiring dengan lenyapnya segala sifat negatif manusia, lenyapnya kekejian dan maksiat. Bulan Ramadan membakar, meng­hanguskan, dan melenyapkan semua dosa dan angkara murka yang melekat pada diri manusia.
Kaitannya dengan Covid-19 Ramadhan dapat menjadi klinik penangakal virus dan klinik penyembuhan dari virus karena klinik Ramadan menggiring individual dan sosial keummatan untuk melestarikan nilai-nilai Ilahiyah (ketuhanan) yang dapat meredam murka Allah dan tercurah rahmat Allah. Kedatangan Ramadan sebagai upaya  preventisasi, kuratisasi, dan konstruksasi dalam menuntaskan perilaku-perilaku keji dan fakhsya’. Pendekatan preventif, (pencegahan dan pengawasan) berorientasi pada perwujudan dan integritas diri melalui pengawasan, pengurangan dan penghindaran diri dari perilaku-perilaku buruk yang dapat mendatangkan dosa dan maksiat. Manusia pun kembali kepada kesucian dan ketenangan jiwa. Menurut Ibnu Sina dalam bukunya yang berjudul Qonun Fi Tib bahwa jiwa yang tenang sebagai penangkal dan sebagai obat dari pandemi wabah penyakit.
Klinikal Ramadan adalah religi terapi kejiwaan, di mana individu beribadah yang ikhlas kepada Allah Azza Wajalla, memasung jiwa dalam kebaikan, meninggalkan perbuatan angkara murka, membelenggu sifat individual, hasad, iri hati, takabbur, pongah, angkuh, berucap kata-kata kotor, mengumpat, dan menggunjing, maka proses terapeutik melalui metodologi klinikal Ramadhan telah bergulir, untuk kemudian individu merasakan kenyamanan, kedamaian, ketenangan, ketenteraman, dan kesehatan mental paripurna. Dan orang yang senantiasa dalam kejiwaan tersebut akan menghasilkan getaran frekuensi tinggi yang dapat mengusir virus. Karena David Hawkins seorang peneliti tentang frekuensi menyatakan bahwa virus tidak bisa hidup pada frekuensi tinggi manusia namun virus berada pada manusia dengan frekuensi rendah yang diakibatkan dari rasa panik, takut, kuatir, sedih, frustasi, panik dan jauh dari nilai-nilai agama. Saya pun yakin bila kaum muslimin menjalani bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya tidak ada lagi tempat tinggal bagi Covid-19. Dan kesibukan ibadah pada bulan Ramadhan akan mensukseskan social distancing dan social containment.
Bulan Ramadan adalah bulan pesantren kejiwaan. Individu yang tadinya bersifat individulis, hasad, senang melihat orang susah, susah melihat orang senang (penyakit SMS), mengganggu kenyamanan orang lain, menjahili, dan menabur kebencian, maka di masa proses klinikal Ramadhan sifat itu berubah menjadi positif, bahagia melihat orang senang, damai dengan ketenteraman orang, berlaku ma’ruf, dan menabur kasih sayang antar sesama, berbagi kepada sesama terutama dalam situasi Covid-19 sifat-sifat mulia seperti ini yang sangat di butuhkan, disamping mencegah juga menanggulangi korban Covid-19 dengan membantu pengobatan dan membantu yang kekurangan finansial karena terbatasnya mencari nafkah dengan berbagi rizki sesui dengan prinsip zakat fitrah dan zakat maal di bulan Ramadhan.
Puasa Menciptakan Lingkungan Terbebas dari Virus
Puasa dalam Alquran disebut dengan Shoum yang memiliki arti menahan dan menjaga. Menjaga diri dari berbuat maksiat, menjauhi kemudaratan, menghindari penyakit, menjaga kebersihan atau pun menjaga lingkungan semuanya adalah perbuatan puasa dari segi bahasa. Sedangkan menurut syariat islam pengertian ibadah puasa yaitu menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan syarat tertentu, untuk meningkatkan ketakwaan seorang muslim.
Selain itu libadah puasa adalah ibadah yang tertua yang terdapat dalam semua agama umat manusia. Ibadah puasa lebih tua daripada salat, zakat, haji dan lain-lain. Puasa tidak hanya dilakukan oleh manusia. Juga oleh hewan dan tumbuh-tumbuhan, bahkan bangsa jin dan para malaikat untuk mencapai kesempurnaan mereka. Bagaimana hubungan puasa dengan lingkungan yang semakim hari semakin krisis yang dapat mengundang wabah penyakit seperti Covid-19, yang kita sebut dengan krisis lingkungan (environmental crisis).
Krisis lingkungan hidup yang terjadi dewasa ini merupakan gambaran krisis spiritual paling dalam yang pernah melanda umat manusia akibat pandangan antropocentris. Yakni  pendewaan humanisme, materialisme, hedonism dan pragmatisme. Manusia cenderung mengekploitasi alam tanpa batas, sehingga terjadilah ekploitas terhadap alam yang mengatasnamakan keperluan manusia. Hal ini diperlukan penyelamatan bumi  dengan segera melalui ibadah puasa yang mengajarkan hidup yang tidak memprioritaskan kepada kehidupam material secara berlebihan.
Puasa lebih menitikberatkan kepada ke kehidupan yang spiritualisme (rohani) memiliki perspektif ecoreligius dalam menyelamatkan pelestarian lingkungan hidup secara efektif dan mendasar. Tanpa adanya pemahaman ecoreligius dan implementasinya akan mengakibatkan kehancuran bumi dan krisis lingkungan tidak pernah kunjung berhenti. Padahal kerusakan lingkungan akan mendatangkan bencana alam. Kerusakan alam juga akan menimbulkan wabah penyakit yang diakibatkan karena industrial yang tidak diiringi dengan pelestarian alam. Atau akibat pemburuan bintang di alam liar untuk bahan konsumtif yang akhirnya binatang liar hidup bukan pada tempatnya lagi.
Dalam kehidupan sehari-hari tanpa adanya pemahaman ecoreligius dan implementasinya akan mengakibatkan lingkungan hidup seperti rumah, sekolah, tempat ibadah, kantor dan tempat  tinggal dan beraktivitasnya manusia menjadi jorok dan kotor yang akan mengundang penyakit melalui hewan, seperti kecoa, lalat, nyamuk, tikus, dan sebagainya. Abai terhadap ecoreligius melahirkan budaya buruk malas mencuci, buang sampah sembarangan, padahal kebersihan pangkal kesehatan. Disini, puasa untuk menjadikan seseorang bersih (fitrah) bukan hanya terbatas pada bersih jiwa namun juga bersih raga (lingkungan). Sebagaimana doktrin Islam “athuru minal iman” atau “annazhofatu minal iman”, kebersihan bagian dari iman.
Maka, makna ibadah puasa secara filosofi dalam kaitannya dengan lingkungan hidup dan alam semesta tidak akan dapat dimengerti sepenuhnya tanpa mengaitkan dengan konsep Islam tentang manusia. Dalam berbagai agama, manusia selalu dipandang sebagai pemelihara lingkungan namun dalam pandangan antropocentrisme manusia telah berubah menjadi  perusak lingkungan dan pengekploitasi alam  semesta. Dalam konteks ini kondekuensinya makna spiritual  puasa sendiri dalam hal ini memandang manusia dari dua arah, yaitu sebagai wakil Tuhan (QS al-Baqarah: 30) yang cenderung agresif-aktif dan sekaligus hamba Tuhan yang bersifat pasif dalam pengertian yang sebenarnya (QS al-A’rraf: 172).
Dalam hal ini, ibadah puasa mengajarkan mendahulukan tanggung jawab dari pada hak, karena pada hakikatnya manusia tidak memiliki hak apapun yang berada di luar kontrol Allah. Baik hak terhadap alam semesta maupun hak atas dirinya sendiri. Oleh sebab itu, puasa dalam perspektif ecoreligius menghendaki harmonisasi manusia dan alam sesuai aturan Tuhan (Teoantroposentris) sehingga tercipta lingkungan yang tertata rapi, asri, indah dan bersih sehingga lingkungan pun terbebas dari wabah penyakit kuman ataupun virus.
Motivasi Puasa dan Covid-19 Untuk Merarih Derajat Muttaqin
Tujuan puasa adalah mencapai ketakwaan. Ketakwaan adalah memelihara diri dari segala yang membahayakan dan menyengsarakan hidup, dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Jadi memelihara diri dari wabah penyakit seperti Covid-19 merupakan bagian dari terjemahan takwa.
Ketakwaan dapat dipandang sebagai ukuran derajat kemanusiaan manusia. Semakin tinggi ketakwaan seseorang, semakin tinggi derajat kemanusiaannya. Yaitu ketakwaan dalam arti sebenarnya mencerminkan bukan hanya ketakwaan pribadi, tapi juga ketakwaan yang mampu melahirkan kebajikan komunitas, yang berguna bagi orang banyak. Dapat dikatakan manusia yang mulia di mata Allah adalah manusia yang bermanfaat bagi dirinya dan orang banyak.
Orang yang tidak bermanfaat bagi orang banyak bukan orang saleh dan bukan pula orang bertakwa. Maka motivasi puasa dan Covid-19 kesempatan bagian kita untuk mencapai gelar Muttaqin dengan memberi manfaat malalui berbagi rizki kepada sesama karena hari ini banyak yang membutuhkan bantuan finansial disebabkan Covid-19 yang membatasi masyarakat mencari nafkah.
kebaikan, yang sekaligus adalah ukuran ketakwaan dan kesalehan. Rasulullah Muhammad SAW mengatakan bahwa manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang banyak. Tetapi harus diingat bahwa semua perbuatan yang dilakukan untuk kesalehan harus disertai dengan niat untuk mengabdi kepada Tuhan. Jika suatu perbuatan tidak disertai niat untuk mengabdi kepada Tuhan, akan timbul godaan kuat untuk pamer diri (riya’).
Puasa yang berhasil mencapai tujuannya, yaitu ketakwaan, melahirkan sifat-sifat terpuji seperti kejujuran, kesabaran, ketabahan, kepedulian sosial, kedermawanan, kasih sayang, keramahan, dan toleransi. Puasa yang lebih tinggi kualitasnya bukan hanya menahan diri dari perbuatan yang membatalkannya, tetapi juga menahan diri dari perbuatan-perbuatan tercela seperti: berbohong, menipu, memfitnah, bergunjing, mendengar yang tidak bermanfaat, melakukan kekerasan, menghina, dan mencaci-maki.
Pesan takwa dalam puasa ini perlu dipahami di tengah gejala menguatkan pandemi wabah Covid-19. Puasa dan Covid-19 dapat penjadi wadah tercapai gelar Muttaqin, puasa yang identik dengan menjaga diri untuk senantiasa suci secara zhohir batin dan Covid-19 yang menutut manusia untuk hidup bersih, saling menolong dalam kondisi kekurangan dan bekerja sama dalam kebaikan. Dua entitas yang memiliki tujuan yang sama.
Apabila predikat mukmin, mushlihin, dan muttaqin dapat diraih selama menjalani proses Ramadan di tengah Covid-19, maka kesehatan mental dan  fiskal adalah bagian-bagian yang menjadi hak dan anugerah Allah, khusus bagi orang-orang yang akan memasuki pintu syurga al-Rayyan. Allahu a’lam bisshawwab.

KEILMUAN, KEPEMIMPINAN & KEKAYAAN: TIGA DIMENSI KESUKSESAN DALAM MENGATASI PROBLEMATIKA KEHIDUPAN BERBANGSA,  BERNEGARA BAHKAN BERAGAMA. 
Oleh: Prof. Dr. H. Fahrurrozi Dahlan. QH (Guru Besar FDIK UIN Mataram) 
Dalam kajian kali ini, Saya ingin mencoba Teori Imam Syafii tentang konsep keilmuan, kepemimpinan dan perekonomian sebagai pisau analisa dalam melihat problematika kehidupan kemanusiaan, terlebih dalam menyikapi persoalan kebangsaan yang sedang melanda Indonesia dengan Keputusan Presiden RI Ir. H. Joko Widodo menetapkan Indonesia dengan status Bencana Nasional akibat wabah Covid-19. Karena memang corona musuh kemanusiaan, musuh semua bangsa di dunia.  Mengingat wabah ini sangat berbahaya,  maka paling tidak bisa diatasi dengan tiga pendekatan.
Pendekatan Keilmuan,  Pendekatan kepemimpinan dan Pendekatan Ekonomi atau Modal Kekayaan.
Saya mendapat spirit dari penjelasan Imam Syafii dalam kitab Diwan al-Syafii sebagai berikut:
إن الفقيه هو الفقيه بفعله # ليس الفقيه بنطقه ومقاله.
كذا الرئيس هو الرئيس بخلقه # ليس الرئيس بقومه ورجاله.
وكذا الغني هو الغني بحاله # ليس الغني بملكه وبماله.
Sesungguhnya yang dinamakan orang yang berilmu,  orang yang faqih,  orang yang mendalam ilmunya adalah orang yang dilihat hasil karya nyatanya #
Bukan orang yang hanya bisa bicara dan hanya berbasa-basi.
Begitu juga seorang pemimpin sejati adalah yang memimpin dengan akhlaknya yang mulia # Bukan pemimpin yang memperlihatkan pengikut dan kroni-kroninya.
Tak ubahnya orang yang kaya adalah orang yang selalu cukup dalam situasi apapun # Bukan disebut kaya karena harta bendanya yang berlimpah ruah.
Lebih lanjut syair  tersebut ditahqiq oleh Prof. Yusuf al-Syaikh Muhammad al-Biqaai,  sebagai berikut:
ليس الفقيه من ملك زمام القول وفصل الخطاب وعرف كيف يقنع الناس بنطقه وحديثه إنما الفقيه من علم الناس أمور دينهم ودنياهم وفقههم بأمور شريعتهم بعمله الذى لا  يحيد عن نهج الشريعة.
Bukan disebut sebagai orang yang berilmu,  orang yang mengerti,  orang yang faham,  orang alim orang yang memiliki keindahan berbicara, manisnya retorika,  orang yang dikenal bagaimana mempesona orang lain dengan bicaranya dan ceramahnya.  Sesungguhnya orang yang berilmu adalah orang yang berdedikasi terhadap ilmu pengetahuan dengan mengajarkannya kepada orang lain tentang segala urusan dunia dan agamanya dan memberikan pemahaman syariah agama dengan contoh dan aksi nyata sehingga tak menyimpang dari rel-rel syariah yang benar.
Lebih lanjut beliau menjelaskan:
وليس الرئيس من كثر قومه ورجاله وأحاطوا به من كل جانب مدافعين عنه مسيطرين على الناس حتى لا يستطيعون قول كلمة ولا اتخاذ موقف ضده.  إنما الرئيس حقيقة هو ذلك الذى يرئس الناس بخلقه ويسيطر على  قلوبهم بنيل فعاله وحسن معاملته.
وكذلك ليس الغني من كثر ماله وازدادت ثروته وإنما الغني من نفع الناس بغناه وجعل ماله فى خدمة الناس ومعونتهم.  (ديوان الشافعى. ص: ٩٧)
Bukan pemimpin sejati pemimpin yang banyak pengikutnya banyak kolega dan kroni-kroninya dimana mereka saling lindungi dari segala sektor, saling bela saling bantu sesamanya saja,  sehingga orang-orang sekeliling pemimpin itu tak bisa mengkritisi kebijakannya sedikit pun, apalagi akan menjadi oposisi terhadap atasannya.
Begitu juga bukan orang kaya karena harta bendanya banyak atau bertambah terus saham dan incomenya tetapi sesungguhnya orang yang kaya adalah orang lain merasakan manfaat dari kekayaannya itu dan dia jadikan hartanya untuk berkhidmat kepada orang lain dan untuk peduli terhadap mereka.
Saya ingin memetakan teori Imam Syafii ini dalam tiga pendekatan penting:
Pertama: Pendekatan Keilmuan.
Apapun yang dilaksanakan baik urusan pemerintahan,  urusan kebangsaan bahkan urusan keagamaan sekalipun harus berdasarkan pengetahuan dan keilmuan yang komprehensif.
Urusan pemerintahan,  tak akan jalan jika tanpa ilmu pemerintahan. Ilmu tata kelola kenegaraan,  ilmu pengetahuan yang menopang tegaknya pemerintahan.
Bolehlah saya meminjam istilah Syaikh Ibn Ruslan dalam kitab Matan Zubadnya,  Pelaksanaan perbuatan apapun tanpa didasari ilmu pengetahuan yang benar pasti sia-sia dan tertolak.
(فكل من بغير علم يعمل # أعماله مردودة لا تقبل)
Urusan kebangsaan,  diurus harus berdasarkan ilmu pengetahuan yang strategis dan inovatif sekaligus politis.  Karena kebijakan demi kebijakan harus dikaji secara mendalam berdasarkan pertimbangan keilmuan para pakar di bidangnya. Pertimbangan riset dan evaluasi yang aplikatif. Sehingga apapun kebijakan pemerintah selalu mendapatkan respon yang positif dari seluruh elemen anak bangsa.
Begitu juga urusan keagamaan.  Beragama harus berdasarkan pengetahuan keislaman dan keagamaan yang baik dan benar. Beragama bukan mengikuti keilmuan personal sehingga menjadi orang yang fanatik dengan ilmunya sendiri. Bukan juga beragama berdasarkan perasaan rasa yang dirasakan sendiri, sehingga mengorbankan kepentingan banyak orang demi rasa beragama sendiri,  beragama bukan berdasarkan hawa nafsu semata,  meminjam istilah Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ nya,  Beragama bukan karena kegelapan pengetahuan melainkan tercerahkan karena keilmuannya yang mendalam, meminjam istilah Syaikh Ali Syariati. Beragama bukan karena Ego sektoral, atau mengikut kelompok komunal, melainkan beragama harus mengikut kesepakatan sosial yang menyeluruh,  meminjam istilah Syaikh Ibn Khaldun, atau beragama bukan berdasarkan pikiran picik dan terbatas (nerrow minded-closed-minded)  melainkan beragama harus berdasarkan wawasan yang luas dan menerima perbedaan pemikiran dan pendapat, argumentasi meminjam istilah (Prof Nurcholish Majid, Prof. Bassam Thibbi dan Prof.Amin Abdullah, Prof.Azyumardi Azra). Beragama bukan berdasarkan busungan dada namun beragama harus ada sikap lapang dada  dan toleransi antar sesama (assamahah wa tasaamuh) meminjam istilah Prof Ali Jum’ah, Prof. Quraish Shihab, dan Prof. Said Aqil Siraj. Atau beragama bukan memisahkan antara urusan duniawi dengan urusan ukhrawi tapi beragama adalah menyatukan dua sisi tersebut dalam satu kesatuan yang terintegrasi dan terkoneksi,  meminjam istilah Syaikh Yusuf al-Qaradhawi, Syaikh Ramdhan al-Buthi dan KH. Makruf Amin.
Atau meminjam istilah Syaikh Zarnuji dalam taklimnya dengan Istilah afdhalul ilmi ilmul hal,  ilmu yang paling urgen dan fungsional-aplikatif adalah ilmu yang sesuai dengan disiplin kerjanya. Ilmu situasional-kondisional sesuai waktu dan tempat pelaksanaan berikut penggunaannya.
Dengan demikian, urusan keilmuan sangat penting dalam mengatasi segala hal. Terlebih dalam kondisi kita menghadapi wabah korona ini. Keilmuan kita tentang korona tak bisa dilihat dengan kaca mata Agama namun sangat ditentukan oleh pendekatan keilmuan saintifik, kedokteran kemedisan dan kaca mata kesehatan.  Corona maaf mungkin tidak bisa disembuhkan dengan beramai-ramai shalat jumat berjamaah di masjid,  sebab secara medis wabah ini baru tidak menular jika menjauhi kerumunan manusia kerumunan banyak orang,  berjumat adalah kerumunan banyak orang sehingga dapat dipastikan atau dapat dimungkinkan menjangkiti dan menulari orang-orang yang sehat secara jasmani. Maka secara medis tidak membenarkan hal itu,  sehingga agamapun toleran dan akomodatif terhadap persoalan kemanusian dan kesehatan bahkan keselamatan jiwa. Justru itu fatwa-fatwa ulama di belahan dunia,  secara pertimbangan kesehatan dan kemedisan,  agama memberikan ruang rukhsah (dispensasi-keringanan) terhadap pelaksanaan agenda keagamaan yang sifatnya aziimah (pokok dan normal) untuk ditangguhkan pelaksanaannya sementara illat (penyebab) rukhsah itu belum berakhir dan masih mewabah.  Di sisi inilah kita harus tegas dan manut dalam memposisikan keyakinan keagamaan kita berdasarkan pertimbangan keagamaan yang mapan dan toleran dengan situasi dan kondisi sosial kita bersama.
Kedua: Pendekatan Kepemimpinan.
Salah satu dimensi kehidupan kemanusiaan yang paling signifikan dan urgen adalah kepemimpinan. Kepemimpinan dengan segala deriviasinya menunjukkan betapa berharganya kepemimpinan yang tentu membutuhkan skill yang mumpuni baik softskill maupun hardskill,  keilmuan teoritis- praksis, strategi, inovasi, koneksi, kooperasi,  responsif,  produktif, progresif dan transformatif.
Imam Syafii mensimplikasikan kriteria pemimpin itu dengan pemimpin yang berkarakter. pemimpin yang mengedepankan kolektivitas bukan kronitas bukan pula kolegalitas. Kepemimpinan yang ditunjukkan berdasarkan karakter dengan mengedepankan akhlak moralitas jauh lebih beradaptif dan berbaur di berbagai level stratum sosial masyarakat. Pemimpin yang memahami denyut jantung masyarakatnya atau rakyatnya akan lebih bisa diterima dan bisa didengar instruksinya oleh masyarakatnya.
Kepemimpinan dengan terma Arriasah (الرئاسة) menunjukkan pola kepemimpinan yang harus selalu di depan memberikan contoh teladan kepada rakyat yang dipimpinnya. Dimensi Riasah inilah yang disebut sebagai tugas dan fungsi semua kita dalam level dan stratum masing-masing.
Kepemimpinan dalam dimensi Raa’i-Ra’iyyah (الراعى-الرعية) dengan mengedepankan kepekaan sosial, kepekaan instruksional,  kepekaan kebijakan,  kepekaan menejerial, dan kepekaan emosional terhadap keperluan dan kebutuhan masyarakat. Pemimpin yang mempu mera’i rakyatnyalah yang akan selalu dinanti dan dipuji bahkan diminati dikenang selamanya.
Kepemimpinan dalam dimensi (Qiyadah-Qoid) (القيادة-القاعد) sosok pemimpin yang mampu menggerakkan potensi masyarakatnya menuju kemajuan dan kesejahteraan bahkan menuju kesehatan prima.  Qu’uud ( قعود) dalam makna duduk, diam, statis, tak bergerak akan digerakkan oleh Qo’id sang pemimpin yang memahami latar sosial bahkan psikologis masyarakat yang dipimpinnya.
Kepemimpinan dalam dimensi (Imam-الإمام ) menunjukkan kemampuan menejerial dan koordinatif dengan bawahannya.  Imam selalu di depan dalam menetapkan kebijakan-kebijakan strategis. Pemimpin yang bertipologi imam jika salah dalam menentukan dan mengeluarkan kebijakan akan memberatkan bahkan bisa menyengsarakan rakyatnya.
Pemimpin dalam dimensi Qoim-Qawwam (القائم القوام) menunjukkan kecemerlangan kepemimpinan baik dalam skala mikro-pemimpin keluarga maupun dalam skala makro-pemimpin ummat,  bangsa dan negara. Tentu kepemimpinan model ini dibutuhkan skill mengelola emosi dan kesetaraan dalam meletakkan kebijakan strategis.
Dalam konteks kekinian,  konteks menjaga kesehatan masyarakat terutama dari wabah Covid-19 ini dibutuhkan kepemimpinan yang tegas, teladan, dan mengayomi semua golongan agar masyarakat terjaga dari marabahaya wabah Covid-19 ini. Tegas terhadap penerapan instruksi atasan,  baik dalam kehidupan beragama lebih-lebih dalam urusan kebangsaan dan negara.
Ketiga: Pendekatan Ekonomi.
Teori Imam Syafii di atas menjelaskan tentang Karakter orang yang punya harta adalah harta yang dapat dinikmati oleh banyak orang,berdedikasi dengan semangat loyalitas dan kedermawanan kepada semua. Jiwa pilantrofis bagi pemimpin saat ini sangat dibutuhkan. Terlebih saat wabah corona ini yang menyebabkan masyarakat tidak bisa keluar rumah untuk bekerja dan berusaha. Maka saatnyalah pemimpin mengeksekusi kebijakan yang memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kepemimpinan dengan modal ekonomi yang kuat dapat membuat masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang tangguh dan kuat dalam menghadapi persaingan global. Bahkan masyarakat Indonesia dapat keluar dari krisis ekonomi akibat wabah corona ini. Tentu dengan syarat ekonomi yang dibangun berdasarkan kepentingan bangsa dan negara untuk kemudian dikembalikan kepada Negara agar dapat dikelola dan dikembangkan untuk kemajuan dan kesejahteraan rakyat Indonesia sesuai amanah UUD 1945 dan Pancasila sebagai ideologi dan Falsafah Hidup Bangsa.
Pendekatan Ekonomi di tangan pemimpin yang baik dan bijak dapat dijadikan sebagai instrumen utama dalam menjalankannya amanah UUD 1945 dan Pancasila sebab dengan meningkatnya perekonomian masyarakat paling tidak dapat meningkatkan imunitas bahkan imanitas masyarakat Indonesia menuju keselamatan dan kesehatan bersama agar tercipta konsepsi dan obsesi negeri yang aman makmur damai sentosa dalam pengampunan dan naungan ilahi (بلدة طيبة ورب غفور) .
Al-Hasil, Hidup berbangsa bernegara dan beragama sangat ditentukan oleh kekuatan ilmu pengetahuan, kekuatan kepemimpinan (leadership) dan kekuatan perekonomian sesuai tawaran Imam Muhammad bin Idris al-Syafii Rahimallahu ta’ala.
Makanya mari kita taati pemerintah pusat,  maupun daerah, MUI Pusat maupun Daerah, dalam segala instruksi yang menyelamatkan sekaligus mensejahterakan warga masyarakat Indonesia. Wassalam. sekian Oretan ini semoga bermanfaat. Tentu masih sangat normatif dan masih bisa didiskusikan lebih lanjut.  (roziqi_iain@yahoo.co.id-fahrurrozi dahlan)
(